Oh My Jasson

Oh My Jasson
Cantik sekali



Semenjak hari itu, beberapa hari belakangan ini, Jasson selalu mengantar jemput Kimmy untuk pergi bekerja. Meskipun jarak  tempat kerja istrinya itu terbentang cukup jauh dari rumah dan juga kantornya, namun tak membuat laki-laki itu mengeluh.


Tidak hanya pergi bekerja saja, tetapi setiap kali Kimmy berpergian, Jasson selalu mengantarkannya kemanapun istrinya itu pergi. Hal ini sedikit membuat Kimmy terheran sekaligus tidak enak hati. Kimmy sering sekali  menolak untuk diantarkan oleh suaminya tersebut, karna ia tidak mau membebani atau merepotkannnya. Namun, rasanya penolakan wanita itu selalu sia-sia. Karna suaminya yang pemaksa itu tidak pernah mau mendengar tolakan atau bantahan siapapun, termasuk juga dirinya.


Sore itu, Jasson dan Kimmy terlihat  rapi dengan pakaian santainya.  Pakaian-pakaian mereka juga  sudah terkemas rapi di dalam koper berwarna abu-abu sesaat setelah hampir satu jam lamanya mereka saling menyibukan diri untuk menyiapkan kebutuhan selama beberapa hari ke depan untuk pergi berbulan madu. Dan sebelum besok mereka benar-benar pergi untuk meninggalkan negaranya. Papa Louis dan juga mama Kelly menyuruh mereka berdua untuk bermalam di rumahnya.


"Apa tidak ada barang lagi yang ingin kau bawa?" Jasson terlihat berdiri di depan cermin dan memunggungi Kimmy yang duduk di tepi tempat tidur. Laki-laki itu  terlihat sibuk membalutkan sweater tebal di tubuh kekarnya, namun pantulan tubuh Kimmy masih terlihat jelas di cermin tersebut.


"Aku rasa tidak." Kedua mata Kimmy mengamati sekitar kamarnya, memeriksa kembali bahwa tidak ada barang yang terlupa untuk ia bawa.


"Ayo kita berangkat sekarang." Jasson meraih kontak mobil dan berbalik ke arah Kimmy.


"Berangkat sekarang?" tanya Kimmy dengan malasnya.


"Iya, kau mau berangkat kapan? tengah malam?"


"Ehm ...." Kimmy beranjak berdiri dengan rasa malas, ia hendak membawa koper yang ada di sampingnya itu ke luar kamar. Namun tangan Jasson merampasnya secara tiba-tiba.


"Ikut denganku ke toko perhiasan langganan mama terlebih dulu. Mama menyuruhku untuk memperbaiki perhiasannya." Jasson berkata tanpa melihat ke arah Kimmy. Laki-laki itu berjalan mendahului Kimmy sambil menggeret koper hasil rampasannya.


"Baiklah."


***


Kimmy menyusul Jasson untuk masuk ke dalam mobil. Wanita itu mencari posisi duduk ternyaman dengan menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Tak lama setelah itu, mobil yang ditumpangi mereka menjauh dari rumah.


Jasson mengajak Kimmy terlebih dulu pergi ke toko perhiasan langganan mama Merry untuk memperbaiki beberapa aksen perhiasannya yang terlepas.


Setibanya di toko perhiasan, Jasson memarkirkan mobilnya di samping deretan mobil-mobil pelanggan lain. Ia mengajak Kimmy turun dan masuk ke dalam sana, tangan laki-laki itu terlihat membawa paper bag dan segera menuju ke salah satu pegawai untuk memberikan paper bag yang di dalamnya berisi perhiasan tersebut.


Sementara Kimmy, langkah  wanita itu mendadak  berhenti di depan kaca etalase dekat pintu sesaat sebuah kalung bermata berlian berpendar di kedua manik mata peraknya.


"Cantik sekali ...." Kimmy berjalan mendekati etalase tersebut supaya bisa melihatnya lebih jelas.


"Ada yang bisa kami bantu, Nona?" Salah seorang pegawai wanita menghampiri Kimmy dengan senyuman yang menyeringai. Perhatian Jasson pun tersita untuk memperhatikan istrinya yang sedang bertanya kepada pegawai itu.


"Nona, berapa harga untuk kalung ini?" Kimmy menunjuk kalung incarannya dengan menggunakan jari telunjuk.


"680juta, Nona." Kedua mata Kimmy seketika membulat penuh saat mendengar harga kalung yang disebutkan oleh pegawai itu.


