Oh My Jasson

Oh My Jasson
Jangan menertawakanku!



Empat bulan kini berlalu sudah, rumah tangga Kimmy dan Jesson berjalan seperti sebelum-sebelumnya, tidak ada perubahan sedikitpun dari sifat Jasson dan perlakuannya terhadap Kimmy. Namun, kendati itu, Kimmy sudah terbiasa menerima sikap dingin suaminya tersebut. Yang sampai sekarang masih  belum bisa ia terima ialah  pertemanan antara suaminya dengan Alea yang begitu dekat. Setiap kali melihat kedekatan wanita itu bersama Jasson, hatinya serasa ditikam oleh belati yang sudah berkarat, ia selalu  merasa diasingkan, bahkan di rumahnya sendiri.


Seperti siang ini, Kimmy terlihat baru saja pulang dari rumah sakit dan dijemput oleh sopir pribadinya, pemandangan menyakitkan kembali ia rasakan tatkala ia mendapati suaminya dan juga Alea sedang duduk berdua di depan halaman rumah. Kimmy tau mereka sedang membahas pekerjaan, namun entah kenapa  hatinya masih saja merasa sakit setiap kali melihat kedekatan Jasson dengan wanita lain, kedekatan yang sampai saat ini belum pernah ia dapatkan dari suaminya. Bukankah ini hal yang lumrah? pikirnya.


Kimmy berjalan dengan langkah gontai, sepatu heels yang ia kenakan bergantian membentur lantai marmer halaman rumah hingga  menciptakan suara yang mengalihkan perhatian Alea dan Jasson ke arahnya.


"Nona Kimmy, kau sudah pulang bekerja," sapa Alea sembari tersenyum. Kimmy menghentikan langkah kakinya tepat di hadapan mereka.


"Iya, Nona Alea. Aku baru saja pulang." Kimmy mengulas senyumannya dengan sedikit paksaan, menyembunyikan perasaannya yang seakan tercabik-cabik oleh kecemburuan yang tidak jelas arah.


"Apa setiap kali bekerja kau selalu diantarkan oleh sopir, Nona Kimmy?" tanya Alea.


Kimmy menganggukan kepalanya sebagai jawaban. "Iya, Nona Alea."


"Jasson, apa kau tidak pernah mengantar jemput  Nona Kimmy bekerja?" Alea tiba-tiba mengalihkan pertanyaannya kepada Jasson, entah kenapa pertanyaan Alea terdengar seperti sengaja. Jasson tak langsung menjawab pertanyaan sekretaris sekaligus temannya itu, selama empat bulan lebih dirinya menikah dengan Kimmy, ia memang sama sekali tidak pernah mengantar jemput istrinya untuk pergi  bekerja.


Jasson menatap ke arah Kimmy yang masih berdiri di hadapannya, tatapan mereka bertemu cukup lama dan dalam. "Aku tidak memiliki waktu untuk mengantar atau menjemputnya," jawabnya tanpa mengalihkan pandangannya kepada Kimmy. "Ada sopir yang selalu mengantar jemput dia."


"Astaga, Jasson. Kau selalu mengantar jemput diriku bekerja, tetapi istrimu sendiri kau biarkan berangkat dan pulang bekerja sendirian, kau ini bagaimana!" .


"Arah rumah sakit tempat Kimmy bekerja dan kantor sangat jauh dan berbeda arah. Lagipula ini kemauan dia."


"Ini memang keinginanku, Nona Alea. Aku memang tidak mau menyusahkan Jasson," timpal Kimmy. Kedua matanya terlihat dilapisi oleh cairan tipis yang siap untuk digenangkan. Rasa sakit yang ia terima kali ini bukan karna tidak pernah diantar jemput oleh Jasson pergi bekerja, melainkan karna terkesiap saat mendengar pernyataan bahwa suaminya selama ini selalu mengantar jemput Alea bekerja.


"Aku permisi masuk ke dalam." Kimmy tersenyum dan berlalu pergi meninggalkan mereka berdua di sana. Kedua mata Jasson masih mengikuti gerak tubuh istrinya yang kini bayangannya sudah menghilang masuk ke dalam rumah.


"Alea, aku tidak suka kau berbicara seperti itu!" ujar Jasson setelah mengalihkan pandangannya ke arah wanita yang duduk di sampingnya.


