
Kedua mata Jasson masih mengamati Kimmy yang memungunginya dan berjalan keluar dari kamar, hingga kemudian, ia tersadarkan saat istrinya itu sudah lenyap dari pandangan matanya.
Pandangan Jasson kini beralih ke arah layar ponsel yang ada di genggamannya dan masih menyala. Terlihat ada tiga puluh enam notifikasi pesan singkat dan pesan suara dari Alea yang kini menjadi pusat sorotan matanya hingga membuat kedua alis tebal lelaki itu ikut berkerut dalam, menandakan bahwa dirinya tengah kesal.
Terdengar suara nada menyambungkan setelah Jasson memutuskan untuk menghubungi Alea tanpa memeriksa isi pesan yang telah dikirimkan oleh sekretarisnya itu terlebih dahulu. Namun, Alea tak kunjung juga menjawab panggilan dari Jasson hingga mengharuskan lelaki itu untuk menghubunginya berulangkali.
"Halo, Jasson, maaf, aku baru saja selesai makan siang." Panggilan terhubung, suara Alea terdengar di seberang sana dengan begitu semangat sesaat setelah Jasson melakukan panggilan untuk yang kelima kalinya.
"Jasson, kau sudah membaca pesan yang kukirim kemarin? aku dari kemarin mencoba menghubungimu, tetapi sulit sekali."
"Alea, aku sudah bilang beberapa kali kepadamu, jangan mengubungiku selama aku sedang cuti!" Suara Jasson terdengar gusar, pun diikuti dengan kerutan di keningnya seakan emosinya ikut menggelap.
"Jasson, aku menghubungimu karna ada urusan pekerjaan yang penting, dan aku membutuhkan persetujuanmu."
"Apa kau tidak bisa menungguku untuk empat hari saja?" tukasnya kesal. "Aku hanya mengambil cuti selama empat hari, bukan satu tahun!"
"Dan aku sudah memberitahumu, jika ada masalah pekerjaan yang sangat penting, kau bisa berbicara kepada kakakku atau papaku. Tidak perlu menghubungiku hingga kau mengirimkan puluhan pesan seperti ini! Apa kau tau ini sangat mengganggu!"
"Kau bekerja di tempatku tidak hanya satu atau dua bulan. Dan aku pergi ke luar negeri bukan untuk yang pertama kalinya. Kau sangat tahu aku jarang sekali mengambil cuti untuk berlibur, dan aku paling tidak suka liburanku diganggu oleh siapapun, sekalipun itu masalah pekerjaan! Lalu kenapa kau masih belum mengerti juga?" Jasson berbicara dengan begitu ketusnya tanpa jeda hingga tak memberikan cela sedikitpun kepada Alea untuk berbicara.
"Maafkan aku ...."
"Baiklah, nanti aku akan memberitahukan masalah ini kepada Tuan Gio atau Tuan Ken. Selamat berlibur, maaf telah mengganggumu, sekali lagi maafkan aku."
Nada suara Alea terdengar kecewa, jelas sekali wanita itu patah hati akan perkataan yang dilontarkan oleh Jasson. Tanpa menjawab, Jasson segera mengakhiri panggilan itu terlebih dulu, dan segera mengalihkan ponselnya ke mode pesawat terbang.
***
Kimmy terlihat duduk di kursi anyaman yang ada di teras villa sembari menunggu Jasson yang 'mungkin' masih sibuk dengan Alea, pikirnya. Tangannya berulang kali merapikan rambutnya yang berhamburan akibat diterpa angin. Tatapannya terlihat kosong ke sembarang arah, hatinya mendadak tidak semangat setelah nama Alea membekas dengan jelas di ingatannya.
Kedua mata Kimmy terpejam singkat, sesingkat napas berat yang baru saja ia embuskan di sela-sela rasa sakit yang seakan menghujam jantungnya. Entah kenapa, setiap kali mendengar nama Alea, rasanya hatinya begitu terluka. Kimmy rasanya tidak menyukai nama itu, terlebih lagi setelah pikirannya diperkuat bahwa Alea benar-benar memiliki perasaan kepada laki-laki yang telah menjadi suaminya saat ini.
"Bawalah ini ...." Lamunan Kimmy tersadarkan saat Jasson tiba-tiba berdiri di hadapannya sembari menyodorkan sebuah ponsel. Entah sejak kapan laki-laki itu berdiri di sana. Kimmy menengadahkan kepalanya, lalu ia beranjak berdiri tanpa mengambil alih ponsel itu dari tangan Jasson.
"Bawalah ponselku," kata Jasson sekali lagi.
