
Drrrt... Drrrt...
Aurora merogoh sakunya, membuka satu pesan masuk di handphonenya.
^^^Sky:^^^
^^^Awali pagi dengan segelas susu coklat hangat, sambil menikmati hangatnya sang surya dan merekahnya mawar merah di taman belakang. Ajak Sagara untuk menikmati semua keindahan itu dan tersenyumlah bersamanya.^^^
Beberapa kali Aurora mencoba membalas pesan singkat itu, namun pesannya selalu tak dapat terkirim. "Ya sudahlah." ia pun menaruh kembali handphonenya di dalam sakunya kemudian ia mendorong stroler putranya menuju taman belakang.
Aurora memanfaatkan momen menjemur putra semata wayangnya dengan melakukan pijatan menggunakan baby oil, di iringi dengan nyanyian serta candaan riang.
"If you're happy and you know it clap your hands"
"Clap.. Clap.." Aurora memegang kedua tangan putranya untuk bertepuk tangan bersama. Sagara tertawa riang bernyayi bersama ibundanya, ia terwa sambil mengakat kedua kakinya ke atas, membaut Aurora semakin gemas dengan tingkah laku putranya.
Di antara tawa keceriaan Aurora dengan buah hatinya, samar-sama ia mendengar keributan yang berasal dari depan rumahnya.
"Mau apa Mas datang kemari? Masih belum puas nyakitin hati Mba Aurora?" tanya Wiwit dengan ketus.
"Aku ke sini hanya ingin bertemu dan minta maaf padanya." ucap Sekala.
"Telat!! Kata maaf Mas Sekala tidak pernah merubah apa pun!! Aku tidak akan pernah biarin Mas Sekala nyakitin Mbaku lagi." Wiwit mencoba untuk bersikap tegar meski rasanya ia ingin menangis mengingat cerita perselingkuhan yang di lakukan kakak iparnya.
"Ya aku tahu, ribuan kata maaf dariku tidak akan pernah merubah apa pun yang sudah aku lakukan padanya, dan aku pun menerima jika Aurora tidak memaafkanku. Tapi setidaknya aku pernah mencoba untuk menyampaikan maaf dan rasa penyesalanku secara langsung padanya." Sekala menghela nafas beratnya.
"Aku tidak pernah menyangka jika wanita itu akan bertindak kelewat batas, semuanya di luar perkiraanku."
"Ck! Saking lelapnya tidur di tempat pelakor, sampai-sampai tak tahu kalo simpanannya bertindak kelewat batas terhadap istri sah Mas?" tanya Wiwit sembari tersenyum sinis dan membuang wajahnya.
"Tunggu-tunggu, kaya ini salah paham deh."
"Salah paham apa? Bukti sudah di depan mata masih bisa ngelak! Jelas-jelas, Mba Aurora melihat sepatu Mas ada di apartement wanita itu, dan si wanita itu juga ngirimin foto baju-baju Mas Sekala yang berserakan di lantai setelah kalian berzina."
Sekala menatap tajam mata adik iparnya. "Demi Allah, malam itu aku tidak ada di apartement. Bahkan setelah pulang dari Eropa, aku sudah tidak pernah berhubungan lagi dengannya, aku sudah berniat memutuskan hubungan dengannya." ucap Sekala.
"Kalau kamu tidak percaya, kamu bisa hubungin Papaku. Sepanjang malam aku ngopi dan ngobrol dengan beliau di puncak."
"Kehilangan perusahaan yang aku bangun dari nol, bukan hal yang mudah untukku. Aku butuh ruang untuk menenangkan diri dan berfikir langkah selanjutnya, karena sebentar lagi aku akan punya anak yang menjadi tanggung jawabku."
Sekala membuka tas ransel yang di bawanya, kemudian ia mengambil sebuah dokumen dan menyodorkannya kepada Wiwit. "Begitu aku tahu, Syeira mendorong Aurora hingga jatuh. Aku langsung cari barang bukti peristiwa itu dan melaporkannya ke polisi, dan sekarang masih dalam proses penyidikan."
