
Kimmy menguap berulangkali karena terlalu bosan menunggu Jasson dan juga Alea yang sudah hampir dua jam lamanya belum juga kembali menemuinya.
"Katanya sebentar, tetapi kenapa lama sekali?"
Entah sudah berapa kali Kimmy membaca jarum jam yang terpampang di dinding yang ada di ruangan itu.
Dan sekarang, jam dinding sudah menunjukan pukul 16.39. Sebagian karyawan sudah meninggalkan pekerjaannya, tetapi masih ada beberapa yang tersisa di sana.
Kimmy beranjak meninggalkan tempat duduknya saat rasa sakit mendadak melilit perutnya. Wanita itu hendak buang air besar. Ia masuk ke kamar mandi yang tersedia di dalam ruangan Jasson. Namun, kran wastafel yang baru saja ia putar tidak mengucurkan airnya. Hal serupa pun terjadi saat dirinya mencoba menekan flush closet, tidak ada air yang mengalir setetes pun dari sana.
"Apa toilet ini rusak?" Kimmy yang sudah tidak bisa lagi menahan rasa ingin, segera keluar meninggalkan ruangan itu untuk mencari letak toilet. Dan hal serupa pun ia jumpai. Semua toilet tidak mengalirkan air sama sekali. Padahal, Kimmy sudah tidak bisa lagi menahan sakit perutnya yang sudah ada di ujung.
Dipanggilnya seorang office girl yang saat itu kebetulan melintas di hadapannya. Kimmy menanyakan letak toilet yang sekiranya bisa ia gunakan kepada wanita yang usianya jauh lebih tua darinya itu.
"Semua pipa air sedang dalam perbaikan, Nyonya. Jadi semua toilet tidak bisa digunakan," tutur office girl yang belum ia ketahui namanya itu. Pantas saja tidak ada air yang mengalir sama sekali.
"Kalau Nyonya mau, Nyonya bisa menggunakan toilet yang ada di dekat basement. Karena hanya di toilet basement saja yang selalu menampung air dan bisa digunakan saat ada perbaikan pipa seperti ini."
"Oh, begitu, baiklah, aku akan memakai toilet yang ada di sana."
"Apa Nyonya mau saya antar?" Seulas senyuman penuh tawaran ditebarkan oleh office girl itu kepada Kimmy, tetapi ia menolaknya dengan sopan karna tidak ingin merepotkan siapapun, pikirnya.
"Tidak usah, Nona. Terimakasih, aku bisa mencarinya sendiri."
Kimmy segera turun ke basement dengan menggunakan lift. Setibanya di sana, ia mencari letak toilet tersebut. Basement itu terlihat sepi dan gelap karna kurangnya penerangan. Tidak ada siapapun di sana kecuali dirinya sendiri. Hanya ada beberapa mobil tua yang sudah usang sengaja dijajar dengan teratur di sana. Mobil yang tampak sudah lama tidak dipakai.
Basement ini dulu tempat penyimpanan bahan produksi dan juga tempat parkiran mobil bagi karyawan. Namun, semenjak Gio membangun lahan parkiran yang lebih luas, basement itu sudah tidak pernah lagi dipakai, dan jarang sekali dilewati oleh siapapun. Kecuali penjaga atau office boy yang datang hanya untuk membersihkannya.
Setelah menelusuri basement yang cukup luas. Akhirnya Kimmy menemukan dua toilet yang terletak saling berdampingan di sana. Ia segera masuk ke dalam salah satu toilet itu dan menuntaskan keinginannya. Meskipun toilet itu sangat sempit dan juga lembab, tetapi cukup bersih dan terawat.
***
Jasson terlihat kembali dengan Alea ke dalam ruangannya. Namun, ia tak mendapati Kimmy di sana. Pandangannya diedarkan ke setiap sudut ruangan. "Ke mana Kimmy?"
"Entahlah ...." sahut Alea.
Jasson memeriksa kamar mandi, tetapi tidak ada siapapun di sana.
"Aku akan menanyakan kepada office girl," ujar Alea. Ia berlalu pergi dari sana saat Jasson memberinya izin. Begitu pun dengan Jasson yang mencoba mencari Kimmy di sekitar ruangannya.
"Apa kau melihat Nona Kimmy?" Pertanyaan Alea menghentikan office girl yang terlihat mengemasi barangnya untuk pulang.
"Yang Nona maksud istrinya Tuan Jasson?"
"Hem." Alea enggan menyahutinya saat kata 'Istri Tuan Jasson' serasa menggelitik di pendengarannya.
"Tadi Nyonya Kimmy sedang pergi ke toilet yang ada di basement, Nona. Karena semua toilet masih dalam perbaikan."
"Oh, baiklah, terimakasih."
Alea segera bergegas menuju ke basement dengan menggunakan lift.
