
Kedua mata Jasson mengerjap akibat silaunya sinar mentari yang membias jendela kamarnya. Lagi-lagi, ia tak mendapati Kimmy di sampingnya saat dirinya terbangun. Jasson pun mencari Kimmy dan menanyakannya kepada pelayan yang kala itu sedang sibuk dengan pekerjaannya di dapur. Jawaban yang sama ia dapatkan dari bibi Katty, bahwa Kimmy sudah berangkat sejak setengah jam yang lalu.
"Kenapa dia dari kemarin berangkat pagi-pagi sekali?" Jasson yang semula berada di dapur, kini kembali ke kamarnya untuk bersiap pergi ke kantor.
***
Di kantor, Jasson terlihat sibuk dengan pekerjaannya. Beberapa berkas terlihat berserakan di atas meja kerjanya, namun laki-laki itu terlihat tidak fokus sesaat setelah memandangi potret Kimmy bersama Jesslyn yang tersimpan di galeri ponselnya, dirinya hanya memiliki satu foto Kimmy yang memang sengaja ia ambil dari story saudara kembarnya tersebut.
Kegusaran nampak menyergap raut wajah laki-laki itu, terlihat jelas sekali saat dirinya berulangkali menyandarkan punggungnya di sandaran kursi sembari menengadahkan kepalanya di atas, kedua matanya menatap kosong langit-langit ruang kerjanya dengan aksen lampu kuno.
Kedua mata Jasson terpejam singkat sesaat setelah dirinya mendengar suara ketukan pintu dari luar ruangannya. Dengan suara yang malas, Jasson mempersilahkan siapapun itu untuk masuk ke dalam sana.
Terlihat Harry yang berjalan dengan wajah penuh semangat dan disusul oleh Alea dari belakang. Rasanya Jasson malas sekali menerima tamu siang itu, lebih tepatnya, ia sangat malas sekali buang-buang tenaga hanya untuk berbicara.
"Ada apa kau kemari?" Jasson tak memindah posisi duduknya, ia masih tetap bersandar dan hanya menggerakan kedua matanya yang saat ini mengamati Harry mendudukan tubuhnya tanpa disuruh, pun diikuti Alea yang duduk di samping sahabatnya itu.
"Kita sudah lama tidak minum kopi bersama, ayo kita minum kopi bersama," ajak Harry.
"Iya, Jasson. Lagipula sudah tidak ada pekerjaan yang kita kerjakan, ayo kita minum kopi bersama," timpal Alea.
"Aku tidak berselera."
"Ayolah, Jasson."
Karna Harry dan Alea tak henti memaksanya, Jasson pun akhirnya menyetujuhi mereka untuk pergi minum kopi bersama di cafe favorit mereka.
***
"Bagaimana masalahmu dengan Kimmy?" Harry melontarkan pertanyaan sesaat setelah ia menyesap kopi miliknya untuk membuka sebuah percakapan di antara mereka bertiga. Alea pun mengalihkan pandangannya ke arah Jasson, wanita itu sedang menunggu jawaban akan pertanyaan yang ia rasa sangat menarik.
"Memangnya kau sedang ada masalah dengan Nona Kimmy?" timpal Alea, wanita itu pun ikut memancing saat Jasson belum memberi respon akan pertanyaan Harry.
"Masalah? aku sama sekali tidak memiliki masalah dengan Kimmy. Aku dan dia baik-baik saja." Jasson menyesap kopinya yang masih mengeluarkan asap tipis itu dengan perlahan, lalu mengembalikan cangkir yang ia pegang itu ke tempatnya semula.
"Bukannya, kemarin kau ...." Perkataan Harry seketika tersendat saat Jasson menatapnya dengan tatapan tajam dan penuh ancaman. Laki-laki itu seketika membisu dan tidak berani berbicara, hingga tatapan Alea kini mengulas dengan penuh curiga.
"Sepertinya, Jasson dan Nona Kimmy memang ada masalah. Nanti aku akan menanyakannya langsung kepada Harry," gumam Alea.
"Oh, iya, Alea, bagaimana dengan laki-laki yang kau sukai? sepertinya kau sudah lama sekali tidak menceritakan laki-laki rahasiamu itu kepadaku. Apa diam-diam kau sudah menjalin hubungan dengannya?" Jasson mengalihkan topik pembicaraan setelah kesenyapan terjadi di antara mereka bertiga.