"680juta?" Kimmy mengulangi nominalnya. Hanya sebuah kalung bermata berlian seukuran jari kuku dihargai dengan harga sebegitu mahalnya? Kimmy hanya bisa menelan ludahnya kering-kering.


"Baiklah, terimakasih. Aku hanya bertanya saja." Kimmy pun berlalu pergi dan berjalan mendekati Jasson. Laki-laki itu segera mengalihkan pandangannya.


"Jasson, apa sudah?" tanya Kimmy sesaat ia menghentikan langkahnya di samping Jasson, namun pandangannya beredar menjelajahi setiap perhiasan-perhiasan yang terpajang di dalam kaca etalase transparan yang ada di sekitarnya.


"Belum, masih menunggu mereka mengamati kerusakannya. Mungkin akan sedikit lama, kau tunggulah di mobil saja," perintah Jasson.


"Ehm, baiklah, aku akan menunggu di mobil saja." Kimmy berbalik dan berjalan keluar dari toko perhiasan itu, namun kedua matanya masih tak lepas melihat kalung pertama yang membuat matanya terpikat.


Tak lama setelah itu, Jasson pun akhirnya kembali masuk ke dalam mobil dengan membawa  paper bag yang ditenteng di salah satu tangannya.


"Apa sudah?" tanya Kimmy seraya melihat paper bag yang sama dibawa oleh Jasson.


"Sudah ...."


"Kenapa perhiasan mama tidak kau tinggal? bukannya tadi mau diperbaiki?"


"Jangan banyak bertanya!" Jasson menyalakan mesin mobilnya dan segera berlalu pergi meninggalkan tempat itu.


Silau akan sinar mentari yang berwarna merah sore itu, membuat Kimmy harus bersusah payah menyembunyikan wajahnya agar tidak terjamah olehnya. Kesenyapan di dalam mobil  terjadi cukup lama, hingga suara lagu yang baru saja diputar dari audio mobil oleh Jasson membelah keheningan di antara mereka berdua.


Setelah melakukan perjalanan yang cukup panjang, Kimmy dan Jasson akhirnya tiba di rumah papa Louis. Mereka berdua disambut dengan baik sebelum kemudian dipersilakan untuk masuk ke dalam oleh Louis dan juga Kelly.


***


"Apa ini kamarmu?" tanya Jasson sesaat setelah masuk ke dalam kamar Kimmy dan meletakan koper yang ia bawa di samping tempat tidur.


"Kamar pelayan!" Kimmy mencebikan bibirnya merasa kesal dengan pertanyaan itu, hingga membuat Jasson melirik tajam ke arahnya.


"Tentu saja ini kamarku!" lanjutnya kemudian.


"Tunggulah di sini, aku akan membuatkan minum untukmu." Kimmy berlalu keluar dari kamar saat Jasson mengiyakannya.


Kedua mata Jasson beredar mengelilingi setiap sudut kamar istrinya tersebut. Begitu banyak boneka dan juga foto bertebaran di mana-mana. Buku-buku juga terlihat tertata rapi di rak buku yang letaknya berdampingan dengan lemari pakaian.


"Dia sangat menyukai boneka?" Jasson memperhatikan isi kamar Kimmy yang hampir dipenuhi dengan koleksi boneka. Ia hendak mendekati sofa yang ada di kamar itu, bermaksud untuk duduk di sana. Namun, sebuah foto yang ada di atas meja kerja manarik perhatian lelaki itu hingga mengurungkan niatnya.


Potret masa kecil Kimmy kini mengalihkan perhatian Jasson, foto masa kecil istrinya itu  terlihat sangat menggemaskan dengan membenamkan boneka panda di pelukannya. Senyuman tipis Jasson terulas di bibirnya. Ia meletakan kembali foto tersebut dan mencoba mengamati barang-barang lain  yang ada di sekitarnya.


Tangan Jasson kini membuka satu persatu laci yang melekat pada meja itu untuk melihat isi di dalamnya, dan sebuah buku diary ia temukan di laci paling akhir.


Mungkin buku diary itu sudah  lama tidak  tersentuh. Terlihat jelas dari sampulnya yang sedikit berdebu, buku diary itu terlihat lawas, pikirnya.


Karna rasa penasarannya, Jasson hendak membaca buku diary tersebut, dan saat ia hendak membuka halaman pertama, seseorang tiba-tiba merampas buku diary  itu dengan kasar dari tangannya.


