Oh My Jasson

Oh My Jasson
Aku mencintaimu



Jasson berjalan mendekati Alea yang kini berdiri di ambang pintu. Tatapan matanya terlayangkan dengan pertanyaan-pertanyaan yang belum tersampaikan. Mengamati kedua mata wanita itu yang terlihat sembab. Suara Jasson nyaris lolos dari bibirnya yang mengatup untuk menanyakan kehadiran Alea di sana. Namun, kedatangan Harry dari belakang wanita itu mengurungkan niatnya.


"Harry?"


"Jasson, aku ada perlu denganmu."


"Hal apa?" tanyanya diikuti dengan kerutan di kening. Pandangannya kembali berpindah kepada Alea yang hampir ia lupakan.


"Kau sedang apa di sini? bukannya tadi kau sudah ke kantor kakak untuk memulai bekerja dengan Daven?"


"Iya ... tapi aku memiliki kepentingan denganmu. Sama halnya dengan Harry," ujar Alea penuh dengan teka-teki. "Ada hal yang penting yang ingin kusampaikan. Aku membawakan sebuah kabar yang mungkin akan membuatmu senang." Seulas senyuman yang melukis di bibir setengah pucat wanita itu membuat kening Jasson semakin berkerut penuh tanda tanya.


Jasson merasa dibingungkan. Ia menyuruh kedua temannya itu masuk dan mempersilakannya untuk duduk di sofa yang ia duduki terlebih dulu. Kesenyapan melingkupi ruangan itu saat obrolan serius terjalin di antara mereka bertiga.


***


Langit sudah menampakan warna jingganya setelah matahari berhasil menenggelamkan diri dari jangkauan mata manusia. Burung-burung berterbangan. Saling berlomba untuk kembali mencapai sangkarnya. Kimmy terlihat duduk di kursi tunggu yang berjajar rapi di depan rumah sakit. Menunggu Jasson yang tak kunjung menjemputnya. Berulangkali ia menguap, menyembunyikan rasa lelah dan kantuknya di balik wajah muramnya.


"Kenapa Jasson lama sekali?" Kimmy tak henti mamandangi layar ponsel yang tak ia alihkan dari genggaman tangannya.


Sedari tadi, layar ponsel itu sengaja ia hidup dan padamkan secara berkala. Ia tidak berani menghubungi Jasson untuk menanyakan keberadaannya. Karena dirinya takut mengganggu. Lebih baik menunggu sampai Jasson datang, tetapi sampai saat ini, satu pesan maupun kabar pun sama sekali tak ia terima dari suaminya tersebut. Bahkan, lampu-lampu yang ada di pelataran rumah sakit kini sudah dinyalakan, menandakan petang akan segera menyambut.


"Kimmy maaf aku terlambat." Kimmy menengadahkan kepalanya. Seulas senyuman yang sedikit masam menyambut Jasson yang terengah-engah di hadapannya.


"Kau sudah datang." Kimmy memasukan ponselnya ke dalam tas dan mengaitkan tas jinjing tersebut  ke lengan tangannya yang terlihat telanjang sebagian. Sebelum kemudian,  ia beranjak berdiri meninggalkan kursi itu.


"Kau pasti menungguku lama. Maafkan aku. Aku ada pekerjaan mendadak, dan tadi ...."


"Tidak apa-apa, Jasson. Aku bisa mengerti," tukasnya menghentikan penjelasan Jasson.


"Kau tidak marah?"


Kimmy mengulum sebuah senyuman penuh dengan pengertian. "Kau kan sudah bilang kalau beberapa hari ke depan kau akan banyak pekerjaan. Aku bisa mengertikan itu. Aku yang tidak tau diri, karena tempat kerjaku yang sangat jauh, aku jadi sering merepotkanmu."


"Kau sama sekali tidak merepotkanku." Jasson tersenyum. Ia menarik tubuh Kimmy dan memberikan pelukan dan ciuman singkat kepada wanita itu. Sebelum akhirnya, mereka berdua benar-benar pergi meninggalkan tempat tersebut.


***


Kimmy dan Jasson sedang berada di dalam kamar. Setelah mereka saling membersihkan tubuhnya yang lengket dan makan malam bersama sesaat mereka tadi tiba di rumah. Jasson merangkak naik ke atas tempat tidur menghampiri Kimmy yang terlebih dulu merebahkan tubuhnya di sana.


Jasson merebahkan tubuhnya di samping Kimmy. Menumpu kepalanya dengan satu tangan saat ia memiringkan posisi tubuhnya supaya bisa leluasa menjangkau wajah istrinya. "Bagaimana pekerjaanmu hari ini?" tanya Jasson seraya menyingkirkan rambut Kimmy yang memenuhi dahinya. Menatap lekat-lekat wajah wanita itu dengan penuh senyuman yang mendamba.


