
Kimmy terlihat menangkup rambut Elga yang kini duduk memunggunginya. Rambut ikal berwarna madu itu berkilauan karena silau matahari. Keduanya tengah duduk di dekat jendela kamar yang terbuka lebar, membiarkan tubuh mereka terpanggang oleh teriknya sinar matahari yang menghangatkan pagi.
Oh Mr. Sun, Sun
Mr. Golden Sun
Please shine down on me
Oh Mr. Sun, Sun
Mr. Golden Sun
Hiding behind a tree
Suara Elga menyemarakkan kamar yang sunyi itu. Kimmy bersusah payah mengikat rambut Elga karena harus mengikuti kepala keponakannya yang digeleng ke kiri dan ke kanan senada dengan alunan lagu yang dinyanyikan oleh bibir mungilnya.
Nyanyian Elga terhenti. Begitupun dengan Kimmy yang yang telah berhasil menguncir rambut Elga dengan rapi. Perhatian mereka saling tersita ke arah pintu kamar mandi yang terbuka dan menampakan Jasson keluar dari sana dengan telanjang dada dan handuk yang mengalung di lehernya.
"Paman sudah selesai mandi?" tanya Elga.
"Iya, sudah, Sayang." Jasson mengeringkan rambut cepaknya yang basah dengan salah satu sisi handuk yang mengalung di lehernya. Berjalan mendekat. Namun, tatapan matanya tertuju ke arah Kimmy. Kedua mata wanita itu menyambutnya dengan sangat hangat.
"Bersiaplah, kita akan mengajak Elga jalan-jalan," ujarnya kepada Kimmy. Namun yang dihebohkan justru malah Elga.
Kedua mata Elga membola, korneanya semakin menampakan warna terangnya. "Jalan-jalan?" tanyanya dengan tidak percaya.
"Iya, kau tidak mau jalan-jalan dengan Bibi dokter dan Paman?" Jasson duduk berjongkok, melayangkan usapan lembut di salah satu pipi keponakannya yang semakin bulat. Jelas saja, karena berat badan Elga setiap bulan selalu bertambah satu kilo. Di usia pertumbuhannya yang sekarang ini, Alana gencar-gencarnya memenuhi asupan gizi Elga.
"Tentu saja aku mau," soraknya dengan penuh semangat. Elga berhambur ke pelukan Jasson dan meninggalkan ciuman di pipi pamannya tersebut saat ucapan terimakasih lolos di bibir mungilnya.
***
Selama satu hari penuh, Kimmy dan Jasson mengajak Elga berjalan-jalan, mengunjungi kebun binatang dan juga taman hiburan. Makan coklat dan ice cream sudah menjadi kewajiban untuk mereka nikmati saat mengajak Elga berjalan-jalan seperti ini. Namun, di sini yang tampak sangat terhibur ialah Kimmy. Wanita itu sangat telaten menjaga Elga dan mengikuti keponakannya itu yang sangat aktif berlarian ke sana kemari. Mungkin memang sudah saatnya wanita itu memiliki anak. Memang itu yang saat ini Kimmy inginkan, begitu juga dengan Jasson.
Raut wajah Kimmy tak henti mengembangkan senyuman sejak dari pagi. Seakan Elga adalah alasan satu-satunya wanita itu untuk melupakan semua masalah dan juga beban yang akhir-akhir ini mengguncang emosi perasaannya.
Begitu pun Jasson yang tampak bahagia menyaksikan pemandangan itu. Laki-laki itu kini duduk di bawah pepohonan yang rindang. Kedua matanya tak lepas memperhatikan Elga dan Kimmy yang sedang asyik bermain lempar gelang di ujung sana. Angin semilir sore itu mengoyak dedaunan pohon yang sebagian sudah terlihat kering hingga beruguran di tanah. Tak jarang satu atau dua helai daun kering itu terselip di rambut Jasson.
Senyuman lembut mengulas bibir Jasson, nyaris tak terlihat, namun laki-laki itu bisa merasakannya saat bayangan beberapa anak kecil dan Kimmy berlari-lari dipikirannya. Iya, laki-laki itu tengah membayangkan bagaimana kelak dirinya dan Kimmy menjadi orang tua saat memiliki seorang anak. Padahal, sebelum menikah, Jasson tidak pernah berpikiran untuk memiliki anak di usia mudanya. Yang ada dipikirannya waktu itu hanya berbisnis dan memiliki perusahaan, tetapi entah kenapa, rasanya ia sekarang tak sabar menginginkan seorang anak dari Kimmy. Rasanya mungkin akan sangat menyenangkan. Terlebih lagi bisa melihat istrinya tersenyum seperti itu setiap waktu.