"Jangan lancang menyentuh barang-barangku!" Kimmy meninggikan suaranya, diikuti dengan kedua alis cantiknya yang berkerut dengan penuh peringatan. Ada ketakutan tersendiri di raut wajah wanita itu, hingga membuat guratan tipis terlukis di kening Jasson. Hanya sebuah buku diary, kenapa wanita itu terlihat marah, pikirnya.


"Aku hanya ingin melihatnya saja!" kata Jasson yang berusaha membaca raut wajah Kimmy.


"Siapapun tidak boleh menyentuh barang-barangku, termasuk dirimu!" seru Kimmy seraya menyembunyikan buku diary itu ke belakang punggungnya, suaranya terdengar lebih meninggi daripada sebelumnya.


"Memangnya apa isi di dalam buku diary itu sampai kau marah sepert ini?" Pertanyaan Jasson menyadarkan Kimmy dari rasa kesalnya.


"Maaf, aku tidak bermaksud marah. Aku hanya tidak suka siapapun menyentuh barang-barang milikku. Maafkan aku."


Perkataan Kimmy tak membuat Jasson menggubrisnya. Ia  melewati wanita itu dan segera mendaratkan tubuhnya untuk duduk di atas sofa.


Kimmy mengembuskan napasnya dengan begitu lega. Rasanya jantung wanita itu hampir terlepas dari tempatnya, saat Jasson tadi nyaris membuka privasinya.


***


"Apa ini?" Kimmy tak langsung menerimanya. Wanita itu mengamati kotak tersebut dengan seksama, sebelum kemudian tangannya benar-benar mengambil kotak tersebut dari tangan Jasson.


"Apa ini perhiasan mama?" tanya Kimmy saat tak mendapatkan jawaban dari Jasson. Bukannya menjawab pertanyaannya, laki-laki itu justru malah berlalu meninggalkannya untuk beranjak naik ke atas tempat tidur.


"Jasson ...."


"Jangan banyak bertanya, ambil saja."


Kedua ekor mata Jasson menyelinap secara diam-diam memperhatikan Kimmy yang masih mematung di tempat yang sama, tangan wanita itu kini terlihat  perlahan membuka kotak tersebut. Kedua matanya seketika membulat saat kilauan berlian yang sempat ia lihat di toko perhiasan tadi berpendar menyilaukan manik matanya yang berwarna perak.


"Kalung itu untukmu," kata Jasson sekali lagi. Sungguh tidak romantis sekali laki-laki ini. Ya, karna Jasson memang tidak bisa bersikap romantis. Terlebih lagi, dirinya tidak pernah menjalin hubungan dengan siapapun.


"Ini untukku?" Kimmy menoleh ke arahnya dengan tatapan yang tidak percaya.


"Banyak bertanya," gerutu Jasson.


"Jasson, apa kau tahu, kalung ini sangat mahal sekali? kenapa kau membelinya?" Kimmy berjalan mendekati Jasson yang tiba-tiba sibuk memainkan ponselnya dan tidak menggubris pertanyaannya.


"Jasson, aku tidak mau menerima ini." Kimmy menutup kotak perhiasan itu, dan mengulurkannya kembali kepada suaminya.


"Kalau tidak mau buang saja!  Atau kau bisa memberikannya kepada pelayanmu," jawabnya dengan santai  tanpa mengalihkan pandangannya ke arah Kimmy sedikitpun.


"Dibuang? jangan. Lebih baik aku saja yang memakainya."


"Tapi ini benar-benar untukku, kan?" Kimmy memastikan kembali.


Jasson mengangkat dagunya, dan menganggukan kepalanya sebagai jawaban. Kimmy mengulaskan senyumnya dalam-dalam  dan berkata, "Terimakasih." Sebelum akhirnya, wanita itu berbalik badan dan berjalan dengan penuh semangat mendekati cermin yang melekat jadi satu di meja rias.


Senyuman wanita itu masih mengembang di pantulan cermin, terlihat jelas saat Jasson memperhatikannya dari atas tempat tidur, hingga membuat bibirnya tersenyum tipis. Ada kesenangan sendiri di hati lelaki itu.


Tangan Kimmy mengambil kalung yang nampak di dalam kotak perhiasan yang baru saja ia buka itu dengan penuh kehati-hatian.


"Cantik sekali." Senyuman Kimmy masih tak menyurut. Wanita itu mulai mengalungkan perhiasan tersebut ke lehernya. Namun Kimmy merasa kesulitan saat hendak mengaitkan pengait dari kalung tersebut. Jasson yang melihatnya segera beranjak berdiri dan berjalan mendekati Kimmy.


