Oh My Jasson

Oh My Jasson
Memperingatkan!



Jasson menatap Mark dengan tatapan tidak suka. Pun sebaliknya dengan Mark. Melihat laki-laki itu, dengan sengaja Jasson melepaskan jemarinya dari tangan Kimmy dan beralih melingkarkan tangannya di pinggang istrinya tersebut. Tatapan mata mereka  saling terkunci, sebelum kemudian, sapaan Mark mencairkan susana panas yang melingkupi tempat itu.


"Selamat siang, Tuan Jasson, senang bisa bertemu denganmu," sapaan Mark tak mengindahkan tatapan Jasson yang terlanjur sudah membeku.


"Hem ...." sahut Jasson, suaranya terdengar datar, pun dengan raut wajahnya yang tampak tak berubah. Jasson mengalihkan pandangannya ke arah Kimmy.


"Ayo ...." Ajakan Jasson mengurungkan niat Kimmy yang hendak berbicara kepada Mark.


"Mark, aku permisi berangkat ke tempat seminar terlebih dulu," pamit Kimmy kepada rekannya tersebut.


Sebelum akhirnya, ia dan Jasson berlalu pergi setelah Mark mengiyakannya.


Mark masih tak memindahkan posisinya, kaki laki-laki itu masih menapak dan berdiri di tempat yang sama sembari memperhatikan mobil yang ditumpangi oleh Jasson dan Kimmy yang baru saja lenyap dari pandangannya.


"Dia benar-benar sombong sekali. Aku yakin, pernikahannya dengan Kimmy tidak akan bertahan  lama. Memangnya wanita mana yang mau hidup dengan pria yang kaku seperti dia."


***


Kimmy menyandarkan punggungnya di kursi mobil. Tatapannya lurus ke depan, namun kosong. Pikiran wanita itu kembali disibukan akan si pengirim surat kaleng yang ia terima untuk kedua kalinya.


Kimmy tidak berani berbicara kepada Jasson. Karna mengetahui bahwa suaminya itu sangat tidak menyukai Mark, dan Jasson juga sudah berulangkali memperingatinya supaya tidak terlalu dekat dengan laki-laki itu. Namun, rasanya itu sangat  sulit sekali bagi Kimmy. Karna, selama beberapa tahun belakangan ini, hanya Mark yang selalu menjadi temannya. Terlebih lagi tempat kerja mereka sama. Sungguh mustahil untuk tidak bertegur sapa atau menjauhi laki-laki itu.


"Sampai jam berapa kau seminar?" Pertanyaan Jasson membelah  kesenyapan yang terjadi beberapa menit di dalam mobil. Pandangan Jasson sejenak meninggalkan kemudinya, ia menoleh ke arah Kimmy saat tak mendapatkan jawaban dari wanita itu.


Kening Jasson berkerut saat melihat istrinya melamun. "Kimmy!" Suaranya yang mengeras seketika menyadarkan Kimmy  dari lamunannya.


"Iya?" Kimmy menoleh sembari mengembangkan senyuman, memasang raut wajah polosnya.


"Apa yang kaulamunkan?" Jasson sesekali memberi jeda untuk tetap fokus akan kemudinya.


"Tidak, aku tidak melamun," bantah Kimmy.


"Lalu kenapa kau diam saat aku bertanya?" seru Jasson.


"Memangnya kau bertanya apa?"


Jasson mendengus kecil. "Sampai jam berapa kau seminar?"


"Oh ... kemungkinan hanya dua jam, jadi jam lima kita kembali."


"Baiklah, setelah pulang dari seminar, kita ke rumah Alana dulu. Aku memiliki keperluan dengan kakak," ujar Jasson. Kimmy hanya menganggukan kepalanya tanpa bersuara. Jasson dibuat heran, biasanya istrinya itu sangat bersemangat sekali jika akan diajak pergi ke rumah Alana. Namun, tidak untuk kali ini. Jasson merasakan ada sesuatu yang berbeda dari istrinya.