Elga terlihat berlari ke arah Jasson, diikuti oleh Kimmy yang berjalan cepat dari belakang. Langkah mereka terdengar jelas saat serik dedaunan kering yang berguguran di sekitar kursi yang diduduki oleh Jasson terinjak oleh kaki mereka.
"Paman, aku bosan." Elga mengulurkan tangannya ke atas saat tangan Jasson mengangkat dan meletakan tubuh mungil gadis itu ke pangkuannya. Kedua tangan mungil Elga melingkar di leher Jasson dan menyandarkan kepala di salah satu bahunya.
"Apa kau mau pulang?" Jasson menepis daun kering yang baru saja terjatuh dan menyelip di rambut Elga.
"Iya, aku mau pulang. Aku merindukan Mami dan adik Bryen." Elga menguap sambil mengangguk-anggukan kepalanya. Keponakannya itu terlihat begitu lelah. Bagaimana tidak lelah. Dari pagi sampai sore dirinya tidak berhenti bermain.
"Elga sepertinya sangat lelah, lebih baik kita bawa dia pulang saja," tutur Kimmy. Langkahnya baru saja terhenti.
"Kau juga sepertinya lelah. Ayo kita pulang."
***
Jasson dan Kimmy kini tengah melakukan perjalanan ke rumah Alana untuk mengantarkan Elga. Keponakannya itu terlihat diam di pangkuan Kimmy, kepalanya bersandar di dada wanita itu. Sangat anteng dan tidak terlalu banyak berceloteh seperti biasanya. Mungkin karena terlalu kelelahan akibat seharian bermain.
Petang menyambut mereka tiba di rumah Alana. Jasson mengambil alih Elga dari gendongan Kimmy dan membawa keponakannya itu untuk masuk ke dalam rumah.
"Kalian sudah kembali?" Alana menyambut Kimmy dan Jasson saat pintu rumah baru saja ia buka sebelum mereka mengetuk pintu itu.
"Iya, Elga sendiri yang meminta pulang. Katanya dia merindukanmu dan Bryen," jawab Jasson.
"Anak Mami ...." Alana mengambil alih Elga dari tangan Jasson, mendaratkan ciuman di pipi putrinya yang nampak bangun namun tak bersuara sedikitpun. Alana menyuruh Jasson dan Kimmy masuk ke dalam rumah, mempersilakan mereka untuk duduk di sana. Tak lama setelah itu. Ken dan Daven terlihat keluar dari kamar dan duduk menghampiri.
"Kenapa Bryen kalian tinggal sendiri?" seru Alana.
"Dia baru saja tidur." Ken mendaratkan tubuhnya untuk duduk di samping Alana. Begitu juga dengan Daven yang duduk di samping Ken; persisnya di seberang Kimmy, hingga membuat suasana hati Jasson tidak membaik seperti sebelumnya.
Seperti mengawasi seorang pencuri. Kedua mata Jasson tak melepaskan Daven dan Kimmy dari pandangannya.
"Ehm, Alana, Kakak ... Kalau begitu aku dan Kimmy pamit pulang," pamit Jasson secara tiba-tiba.
"Kenapa terburu-buru sekali. Kita makan malam dulu," ajak Alana.
"Bibi Dokter dan Paman menginap di sini saja," Permintaan Elga mengurungkan niat mereka yang nyaris meninggalkan tempat duduknya.
"Iya, kalian menginap saja di sini. Besok kan hari minggu. Kalian juga tidak pernah menginap di sini," tutur Ken.
"Sekali-sekali kalian menginap di sini." timpal Daven. Tatapan dan senyumnya mengarah kepada Kimmy. Membuat Jasson semakin tidak menyukainya.
"Iya, Jasson. Kita menginap saja di sini." Kimmy meminta dengan penuh harap seraya memegang lengan tangan Jasson. Namun, Jasson malah membalasnya dengan tatapan dingin. Apa karna ada Daven dia begitu bersemangat sekali untuk menginap di sini? batinnya.
"Hah, kenapa menatapku seperti itu." Senyumanan Kimmy menyurut. Wanita itu dibuat membeku. Ia menjauhkan tangannya dari Jasson, dan mengalihkan pandangan hingga tak berani lagi mengutarakan pendapatnya.
"Lain kali saja kita menginap di sini. Kita tidak mau merepotkan kalian semua," ujar Jasson.
