Oh My Jasson

Oh My Jasson
Hanya kau yang baik?



"Kau pikir, Kimmy akan mau menunggumu selama itu?" Harry melanjutkan perkataannya hingga menyadarkan Jasson dari lamunannya.


"Jangan keras kepala hingga kau menyangkal perasanmu terhadap Kimmy!"


"Aku sama sekali tidak memiliki perasaan apapun dengan Kimmy, jangan menyudutkanku!" bantahnya dengan suara yang gusar. Jasson menarik pandangannya ke sembarang arah, tatapan matanya menjadi gelap saat perkataan yang baru saja ia lontarkan mendadak semakin mengacaukan pikiran dan perasannya.


"Terserah kau saja mau berbicara apa!" seru Harry.


Jasson kembali mengalihkan pandangannya ke arah Harry, menatapnya dengan tajam. Rasanya ia sudah kehilangan dukungan dari semua orang, semua berpihak kepada Kimmy, rasanya seperti itu, ia datang kemari ingin menenangkan diri. Namun ternyata yang ia dapat justru sebaliknya.


"Harus perlu kau tahu, Jasson. Seorang wanita tidak hanya membutuhkan status, tetapi kenyamanan dan juga pengakuan. Jika mereka menemukan tempat baru untuk berlabuh, mereka benar-benar akan meninggalkanmu!" tutur Harry, perkataannya terdengar menghujam dalam-dalam kepala Jasson hingga tak memberikan sedikit cela untuk dirinya mengelak.


"Jadi jangan pernah menyesal jika suatu saat seseorang akan merebut hati Kimmy, dan kau akan kehilangannya!" sambungnya kemudian.


"Omong kosong! Cinta, perasaan, aku sungguh muak mendengarnya! Tidak ada gunanya aku di sini. Kau sungguh buruk!" Jasson beranjak bangkit dari tempat tidur dan berlalu pergi.


"Nikmati masa-masa pernikahanmu sebelum kau benar-benar kehilangan Kimmy!" teriakan Harry masih menjangkau pendengaran Jasson  saat geblakan pintu baru saja melenyapkan sahabatnya itu dari pandangan matanya.


"Aku kira selama ini  Kimmy dan Jasson baik-baik saja. Terbuat dari apa hati Jasson? Ini sungguh tidak benar, aku harus menceritakan ini kepada Alea dan  Jesslyn, setidaknya, mereka akan membantu hubungan Jasson dan Kimmy."


Tangan Harry hendak meraih ponsel miliknya yang tergeletak di atas nakas, hendak mengirimkan pesan kepada Alea dan juga Jesslyn. Namun, ia terlebih dulu mendapat pesan peringatan dari Jasspn.


Jangan sekali-sekali mencoba memberitahu kepada siapapun tentang kesepakatan pernikahan yang kubuat dengan Kimmy, termasuk Alea. Jika sampai ada yang mengetahui hal ini. Kupastikan kau orang yang pertama akan aku cari. Dan aku tidak akan mengampunimu! ~ Jasson.


"Dia sudah seperti seorang peramal. Untung saja aku belum memberitahukannya kepada Alea ataupun Jesslyn." Harry melemparkan ponselnya kembali ke tempat semula.


***


Jasson terlihat kembali mengemudikan mobilnya, tidak ada tempat lagi yang sekiranya nyaman untuk menenangkan diri, sahabatnya pun malah menyudutkan dirinya dengan kebingungan yang semakin merumitkannya.


Hiruk pikuk sore hari menemani Jasson menyusuri jalanan dengan tak tentu arah. Rasanya sudah lelah dan menyerah.  Laki-laki itu hendak kembali pulang ke rumah. Namun, ia tiba-tiba memutar arah sesaat setelah ia memutuskan hasil renungannya selama berjam-jam lamanya,  hanya dirinya saja yang mengetahui keputusan apa yang telah ia buat.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang hingga menjelang petang. Mobil yang dikemudikan oleh Jasson berhenti di sebuah halaman rumah yang tak lain ialah rumah mertuanya. Dengan langkah yang penuh keseriusan, laki-laki itu berjalan memasuki pekarangan rumah. Pungung jemarinya hendak mengetuk pintu yang terlihat tertutup, namun suara mesin mobil yang baru tiba mengurungkan niat Jasson. Laki-laki itu menoleh, kedua matanya silau saat cahaya lampu yang berasal dari sebuah mobil berwarna  putih miliki papa Louis menyorotinya, mobil itu berhenti tepat di samping mobilnya yang saat itu terparkir.