"Seperti biasanya. Cukup melelahkan." Kedua mata perak Kimmy menangkap sesuatu yang sudah tak asing di kedua manik mata suaminya.


"Kau sendiri?"


"Sama."


Kimmy memiringkan posisi tubuhnya hingga kini saling berhadapan dengan Jasson. Kedua mata mereka saling terkunci cukup lama, begitu pun tawa yang tertahan  di bibir masing-masing saat tidak ada percakapan yang mereka sematkan.


"Sudah malam, sebelum kita tidur, apa ada yang ingin kau bicarakan?" Jasson bertanya sambil mengusap bibir Kimmy yang cukup kering. Ada sebuah dorongan ingin membasahi bibir itu, namun ia tahan.


Tatapan mata sendu Kimmy berbinar seakan sedang menyusun pertanyaan.


"Ehm ...."


"Apa? bertanyalah."


"Ehm, a-apa kau sudah memindahkan Nona Alea ke perusahaan Kakak Ken?" Pertanyaan itu lolos dari bibir Kimmy dengan ragu-ragu. Tangannya kini mendarat di kaus atas yang dikenakan oleh Jasson. Tepatnya di bagian kerah tempat kancing kausnya yang mengait di sana.


Jasson mengira Kimmy sedang menggodanya, tetapi ternyata pikirannya salah. Kimmy memainkan kancing kaus itu tak lain supaya ia  bisa menyembunyikan kecemburuan terhadap Alea yang saat ini sedang menyelinap di dalam dirinya.


Jasson hanya diam. Menatap lekat wajah wanita yang tak bisa lepas dari pikirannya setiap waktu. Tak langsung menjawab. Laki-laki itu sibuk dengan pikirannya sendiri. Seperti pertanyaan yang sedang dipertanyakan oleh Kimmy saat ini sangatlah  sulit untuk ia jawab.


"Jasson ...." Suara panggilan Kimmy menyadarkannya dari lamunan.


"Apa kau sudah memindahkan Nona Alea ke tempat Kakak Ken?" Pertanyaan itu kembali Kimmy pertegas. Tangannya kini berhenti memainkan kancing baju Jasson. Tangan itu nyaris menjauh, namun Jasson dengan cepat menahannya untuk ia genggam. Tatapannya sedang serius menunggu jawaban Jasson. Kebungkaman sejenak menyergap laki-laki itu.


"Ehm, iya." Jasson menganggukan kepala dengan ragu. "Aku sudah memindahkan Alea ke kantor Kakak."


Jawaban Jasson seketika melegakan hati Kimmy. Terlihat dari senyuman yang mengulas bibir warna merah jambu milik istrinya itu. Bibir yang sangat menggoda itu kini berhasil dijamah oleh bibirnya dengan sangat rakus.


"Tidurlah, sudah malam." Kimmy meraih ujung selimut berusaha menarik kain berbulu itu untuk menyembunyikan tubuhnya dari Jasson. Namun, Jasson tak membiarkannya begitu saja. Tangannya berhasil menghempaskan selimut itu dari tubuh Kimmy. Hingga selimut itu perlahan terjuntai di bawah lantai.


"Katanya mau tidur?" Rona merah menyembur di bagian wajah Kimmy; tepatnya di kedua tulang pipi wanita itu. Berusaha menghentikan tangan  Jasson yang saat ini sedang memainkan kancing piyamanya yang nyaris terlepas dari pengaitnya.


"Tadinya memang seperti itu." Suaranya penuh dengan rayuan yang mendamba. Kimmy sudah hafal betul dengan suara itu. Darahnya mendadak berdesir dan terasa menggelitik di sekujur tubuhnya, saat tangan Jasson kini beralih menelusuri perutnya yang datar dan berusaha menyelinap masuk ke dalam balutan piyama yang ia kenakan.


"Jasssssooooon ...." Suara Kimmy mendayu penuh dengan penolakan. Namun hal itu justru malah membangkitkan keinginan Jasson.


"Kau yang terlebih dulu meggodaku." Seulas senyuman yang mengait di bibir Jasson membuat Kimmy tersihir untuk tidak bisa menolak untuk melayani suaminya meskipun sebenarnya ... ia benar-benar lelah. Ciuman yang kembali Jasson benamkan di bibir Kimmy, kini memulai percintaan di antara mereka.


*


Rasanya Kimmy ingin sekali mengumpat kata-kata yang pantas untuk kenikmatan yang ia terima saat ini. Rasanya Jasson dan Kimmy tak ingin menghentikan kegiatan panas itu.  Seolah takut jika tidak akan pernah bisa merasakannya kembali.