Mendengar pertanyaan Jasson, tatapan mata Alea menjadi sendu. Bibir merahnya tersenyum getir. "Tidak. Dia sudah dimiliki oleh wanita lain," jawabnya seraya menatap dalam wajah Jasson.
"Dia sudah dimiliki wanita lain? bagaimana bisa?" Kening Jasson berkerut dalam, gagal mencerna apa yang Alea maksud.
"Ya, aku rasa aku kurang beruntung. Mungkin karna aku hanya seorang putri dari penjaga villa, jadi itu sebabnya dia tidak pernah melihatku, padahal kami dekat," ucapnya dengan sangat berat seakan ada sesuatu yang tercekat di rongga dadanya, namun senyuman getir masih melesat di bibirnya meskipun terkesan dipaksakan.
"Semua itu tidak ada hubungannya dengan pekerjaan orang tuamu! Banyak lelaki yang jauh lebih baik dari dia. Dia tidak pantas untukmu! Jadi lupakan laki-laki itu!"
"Bagaimana jika aku tidak bisa melupakannya?" sahut Alea, "kau tidak mengenalnya, Jasson. Hanya aku yang tau, dia laki-laki baik, bukan dia yang tidak pantas untukku, tapi aku yang tidak pantas untuknya." Alea menundukan pandangannya ke bawah, menghindar dari sorot mata Jasson yang sedang berusah membaca raut wajahnya.
"Alea, jangan bersedih, banyak sekali laki-laki baik diluar sana yang pantas untuk dirimu." Harry meregangkan kedua tangannya. "Kemarilah, biar kupeluk dirimu."
"Harry, aku tidak selemah itu. Jatuh cinta tidak pernah salah. Kau tenang saja, aku tidak akan menyerah begitu saja," Alea tersenyum, tubuhnya disambut dengan hangat oleh Harry dalam pelukannya.
"Nah, ini baru temanku," guraunya.
Kedua mata Jasson memandang Harry dengan penuh selidik, pun kepada Alea. "Sepertinya Harry menyimpan rasa kepada Alea, aku harus mendekatkan mereka berdua."
***
Di rumah sakit.
Kimmy terlihat baru saja kembali ke ruangannya setelah melakukan kunjungan pasien. Suasana hati wanita itu hari ini terlihat sangat membaik dan tidak kacau seperti biasanya. Entah apa yang membuat suasana hatinya tiba-tiba membaik seperti itu, dirinya sendiri saja tidak tau.
Kedua mata Kimmy menyipit saat mendapati sebuah lipatan kertas tergoreskan tinta terselip di sela-sela meja kerjanya. Ia dengan segera mengambil kertas tersebut dan membaca tulisan yang tertera di dalamnya.
Aku tidak suka kau dekat-dekat dengan Mark, jauhi dia, atau kau akan tau akibatnya!
"Siapa yang mengirim surat kaleng ini?" Kimmy menyoroti sekitar ruangannya, namun tidak ada siapapun kecuali dirinya sendiri. Tidak mungkin ia pergi ke ruang teknisi hanya untuk melihat CCTV dan memastikan sang pengirim surat kaleng tersebut, itu sungguh konyol.
Kimmy tak menghiraukannya, ia meremas kertas tersebut dan membuangnya di tempat sampah yang ada di jangkauannnya. Ia melepas kemeja putih yang ia kenakan dan ia tenteng di salah satu lengan tangannya. Kemudian, ia meraih tas dan mengaitkan di lengan tangan lainnya sebelum kemudian, wanita itu berlalu pergi dari sana.
"Dokter Kimmy ...." Suara Mark sejenak menghentikan langkah kaki wanita yang nampak berjalan dengan tergesa-gesa itu.
"Iya, Dokter Mark?" seulas senyuman Kimmy kembangkan saat ia membalikan tubuhnya.
"Kau terlihat terburu-buru sekali?"
"Iya, sopirku sudah menunggu daritadi, aku kasihan dengannya."
Mark mengembuskan napas kecewa. "Padahal aku ingin sekali mengantarkanmu pulang."
"Itu tidak perlu Dokter Mark. Aku permisi pulang terlebih dulu." Kimmy hendak berlalu pergi, namun Mark meraih tangan wanita itu.