Tatapan Jasson menghujam dalam kedua mata Kimmy seolah dirinya bisa membaca apa yang dipikirkan oleh istrinya saat ini. "Apa kau ada masalah?" tanyanya kemudian.


"Ehm, tidak." Kimmy mengulas paksa senyumnya, kepalanya sedikit menggeleng.


Jasson mengalihkan pandangannya lurus ke depan, ia kembali fokus akan kemudinya.


"Kita sudah menikah, jadi kuharap kita harus saling terbuka, dan jangan menyembunyikan sesuatu," tutur Jasson secara tiba-tiba.


Perkataan itu membuat Kimmy terperangah diikuti dengan kedua alisnya yang naik secara bersamaan saat mata wanita itu sedikit melebar menoleh. Apa aku tidak salah mendengar, batinnya.


"Jika kau memiliki masalah, kau harus memberitahuku!" lanjutnya kemudian.


Rasanya Kimmy memang tidak salah mendengar. Entah kenapa, saat mendengar perkataan itu, hati Kimmy merasa senang. Bukankah, itu tandanya Jasson sudah benar-benar menerima pernikahan mereka?  Ya, Kimmy harap seperti itu. Tapi, meskipun demikian, Kimmy tetap tidak bisa menunjukan perasaannya secara terang-terangan. Mengingat, bahwa terlalu berharap dan jatuh cinta sendirian itu sangatlah menyakitkan.


"Kau mendengarku tidak?" seru Jasson, merasa kesal saat tak mendapat respon dari istrinya.


"I-iya, aku mendengar," Kimmy menjawabnya gelagapan.


"Lalu kenapa hanya diam dan tidak menjawab?"


"Tidak, maksudku, iya. Jika aku ada masalah aku pasti akan berbicara kepadamu."


***


Jasson terlihat duduk di salah satu kursi yang terletak di sudut ruangan sembari menikmati kopi, laki-laki itu kini sedang menunggu  Kimmy yang tengah mengikuti seminar di hotel yang letaknya cukup jauh dari rumah sakit tempat istrinya itu bekerja.


Seminar itu  berlangsung selama dua jam lamanya. Selama menemani Kimmy, kedua mata Jasson  tak melepaskan wanita itu sedetikpun dari pandangannya. Ia tak henti mengawasi istrinya tersebut dari kejauhan, tak membiarkannya dekat dengan laki-laki manapun, terutama Mark.


Pun Kimmy yang menyadari bahwa Jasson tak lepas mengawasinya, membuat wanita itu terpaksa menghindar dari Mark saat rekannya itu berusaha mendekatinya atau mengajaknya berbicara. Namun, Mark masih tetap saja mendekati Kimmy dan mengajaknya berbicara. Ya, laki-laki itu sepertinya memang  sengaja.


"Kimmy, aku mau mengambil teh, apa kau mau?" tanya Mark yang berjalan menghampiri Kimmy yang kala itu sedang berbincang dengan seorang dokter wanita. Karna kedatangan Mark, dokter itu pun berpamitan pergi dari sana.


"Mark?" Kimmy melirik ke arah Jasson yang masih duduk di ujung sana sambil menyesap cangkir yang berisi kopi, kedua mata laki-laki itu tengah menatapnya tajam seperti seekor elang yang hendak menerkam mangsanya.


"Apa kau mau teh, Kimmy?" tanya Mark sekali lagi.


"Ehm, ti-tidak terimakasih, Dokter Mark," tolak Kimmy.


"Tidak, Mark, terimakasih. Aku nanti bisa mengambilnya sendiri." Kimmy masih saja menolak, kedua ekor matanya pun masih menangkap dengan jelas bahwa Jasson tak lepas mengawasinya dari ujung sana, tatapan lelaki itu semakin dipertajam, terlihat jelas saat kerutan melukis di sekitar kening dan juga alisnya.


Tadi, sebelum Kimmy masuk ke dalam ruang seminar, Jasson berulang kali memberi ultimatum kepada Kimmy supaya tidak dekat-dekat dengan Mark. Kimmy pun menyanggupinya, meskipun berat. Karna, selama ini, setiap kali dirinya ikut seminar kedokteran, ia selalu mengandalkan Mark sebagai temannya untuk saling berbagi dan bertukar pikiran.