"Sama sekali tidak merepotkan, iya, kan, Daddy?" timpal Elga. Tatapannya sedang menunggu jawaban dari Ken.
"Kau ini bicara apa?" seru Ken. "Kita ini keluarga, jadi tidak ada yang namanya merepotkan," tutur Ken.
"Ayolah ... Paman dan Bibi menginap saja di sini." Elga merengek. Kedua tangan mungilnya mengatup dengan penuh permohonan. Sebenarnya Jasson benar-benar enggan. Alasannya mungkin karena ada Daven di sana, meskipun hati laki-laki itu membantahnya. Namun, karena tidak tega melihat Elga yang hampir menangis. Jasson pun terpaksa menuruti keponakannya itu untuk menginap di sana.
***
Seusai makan malam bersama keluarga Alana. Jasson dan Kimmy pergi ke kamar tamu yang sudah disiapkan oleh Bi Ester, sebelumnya. Kimmy terlihat baru saja keluar dari kamar mandi dengan memakai pakaian yang telah dipinjamkan oleh Alana untuknya. Ia dengan segera menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur, tepatnya di samping Jasson yang kini tengah membaca buku yang tadi sempat ia pinjam dari Daven.
"Kau sangat lelah?" tanya Jasson.
"Mungkin terlalu banyak menggendong Elga."
"Tidak," bantah Kimmy. "Aku hanya kurang istirahat saja."
"Ya sudah, kalau begitu cepatlah istirahat." Jasson memberi usapan di kepala Kimmy. Wanita itu mengangguk dan segera memejamkan kedua matanya.
"Bibi Dokter ...." Suara Elga seketika mengurungkan pejaman mata Kimmy yang baru saja ingin mengistirahatkan tubuhnya. Perhatiannya dan Jasson saling mengarah ke pintu kamar yang terbuka sebagian dan menampakan kepala Elga dengan seulas senyuman yang menyeringai.
"Sayang." Kimmy tersenyum. Ia segera bangkit untuk duduk. "Masuklah," perintah Kimmy sambil malambaikan tangannya.
Elga segera masuk. Ia berjalan cepat ke arah Kimmy. Tangannya terlihat membawa buku gambar dan juga belasan crayon yang tertata rapi di sebuh kotak. Gadis itu merangkaknaik ke atas tempat tidur dan duduk di hadapan Kimmy, senyumannya masih melukis wajah polosnya yang menggemaskan.
"Ada apa, Sayang?" Kimmy mengusap pipi Elga dengan sangat lembut, senyuman yang terulas di bibirnya tak menampakan bahwa wanita itu sangat lelah.
"Bibi, ayo kita bermain gambar-menggambar." Permintaan Elga tak bisa membuat Kimmy menolak. Ia dengan senang hati menyanggupi permintaan Elga. Meskipun, sebenarnya, ia sangat lelah dan mengantuk. Namun, ia benar-benar tidak tega menolak permintaan keponakan kesayangannya itu.
"Baiklah, ayo kita bermain."
Jasson merasa terganggu akan permintaan Elga yang mengajak Kimamy bermain. Buku yang sejak daritadi ia buka kini terabaikan olehnya. Ia bisa melihat bahwa Kimmy benar-benar sangat lelah, dan ia tidak setega itu melihatnya.
"Elga, ayo ikut Paman sebentar." Jasson menutup buku yang ia pegang dan meletakannya di atas nakas.
"Kau mau mengajak Elga ke mana, Jasson?" tanya Kimmy.
"Tunggu saja di sini!"
"Paman mau mengajakku Ke mana? Aku mau bermain bersama Bibi Dokter."
"Sudahlah, ayo ikut Paman sebentar." Jasson turun dari tempat tidur. Ia meggendong Elga secara paksa dan mengajaknya keluar dari kamar. Jasson menutup rapat pintu kamar itu dan menurunkan Elga dari gendongannya di depan kamar tersebut.
"Kenapa Paman mengajak Elga kemari? Aku mau bermain bersama Bibi Dokter."
"Sayang ... bermainnya besok lagi, saja, ya." Jasson mengusap kepala Elga, ingin membuatnya mengerti.
"Tidak mau, Elga mau bermain bersama Bibi Dokter sekarang," cebik Elga. Raut wajahnya terpasang kesal.
"Katanya Elga menginginkan adik bayi?"
"Adik bayi?" kedua mata perak Elga membulat. Pipinya yang merah menonjol semakin mengemaskan.