"Aku mangakui aku salah, aku menerima apa pun yang menjadi keputusan Aurora sebagai konsekuensi yang telah aku lakukan. Tapi please izinin aku ketemu sekali aja, untuk minta maaf padanya secara langsung." pinta Sekala memelas.
Perlahan Aurora keluar dari balik dinding pembatas antara ruang tamu dengan ruang keluarga, ia berjalan mendekat ke arah Sekala sembari mendorong stroler putranya.
"Aurora..."
Mata Sekala berbinar-binar ketika ia melihat istrinya muncul dari balik dinding, ia masih tak menyangka jika ia bisa bertemu kembali dengan Aurora, ia berjalan mendekat ke arah Aurora. "Boo maafin aku..." Sekala mendekap erat tubuh istrinya.
"Maaf..." bisiknya lirih.
Aurora hanya terdiam membiarkan Sekala mendekap erat tubuhnya, hingga beberapa menit kemudian. "Benarkah Mas tidak ada di apartement Syeira?"
Sekala menggelengkan kepalanya. "Enggak, aku enggak ada di sana. Semalaman aku sama Papa di puncak, kemudian paginya Randy ke rumah Papa dan kami ngobrol masalah bisnis sampai siang, barulah aku pulang ke rumah Mama, mengantarkan buah dari papa untuk Manda. Di rumah mama aku bertemu dengan Kara dan Aksara, mereka bilang kalau kamu jatuh karena di dorong oleh Syeira." Sekala merangkum wajah Aurora dan menatapnya dalam-dalam.
"Maafin aku ya, aku tidak ada di saat kamu membutuhkan aku. Hampir delapan jam aku berada di kantor polisi, membuat laporan atas perbuatan Syeira kepadamu. Begitu aku menyusulmu ke rumah sakit, kamu sudah tidak ada. Aku sudah kesana-kemari mencarimu, menghubungi semua teman-temanmu tapi tidak ada satu pun yang mau memberitahuku. Aku hampir gila, mencarimu."
Perlahan Sekala melepaskan tangannya dari wajah Aurora, ia merunduk di hadapan Aurora, karena respons diam Aurora yang seolah tak menghiraukan semua penjelasannya. Hingga tangisan Saga yang berada di sebelahnya, mengalihkan perhatiannya.
Oe.. Oe... Oe...
"Boleh aku menggendongnya?" tanya Sekala.
"Mas baru saja dari luar, sebaiknya cuci tangan dulu jika mau menggendong Saga" ucap Aurora, kemudian ia membawa Sagara masuk ke dalam kamarnya.
Sekala menganggukan kepalanya, ia bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya kemudian langsung menyusul Aurora dan Saga di kamar.
"Kenapa ditutup, kita kan belum bercerai?" tanya Sekala, ia melihat Aurora langsung payuda*anya saat Sekala masuk ke dalam kamar. Aurora nampak salah tingkah, ia tak menjawab pertanyaan Sekala.
"Aku hanya bercanda." Sekala mengelus kepala Aurora, kemudian ia duduk di sebelahnya. "Masya Allah, anak kita tampan sekali ya. Mirip sekali denganmu." Sekala tak hentinya memuji buah hatinya, ia sangat bersyukur bisa bertemu dan melihat buah hatinya.
"Boo, boleh aku menggendongnya?" pinta Sekala saat, Sagara sudah selesai menyusu dan tertidur lelap di tangan Aurora.
Aurora menganggukan kepalanya, secara perlahan ia memberikan putranya kepada Sekala "Sekalian di tidurkan di Box tempat tidurnya ya."
"Iya sayang." Sesaat Sekala menimang-nimang buah hatinya kemudian ia menidurkannya di box tempat tidur baby yang tak jauh dari tempat tidur Aurora.
Setelah memastikan putranya tertidur dengan lelap di dalam tempat tidurnya, Sekala kembali menghampiri Aurora yang masih duduk di atas tempat tidurnya.