"Kau ini kenapa? takut dengan Jasson?" tanya Mark.


"Sudah tau masih saja bertanya. Lebih baik kau pergi dari sini, Mark. Jangan membuat masalah!" tutur Kimmy dengan memperkecil suaranya. Meskipun ia tau bahwa jarak tempat duduk Jasson tidaklah dekat, tidak akan membuat percakapannya dengan Mark didengar oleh lelaki itu. Namun, tetap saja Kimmy memperkecil volume suaranya,


"Memangnya aku membuat masalah apa? aku hanya ingin menawarimu minuman saja. Kimmy ... kita sudah berteman lebih dari tiga tahun. Bukankah kita sering seperti ini? lalu apa yang kautakutkan dari Jasson?"


"Situasi kali ini berbeda, Mark. Tolong mengertilah!"


"Jadi suamimua melarangku berteman denganku?"


"Bukan seperti itu, Mark!" Kimmy mendengus seraya menggaruk rambutnya. Ia merasa bingung harus menjelaskan bagaimana lagi kepada laki-laki yang ada di hadapannya saat ini.


"Mark, tolong, untuk saat ini jangan dekat-dekat dengan aku dulu. Kau tidak lihat, Jasson daritadi melihat ke arah kita!" seru Kimmy sambil menggeser kedua bola matanya ke arah Jasson. Rasanya wanita itu kesal sekali. Dan bodohnya, setelah Kimmy berbicara seperti itu, Mark bukannya pergi dari sana tetapi justru malah menoleh ke arah Jasson sambil mengulas senyuman mengejek kepada suami rekannya itu.


Hal itu seketika membuat emosi Jasson seakan meledak dibuatnya.


"Mark!" bentak Kimmy. "Kenapa kau malah melihat ke arahnya!"


"Biarkan saja! Suamimu juga ingin dilihat."


Jasson terlihat bangkit dari tempat duduknya. Tubuh tegap laki-laki itu mengajaknya berjalan ke arah Kimmy dengan langkah yang panjang dan pasti. Tatapannya dingin, membuat Kimmy membulat.


"Ehem ...." Jasson menghentikan langkahnya di antara Mark dan juga Kimmy.


"Ja-Jasson?"


"Apa sudah selesai?" Jasson mengangkat pergelangan tangannya untuk membaca jam tangannya yang melingkar di sana.


"Tunggu sebentar lagi!" ujar Kimmy. Bibir Jasson mengatup, tak memberi respon akan jawaban Kimmy. Namun tidak dengan matanya. Mata lelaki itu seakan memperingatkan dirinya supaya tidak dekat-dekat dengan Mark.


Kimmy menelan salivanya yang hampir mengering saat tatapan Jasson membuat dirinya membeku.


"Bagaimana mau selesai, sementara kau daritadi menghabiskan waktu untuk berbicara dengan orang lain!" seru Jasson.


"Cepatlah! aku tidak mau menunggu terlalu lama!"


"Kalau kau ada kesibukan dan tidak mau menunggu Kimmy, kau bisa meninggalkan Kimmy. Biar Kimmy nanti pulang bersamaku, Tuan Jasson," timpal Mark seraya tersenyum sarkastik.


"Mark!" seru Kimmy. Kedua matanya melotot memperingati Mark.


"Jasson, ayo kembali ke tempat dudukmu. Tunggu aku  sebentar lagi. Aku tidak akan lama." Kimmy menarik paksa tangan Jasson yang nyaris menelan perkataan Mark dengan penuh keseriusan.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Sambil nunggu Oh My Jasson.


Kalian bisa baca karya Nona yang lain (Bagi yang belum baca)


My Introvert Husband (tamat)


My Introvert Husband 2 (Tamat. Belum direvisi, tulisannya masih kacau)


My Introvert Husband 3 (Tamat. ada hubungannya sama Oh My Jasson.)


Amoera is My Lady (Tamat. Dark, mengandung kekerasan)


My Geeky Wife (Tamat)