"Papa ...." Jasson berbalik, ia berjalan menghampiri mertuanya yang terlihat baru saja turun dari mobil, sebelum kemudian, mereka saling bertukar sapa dan Louis mempersilakan menantunya tersebut untuk masuk ke dalam rumah.


"Di mana Kimmy, Jasson? kenapa dia tidak ikut kemari?" tanya Louis sesaat tubuhnya berhasil menyusul Jasson mendarat di atas sofa.


"Kimmy ada di rumah, Pa. Jasson kemari memang sengaja sendiri." Pandangan Jasson terlihat tidak fokus. Laki-laki parubaya itu menyipitkan kedua matanya dibalik balutan kacamata bening yang ia kenakan.  Louis bisa  mengamati kebingungan yang kini menyergap wajah menantunya tersebut.


"Apa kau ada masalah dengan Kimmy, Nak?" tanyanya penuh dengan selidik.


"Iya, Pa." Jasson menjawab setelah beberapa saat terdiam. Louis melepaskan kacamata dan mengucek kedua matanya supaya meminimalisir pandangannya yang sedikit buram, sebelum kemudian, ia mengenakan kembali alat bantu penglihatan tersebut.


"Ceritakan kepada Papa," perintahnya setelah itu.


"Pa, apa benar Kimmy akan melanjutkan pendidikannya ke luar negeri?" Jasson bertanya dengan tergesa-gesa, tak sabar menunggu mertuanya untuk segera menjawab.


"Iya, Nak. Itu benar." Louis membenarkannya. Keningnya berkerut dalam. "Bukannya kau sudah mengetahui tentang hal ini?" tanyanya kemudian.


Jasson menggelengkan kepalanya. "Jasson sama sekali tidak mengetahuinya, Pa. Kimmy baru memberitahu Jasson  hari ini."


Mendengar jawaban dari menantunya, Louis seketika terkesiap. "Kau baru mengetahuinya hari ini?" Karna keterkejutannya, suara Louis terdengar sedikit meninggi dari sebelumnya.


Jasson menganggukan kepala, lalu menjawab, "Iya, Pa."


"Bagaimana bisa Kimmy tidak membertahumu terlebih dulu? dia berulangkali meyakinkan Papa untuk melanjutkan pendidikan di luar negeri dan itu sudah atas persetujuan dan izin darimu, itu sebabnya Papa juga mengizinkan dia, meskipun Papa sangat keberatan akan permintaannya."


"Pa, Kimmy memang pernah bilang mau melanjutkan pendidikannya. Tetapi, dia tidak bilang kepada Jasson jika mau melanjutkan  pendidikannya di luar negeri. Papa yang lebih mengerti Kimmy, bisakah Papa memberitaunya supaya melanjutkan pendidikannya di sini saja?" Tatapan mata Jasson menghujam dengan penuh harap, laki-laki itu benar-benar tidak mau jika Kimmy meninggalkan kota ini untuk waktu yang tidaklah sebentar.


"Empat setengah tahun bukan waktu yang sebentar, Jasson hanya tidak mau ...."


"Jauh dari Kimmy?" sela Louis. Ia mengulas senyuman dan menggelengkan kepalanya.


"Bukan seperti itu, Pa." Jasson menyangkalnya, "Jasson hanya tidak mau ...."


"Papa bisa mengerti. Papa sebenarnya juga tidak setuju jika Kimmy melanjutkan pendidikannya di luar negeri. Tapi kau yang sekarang lebih berhak atas dirinya, itu sebabnya, setelah Kimmy bilang bahwa kau sudah  mengizinkannya. Papa mau tidak mau mengizinkannya juga. Tapi kau tenang saja, Papa akan berbicara kepadanya." Louis menepuk bahu Jasson. Hati Jasson seketika menjadi lega, duri yang mengganjal di hatinya selama hampir seharian ini, kini lenyap seketika.


"Terimakasih banyak, Pa. Tolong jarang beritahu Kimmy jika Jasson kemari, Pa."


"Iya, Papa tidak akan memberitahu Kimmy."