"Apa yang aku bicarakan?"


"Kau bilang aku selalu mengantar jemput dirimu. Itu tidak benar!" tegas Jasson.


"Tapi itu memang benar, bukannya kau selalu mengantar jemput diriku."


"Aku mengantar jemput dirimu jika hanya ada pekerjaan penting yang mendesak dan bertemu dengan klien  di luar kantor. Itu semata kulakukan karna kau adalah temanku, kau tidak memiliki alat transportasi, aku juga  tidak mau hanya karna dirimu terlambat aku jadi kehilangan kepercayaan klienku!"


Alea terperangah mendengar apa yang telah diucapkan oleh Jasson baru saja. Kenapa  Jasson jadi seketus ini terhadapnya? mulut wanita itu  sama sekali tak bergeming untuk melakukan penyerangan kepada atasan sekaligus temannya tersebut.


"Bawa berkas ini, aku akan menandatanganinya di kantor. Sekarang pulanglah." Jasson memberikan berkas-berkas yang ia pegang kepada Alea.


"Kau marah kepadaku?" tanya Alea.


"Tidak, aku hanya lelah dan sedang tidak berselera membahas pekerjaan. Pulanglah sekarang, aku akan memesankan taxi untukmu!"  Jasson beranjak berdiri dan berlalu masuk ke dalam rumah meninggalkan Alea yang masih mematung di tempat yang sama.


***


Kimmy terlihat menyandarkan punggungnya di belakang pintu kamar yang sengaja ia tutup rapat, kedua matanya terpejam dan diikuti oleh air mata yang sudah tak mampu ia bendungkan lagi.


"Nona Alea sering sekali diantar jemput oleh Jasson."


"Ya, Tuhan. Kenapa hatiku merasa sakit seperti ini." Kimmy memegangi  dadanya, merasakan detak jantungnya melambat, begitu pun napasnya. Wanita itu masih merasakan sesak yang teramat. Sebagian orang yang beruntung karna cinta mungkin tidak akan pernah bisa merasakan bahwa jatuh cinta sendirian itu sungguh menyakitkan, seperti yang saat ini Kimmy rasakan. Mau mengutarakan perasaannya pun juga tak ada gunanya, karna Kimmy sudah jelas tau bahwa Jasson sama sekali  tak memiliki perasaan yang sama dengannya.


Pergerakan daun pintu yang bergerak secara berulang, membuat Kimmy segera mengusap air mata dengan menggunakan kedua ibu jarinya, sebelum akhirnya ia membukakan pintu kamar tersebut.


Jasson  terlihat berdiri saat Kimmy sudah membuka penuh pintu kamar itu, senyuman hangat yang mengulas bibir Kimmy kini mulai menyapanya.


"Ada apa?" tanya Kimmy. Jasson hanya diam, ia memperhatikan sekitar mata Kimmy yang terlihat masih basah hingga  membuat wanita itu segera menghindar dari pandangannya.


"Apa kau tadi sudah makan siang? jika belum aku pesankan makanan sekalian."


"Tadi aku sudah makan siang, apa kau tidak mau kumasakan saja?" tanya Kimmy. "Aku sudah bisa sedikit belajar memasak  dari mama Merry," sambungnya seraya tersenyum.


"Tidak usah, aku tau kau pasti lelah. Nanti malam saja buatkan aku makanan."


"Baiklah kalau begitu."


"Bibi dokter ...." Suara Elga terdengar berteriak dari luar. Kimmy yang mendengarnya segera berhambur keluar menerobos tubuh Jasson untuk menemui gadis kecil tersebut, pun Jasson mengikutinya dari belakang.


"Elga sayang ...."


"Bibi dokter, tangkap aku ... tangkap aku ...."  Elga terlihat berlari dengan pakaian seragam dan juga ransel kecil yang masih melekat di tubuh mungilnya, ia terlihat baru saja pulang sekolah dan diantarkan oleh sopir. Kimmy meregangkan kedua  tangannya, lalu ia menghujani begitu banyak ciuman di kepala maupun wajah Elga, sesaat setelah tubuh mungil gadis itu terbenam dalam dekapannya.


