Perfect Wife

Perfect Wife
BAB - 35



"Sky, kamu ganti baju dulu gih." Kinara memberikan sebuah kaus milik putra sulungnya kepada Sky, namun karena kaus tersebut tak sesuai dengan stylenya, Sky pun langsung menolaknya. "Gak ah Mah, kaos bapak-bapak." ia nampak geli melihat kaus bertuliskan 'Best Daddy Ever'


"Ehhh... kamu ini!! Lihat, bajumu kotor mana boleh kamu masuk ruang rawat inap? Sudah ayo cepat ganti baju, Mama mau menemin Mamanya Aurora ke IGD katanya agak pusing habis ngeliat banyak banyak darah. Bik Siti juga mau pulang lagi katanya mau beres-beres barang-barang Aurora dan babynya, sekalian nyiapin buat buka kedai, jadi sementara kamu yang jagain Aurora," omel Kinara panjang kali lebar.


"Kalau bisa jagain selamanya, aku mau kok Mah." ucap Sky sambil tersenyum.


"Jangan dong, kasihan Auroranya, lagi pula dia juga masih punya suami."


"Iya Mah, aku ngerti kok. Aku juga enggak mau klo pada akhirnya malah aku yang ngerepotin dan bikin susah Aurora. Ya sudah aku ke kamar mandi dulu ya mah." Sky berjalan meninggalkan ibundanya, namun baru dua langkah berjalan, Kinara kembali memanggil putranya. "Sky.." Sky pun menoleh.


"Are you okay?"


Sky tersenyum menganggukan kepalanya, kemudian ia kembali melangkah menuju kamar mandi untuk mengganti pakaiannya.


Meski Sky terlihat santai dalam menjalani hari-harinya, namun sebagai seorang ibu Kinara tetap merasakan kesedihan yang mendalam terhadap putra bungsunya yang harus survive melawan penyakitnya, sehingga ia tidak bisa bekeluarga, tidak bisa memiliki keturunan, dan hanya bisa memendam perasaannya terhadap Aurora di hatinya.


Sesaat ia menghapus air matanya, kemudian ia menghampiri Annisa dan mengantarnya ke IGD.



Meski dengan sangat terpaksa mengenakan kaus abangnya, ia tetap bahagia bisa menemani Aurora. Setelah mengganti pakaiannnya, ia masuk ke ruang rawat inap Aurora. Sky melihat Aurora tengah belajar berdiri bersama seorang suster yang mendapinginya.


"Loh kok kamu sudah bisa berdiri Ra? Nanti sakit lagi loh" tanya Sky dengan cemas.


"Kamu enggak perlu khawatir, Ini namanya metode ERACS yang memungkinkan Ibu yang melahirkan pulih dalam waktu yang lebih cepat dibandingkan caesar biasa." jawab Aurora sambil memperhatikan kaos yang di kenakan oleh Sky, ia membayangkan jika kaos itu Sekala yang mengenakannya.


"Oh ini punya Abangku, kamu masih ingatkan kakak iparku yang kita pernah ketemu di mall? Nah, kemarin lusa dia baru saja melahirkan. Kebetulan ia melahirkan di sini, tapi kayanya hari ini ia dan bayinya pulang."


Aurora menundukan kepalanya, ia tak tahu kapan ia bisa membawa babynya pulang karena saat ini babynya masih dalam observasi.


"Aku yakin babymu akan baik-baik saja dan segera pulang." Sky meraih tangan Aurora kemudian menuntunnya berjalan pelan-pelan menuju meja makan. "Kamu makan dan minum obat dulu ya, nanti kita sama-sama ke NICU"


Aurora menganggukan kepalanya, ia berjalan sembari berpegangan erat pada tangan Sky.


"Kamu harus cobain sate lilit dan sop buntut buatan asistennya mama, enak banget." Sky membantu Aurora mengambilkan makanan untuknya.


"Kok kamu enggak makan?" Aurora memperhatikan jika Sky menuangkan makanan ke piring dan mangkuk hanya untuk dirinya saja.


"Gampanglah aku belum lapar." Sky menaruh sup di hadapan Aurora kemudian ia mengambil sendok dan garpu, lalu memberikannya kepada Aurora. "Habisin ya."


Setelah menyantap beberapa suap rasanya tidak enak jika makan seorang diri, "Kamu makan juga ya." Aurora mengarahkan sendok berisi makanan ke mulut Sky.


Sky terdiam beberapa saat, namun kemudian ia membuka mulutnya "Udah ah, nanti kalau aku baper gimana? Repot kan kalo bapernya sama istri orang." ucap Sky sambil tersenyum.


