
Aurora duduk di depan cermin memandangi kalung indah yang nampak seperti sinar matahari di langit dataran Skandinavia. Belakangan Aurora mengetahui jika kalung tersebut di pesan khusus oleh Sky untuk dirinya, ia ingin memberikan perhiasan sesuai dengan namanya Aurora.
"Apa kamu mau memakainya?" tanya Sekala, ia berdiri di belakang istrinya memegangi pundak Aurora.
"Apa Mas Kala tidak keberatan jika aku mengenakan perhiasan dari pria lain?"
"Selain dari Sky, tentu aku akan marah." Sekala meraih kalung indah itu, dan kemudian memasangkannya di leher istrinya, tak lupa Sekala menjulurkan hijab istrinya hingga menutup dadanya. "Sudah yuk kita berangkat, nanti kita telat."
Hari itu rencananya, Sekala mau menemani istrinya berziarah ke makam Sky dan mengunjungi yayasannya, kemudian bertemu dengan Bagas, arsitek yang akan merenovasi kediamannya.
"Mas duluan saja ke mobil, aku mau ngambil Saga dulu di samping sama Bik Siti."
Sekala menganggukan kepalanya, ia terlebih dahulu berjalan menuju garasi sementara Aurora ke taman di samping kediamannya mengambil Sagara yang sedang bermain bersama asistennya, barulah keduanya berangkat menuju makam Sky.
Meskipun masih di landa duka yang cukup mendalam atas kepergian sahabat terbaiknya, namun Aurora tetap berusaha untuk tegar. Di depan pusara Sky, ia bedoa dengan sepenuh hatinya.
'Sky, kau masih akan tetap jadi sahabat terbaikku, meski kita kini ada di dunia berbeda.' Aurora menelusuri ukiran nama pada batu nisan makam sahabatnya itu dengan jarinya. 'Terima kasih atas semua kebaikan yang telah kau berikan, yang belum sempat aku membalasnya. Aku akan selalu mendoakanmu.'
Saat Aurora menaburi makam Sky dengan bunga-bungaan segar, ada seorang gadis kecil datang dengan membawakan bunga tulip di tangannya, ia berjongkok dan berdoa dengan khusyuk di depan pusara Sky.
Aurora dan Sekala menunggu hingga gadis kecil itu selesai berdoa dan menaruh bunga yang ia bawa di atas makam Sky, Aurora berjalan mendekati gadis tersebut.
"Boleh aunty tahu siapa namamu?" tanya Aurora, sembari mengelus dengan lembut kepala gadis kecil itu.
Untuk beberapa saat gadis itu memandangi Aurora, kemudian gadis kecil itu menjawab pertanyaan Aurora dengan menggunakan bahasa isyarat L-U-N-A. Aurora sangat terkejut mengetahui gadis kecil itu seorang tunarungu, namun Aurora merasa beruntung karena pernah mempelajari bahasa isyarat sehingga ia tak mengalami kesulitan memahami bahasa isyarat yang di sampaikan Luna.
"Dimana rumahmu? Mau Aunty antar?" tanya Aurora kembali, namun kali ini ia mengunakan bahasa isyarat. Aurora ingin tahu ada hubungan apa Sky dengan gadis kecil ini, mengapa sepertinya Luna sangat sedih saat ia berdoa di depan pusara makam Sky?
Luna menunjuk ke arah bangunan kecil yang nampak sangat asri dan indah yang jaraknya hanya sekitar 55 meter dari makam Sky.
"Itu adalah yayasan milik Sky. Sepertinya anak ini salah satu anak yang tinggal di sana." ucap Sekala.
"Aunty antar ke sana ya."
Luna menganggukan kepalanya, Aurora tersenyum kemudian ia menggandeng tangan Luna berjalan menuju yayasan, di ikuti oleh Sekala di belakangnya sembari menggendong Sagara.
Ketika mereka hampir sampai, ada salah seorang wanita paruh baya yang berjalan menghampiri Luna dan Aurora. "Luna dari mana saja? Dari tadi Ibu mencarimu kemana-mana!" tanya wanita itu.
"Tadi Luna, habis berziarah ke makam Sky." jawab Aurora, ia mengulurkan tangannya ke arah wanita itu. "Aurora"
Wanita itu nampak terkejut melihat Aurora, namun kemudian ia menerima uluran tangan Aurora "Saya Mega, penjaga yayasan ini." ia mengulurkan tangannya ke arah Sekala.
"Sekala" ucapnya sembari menjabat tangan Mega.
"Mari masuk!" Mega mempersilahkan Aurora dan Sekala masuk, dan mengarahkannya ke ruang tamu. "Luna main dulu sama teman-teman yang lainnya ya." ucap Mega kepada Luna, sambil menujuk ke arah taman bermain.
Luna menganggukan kepalanya, kemudian ia berlari entah kemana, Luna tak menghampiri teman-temannya yang sedang bermain di taman.
"Mungkin Luna ke ruang lukis." ucap Mega. "Mari silahkan duduk Pak Sekala, Bu Aurora." Mega mempersilahkan keduanya duduk di ruang tamu.
