
Sesampainya di ruang kerja Aurora, Sekala di kejutkan dengan keberadaan Amanda yang tengah duduk santai sambil membaca koran di sofa tamu.
"Mau ngapain kamu pagi-pagi ke sini?" tanya Sekala.
Amanda menutup korannya, kemudian menaruh kembali di meja, "Keponakan Aunty yang paling tampan sudah datang." sapa Amanda kepada Saga.
"Heiiii... Jawab pertanyaan Mas dulu. Mau apa kamu pagi-pagi sudah ada disini? Mau minta uang jajan ya?"
"Suudzon mulu sama adiknya." ucap Amanda dengan kesal. "Aku ada tugas kewirausahaan."
"Lalu?"
Amanda tersenyum sambil melirik ke arah Aurora. "Mba Aurora mau memberikan satu cabang usahanya untuk aku kelola. Iya kan mba?"
Aurora menganggukan kepalanya. "Iya, tapi kok kamu masih di sini? Aku sudah Ani mengantarmu ke Kebon Jeruk, sekalian ia menjelaskan tentang usaha ini." ucap Aurora.
"Boo kamu serius?" tanya Sekala, seakan tak percaya dengan apa yang di lakukan istrinya. "Sayang, Amanda itu sama sekali belum pernah berbisnis. Biarkan ia membuat bisnis kue-kue atau jajanan kecil yang modalnya masih di bawah satu juta, lagi pula ini hanya tugas kuliah...."
"Ssssttt...." Aurora menaruh jarinya di bibir sekala, kemudian ia beralih ke Amanda. "Sudah sana berangkat nanti kesiangan, ini sudah waktunya buka loh!" ucap Aurora, ia memberi kode agar Amanda segera keluar dari ruang kerjanya.
"Siap kakak ipar, aku pergi dulu ya." Amanda menyelempangkan tas di bahunya, kemudian ia keluar dari ruang kerja Aurora. "Bye keponakan tampan aunty."
"Boo, aku hanya tidak ingin Amanda mengacak-acak usahamu karena ia belum memiliki pengalaman dan ilmu yang cukup! Di tambah, ia juga belum memiliki rasa tanggung jawab." protes Sekala.
"Duduk sebentar yuk." Aurora meraih tangan Sekala dan mengajaknya untuk duduk di sofa. Aurora menatap Sekala dengan wajah yang serius. "Mas, Amanda juga adikku. Aku ingin memberikan apa yang aku berikan kepada Wiwit. Aku menyerahkan sepenuhnya pengelolaan kedai di Jogja dan di Magelang kepadanya."
"Tapi Wiwit dan Amanda berbeda, Ra. Dia sudah di didik bertanggung jawab oleh Ibu sedari kecil, sedangkan Amanda tidak." bantah Sekala.
"Justru itu, aku ingin mengajarkannya rasa tanggung jawab, pengalaman dan ilmu berbisnis. Aku dan Ani yang akan mengawasi dan membimbingnya secara langsung, Mas tidak perlu terlalu khawatir usaha ini sudah terprogram dengan baik sehingga Amanda tidak akan mengotak atik atik sistem yang ada, semuanya masih menggunakan otoritasku." Aurora menggenggam tangan Sekala. "Kalau bukan kita yang membimbingnya, lantas siapa lagi? Persaingan dunia kerja di perusahaan besar saat ini semakin ketat. Yang di butuhkan bukan lagi nilai di atas kertas, tapi juga keterampilan dan pengalaman."
Sekala mencerna setiap kalimat yang di sampaikan Aurora memang ada benarnya. "Tapi kalau nanti Amanda buat ulah kasih tahu aku ya."
"Iya sayang, aku pasti akan cerita semuanya sama mas."
"Ya sudah aku pergi ke kantor dulu ya." Sekala mengecup kening Aurora, kemudian ia mengecup pipi chubby putranya yang berada dalam gendongan Aurora. "Ayah berangkat kerja dulu ya, nak. Assalamualaikum." ia melangkahkan kakinya keluar dari ruang kerja dan kedai Aurora.