Pelepasan gairah antar keduanya mengakhiri percintaan panas yang terjadi cukup lama. Kimmy yang memang sudah lelah dan mengantuk, kini mendahului Jasson untuk tidur terlebih dulu. Sebuah ciuman mendarat di puncak kepala Kimmy  sesaat setelah tatapan mata Jasson memandangnya berlama-lama.


Jasson masih terjaga akan malam yang dipenuhi dengan banyak pikiran yang berlarian di kepalanya. Tangannya mengusap-usap telapak tangan Kimmy yang kini bertumpu pada dada bidangnya yang masih telanjang dan lembab akibat keringatnya yang sepenuhnya belum mengering.


Ada kebingungan yang gagal ia surutkan dari tatapan matanya terhadap pantulan wajah wanita yang ada di sampingnya saat ini.


Jasson perlahan memindahkan tangan Kimmy takut memabangunkan istrinya tersebut. Ia bermaksud turun meninggalkan tempat tidur. Namun, pelukan Kimmy semakin dipererat, seakan takut jika laki-laki itu pergi meninggalkannya.


"Jangan pergi." Rancauan itu lolos dengan samar dari bibir Kimmy yang sedikit terbelah. Jasson mencoba meregangkan pelukan tangan Kimmy dari tubuhnya. Namun,kedua mata wanita itu seketika terbuka.


"Mau ke mana?" tanyanya dengan suara yang tidak jelas. Matanya meredup dan tak terbuka dengan sempurna.


"Aku mau memeriksa pekerjaanku sebentar," jawabnya dengan suara lembut meyakinkan Kimmy berharap bisa mengerti.


"Ini sudah malam." Tatapan mata Kimmy begitu sendu dan penuh dengan larangan. Berharap suaminya itu tetap berada di sisinya. "Jangan pergi."


Merasa tak tega. Jasson pun mengurungkan niatnya untuk meninggalkan tempat tidur. "Iya, aku tidak akan pergi." Jasson membiarkan Kimmy kembali memeluknya.


Jasson memperhatikan kedua mata Kimmy  yang cukup lama terpejam, setelah ia memutuskan untuk tetap menemaninya di sana. Jasson sebenarnya sangat mengantuk. Namun, laki-laki itu gagal mengistirahatkan tubuhnya sekalipun itu berusaha keras untuk memejamkan mata.


"Jasson ...." Kimmy mamnggil nama itu dengan suara samar. Pun matanya yang tampak tak terbuka hingga mengalihkan sorot mata Jasson yang semula ia layangkan ke sembarang arah kini terpaku ke wajah Kimmy.


"Hem?" Jasson menyahut sambil mengalihkan beberapa sulur anak rambut yang menutupi wajah Kimmy. Kini ia bisa lebih leluasa memandangi wajah istrinya.


"Aku mencintaimu." Bibir Kimmy kembali bergerak dengan malas setelah beberapa saat.


Bibir Jasson tak bergeming. Ia menatap wajah Kimmy dengan penuh tanya. Apa Kimmy berucap di bawah kesadarannya? Jasson rasa begitu. Namun, entah kenapa laki-laki itu menyukai kalimat yang terdengar menghujam  begitu dalam. Seakan kalimat itu memang diucapkan oleh  Kimmy memang benar-benar dari hati.


"Kau bicara apa?" Jasson mencoba memastikan kembali bahwa pendengarannya tidak salah. Namun, ia merasa kecewa karena  tidak ada pergerakan dari bibir Kimmy. Wanita itu kini benar-benar terlelap akan tidurnya. Jasson menyimpulkan bahwa Kimmy hanya mengigau,


"Aku mencintaimu." Sebuah dorongan keras tanpa sadar memaksa Jasson untuk mengucapkan kalimat itu saat keheningan cukup lama menyelinap di dalam pikirannya. Ia mendekap tubuh Kimmy dan meninggalkan sebuah ciuman di puncak kepalanya. Tidak membutuhkan balasan ataupun jawaban. Bisa memiliki Kimmy dan mendekapnya seperti ini, lebih dari kata cukup. Sebuah rasa yang tidak pernah terpikir akan mengendap di dalam hatinya. Wanita yang mulanya tidak pernah terpikir akan mengisi hari-harinya dengan kegelisahan setiap kali berjauhan.


.


.


.


.


Jika kalian menyukai cerita Kimmy dan Jasson jangan lupa beri dukungan like, vote melalui poin atau koin ya. Terimakasih atas dukungan dan komentar positif kalian yang selalu membuat Nona semangat melanjutkan cerita ini. Sekalipun terkadang Nona ingin sekali menyerah untuk tidak melanjutkannya.


^_^