"Kebetulan ketua yayasan kami sedang keluar, apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Mega. "Maaf sebelumnya, apa Bu Aurora keluarga dari almarhum Pak Sky?" tanya Mega kembali.
Sambil berkeliling yayasan Mega menceritakan mengenai yayasan yang menapung sekitar dua puluh lima bayi dan anak-anak mulai dari usia 2 bulan hingga 12 tahun, yang di buang oleh orang tuanya lantaran mengidap virus HIV. Sky bukan hanya memberikan tempat tinggal yang layak, tapi juga pendidikan, keterampilan, dan pastinya kesehatan. Secara rutin ia mendatangkan dokter dan tenaga medis lainnya untuk merawat mereka.
"Ada juga beberapa yang kini sedang di rawat di rumah sakit, karena kondisinya yang membutuhkan perawatan serius." ucap Mega, ia mengarahkan Aurora dan Sekala ke ruang belajar anak-anak.
Kepingan-kepingan memory akan kebersamaannya bersama Sky sewaktu kuliah dulu kembali teringat. Sky seringkali mengajak Aurora mengunjungi salah satu panti asuhan di Jogja, ia datang ke panti bukan hanya sekedar untuk berbagi tapi juga untuk mendongeng atau pun mengajari bahasa asing pada anak-anak, Sky terlihat begitu mencintai anak-anak.
"Jika sudah menikah nanti aku ingin memiliki 5 anak, agar rumahku terasa ramai. Kalau kamu mau punya berapa, Ra?" tanya Sky.
Aurora tak begitu menanggapi pertanyaan Sky, dalam pikirannya hanyalah bisa segera lulus dan mendapatkan pekerjaan yang bagus.
Ruang terakhir yang mereka datangi adalah ruang seni lukis. "Almarhum Pak Sky sering kali menghabiskan waktunya di sini untuk melukis bersama dengan anak-anak, terutama bersama Luna." ucap Mega, ia mepersilahkan Aurora dan Sekala masuk.
Benar saja, Luna sedang berada di dalam ruangan tersebut. Begitu itu ia melihat Aurora datang, ia langsung menghampiri Aurora dan menariknya masuk lebih dalam menuju sebuah lukisan yang di tutupi oleh selembar kain putih.
Alangkah terkejutnya Aurora, saat Luna membuka kain tersebut. Wajah cantiknya terpajang dalam lukisan itu, dan Luna mengatakan bahwa Sky membuatnya, Sky melukis wajah Aurora sambil bercerita banyak tentang Aurora kepada Luna.
"Kata papa, aku harus jadi wanita seperti aunty, yang bukan hanya cantik wajahnya namun juga hatinya dan juga jadi wanita yang cerdas." ucap Luna dalam bahasa isyarat.
"Papa?"
"Iya, uncle membolehkanku memanggilnya papa, karena aku tidak punya papa." ucap Luna.
Aurora berjongkok mensejajarkan dirinya dengan Luna, ia mengelus kepala Luna dengan lembut. "Aunty janji, akan rutin mengunjungi Luna dan teman-teman Luna di sini, tapi Luna juga harus janji juga untuk terus meminum obat secara teratur dan rajin belajar." Aurora menyodorkan jari kelingkingnya ke arah Luna.
Luna tersenyum sembari menganggukan kepalanya dan melingkarkan jari kelingkingnya di jari kelingking Aurora.
"Luna, kita ke depan yuk gabung sama teman-teman yang lain. Uncle bawain mainan untuk Luna dan teman-teman." ucap Sekala.
Luna pun berlari meninggalkan ruang lukis, di susul Bu Mega di belakangnya.
"Kapan Mas beli mainan?" tanya Aurora.
"Barusan aku menghubungi toko mainan untuk membawakan mainan untuk anak-anak."
"Oh ya sudah, kita ke depan yuk. Takut penjual mainannya nunggu lama." Aurora bergegas menuju teras, namun Sekala menahannya. "Mau ngapain? Kurirnya sudah pergi."
"Loh terus mainan tidak di bayar?"
"Sudah sayang."
"Bayar pake apa? uang Mas Kala kan ada di aku."
"Yang kemarin kamu kasih masih ada kok." ucap Sekala.
"Ya sudah nanti aku transfer lagi, Saga sama aku saja Mas." Aurora mengambil putranya dari gendongan suaminya.
"Boo, aku tahu saat dulu aku mengajakmu bertaaruf kamu masih nunggu Sky, kamu masih mencaritahu dimana keberadaannya." Sekala menatap mata Aurora dalam-dalam, ia tahu meski istrinya mencintai dirinya namun Sky memiliki tempat tersediri di hati Aurora. " Aku memang tidak sebaik Sky, tapi aku akan berusaha menjadi sepertinya." ucap Sekala.
"Jadilah versi terbaik dari diri mas sendiri, aku mencintai Mas Kala apa adanya." Aurora menggandeng tangan suaminya, menuju teras bergabung bersama anak-anak lainnya.