Sebagian karyawan yang masih ada di sana kini terlihat keluar berhamburan mengosongkan kantor. Gedung yang sudah beroperasional puluhan tahun itu kini menjadi sepi dan sunyi. Sebagian ruangan tak dijangkau oleh penerangan hingga terlihat gelap karena matahari nyaris meninggalkan tempat peraduannya untuk menyambut sang malam.
***
"Nona Kimmy tidak ada dimana pun." Suara Alea mengalihkan perhatian Jasson yang kini terlihat sedang merapikan berkas dan juga meja kerjanya. Wanita itu sudah kembali, dan kini tengah berjalan menghampiri Jasson di dalam ruangannya.
"Tidak ada bagaimana maksudmu?"Jasson menghentikan aktivitasnya dan memilih untuk berjalan mendekati sekretarisnya itu.
"Iya, tadi kata office girl, Nona Kimmy pergi ke toilet, tetapi tidak ada. Mungkin dia sudah pulang." Alea mendaratkan tubuhnya duduk di kursi yang ada di depan meja kerja Jasson.
"Tidak mungkin dia pulang." Jasson menghampiri Alea. Keningnya berkerut tidak percaya.
"Mungkin saja. Karena semua toilet dalam perbaikan pipa air," jawab Alea.
"Lalu apa hubungannya dengan perbaikan toilet?"
"Bisa saja Nona Kimmy tidak bisa menahan buang air kecil atau buang air besar, lalu dia memilih untuk pulang." Perkataan Alea memang ada benarnya. Namun membuat Jasson ragu. Ia meraih ponsel yang tergeletak di atas meja kerja. Lalu ia mencoba menghubungi nomer Kimmy, tetapi tidak bisa. Nomer ponsel istrinya itu sedang berada di luar jangkauan.
"Apa kau bisa menghubunginya?" tanya Alea.
"Tidak." Jasson meletakan kembali ponselnya. Tatapannya penuh kekhawatiran dan pertanyaan.
"Nona Kimmy pasti pulang terlebih dulu. Mungkin dia terlalu lama menunggu kita kembali."
"Sebentar, aku akan mencarinya lagi."
"Kau mau mencari ke mana lagi, Jasson? Aku sudah mencari Nona Kimmy ke seluruh kantor tetapi tidak ada." Alea beranjak berdiri dan berjalan menghampiri Jasson yang hendak meninggalkan ruangan.
***
"Siapapun, tolong buka pintunya." Kimmy berteriak menggedor-gedor pintu toilet sejak dari setengah jam yang lalu saat dirinya selesai melakukan ritualnya dan hendak keluar dari sana, tetapi pintu itu tiba-tiba terkunci dari luar.
"Jasson, tolong aku!" Kepanikan Kimmy yang menjadi-jadi semakin membuat dirinya kesulitan bernapas karna tidak ada oksigen yang melingkupi ruangan sempit tanpa ventilasi itu. Mini dress tipis yang membalut tubuhnya nampak basah karna terlalu lama menyerap keringat yang mengucur di sekujur tubuhnya akibat kegerahan.
Sudah berulang kali ia menggedor pintu itu dan berteriak sekencang mungkin hingga suaranya terdengar parau, tetapi tidak ada tanda-tanda ada orang yang melintas di sana yang bisa untuk ia mintai bantuan.
"Siapa yang mengunci pintunya. Tolong buka!" Kimmy masih berusaha untuk membuka pintu toilet itu. menggerak-gerakkannya berulang kali, namun usahanya rasanya sia-sia.
Tubuhnya gemetar ketakutan, sampai kapan ia akan terkurung di sana? sampai besok, mungkinkah?
Menghubungi Jasson untuk meminta tolong juga percuma, ini ruang bawah tanah. Ponselnya tidak akan menjangkau jaringan.
"Jasson ...." Nama itu sering sekali disebut oleh bibirnya yang memucat ketakutan, tetapi panggilannya sama sekali tak mempu menolongnya keluar dari sana. Lampu penerangan yang redup dan juga tenggorokannya yang terasa gersang membuat Kimmy hampir saja kehilangan kesadaran.
"Apa ada orang di dalam?" Suara seseorang terdengar samar di pendengaran Kimmy. Menyadarkan wanita itu yang tubuhnya nyaris ambruk karna kehausan dan kehabisan oksigen.
"Tolong .... Siapa pun tolong aku." Kimmy mulai bersuara kembali. Tangannya yang sudah melemas dan tak bertenaga mencoba menggedor pintu itu. Bagaimana tidak, saat ini sudah terhitung satu jam dia terkurung di dalam sana.