"Kalau begitu, Jasson permisi pamit pulang." Jasson beranjak berdiri setelah memberikan salam kepada mertuanya. Ia hendak melangkah meninggalkan rumah mertuanya. Namun, suara Louis sejenak menghentikannya.


"Jasson ...."


"Iya, Pa?"


Louis beranjak berdiri dari tempat duduknya, lalu melangkahkan kakinya untuk menghampiri Jasson yang sudah berbalik ke arahnya dan terlihat berdiri di ambang pintu.


"Apa Papa boleh meminta sesuatu?" Suara Louis terdengar penuh keseriusan, Jasson mengernyitkan keningnya namun dirinya gagal membaca apa yang ingin dikatakan oleh mertuanya.


"Tentu saja, apa itu, Pa?" Jasson memasang dengan baik pendengarannya untuk menunggu papa dari istrinya itu berbicara.


"Kimmy putri semata wayang Papa. Sejak dari kecil, Kimmy selalu manja dan dia sangat periang. Bahkan Papa hampir tidak pernah melihatnya menangis atau bersedih, karna dia selalu menyembunyikannya. Dan semenjak dia lulus kuliah, dia menjadi wanita dewasa hingga Papa hampir tak mengenalinya. Kadang Papa merindukan sikapnya yang kekanak-kanakan dan manja dengan Papa." Suara Louis yang terdengar parau menggetarkan bibirnya untuk mengulas senyuman, kedua matanya terlihat berkilat.


"Jasson, tolong jaga Kimmy, jangan pernah membuatnya bersedih. Kimmy adalah wanita yang ceroboh. Jika selama menikah dia pernah berbuat salah, tolong maafkan dia." Louis tiba-tiba mengatupkan kedua tangannya di hadapan Jasson, pun kedua sudut matanya menjadi basah hingga membuat kacamata yang lelaki parubaya itu kenakan menjadi berembun.


"Papa jangan seperti ini!" Jasson membuyarkan kedua tangan Louis yang mengatup di hadapannya dengan penuh permohonan.


Perkataan Louis benar-benar menusuk, hingga membuat bibir Jasson tak bergeming dan tak bisa berkata-kata. Bagaimana jika Louis tau yang sebenarnya? bahwa pernikahannya dengan Kimmy  selama ini tidaklah baik, bahkan bisa dikatakan mereka seperti orang yang tidak menikah. Ini hanya karna keterpaksaan saja, terlebih lagi kesapakatan yang Jasson buat karna ambisinya untuk memiliki perusahaan sendiri.


Jasson tersadar akan lamunannya. "Iya, Pa. Jasson tidak akan menyakiti Kimmy. Jasson akan menjaganya."


*


Sudah hampir tengah malam, Jasson memutuskan untuk kembali pulang ke rumah setelah mengunjungi tempat cafe favoritnya. Wajah dan bajunya terlihat lusuh, bau keringat bertebaran di mana-mana. Ia berjalan masuk ke dalam rumah, lalu menuju ke kamarnya. Dilihatnya Kimmy sedang tidur meringkuk di atas ranjang tanpa selimut yang membalut tubuhnya. Kedua matanya seakan tak ingin beralih untuk tetap memperhatikan wajah wanita itu. Ia mengembuskan napasnya seraya berlalu masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Seusai mandi, Jasson dengan hati-hati merangkak naik ke atas tempat tidur, tak mau membangunkan Kimmy yang tampak tertidur dengan begitu pulas karna wanita itu hampir seharian menangis, terlihat jelas di wajahnya yang begitu sembab.


Dipandangnya wajah Kimmy lekat-lekat sesaat setelah tangannya mengalihkan  beberapa sulur anak rambut yang menghalangi wajah wanita itu. Bulu mata lentik dan juga bibir tipis Kimmy, adalah dua bagian yang memiliki daya tarik sendiri untuk tetap ia pandang dengan cukup lama.


"Siapa laki-laki yang ia sukai saat ini?" Hati Jasson tiba-tiba bertanya seperti itu, diikuti dengan helaan napas yang cukup panjang. Sebelum akhirnya, ia menarik selimut dan membalutkannya di tubuh Kimmy, lalu ikut terlelpa di sampingnya.