"Biar kubantu."


Jasson menarik tubuh Kimmy hingga kini menghadap ke arahnya. Tangannya mengambil alih kalung itu dan mengalungkannya di leher Kimmy. Ia mulai disibukan untuk mengaitkan pengait kalung itu saat rambut Kimmy yang terasa mengganggu berhasil ia singkirkan.


Namun, mata Jasson sibuk menatap dalam kedua bola mata Kimmy, hingga membuat Kimmy menjadi salah tingkah. Pun rona api mendadak memancar di kedua pipi wanita itu.  Kimmy  seketika mendudukan pandangannya dan menggigit kuat-kuat bibir bawahnya.


"Sudah." Jasson mengangkat dagu Kimmy dan tatapannya kembali menerkam.


"Cantik ...."


"Terimakasih," sahut Kimmy seraya mengembangkan senyumnya.


"Bukan kau, tapi kalungnya!" bantah Jasson. Kimmy mencebikan bibirnya, rasa kesal dan malu bercampur melingkupi wajahnya.


"Kalungnya cantik sekali," puji Kimmy saat pantulan kalung yang ia kenakan itu menggantung dengan indah di leher jenjangnya saat dirinya menghadap ke cermin.


"Jasson terimakasih banyak." Kimmy kembali membalikan tubuhnya menghadap ke Jasson dengan senyuman yang masih mengembang.


"Hanya terimakasih saja?" Jasson tiba-tiba melangkah lebih mendekat, hingga tak memberi cela kepada tubuh Kimmy untuk lari darinya, hingga membuat tubuh wanita itu kini membentur meja rias.


"La-lalu? a-apa aku harus membayar ini?" tanya Kimmy dengan suara yang gugup.


"Tentu saja ...." ucapnya pelan, namun penuh kepastian. Tatapan mata Jasson mendamba saat  bibir tipis Kimmy kini menjadi sorotannya.


"Ka-kalau begitu, aku kembalikan saja kalungnya kepadamu." Kimmy hendak melepaskan kalung tersebut, namun tangan Jasson secepat kilat menahannya.


"Aku tidak menyuruhmu untuk membayar uang." Jasson mengulurkan wajahnya lebih mendekat, sehingga menyisakan sedikit cela di antara mereka.


"La-lalu?" Tubuh Kimmy gemetar hebat ketika tangan Jasson mulai menurun dan menyentuh pingganganya.


"Ja-Jasson ...."


Kedua mata Kimmy dibuat membulat saat Jasson menanamkan ciuman singkat  di bibirnya secara tiba-tiba.


"Lunas," kata Jasson seraya menjauhkan tubuhnya.


"Kau sudah menciumku dua kali!" Kimmy meremas pakaian yang dikenakan oleh Jasson, ingin sekali memakinya, namun jiwanya kali ini bisa menerima. Ada gelayar baru yang mebuat hatinya seakan dihujani ribuan bunga.


Jasson menjauhkan tangan Kimmy dan menggenggamnya dengan erat. "Mungkin sekarang kau harus terbiasa dengan ini semua," katanya seraya menatap dalam kedua bola mata Kimmy secara bergantian, sebelum kemudian ia berlalu pergi meninggalkan wanita itu dan merangkak naik ke atas tempat tidur. 


Pun dengan Kimmy yang segera menyusulnya dengan langkah gontai dan gemetar sesaat setelah dirinya dibuat cukup lama mematung di sana.


Kimmy merangkak naik ke atas tempat tidur. Ia merebahkan tubuhnya di samping Jasson, bergerak ke sana ke mari untuk mencari posisi ternyaman, hingga gelombang yang terjadi di atas tempat tidur membuat Jasson yang nyaris memejamkan mata merasa terganggu.


"Jangan banyak bergerak atau aku akan melakukannya untuk yang ketiga kali!" Jasson berkata pelan, namun penuh dengan ancaman hingga membuat tubuh Kimmy tak berani bergerak sedikitpun.


"Ma-maaf."


.


.


.


.


Maaf, ya. Untuk satu minggu ke depan Nona akan slow update, mungkin ngga bisa rutin. Karna banyak banget kerjaan di kantor dan mengharuskan Nona buat lembur.


Jadi mohon dimaklumi, ya. Tapi sebisa mungkin Nona bakal usahakan untuk update, kok.


Terimakasih ^_^