"Siapa di dalam? Hantu atau manusia?" Pertanyaan konyol yang terdengar oleh Kimmy membuatnya sungguh jengkel. Namun, tidak heran. Ini sudah malam. Tidak ada siapapun kecuali penjaga kantor yang kebetulan berpatroli di sana. Terlebih lagi, basement itu sudah hampir tiga tahun tidak digunakan lagi.
"Manusia." Kimmy menggedor pintu itu untuk meyakinkan.
"Nona tolong menjauhlah dari belakang pintu. Saya akan mendobrak pintu ini." Penjaga itu memberi perintah dan aba-aba kepada Kimmy supaya mundur dan menjauh dari pintu. Sebelum kemudian, tubuh kekar penjaga itu berhasil merobohkan pertahanan pintu toilet yang nampaknya memang sengaja dikunci oleh seseorang.
"Astaga, Nyonya Kimmy." Penjaga itu begitu terkesiap saat mendapati wanita yang ada di dalam toilet itu ialah istri dari anak pemilik perusahaan tempat ia bekerja. Tubuh Kimmy terhuyung. Dengan cepat penjaga itu segera menopangnya.
"Aku baik-baik saja." Kimmy mencoba menyempurnakan tubuhnya supaya berdiri tegap, mengatur napasnya yang hampir hilang karna kekurangan oksigen di dalam sana.
Penjaga itu membantu Kimmy berjalan ke pos penjagaan. Menyuruh wanita itu duduk di sebuah kursi yang terbuat dari kayu rotan, lalu memberikannya segelas air putih. Setelah meneguk habis air yang diberi oleh penjaga itu. Kimmy memejamkan matanya, ia mengatur napas untuk meraup oksigen supaya melingkupi paru-parunya.
Dan di waktu yang bersamaan, sebuah mobil berhenti di depan kantor itu. Turunlah seorang laki-laki yang tak asing berjalan cepat menghampiri Kimmy dan juga penjaga di pos itu.
"Kimmy?"
"Mario?"
"Kau kenapa?" Kedua mata perak lelaki itu memperhatikan Kimmy yang nampak tidak baik.
"Aku ...." Suara Kimmy tersengal. Ia berusaha mengatur napasnya yang terputus.
"Tadi Nyonya Kimmy terkunci di dalam kamar mandi, Tuan Mario. Ini saya baru saja menemukannya. Kalau tadi saya tidak memeriksa besement, mungkin Nyonya Kimmy terkurung sampai besok pagi. Dan bahkan bisa ...." Penjaga itu tak melanjutkan kembali kalimatnya, seakan sudah membuat Mario mengerti.
"Astaga ... kenapa kau bisa terkurung, Kimmy?"
"Tidak tau, sepertinya ada seseorang yang dengan sengaja mengunciku di kamar mandi," jawab Kimmy dengan suara yang masih melemas.
"Lalu di mana Jasson?" Mario mengedarkan pandangannya ke sekitar, tetapi tak mendapati siapapun kecuali Kimmy dan satu penjaga yang ada di hadapannya saat ini.
"Tuan Jasson sudah pulang dari sejak sore tadi bersama Nona Alea, Tuan."
"Bersama Nona Alea?" Suara Kimmy mengulang perkataan itu dengan berat seperti ada yang tercekat di tenggorokannya. Penjaga itu mengiyakannya dengan penuh keyakinan.
"Nona, sebentar, saya akan menghubungi Tuan Jasson, untuk memberitahu bahwa Nona ada di sini."
"Tidak perlu, Pak." Kimmy pun menghalangi penjaga itu untuk mengatakan kepada Jasson apa yang telah terjadi terhadapnya baru saja.
"Tapi, Nona?"
Tatapan mata Kimmy seakan tidak mau dibantah. Penjaga itu pun terpaksa mengurungkan niatnya untuk memberitahu Jasson.
"Kau sedang apa di sini, Mario?" tanya Kimmy kepada Mario yang sama sekali tak mengalihkan pandangan darinya
"Aku tadi kebetulan melintas jalanan ini, dan tidak sengaja melihat dirimu dari kejauhan. Makanya aku langsung kemari."
"Oh ...."
"Kimmy, ayo aku akan mengantarkanmu pulang."
***
Kimmy kini berada di dalam mobil bersama Mario. Ia tidak memiliki pilihan lain selain menerima tawaran laki-laki itu untuk mengantarkan dirinya pulang ke rumah.
Ini lebih baik daripada harus mencari taxi, atau menghubungi Jasson untuk meminta belas kasih supaya mau menjemputnya di sana. Rasanya Kimmy sungguh kecewa. Lebih tepatnya sakit hati.
"Kenapa dia malah meninggalkanku?" Kimmy memejamkan kedua matanya. Hatinya benar-benar merasa sakit seakan dihujam ribuan jarum yang karatan. Terlebih lagi saat mengetahui kebenaran saat suaminya lebih memilih pulang bersama Alea daripada menunggu atau mencarinya.