***


Suara dering ponsel panggilan dari Alea, membangunkan Jasson untuk mengingatkannnya supaya bersiap menghadiri  meeting penting pagi itu. Jasson pun malas-malasan untuk meninggalkan tempat tidurnya setelah mengakhiri panggilan dari Alea.  Ia hendak turun dari tempat tidur, namun ia baru disadarkan saat sudah tak mendapati Kimmy di sampingnya, bahkan di setiap sudut ruangan yang ada di dalam rumah, Jasson tetap saja tak menemukannya.


Karna kebenarannya, Kimmy sudah berangkat pergi bekerja sejak setengah jam yang lalu, itu yang baru saja Jasson dapatkan dari penjelasan bibi Katty. Tidak biasanya, karna ini untuk pertama kalinya setelah enam bulan lamanya menikah,  Jasson terbangun tanpa melihat wanita itu.


Waktu menunjukan pukul 14.00.  Jasson terlihat tergesa-gesa meninggalkan kantor setelah jam makan siang. Ia membebankan semua pekerjaannya yang belum ia tuntaskan kepada Alea dan ia lebih memilih menuntaskan masalah pribadinya.


Jasson mengemudikan mobilnya untuk melakukan perjalanan yang cukup panjang. Sebelum kemudian, mobil yang ia kemudikan  berhenti di depan sebuah rumah sakit yang ia ketahui ialah  tempat istrinya bekerja. Jasson terlebih dulu memarkirkan mobilnya, ia hendak turun dan  bermaksud masuk ke dalam rumah sakit itu. Namun, niatnya terurungkan.  Ia kembali menarik tubuhnya masuk ke dalam mobil, tatkala dirinya melihat Kimmy dan Mark berjalan beriringan dan masuk ke dalam sebuah mobil yang cukup jauh dari mobil miliknya yang ia parkirkan saat ini. Jadi minim kemungkinan untuk Kimmy dan Mark melihat keberadaannya di sana.


Tatapan mata Jasson menjadi gusar. Emosinya menyulut secara tiba-tiba, hingga membuat tangan laki-laki itu mencengkram setir mobilnya dengan kuat-kuat.  Sebelum akhirnya, mobil yang ditumpangi oleh  istrinya itu lenyap dari jangkauan matanya.


*


Jasson memutuskan untuk pulang kembali ke rumah. Namun sialnya, ia belum mendapati Kimmy di rumah sesaat setelah dirinya tiba terlebih dulu di sana.


Langit berubah warna, waktu sudah menunjukan pukul 17.02. Kimmy pun tak kunjung pulang, dan raut wajah Jasson terlihat semakin gusar akan pikirannya yang dipenuhi tanda tanya akan keberadaan istrinya dengan laki-laki lain yang ia rasa tidak baik. Ya, Jasson selalu meyakinkan dirinya, bahwa Mark bukanlah orang baik.


Suara burung saling bersahutan, berterbangan ke sana kemari hendak kembali ke sangkarnya, pun mentari yang terlihat menenggalamkan diri dan meninggalkan tempat peraduannya hingga langit kini sudah menampakan kegeligahannya. Suara mesin mobil terdengar di halaman rumah. Jasson meyakini bahwa itu ialah Kimmy, dan seperti dugaannya. Itu memanglah Kimmy, ia terlihat di antarkan oleh Mark.


"Kau dari mana, kenapa pulang selarut ini?" tanya Jasson sesaat setelah Kimmy masuk ke dalam kamar. Tatapan matanya membuat Kimmy membeku, namun Kimmy sebisa mungkin mengindarinya.


Kimmy meletakan tasnya di atas tempat tidur, kemudian ia melepaskan sepatunya. "Aku baru saja pulang dari rumah sakit," jawabnya dengan nada sedikit malas. Ia hendak masuk ke dalam kamar mandi. Namun, tangan Jasson secepat kilat menyambarnya, hingga kini tangan itu membawa Kimmy dalam dekapan tubuhnya yang tak menyisakan cela di antara keduanya.


"Kau dari mana bersama laki-laki itu?" tanyanya kembali. Tatapannya penuh selidik.


"Dia memiliki nama. Nama dia adalah Mark!" Kimmy memperjelas, "aku sudah bilang, aku dari rumah sakit!" sambungnya kemudian.


"Rumah sakit kau bilang? jelas-jelas kau meninggalkan rumah sakit sejak siang tadi bersama dia!"