"Jasson, kau simpan sendiri saja ponselmu. Lebih baik aku memakai ponselku saja untuk berfoto nanti, tapi kau tenang saja, aku akan mengaktifkan mode pesawat supaya tidak ada yang menghubungiku," ujarnya.
"Tidak usah. Pakai ponselku saja. Aku sudah mengaktifkan ponsel ini ke mode pesawat. Jika tau kau suka berfoto, aku pasti akan membawa kamera dari rumah," Jasson menarik tangan Kimmy dan meletakan ponsel itu dengan paksa di genggaman tangannya.
"Tapi Jasson, aku tidak mau pekerjaanmu terganggu. Tidak ada bedanya kan jika memakai ponselku?"
"Aku sudah bilang, pakai ponselku untuk berfoto nanti!" seru Jasson. "Aku tidak mau liburanku terganggu dengan pekerjaan atau orang lain!"
"Tapi--"
"Kalau kau tidak mau, tidak usah membawa ponsel!"
Kimmy mendengus kecil. "Baiklah, selama tidak menggagumu pekerjaanmu, aku akan memakai ponselmu."
"Hmm, ayo ...." Jasson merampas tangan Kimmy dan melekatkan jemarinya di sela-sela jemari tangan istrinya itu, sebelum kemudian, ia berlalu pergi meninggalkan villa tersebut.
***
Kimmy dan Jasson berkeliling ke tempat wisata terdekat dan ditemani oleh seorang tourist guide hingga sore hari, dan kunjungan terakhir mereka berhenti di sawah terasering, suasana penghijauan di sana sungguh meneduhkan mata hingga membuat Kimmy tak henti mengedarkan pandangan akan keindahan yang jarang sekali ia lihat di negaranya.
"Jasson, tolong ambil gambarku lagi." Kimmy dengan penuh semangat mendekati Jasson yang masih berjalan ke arahnya, ia menyodorkan ponsel yang ia pegang kepada sang pemiliknya. Wanita itu mencari view yang sekiranya menarik.
Tak terhitung berapa kali ia meminta tolong kepada Jasson untuk memotret dirinya, dan mungkin kini sudah ada ratusan fotonya yang menghiasi ponsel milik suaminya tersebut. Jika ada foto yang tidak sesuai dengan keinginan Kimmy, ia menyuruh Jasson untuk mengulangnya lagi, hingga terkadang membuat Jasson begitu jengkel seperti saat ini.
"Sudah ...." Dengan raut wajah yang datar, Jasson menyodorkan ponsel itu kepada Kimmy, menunjukan hasil jepretannya.
"Apa kau tidak bisa memotretku dengan benar? aku terlihat sangat gemuk di sini," protes Kimmy.
"Tidak bisa, aku bukan fotografer!" seru Jasson. Kimmy mencebikan bibirnya, ia mengamati beberapa foto dirinya yang baru saja diambil oleh Jasson. Namun, tidak sesuai dengan keinginannya.
"Pemandangan di sana cukup bagus," ujar Jasson. Kedua mata Kimmy mengikuti jari telunjuk Jasson mengarah.
"Oh, iya, bagus. Bisakah kau mengambil gambarku di sana?" Kimmy menyodorkan ponsel yang ia pegang kepada Jasson. Tatapan mata dan senyumnya terulas dengan penuh harap membuat Jasson merasa jengkel karena tidak bisa menolak.
"Kemarikan!" Jasson merampas dengan kesal ponsel itu dan berjalan mendahului Kimmy dengan mulut yang menggerutu.
"Daritadi hanya mementingkan dirinya saja, tanpa menyuruhku atau mengajakku untuk berfoto bersama!"
"Bergeserlah sedikit, potret aku dengan baik, jangan terlihat gemuk jika terlihat gemuk kau harus mengulangnya lagi!" perintah Kimmy seraya mengatur pose semenarik mungkin. Karna hampir seharian penuh menghabiskan waktu di tempat wisata bersama Jasson. Kimmy tidak seberapa canggung lagi dengan lelaki itu.
"Cerewet sekali!" seru Jasson. Jasson memposisikan layar ponsel yang ia pegang dengan malas dan hanya mengambil satu gambar.
"Sudah!" katanya sembari mengulurkan ponsel itu kepada Kimmy.
"Kenapa hanya satu kali?" protes Kimmy.
"Kau mau berapa? seratus kali?" serunya dengan kesal. Kimmy pun hanya diam dan tak berani membantah.