"Anak cantik sudah pulang sekolah. Ayo kita masuk ke dalam kamar, Bibi akan membantu mengganti pakainmu." Kimmy menggendong tubuh Elga dan hendak mengajak keponakannya tersebut masuk ke dalam kamar, namun langkahnya tiba-tiba  dihentikan oleh Jasson.


"Kemarikan Elga, biar dia  kugendong." Jasson mengambil alih tubuh Elga dari tangan Kimmy dan membawa keponakannya itu masuk ke dalam kamar.


*


Tiga minggu yang lalu Alana telah melahirkan seorang bayi laki-laki yang diberi nama Bryen Moen. Bayi itu sangat  lucu dan menggemaskan sangat mirip sekali dengan Elga waktu masih bayi, sama-sama memiliki pipi bulat.


Kehadiran anak keduanya, membuat Alana harus pintar-pintar membagi waktu untuk putri sulungnya supaya tidak cemburu dan kekurangan kasih sayang.


Dan setiap akhir pekan, seperti hari ini, Alana selalu menitipkan Elga kepada Kimmy dan juga Jasson, sesuai kemauan putrinya yang ingin menginap di rumah bibi dan juga pamannya. Kimmy pun merasa senang, kehadiran Elga di rumahnya selalu menambah keceriaan wanita itu. Terkadang pun, membuat jiwa keibuannya muncul dengan sendirinya.


***


"Paman, ayo kita bermain." Sore itu Elga menghampiri Jasson yang terlihat duduk berselonjor di atas tempat tidur sembari membawa buku bacaan di kedua tangannya. Sebuah kotak berisi peralatan make-up milik Kimmy, ia bawa mendekati pamannya tersebut.


"Paman sedang membaca, Sayang. Kau bermain dengan bibi saja, ya."


"Bibi dokter sedang mandi."


"Tunggu bibi selesai mandi, Paman mau menyelesaikan buku bacaan Paman," tutur Jasson seraya mengusap pipi keponakannya tersebut supaya bisa mengertikan kesibukannya.


"Paman bisa membaca buku itu nanti, Elga ingin bermain dengan Paman sekarang." Elga mencebikan bibir mungilnya, merasa kesal akan penolakan Jasson.


Jasson mendengus, ia menutup buku itu dan meletakannya di atas nakas, tak memiliki pilihan selain menuruti ajakan keponakannya. "Baiklah, ayo kita bermain. Kau mau bermain apa, Sayang?"


"Kita bermain alat make-up." Elga menunjukan kotak make-up itu kepada Jasson, dengan senyuman centilnya yang begitu khas.


"Paman tidak bisa merias, Sayang," tutur Jasson.


"Tapi Elga bisa." Elga dengan penuh semangat mengeluarkan salah satu kuas dalam kotak itu dan menunjukannya kepada Jasson.


"Bisa merias wajah Paman."


"Paman tidak mau!" tolak Jasson secara terang-terangan.


"Kenapa Paman tidak mau?"


"Karna Paman laki-laki tidak bisa bermain ini. Paman tidak mau!"


"Tapi daddy mau jika bermain alat make-up denganku."


"Daddy mau kau rias?" tanya Jasson dengan terkejut.


Elga menganggukan kepalanya. "Iya, Elga selalu bermain alat make-up bersama daddy. Jika daddy tidak mau mami akan memarahinya sambil melototkan matanya seperti ini," jawabnya dengan sangat polos seraya menirukan bagaimana Alana memarahi Ken.


"Pantas saja."


"Ayo, Paman." Elga mencoba menjangkau wajah Jasson, namun laki-laki itu menolaknya.


"Paman tidak mau, Elga."


"Tapi daddy selalu mau, ayo, Paman."


"Tapi aku bukan daddy-mu, Nak. Kenapa kau begitu menyebalkan sekali!"


Kimmy terlihat baru saja keluar dari dalam kamar mandi, hingga Jasson memiliki kesempatan untuk mengalihkan permintaan yang diinginkan oleh Elga kepada istrinya tersebut.


"Bibi dokter sudah selesai mandi, kau bermain saja dengan bibi dokter," tutur Jasson.


"Tidak mau!"


"Ada apa, Jasson." Kimmy berjalan menghampiri suami beserta keponakannya yang berada di atas tempat tidur.


"Bibi aku mau merias wajah Paman, tapi Paman tidak mau," rengek Elga.