Kening Kimmy berkerut heran. Bagaimana suaminya itu bisa tau, pikirnya. "Aku tadi menghadiri seminar bersama Mark, dan sore aku kembali lagi ke rumah sakit untuk melakukan kunjungan pasien." Jawaban Kimmy cukup meyakinkan Jasson.


"Lepaskan aku!" pinta Kimmy, namun permintaan itu tak mengindahkan Jasson untuk melepaskannya.


"Aku tidak suka kau dekat-dekat dengan dia!"


"Kau tidak berhak melarangku dekat dengan siapapun!" Kimmy hendak melarikan diri dari terkaman tangan Jasson, namun usahanya sia-sia. Tubuh suaminya itu terlalu kuat.


"Karna aku suamimu, jadi aku berhak melarangmu! Mark bukan laki-laki yang baik dan aku tidak suka kau dekat dengannya!" seru Jasson.


"Lalu siapa yang baik? kau? hanya kau laki-laki yang baik?" Kimmy mempertegas suaranya, ia  mengguncang tubuh Jasson berulang kali, namun tak membuat dirinya lepas dari cengkraman lelaki itu. Air mata yang semula Kimmy tahan  kini berhamburan membasahi wajahnya.


"Apa maumu?" tanyanya dengan suara yang kian memberat, dadanya terasa sesak. Ia sungguh tidak mengertikan keinginan suaminya. "Sejak kapan kau mengakui pernikahan ini? sejak kapan kau mengakuiku sebagai istrimu?"


Kedua manik mata Jasson yang berwarna perak itu terlihat memucat, menatap setiap buliran air mata yang jatuh bergantian mengaliri wajah istrinya.  Mulutnya mendadak membisu, tak ada perlawanan untuk sementara.


"Kau sendiri yang membuat kesepakatan selama sepuluh tahun supaya aku tidak menuntut apapun darimu, dan kau juga yang membuat kesepakatan untuk saling tidak melarang dekat dengan siapapun! Apa aku pernah menuntutmu selama ini? apa aku pernah melarangmu dekat dengan siapapun?" Kimmy menarik napasnya yang sesenggukan akibat air mataya yang terkuras cukup hebat. Jasson hanya menatapnya dengan tatapan membeku.


"Lalu kenapa kau sekarang melarangku dekat dengan Mark!" sambungnya kembali.


"Karna Mark bukan laki-laki baik! Dia selalu bergonta-ganti wanita, dan aku sangat tidak suka kau dekat dengannya!"


Kimmy sejenak tercengang  akan perkataan Jasson. Bagaimana ia bisa menyimpulkan bahwa Mark bukan lelaki baik, padahal kenyataannya, ia sangat mengenal dengan betul bahwa Mark ialah laki-laki baik.


"Aku tidak peduli. Aku yang lebih mengenal Mark. Lepaskan aku!" Kimmy hampir terlepas dari cengkraman Jasson, namun Jasson tak membiarkannya.


Jasson kembali menarik tubuh Kimmy dalam dekapannya,  kejadian kemarin hampir-hampir terulang lagi, namun kali ini semakin intimm. Jasson menatap lekat wajah Kimmy yang masih tergenangi air mata, setiap inchi bagian wajah itu menjadi ketertarikan sendiri baginya.


Tangannya kini mulai menelusuri pinggang Kimmy hingga membuat tubuh wanita itu berdesir, tangan Jasson mulai meremas kuat pinggang istrinya itu, namun tak menyakitinya. Kimmy bisa merasakan wajahnya menghangat saat napas Jasson terbuang cepat hingga menyentuh kulit wajahnya.


Tatapan mata Jasson penuh mendamba. Kali ini laki-laki itu tidak bisa lagi menahan keinginannya. Tangannya  beralih, memegang pangkal leher Kimmy,  ibu jarinya mengusap bibir tipis wanita itu hingga menampakan belahan di antara keduanya, lalu,  Jasson memberanikan diri membenamkan bibirnya di sana hingga membuat mata Kimmy membulat penuh.


.


.


.


Follow instagram Nona @Nona.lancaster supaya kalian bisa mendapat informasi tentang semua karya Nona. Terimakasih.


Jangan lupa dukungan like dan votenya, ya, nak-anak.