Perfect Wife

Perfect Wife
BAB - 48



Dua bulan kemudian.


Aurora terbangun dari cahaya redup lampu tidur, ia meraba-raba tempat tidurnya di sebelah kanannya, namun ia tak menemukan keberadaan suaminya, hanya ada Sagara di sebelah kirinya yang tertidur dengan lelap menghadap ke dinding kamarnya.


Dengan sangat hati-hati ia beranjak dari tempat tidurnya sembari mengenakan Pajamasnya. Sebelum berjalan keluar dari kamarnya, Aurora tak lupa menaikan Bed rail baby agar anaknya tidak jatuh dari tempat tidur.


Setelah memastikan anaknya aman barulah ia keluar dari kamar, melewati ruang keluarga tak sengaja Aurora melihat suaminya tengah tertidur menunduk di atas meja dengan laptop yang masih menyala, dan dokumen pekerjaannya yang berserakan di lantai.


Sejak Randy memberikannya kesempatan untuk bergabung di MyAccount, Sekala bekerja dengan sangat giat, tak jarang ia membawa pekerjaannya ke rumah dan melanjutkannya hingga menjelang subuh, ia memiliki target untuk bisa sesegera mungkin melunasi hutang-hutangnya dan membuat hunian yang layak untuk istri dan anaknya.


Prraaang...


Secara tak sengaja saat Aurora hendak menyelimuti Sekala, kaki Aurora menyenggol gelas kopi yang Sekala letakan di lantai.


"Eh Boo..." Sekala terbangun dari tidurnya mendengar bunyi gelas yang tersenggol oleh Aurora. "Kaki kamu enggak apa-apa sayang?" tanya Sekala panik melihat gelas yang tersenggol tadi pecah.


"Enggak apa-apa kok." Aurora langsung berjongkok membereskan pecahan gelas yang berserakan. "Awww..." darah segar mengalir di jari Aurora saat ia tekena salah satu sudut pecahan gelas yang sangat tajam.


Sekala langsung meraih tangan istrinya dan menghisap darah yang mengalir di jari telunjuk istrinya. "Biar aku saja nanti yang beresin, kamu duduk saja di sofa ya." Sekala beranjak dari tempat duduknya, ia bergegas mengambil kotak P3K untuk mengobati luka istrinya.


"Maaf ya mas, aku malah jadi ganggu istirahat mas Kala."


"Enggak kok, harusnya aku yang minta maaf naruh gelas sembarangan." Sekala membersihkan dan mengobati luka Aurora dengan telaten. "Bagaimana masih sakit enggak?"


Aurora menggelengkan kepalanya. "Terima kasih ya mas."


Sekala tersenyum sembari mengelus kepala Aurora dengan lembut. "Ya sudah aku beresin pecahan gelasnya dulu ya, setelah itu kita siap-siap shalat subuh." ia membereskan kotak P3K yang telah selesai ia gunakan, kemudian beranjak dari sofa, namun Aurora menahannya dengan memegang tangannya. "Masih jam setengah empat belum adzan."


Sekala pun kembali duduk di samping istrinya. "Apa ada yang yang mau kamu bicarakan?" ia menyelipkan beberapa helai rambut Aurora kebelakang telinganya.


Sebenarnya Aurora ingin sekali membahas masalah s*x bersama Sekala, yang sudah sangat jarang sekali mereka lakukan, pasca Aurora mencabut gugatan perceraiannya. "Mas apa aku terlihat sangat gendut dan tak menarik di bandingkan dengan Syei... Ra?" tanya Aurora ragu-ragu.


Tak bisa Aurora pungkiri bahwa perselingkuhan yang di lakukan oleh suaminya cukup menghancurkan jati dirinya, dalam benaknya ia selalu mempertanyakan segala kekurangannya di bandingkan dengan kelebihan yang Syeira berikan kepada suaminya, ditambah sikap Sekala yang hampir tidak pernah mengajaknya berhubungan, membuat Aurora memikirkan hal yang tidak-tidak.


"Dengar ya Boo! kamu itu sama sekali tidak terlihat gendut. Justru yang ada, aura kecantikanmu semakin bertambah setelah kamu melahirkan Saga. Kamu itu lebih dari cantik, wajahmu sangat meneduhkan, dan kamu begitu sempurna." Sekala membelai wajah Aurora dengan lembut.


"Tapi semenjak kita baikan, kita jarang sekali melakukan itu, seingatku kita hanya melakukannya sekali. Apa mas masih teringat saat bersamanya?"