Kimmy mengambil alih ponsel yang dipegang oleh Jasson. Merasa tidak puas dengan hasil jepretannya. Kedua ekor matanya melirik ke arah Jasson yang menatapnya seperti seekor binatang buas yang hendak menerkamnya hidup-hidup.
"Apa? kau mau bilang fotonya jelek?" seru Jasson.
"Ti-tidak, fotonya bagus," sahut Kimmy.
"Ini sungguh jelek, dia tidak pandai mengambil foto."
Dan kebetulan sekali, seorang tourist guide yang memandu mereka seama di Bali, terlihat melintas di sana. Kimmy segera melambaikan tangannya untuk memanggil pemandu tersebut.
"Tolong ambilkan gambarku di sini." Kimmy yang tak merasa puas dengan hasil jepretan Jasson segera meminta bantuan kepada pemandu tersebut untuk memotretnya. Dengan senang hati, pemandu itu mengambil alih ponsel yang dijulurkan oleh Kimmy kepadanya.
"Tolong ambil fotoku sebagus mungkin." Kimmy kembali mengatur pose tubuhnya, dan saat sang pemandu hendak mengambil gambar, perhatiannya teralihkan ke arah Jasson.
"Tuan, apa kau tidak sekalian berfoto bersama Nona?" tanya pemandu itu.
"Dia tidak mau berfoto denganku. Sudah, biarkan saja!" timpal Kimmy.
"Siapa yang bilang tidak mau?" seru Jasson.
"Bukannya kau tidak mau berfoto denganku?"
"Siapa yang bilang tidak mau? kau sendiri saja tidak mengajakku!" seru Jasson. Kimmy begitu terkesiap dengan jawaban Jasson. Karna, ia sedaritadi berpikiran, bahwa Jasson tidak akan mungkin mau mengabadikan momen bersamanya. Itu sebabnya Kimmy tidak mengajaknya untuk berfoto.
"Dia mau berfoto denganku? Kenapa harus menunggu diajak terlebih dulu?"
"Kau tidak bilang jika mau berfoto. Kenapa harus menungguku mengajakmu?" sahut Kimmy. "Ayo kita berfoto," ajakan Kimmy segera menggerakan tubuh Jasson untuk berjalan ke arahnya dan menghentikan langkahnya untuk berdiri di samping wanita itu. Mereka pun saling memasang pose saat sang pemandu memberinya aba-abai.
"Tuan, Nona, jarak kalian lebih dekat lagi, supaya foto kalian terlihat bagus," tutur pemandu itu. Namun Kimmy tidak berani.
Ekor mata Jasson melirik ke arah Kimmy yang menjaga jarak dengannya. "Bergeserlah kemari." Ia tiba-tiba melingkarkan tangannya di pinggang Kimmy dan menariknya hingga tubuh mereka kini saling bersentuhan. Kimmy dibuat terkejut akan hal itu, ia mengamati telapak tangan Jasson yang menyentuh pinggangnya dengan begitu erat. Ia pun memberanikan diri melingkarkan tangannya juga di tubuh lelaki itu. Meskipun jantung Kimmy berdetak dengan cepat, namun tidak seperti biasanya. Kini ia sudah sedikit terbisa berdekatan dengan Jasson setelah kejadian semalam.
Foto-foto mereka terlihat sangat mesra saat pemandu itu mengatur pose mereka. Rasanya ada kepuasan tersendiri di hati Kimmy dan juga Jasson, sekalipun mereka berdua tak menunjukannya.
***
Kimmy dan Jasson tiba di penginapan malam hari tepatnya pukul 20.00 setelah mereka melakukan makan malam di restaurant terdekat. Kini, Kimmy terlihat duduk di atas sofa yang ada di dalam kamar, ia sibuk menggeser layar ponsel untuk mengamati dan memilah-milah ratusan fotonya yang menghiasi galeri ponsel milik suaminya itu sembari bergantian menunggu Jasson yang masih membersihkan tubuhnya di kamar mandi.
"Aku sudah selesai mandi." Tak lama setelah itu, pintu kamar mandi terbuka. Kimmy terburu-buru menundukan pandangannya saat mata peraknya mendapati tubuh Jasson yang telanjang dan hanya mengenakan handuk yang melilit di pinggangnya. Meskipun Kimmy sudah merasakan penyatuan dengan tubuh lelaki itu, namun ia masih saja merasa malu canggung untuk melihatnya.
"Iya ...." Kimmy beranjak berdiri dan mendekati Jasson, namun masih tak berani mengangkat pandangannya meskipun ia ingin sekali menatap wajah suaminya itu.