"Ada apa lagi?" Kimmy berdecak kesal.
"Apa besok kau bisa menemaniku untuk datang ke pesta pertunangan sepupuku?" tanya Mark dengan penuh harap.
"Tidak bisa!" Seseorang tiba-tiba menghempas kasar tangan Mark hingga terlepas dari tangan dari Kimmy.
"Jasson?" Kimmy terkesiap saat melihat suaminya berada di sana. Kacamata hitam yang membalut mata peraknya itu, kini ia lepaskan dan ia selipkan di kancing kemeja yang ia kenakan. Hingga kini, kedua matanya yang sedang menatap Mark dengan tatapan tajam itu nampak terlihat begitu jelas.
"Kau ini sungguh tidak tau malu!" cetus Jasson. Ia menggenggam erat tangan Kimmy dan menjauhkannya dari Mark. "Kau mengajak seorang wanita yang sudah menikah untuk pergi ke pesta pertunangan sepupumu? kenapa kau tidak mengajak wanita-wanitamu yang lain?" sambungnya kemudian.
"Aku sungguh tidak mengerti apa maksudmu, Tuan Jasson. Wanita mana yang kau maksud? Memangnya kenapa jika aku mengajak istrimu? aku sudah berteman baik dengan Kimmy jauh sebelum kau menikah dengannya! Selama suaminya tidak menganggapnya, aku berhak mengajaknya pergi kemanapun jika dia mau."
"Lagipula, kau bebas pergi berdua ke manapun dengan sekretarismu, yang kita sendiri tidak tau apa yang sering kalian lakukan di belakang, dan aku sungguh heran, bukannya selama ini kau tidak pernah mempedulikan Kimmy? dan kenapa kau sekarang tiba-tiba mempedulikannya? bahkan tidak biasanya sekali kau kemari menjemputnya. Apa kau sudah bosan dengan selingkuhanmu? maaf, maksudku sekretarismu?" Mark tersenyum miring, penuh dengan sindiran hingga membuat emosi Jasson memuncak karna merasa tidak terima dengan tuduhan laki-laki itu.
"Kau ...." Jasson menahan teriakannya karna merasa geram.
"Jasson, kita pergi. Jangan membuat keributan di sini. Ini rumah sakit!" Kimmy dengan susah payah menarik tangan Jasson dan mengajak suaminya itu pergi menjauh dari Mark. Jasson tak mau kalah, ia menarik tangan Kimmy dan mengajaknya menepi ke tempat yang sekiranya sepi.
Jasson menghempas tubuh Kimmy dan mencengkram kedua lengannya, namun tak membuat istrinya itu kesakitan. "Apa kau sudah sedekat itu dengan dia, hingga kau menceritakan semua pernikahan kita? atau kau juga menceritakan tentang kesepakatan yang kita buat?" seru Jasson, tatapan dan suaranya terdengar tak ramah dan dipenuhi emosi.
"Aku tidak pernah menceritakan pernikahan kita kepada siapapun! Apalagi memberitahu Mark tentang kesepakatan itu!" bantah Kimmy.
"Lalu bagaimana dia bisa tau?"
"Aku tidak tau! Semua orang memiliki mata, mereka bisa menilai tanpa diberitau!" bentak Kimmy. Ia menghempas tangan Jasson hingga terlepas dari lengannya. Kimmy hendak pergi dari sana, namun Jasson kembali merampas tangannya dan menariknya untuk berjalan menuju ke parkiran mobil.
"Ikut pulang bersamaku!"
"Aku tidak mau pulang bersamamu! Lepaskan aku! Lagipula kau sedang apa berada di sini?" seru Kimmy, wanita itu berjalan mengikuti langkah Jasson seraya berusaha melepaskan diri dari tangan suaminya.
"Untuk apalagi jika tidak untuk menjemputmu!" Jasson mempercepat langkah kakinya dan tak membiarkan tangan Kimmy lepas dari genggaman tangannya.
"Aku tidak mau pulang bersamamu!" Penolakan Kimmy membuat langkah kaki Jasson melambat.
"Kenapa? kau mau pulang dengan laki-laki itu?" Jasson seketika menghentikan langkah kakinya. Tatapannya yang cukup dingin membuat Kimmy hampir membeku.