Ia berjongkok di hadapan Aurora, kemudian menggengam erat tangan Aurora sembari menatapnya "Aku tahu aku tidak layak untuk mendapatkan satu kesempatan lagi, tapi aku menginginkannya. Karena aku yakin aku bisa berubah, aku ingin rumah kita kembali utuh dan bahagia, aku akan menghabiskan sisa hidupku untuk membuktikannya kepadamu." Sekala menelan ludah, ia merasa jika ini adalah moment yang tepat untuk meminta Aurora kembali padanya. "Bisa saja nanti pengadilan akan mengabulkan gugatan perceraianmu, tapi aku tetap di sini, aku tidak akan menyerah. Aku akan berjuang untukmu dan anak kita sampai aku memenangkanmu kembali. Aku tidak akan berhenti."
Aurora berdiri, melepas tangan Sekala, ia berjalan menuju meja di sudut kamarnya di ikuti oleh Sekala di belakanganya.
Aurora mengambil beberapa lembar berkas dari dalam laci mejanya kemudian memberikannya kepada Sekala.
"Apa ini?" tanya Sekala.
"Perjanjian pernikahan, bacalah!"
Sekala menatap dokumen di tangannya dan ada sedikit tinta biru yang mengotori setiap lembarannya.
Dalam isi perjanjian tersebut memuat berupa pemisahan harta, pemisahan utang, hak asuh anak terjadi perceraian, hak dan kewajiban selama pernikahan, dan segala kesepakatan lainnya yang diminta oleh Aurora.
"Aku ingin Mas Sekala menandatanganinya, jika Mas memang bersungguh-sungguh ingin rumah tangga kita kembali lagi."
Napas berpacu dari paru-paru Sekala saat ia meraih pinggang Aurora dengan satu tangan dan menariknya, merasakan degup jantungnya. "Tentu saja, apa pun yang kamu minta." tanpa ragu Sekala langsung menandatanganinya.
Rona merah muda lembut muncul di pipi Aurora, ia tersenyum melihat Sekala menandatangani surat perjanjian yang ia buat.
"Aurora…" Nama itu keluar bagai kerikil tajam dari tenggorokan yang tersedak emosi. Sekala meraih dagu Aurora dengan lekuk jarinya, menarik mata bening yang indah itu mendekat kepadanya.
Aurora mendapati dirinya mengerjap menahan tangis, tapi air mata ini lahir dari kebahagiaan, bukan kesedihan karena Sekala telah berubah, kini ia mencintainya, menginginkannya, dan telah kembali untuk memperjuangkan dirinya. "Terima kasih atas kesempatan keduanya." ucap Sekala dengan senyum yang merekah di wajahnya yang melelehkan lutut Aurora dan membuatnya bergelayut di dada dan bahu kokoh yang menopangnya.
Aurora menyadari kalau ia lebih suka mempertaruhkan hatinya ketimbang melepaskan pria yang dicintainya.
Senyum riang itu beralih, mereda, saat mereka saling berpandangan. Sekala membelai wajah Aurora sambil memeluk Aurora semakin erat, ia melangkah mendekati sofa dan menariknya ke dalam pangkuan. Menempelkan kening mereka dan menggenggam tangannya. "Aku berjanji, tak akan mengulanginya lagi."
Sekala menarik tangan Aurora ke bibir, mencium setiap ujung jarinya, setiap buku jarinya. "Kamu sudah melepas cincin pernikahan kita?"
"Aku sudah melepasnya sejak beberapa bulan lalu karena sudah tidak muat." ucap Aurora.
"Maaf, aku pikir kau sudah melepasnya karena kita akan berpisah."
Aurora menggelengkan kepalanya. "Aku simpan di dalam dompet."
"Besok aku belikan yang pas di jarimu." Tangan Sekala telah merangkum wajah Aurora, kata-kata Sekala mengalir dari bibir di antara setiap kecupan. "Aku mencintaimu… aku mencintaimu… aku mencintaimu… Selamanya. Selalu."
"Aku tidak bisa menjanjikan rumah tangga kita kedepannya seperti di negeri dongeng. Tapi aku bisa menjanjikan bahwa aku akan selalu berada di sisimu untuk melewatinya. Selalu. Selama-lamanya. Aku mencintaimu." ucap Sekala.
Aurora mengambil handphonenya, ia menghubungi pengacaranya dan memintanya untuk membatalkan perceraian mereka, kemudian ia menikmati hari yang indah bersama Sekala.