Sekala terdiam sejenak, lalu ia menghela nafas beratnya. "Engga Boo, sama sekali enggak. Jujur saja, aku terkadang merasa jijik dengan diriku sendiri karena pernah melakukan perbuatan hina. Sementara kamu, kamu selalu menjaga dirimu. Aku malu banget sama kamu Boo." Sekala menundukan kepalanya, ia sangat malu hingga tak berani menatap Aurora.


Pernyataan Sekala mematahkan prasangka buruk dan rasa insecurenya yang selama ini mengganggu pikirannya, Aurora merangkum wajah Sekala dan menatapnya dalam-dalam "Rasa sayangku padamu tidak pernah berkurang sedikit pun."


Sekala hanyut dalam tatapan mata Aurora yang meneduhkan hatinya, perlahan ia mencium bibir Aurora, sembari membelai wajah istrinya dengan telapak tangannya, ia menelusuri lekuk wajah wanita yang sangat ia sayanyanginya itu. "Maafkan aku Boo, aku membuatmu berfikir yang tidak-tidak."


Kedua tangan Sekala sudah ada di tubuh Aurora, menangkup payudar*nya yang semakin membesar. "You're so beautiful baby"


Tangan Aurora mencengkeram erat sisi piyama Sekala, ia menikmati jil*tan lembut lidah Sekala yang mengelilingi bibir Aurora yang merekah, kemudian Sekala menyelipkan lidahnya, memenuhi mulut Aurora, hingga tubuh Aurora bergidik.


Hasrat bergejolak dalam diri Aurora, membuat napasnya terengah, tangannya berusaha menggapai, membuka kancing piyama suaminya, kemudian turun ke bawah mengelus dengan lembut bagian sudah mulai menegang


Di atas sofa tersebut, Sekala menelanjangi tubuhnya dan tubuh istrinya.


Aurora memejamkan matanya saat tubuh Sekala menekannya, ia berpegangan pada bahu kokoh dan lebar pria yang dicintainya, Ia menikmati berat tubuh yang menindihnya, degup jantung yang berdegub dengan hebatnya dan lembapnya kulit Sekala, serta pelukan hangat Sekala.


Namun baru beberapa kali hentakan, suara adzan subuh berkumandang. "Kita selesaikan dulu ya." Sekala menghentakannya semakin cepat hingga mereka berdua sama-sama mencapai klimaksnya.


Sekala mencium lembut kening Aurora kemudian memberikan pelukan hangannya, sebelum ia membopong tubuh istrinya ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan kemudian mereka beribadah bersama.



Seperti biasanya, sebelum berangkat ke kantor Sekala selalu mengantar istrinya ke kedai.


"Mas, siang nanti aku boleh ke tempat Gym Sky?" tanya Aurora dengan hati-hati, ia tak ingin membuat suami cemburu. "Maksudku, aku hanya ingin tahu kondisinya saja karena sudah dua minggu belakangan ini Sky sudah tidak lagi mengirimi pesan."


Sekala terdiam, ingin sekali ia memberitahu yang sebenarnya mengenai kondisi Sky saat ini, namun ia sudah terlanjur janji dengan Sky dan keluarnya untuk tidak memberitahu apa pun mengenai kondisinya.


"Enggak di izinin ya?"


"Boleh sayang, kamu boleh ke tempat Gymnya Sky." Sekala mendekat dan mengelus kepala istrinya dengan lembut. "Nanti aku temani ya, kebetulan aku bisa pulang siang."


"Mas cemburu ya? Aku sama Sky enggak ada apa-apa kok, aku hanya ingin ngobrol sebentar saja dengannya."


"Aku tidak cemburu sayang."


"Lalu?"


Sekala tidak bisa mengatakan jika dirinya ingin menemani Aurora, lantaran ia khawatir jika Aurora akan bersedih saat mengetahui kondisi Sky.


"Ya baiklah, terserah kamu saja. Turun yuk aku mau langsung ke kantor takut telat!"


Tak ingin istrinya bertanya lebih banyak lagi, ia pun mengiakan permintaan istrinya, dan ia akan sebisa mungkin pulang lebih cepat sebelum Aurora datang ke tempat gym milik Sky.


Sekala menoleh ke bangku belakang, mengambil barang-barang keperluan anaknya kemudian ia dan Aurora turun dari mobil, Sekala mengantar istri dan anaknya hingga masuk ke dalam ruang kerja istrinya.