"Aku akan pulang bersama paman Alert, dia daritadi sudah menungguku. Lepaskan tanganku!"
"Aku sudah mengusirnya, ayo." Jasson berucap dengan penuh santainya, ia kembali menarik tangan Kimmy dan mengajaknya berjalan menuju ke parkiran yang jaraknya hanya tinggal beberapa langkah lagi.
"Jasson, kau mengusirnya?" Kimmy mengikuti langkah kaki Jasson yang semakin mempercepat jalannya, ia berusaha melepaskan tangannya dari Jasson, namun usahanya sia-sia.
"Iya, aku mengusirnya. Apa kau mau kuusir juga?" sahutnya seraya melayangkan tatapan dingin. Kimmy pun tak berani untuk membantah.
"Masuklah!" Jasson membukakan pintu mobil saat dirinya dan Kimmy sudah tiba di parkiran. Namun Kimmy malah mematung di sana, ia menatap Jasson dengan tatapan kesal, ingin sekali wanita itu memaki suaminya tersebut.
"Apa yang kau lihat?" seru Jasson.
"Tidak." Kimmy menggelengkan kepalanya, ia segera masuk ke dalam mobil dan Jasson menutup pintu mobil itu sekeras mungkin, namun suara Kimmy yang tiba-tiba berteriak begitu kencang membuat langkah Jasson terurungkan, ia dengan panik membuka kembali pintu mobil itu dan mencoba memastikan istrinya.
"Ada apa? kenapa kau berteriak? apa pintunya melukaimu?" tanyanya.
"Tidak, bajuku tadi hanya terjepit pintu mobil," jawab Kimmy dengan polosnya.
"Hanya bajumu yang terjepit?" Kening Jasson berkerut kesal. Kimmy menganggukan kepalanya dan menjawab, "Iya."
"Lalu kenapa kau berteriak."
"Tidak apa-apa, aku hanya terkejut saja."
Jasson mendengus kesal dan menutup kembali pintu itu dengan hati-hati. Lalu, ia pun segera menyusul Kimmy untuk masuk dan duduk di kursi kemudi.
***
Kimmy mencuri-curi pandang melihat ke arah Jasson yang sibuk akan kemudinya. Ia tiba-tiba teringat akan surat kaleng yang ia dapati di meja kerjanya sebelum dirinya pulang tadi.
"Aku rasa, Jasson yang mengirimkan surat kaleng itu kepadaku," gumam Kimmy, keningnya berkerut heran. "Tapi, bagaimana bisa dia masuk ke ruanganku?"
"Ambil cuti di tanggal itu." Jasson tiba-tiba melemparkan beberapa lembar kertas yang baru saja ia ambil dari dalam laci mobil kepada Kimmy hingga menyadarkan lamunan wanita yang duduk di sampingnya tersebut.
"Apa ini?" Kimmy meraih lembaran kertas tersebut.
"Apa kau tidak bisa membaca?" serunya tanpa melihat Kimmy. Pandangannya fokus ke depan akan kemudinya.
"Honeymoon package, Bali island? ini untuk apa?" Kimmy menoleh ke arah Jasson, menunggu jawaban laki-laki itu.
"Minggu depan ambilah cuti di tanggal itu. Kita akan pergi ke Indonesia. Di sana tempat kelahiran nenek buyutku," ujarnya.
"Lalu untuk apa kita ke sana?" Kening Kimmy berkerut dalam, hingga mengharuskan Jasson menoleh dengan tatapan kesal ke arahnya.
"Apa kau tidak bisa membaca itu untuk apa?" serunya kesal.
"Berbulan madu? Kenapa kau mengajakku?"
"Lalu aku harus mengajak siapa? bibi Katty?" serunya dengan kesal. "Itu permintaan Mama, dan aku tidak bisa menolaknya," sambungnya dengan suara samar. Jasson mengalihkan kembali pandangannya ke depan.
"Kenapa mendadak sekali? aku akan mencoba berbicara kepada mama untuk menolak ini semua, mama pasti mau mengertikannya."
"Tidak usah!" Jasson mengalihkan kembali pandangannya kepada Kimmy dan menatapnya dengan tajam.
"Kenapa? bukannya seharusnya kita tidak menerima ini?"
"Ambil cutimu dan jangan banyak bertanya, ikuti saja permintaan mama!"
.
.
.
.