"Ehm, Jasson, aku sudah mengirimkan sebagian foto ke emailku. Setelah mandi aku akan mengirimkan sebagiannya lagi, setelah itu aku akan menghapus semua fotoku dari galeri ponselmu."
"Tidak usah dihapus!"
"Kenapa?" Kimmy memberanikan diri mengangkat wajahnya, tatapan mata mereka kini saling bertemu. "Fotoku banyak sekali, dan itu akan sangat mengganggu."
"Biarkan saja, tidak usah dihapus. Biar aku sendiri yang menghapusnya. Kemarikan ponselnya!" Jasson merampas ponsel itu dari Kimmy dan berjalan melewatinya, pun Kimmy yang segera mengajak tubuhnya untuk segera masuk ke dalam kamar mandi.
*
Kimmy baru saja keluar dari kamar mandi, ia mendapati Jasson yang tengah tidur telentang di atas tempat tidur. Ia berjalan melangkahkan kakinya mendekati tempat tidur dan memastikan suaminya tersebut.
"Dia sudah tidur?" Senyuman Kimmy terulas di bibir tipisnya. Ia merangkak naik ke atas tempat tidur dengan perlahan supaya gerakan tubuhnya yang mengguncang ranjang tidak membangunkan suaminya tersebut
Kedua matanya kini memandangi lekat-lekat wajah Jasson, tulang hidungnya yang mancung, bibirnya yang tidak terlalu tebal, pun dagunya yang mulai ditumbuhi oleh bulu-bulu halus, membuat kedua mata Kimmy ingin sekali berlama-lama menatapnya. Ia merindukan hangatnya dekapan lelaki yang semalam membuat dirinya begitu nyaman. Namun, tatapan matanya berubah menjadi sendu, seakan ada sesuatu yang wanita itu pikirkan.
"Sudah puas memandangi wajahku?" Suara Jasson tiba-tiba membuat tubuh Kimmy terjingkat karna terkejut. Ia mendelik hebat saat melihat kedua mata Jasson kini terbuka dengan sempurna dan melayangkan tatapan dingin ke arahnya.
"Sudah puas?" tanyanya kembali.
"A-aku ...." Suara Kimmy seakan tercekat saat dirinya kesulitan membuat alasan, ia menggusur tubuhnya menjauh dari laki-laki itu.
"Apa?"
"Ta-tadi ada serangga di wajahmu, tapi sekarang serangganya sudah hilang."
"Benarkah?" tanya Jasson dengan skeptis. Kimmy menganggukan kepalanya dengan ragu, namun meyakinkan.
"Hanya serangga?" Jasson menggerakan tubuhnya, dan kini tangannya berhasil meraih pergelangan tangan Kimmy.
"I-iya, hanya serangga, aku takut ada serangga menggigitmu." Kimmy mencoba membebaskan pergelangan tangannya dari Jasson. Raut wajah wanita itu terlihat takut dan membeku.
"Untuk apa takut? apa kau tidak tau aku lebih ganas daripada serangga?" Suara Jasson menajam dan penuh maksud.
"Benarkah? bagaimana bisa?" Kening Kimmy berkerut dengan penuh tanda tanya, ia menanggapi perkataan Jasson dengan raut wajah yang begitu serius.
Setelah menghabiskan malam berdua bersama Kimmy, Jasson sekarang membenarkan bahwa wanita yang ada di hadapannya saat ini memang benar-benar polos.
"Tentu saja bisa, kau mau melihatnya?" Tawaran Jasson membuat Kimmy menganggukan kepalanya dengan cepat akan rasa penasarannya.
"Kemarilah." Jasson menarik tubuh Kimmy dalam dekapannya. Wanita itu dibuat terkejut saat Jasson menindih tubuhnya dan menanamkan ciuman singkat di belahan bibirnya yang terbuka.
Tangan Jasson menyibakan rambut Kimmy yang terasa mengganggu, sejenak menatap lekat-lekat wajah wanita yang kini menyembulkan rona merah di sekitar pipinya, sebelum kemudian, ia membenamkan kembali ciuman yang cukup lama di bibir tipis istrinya yang terlihat begitu mendamba.
Tidak ada penolakan dari Kimmy. Wanita itu justru menikamatinya, terlebih lagi saat bibir Jasson mulai berjelajah dan tangannya mulai menyusup di balik balutan pakaian yang masih ia kenakan, hingga membangkitkan suhu panas di sekujur tubuh wanita itu.
"Berisik!" seru Jasson saat erangan-erangan kecil lolos dari bibir Kimmy.
.
.
.
.
Untuk mendapat info seputar karya Nona, kalian bisa follow instagram Nona, @Nona.lancaster.