"Istri orang? Orang yang seharusnya bertanggung jawab dan hadir mendampingi aku di saat seperti ini nyatanya sampe sekarang masih tidak ada kabar, mungkin dia masih bersama wanita itu." Aurora menaruh kembali sendoknya, mengingat Sekala membuat dirinya menjadi tak berselera untuk makan.


"Enggak kok, aku memang sudah kenyang." Ia mengambil semua obat dan vitamin yang di berikan perawat, kemudian meminumnya. "Aku penasaran siapa wanita beruntung yang nanti menjadi pendampingmu, karena aku yakin kau tidak akan menduakannya dan akan selalu berada di sampingnya." Ucap Aurora.


Ia meraih tangan Sky dan menggegamnya "Terima kasih banyak ya Sky, kamu selalu ada di saat aku membutuhkan pertolongan." Aurora beranjak dari tempat duduknya dan perlahan berjalan menuju tempat tidurnya.


Sky pun beranjak dari tempat duduknya, ia menyusul Aurora dan membantunya menuju tempat tidur.


Di saat Aurora hampir memejamkan matanya Aksara dan istrinya datang menjenguk Aurora, mereka berdua mendapatkan kabar dari Annisa bahwa Aurora telah melahirkan.


"Ra.... " Kara berlari menghampiri Aurora, kemudian memeluknya erat. "Maafin aku hiks..."


Annisa bukan hanya mengabarkan Aurora telah melahirkan, namun Annisa juga menceritakan perselingkuhan antara Sekala dengan Syeira, hingga kejadian Aurora melabrak Syeira di apartemennya yang menyebabkan Aurora mengalami pendarahan.


"Untuk apa meminta maaf? Kamu enggak salah Kar."


"Aku salah Ra, enggak seharusanya aku ngenalin orang yang belum selesai masa lalunya, dan cuma jadiin kamu pelariannya."


"Tunggu, tunggu... Jadi kamu tahu hubungan Mas Kala dengan Syeira?" tanya Aurora.


Kara menganggukan kepalanya, "Lebih dari lima tahun mereka pacaran, dan Sekala hampir melamarnya, tapi kemudian Syeira pergi ninggalin Sekala....."


'Lima tahun' batin Aurora, ia tak bisa membayangkan sudah sejauh mana hubungan yang mereka bina selama lima tahun dan tentu Syeira memiliki tempat istimewa di hati Sekala.


'Sudahlah terima saja kenyataan yang ada jika suamimu lebih bahagia dan lebih mencintaiku hahaha...' Syeira tertawa dengan penuh kemenangan.


Bayangan akan kalimat yang di lontarkan Syeira, di sertai tawa penuh kemenangannya. Teringat jelas dalam benak Aurora.


"Maafin aku Ra, aku tidak tahu jika mereka kembali menjalin hubungan aku pikir hubungan mereka sudah selesai. Hiks...."


Aurora hanya terdiam, air matanya kembali menetes mendapati kenyataan jika dirinya hanyalah sebuah pelarian semata, padahal ia telah memberikan seluruh hatinya untuk Sekala.


Perlahan Aurora melepaskan pelukan Kara, "Maaf, aku mau istirahat." ia menghapus air matanya dengan jari jemarinya, kemudian menarik selimut dan menutup tubunya hingga ke wajahnya.


"Maaf bukan maksudku untuk mengusir kalian, tapi Aurora masih butuh istirahat." ucap Sky.


Aksara menganggukan kepalanya, "Titip Aurora ya.." ia menepuk bahu Sky, lalu menggandeng istrinya keluar dari kamar rawat inap Aurora. Namum belum keduanya pergi, tina-tiba saja Aisyah datang "Kau ini sudah malas, bodoh lagi. Masa menjaga ka dungan saja tidak bisa, sampai-sampai bayimu lahir prematur. Kalo bayimu cacat bagaimana?" omel Aisyah, ibunda Sekala.


"Astagfirullahaladzim, tante!!!" tak ingin tantenya mengomeli Aurora dan membuat kegaduhan di rumah sakit, Kara menarik Aisyah keluar dari kamar Aurora "Ikut Kara, sekarang!"


"Kamu ini apa-apan sih, tante baru dateng udah di usir," protes Aisyah, ia menghempaskan tangan Kara.


"Tante yang apa-apaan? Dateng-dateng bikin huru-hara." Kara menaikan nada bicaranya dan menatap Aisyah dengan tatapan tajam. "Ikut Kara, Kara mau ngomong serius sama tante."


Tanpa menunggu jawaban dari Aisyah, Kara kembali meraih tangan Aisyah dan mengajaknya pulang.