"Iya, adik bayi. Apa Elga mau dibuatkan adik bayi?"
"Tentu saja mau, Paman." Tubuh Elga berjingkat dengan penuh semangat.
"Kalau mau dibuatkan adik bayi. Bermainnya besok saja, ya, Sayang. Biarkan Bibi Dokter di kamar supaya beristirahat," tutur Jasson.
"Baiklah, Elga tidak akan mengajak Bibi Dokter bermain. Tetapi, apa Elga boleh menemani Bibi Dokter di dalam kamar?"
"Tidak boleh, kan Bibi Dokter tidak boleh diganggu. Jadi, Elga sekarang kembali ke kamar Mami dan Daddy ya," tuturnya.
"Baiklah, demi adik bayi ... demi adik bayi ...."
"Ssst ... jangan keras-keras."
"Kenapa, Paman?"
"Ini rahasia, jangan bilang kepada siapa-siapa." Elga mengatupkan bibir mungilnya dan membekapnya dengan erat. Anggukan kepalanya sebagai jawaban menyanggupi permintaan Jasson.
"Rahasia," bisik Elga seraya berlari pergi meninggalkan Jasson. Jasson berkelakar akan tingkah keponakannya yang menggemaskan. Tidak menyangka, keponakannya bisa dibujuk dengan mudah hanya karena adik bayi.
***
Elga berlari ingin kembali ke kamar Alana. Namun, langkahnya terhenti saat ia melihat Alea duduk sendiri di ruang tamu, kedua matanya mengitari rumah itu seakan sedang mencari seseorang. Elga merasa heran akan kehadiran wanita yang dikenal sebagai teman pamannya. Hingga Elga mengurungkan niatnya kembali ke kamar, dan lebih memilih menghampiri Alea di sana.
"Bibi Alea?"
"Hai Elga, Sayang." Alea meregangkan kedua tangannya dan menarik tubuh Elga ke dalam dekapannya. Mengangkat tubuh gadis itu ke pangkuannya.
"Kenapa Bibi ada di rumahku?"
"Iya, Bibi sedang mengantarkan Bibi Chelia di sini karena ada urusan dengan Paman Daven."
"Lalu di mana Bibi Chelia?" tanya Elga. Ia tak mendapati siapapun di sanakecuali Alea.
"Bibi Chelia dan Paman Daven sedang berbicara berdua di taman belakang, Sayang."
"Oh ...." Elga mengangguk-anggukan kepalanya seperti layaknya orang dewasa yang seolah sudah bisa mencerna dengan baik perkataan Alea.
"Oh, iya, Sayang. Apa ada Paman Jasson di sini?" tanya Alea, mengecilkan volume suaranya. Karena saat ia tadi datang bersama Chelia, ia begitu terkejut saat melihat mobil Jasson terparkir di pelataran rumah Daven. Ia pun bertanya-tanya dan dibuat penasaran.
"Iya, Paman Jasson sekarang menginap di rumahku."
"Lalu di mana sekarang Paman Jasson?" Alea mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan yang ia jangkau di dalam rumah Alana. Ingin sekali rasanya wanita itu bertemu dengan Jasson. "Bisakah kau panggilkan Paman Jasson untuk Bibi, Sayang?"
"Tidak bisa!" tegas Elga. Tangannya bersedekap penuh dengan penolakan.
"Kenapa?" Kening Alea berkerut dalam.
"Bibi Dokter dan Paman Jasson sedang ada di kamar. Tidak ada yang boleh mengganggunya."
Elga melihat ke kiri dan ke kanan. Memastikan tidak ada siapapun di sana kecuali dirinya dan Alea. Saat dirasa sudah aman. Elga mendekatkan bibir mungilnya di telinga Alea.
"Bibi dan Paman sedang membuatkanku adik bayi, jadi tidak ada yang boleh mengganggunya termasuk Bibi! Ini rahasia. Bibi tidak boleh bilang kepada siapa-siapa," bisiknya dengan penuh hati-hati.
Jantung Alea seketika mencelus saat mendengar perkataan Elga. "Bukannya daridulu Jasson selalu bilang kepadaku kalau dia tidak ingin memiliki anak sebelum usianya 35 tahun? Ini tidak mungkin."
Tapi tidak mungkin juga anak sekecil Elga berbohong, pikirnya. Sesuatu seakan tercekat di tenggorokan Alea hingga ia kesulitan untuk berbicara. Dadanya terasa sesak akan bantahan yang kini ia benarkan.