"Jasson, kenapa kau tidak mau?" seru Kimmy.


"Kau masih bertanya kenapa?" Jasson melototkan kedua matanya kepada Kimmy membuat wanita itu beringsut takut.


"Bibi ...." Elga mengaduh dengan tatapan matanya yang begitu sendu, gadis kecil itu hampir menangis karena keinginannya tidak dituruti.


"Jasson, tolong biarkan Elga meriasmu, hanya bermain alat make-up saja. Nanti aku akan membantumu untuk membersihkannya," bujuk Kimmy. Wanita itu benar-benar tidak tega melihat anak kecil menangis, terlebih lagi yang menangis ialah keponakan yang sangat ia sayangi.


"Kau—"


"Jasson ...." Kimmy memanggil nama itu dengan penuh harap. Jasson seakan tidak memiliki pilihan lain untuk menolak, hingga akhirnya laki-laki itu terpaksa mengizinkan keponakannya itu untuk mengotori wajahnya dengan alat-alat make-up yang ia rasa sangat menggelikan.


***


"Sayang, seharusnya kau memakaikan lipstick yang ini untuk paman Jasson," tutur Kimmy sesaat setelah dirinya memperhatikan Elga yang hampir selesai merias wajah pamannya.


"Bagaimana cara memamainya, Bi?" tanya Elga seraya memiringkan kepalanya.


"Akan Bibi tunjukan caranya." Kimmy membuka penutup lipstick itu dan hendak mendekatkan ke arah bibir Jasson.


"Kau jangan ikut-ikut!" Jasson memelototi Kimmy dengan penuh ancaman.


"Aku hanya mau membantu Elga supaya riasannya sempurna."


"Kimmy!" Jasson memberi peringatan saat dirinya merasakan polesan lipstick dari tangan Kimmy sudah teelanjur menyentuh bibirnya.


"Hanya sedikit saja, diamlah," tutur Kimmy.


"Kau—"


"Rasakan ini, rasakan." Kimmy dengan gemas mengoles lipstick itu di bibir Jasson, raut wajahnya terlihat memerah karena sedari tadi berusaha menahan tawa saat melihat coretan make-up tebal dari tangan Elga memenuhi wajah dingin suaminya.


"Awas kau berani tertawa!" ancam Jasson.


"Tidak, siapa yang tertawa," bantahnya.


"Kimmy, jangan tertawa. Kau akan kehilangan nyawamu," batinnya masih berusaha menahan tawa.


"Sudah selesai," ujar Kimmy seraya meletakan lipstick itu ke tempatnya semula.


"Wah, Paman cantik sekali ...." Elga mencubit kedua pipi Jasson dengan penuh kepuasan akan riasannya. Namun Jasson hanya diam dan menautkan kedua alisnya, sama sekali tidak memberi tanggapan apapun.


Hal itu membuat Kimmy tak bisa menahan tawanya lagi saat ia melihat ekspresi wajah suaminya yang terlihat begitu teraniaya oleh keinginan Elga, hingga akhirnya tawa wanita itu lepas dan memecah seisi kamar itu.


"Paman Jasson, kau cantik sekali." Kimmy menirukan gaya berbicara Elga hingga dirinya tertawa terpingkal-pingkal.


"Dia berani sekali menertawakanku!" umpat Jasson merasa sedikit kesal, tatapan dingin yang ia layangkan kepada Kimmy sama sekali tak membuatnya takut, justru malah membuat wanita itu semakin tertawa hingga mengeluarkan air mata.


Namun, rasa kesal Jasson seketika sirna tatkala kedua matanya sedari tadi tak henti memperhatikan Kimmy yang masih tak henti menertawakannya, rasanya ia sudah lama sekali tidak pernah melihat wanita itu tertawa.


Tawa Kimmy serasa menular, membuat laki-laki itu juga ingin tertawa, namun sebisa mungkin Jasson menahannya. Ia lebih memilih menarik kedua sudut bibirnya ke atas hingga membentuk sebuah senyuman tipis tanpa sepenglihatan Kimmy.


.


.


.


.


Follow Instagram Nona @Nona.lancaster


aplikasi watt'pad @Nona Lancaster.


Jangan lupa dukungan Like dan Votenya, terimakasih 😘