Dua jam selepas Sekala pergi meninggalkan kedainya, Aurora bersiap pergi mengunjungi tempat gym milik Sky yang berada di sebelah kedainya. Namun sebelum ia pergi, Aurora menitipkan putranya yang tengah tertidur lelap di box tempat tidur yang tak jauh dari meja kerjanya, kepada salah satu karyawannya.
"Titip Saga sebentar ya, aku hanya ingin ke sebelah sebentar saja."
"Baik Bu Aurora."
Aurora merasa mengapa Sky dan keluarganya menjauh darinya semenjak dirinya dan Sekala kembali bersatu.
"Ah tidak mungkin Sky cemburu." Aurora membuang pikiran negatif itu saat dirinya teringat Sky pernah mengatakan jika Sky menyanyangi dirinya saat Sky jatuh sakit di kediamannya di Magelang.
"Tentu saja dia menyayangiku, kita kan berteman sudah sangat lama, aku pun juga menyayanginya sebagai seorang sahabat." gumam Aurora, ia terus berjalan keluar dari kedainya.
Beberapa orang yang bekerja di tempat gym milik Sky nampak terkerjut dengan kedatangan Aurora, namun Aurora tetap tersenyum ramah dan menanyakan keberadaan Sky pada salah seorang receptionist yang bertugas di depan.
Hampir dua menit Aurora menunggu jawaban dari wanita yang bertugas di balik meja receptionist, namun wanita itu hanya terdiam.
"Aku hanya ingin bertemu dengan Pak Sky, apa dia ada di ruangannya?"
"Pak Sky...."
"Sky sudah tidak ada di sini" ucap seorang pria dari pintu masuk.
Aurora langsung menoleh ke arah suara pria yang tak asing baginya. "Bang Izar." sapa Aurora kepada kakak sulung Sky.
"Duduk dulu yuk, Ra." Izar mengajak Aurora untuk duduk di lobby, yang berada di sebelah receptionist.
Aurora menganggukan kepalanya, sembari mengikuti Izar dari belakang.
"Duduklah!" Izar mempersilahkan Aurora untuk duduk, kemudian ia duduk di hadapan Aurora.
"Apa kabar Ra? Sudah lama kita jumpa."
"Alhamdulillah baik Bang, Bang Izar sendiri bagaimana?" tanya Aurora kembali.
"Alhamdulillah, aku dan keluargaku juga baik." jawab Izar. "Jadi begini, Ra." Izar memulai pembicaraannya. "Sudah dua bulan ini, sebagian besar bisnis yang Sky miliki aku yang mengelolanya, termasuk tempat gym ini." terang Izar.
"Lalu Sky?"
"Tentu saja dia tetap masih mendapatkan bagian keuntungan dari bisnis ini, aku hanya mengelolanya saja."
"Bukan itu maksudku Bang." Aurora sama sekali tak menanyakan soal bagi hasil usaha yang di jalankan Sky, ia hanya ingin mengetahui keberadaan Sky. "Maksudku sekarng Sky berada di mana?"
"Mama mengundangmu makan malam bersamanya, kalau kamu ada waktu datanglah ke rumah." Izar beranjak dari tempat duduknya. "Masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan, aku ke ruang kerjaku dulu ya. Sekali lagi, datanglah ke rumah jika kau tak sibuk." Izar melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Aurora dengan wajah bingungnya.
"Ada apa dengan Sky, mengapa seolah semua orang menghindar? Apa Sky sudah menikah? Aku akan bahagia jika Sky telah menemukan tambatan hatinya, aku tidak akan mengganggu rumah tangganya, tentu aku akan bersahabat juga dengan istrinya." Dengan penuh tanda tanya, Aurora kembali ke kedainya, ia mendapatkan pesan jika Sagara sudah bangun.