
"Kau marah karna Alea?" Pertanyaan dari laki-laki yang tidak peka itu membuat Kimmy merasa semakin kesal. Ia mengangkat dagunya. Bola matanya yang hampir tak terlihat kini memberanikan diri menatap Jasson.
"Iya, aku marah karna aku tidak suka melihatmu dengan Nona Alea, sekalipun dia hanya teman atau sekretarismu!" seru Kimmy. "Kau selalu memarahiku jika aku dekat dengan laki-laki lain, tetapi kau tidak pernah sadar kedekatanmu dengan Nona Alea membuatku selama ini sakit hati!"
"Aku sakit hati setiap kali kau dekat dengan Nona Alea. Aku cemburu ... aku sangat cemburu ... kau mengerti!" Air mata Kimmy semakin berhamburan menggenangi wajahnya. Jasson berusaha memeluk Kimmy. Namun pukulan-pukulan telapak tangan Kimmy mendarat berulangkali di dada Jasson, seakan pukulan itu bisa mengurangi rasa sakit yang selama ini rasakan.
"Kimmy ...."
"Lepaskan aku. Aku tidak mau denganmu!" Rasa sakit Kimmy terluapkan melalui tangisan dan pukulan-pukulan yang ia daratkan di dada Jasson. Wanita itu meronta berharap bisa melepaskan diri, namun tangan Jasson semakin diperkuat untuk mendekapnya. Hingga kini tubuh rapuh wanita itu tak bergeming dalam pelukan Jasson yang berhasil membuat dirinya tenang.
Suara isak tangis masih memenuhi heningnya kamar. Jasson serasa membeku. Ia bingung harus berkata apa. Dirinya tidak pandai berbicara atau membujuk wanita. Ia hanya bisa diam, menuangkan perhatiannya melalui sebuah pelukan yang bagi Kimmy pelukan itu terasa menenangkan
Jasson menatap lekat-lekat wajah Kimmy yang sembab setelah ia melepaskan pelukannya. Ibu jarinya mengeringkan wajah wanita itu, disusul dengan merapikan rambutnya yang berantakan memenuhi wajahnya. Pun ujung hidungnya terlihat memerah.
"Maafkan aku." Kalimat itu lolos dari bibir Jasson setelah keheningan di antara mereka terjeda cukup lama. Kimmy masih bungkam. Ia sibuk mengatur napasnya yang sesenggukan.
"Aku tidak tau kalau kau akan sakit hati seperti ini karna kedekatanku dan Alea."
"Aku tadi sudah mencarimu di seluruh toilet kantor, tetapi aku tidak tau kalau kau ada di basement. Aku tidak memiliki pikiran untuk mencarimu ke sana. Karena basement itu sudah tidak pernah dipakai lagi. Itu sebabnya aku langsung pulang. Karena aku pikir, mungkin kau pulang terlebih dulu."
"Dan kau mengantarkan Nona Alea pulang terlebih dulu?" Suara Kimmy yang parau menyahutinya, seakan sengaja mencari kesalahan yang ada di dalam diri suaminya.
Jasson memejamkan singkat matanya diikuti dengan decakan kecil, nyaris tak terdengar. Bingung harus berkata apa lagi supaya bisa membuat Kimmy mengerti.
"Kedekatanku dengan Alea selama ini hanya karna aku kasihan kepadanya. Kami hanya berteman, tidak lebih dari itu." Jasson menangkup kedua pipi Kimmy. Bibir wanita itu mengatup. Sebelumnya, Ia tidak pernah melihat Jasson berbicara selembut ini terhadapnya, bahkan kepada siapapun. Usapan tangan Jasson di kepalanya membuat jiwanya yang semula berteriak seketika melunak. Laki-laki yang ada di hadapannya saat ini benar-benar kelemahan yang tidak bisa ia hindari.
"Aku sama sekali tidak memiliki perasaan apapun kepada Alea." Kimmy mempertajam pendengarannya, pun tatapannya. Tidak ada kebohongan yang terselip di kedua manik mata perak Jasson saat mengucap perkataan itu. Suaranya terdengar sungguh-sungguh.
"Tapi Nona Alea?" Kimmy mencoba menghindar saat tangan Jasson berusaha menyentuh kembali wajahnya," dia memiliki perasaan kepadamu!"
"Itu tidak mungkin!" sergah Jasson.
"Dia sendiri yang bilang kepadaku, dia menyukaimu!" seru Kimmy. Buliran air mata itu kembali membasahi wajahnya yang nyaris mengering. Kimmy ingat betul saat dirinya tadi mempertanyakan tentang perasaan Alea kepada Jasson. Hatinya terasa sakit saat Alea membenarkan tentang dugaannya.
"Rasa suka sebagai seorang teman. Tidak ada yang salah!" bantah Jasson. "Alea sudah memiliki laki-laki idaman yang dirahasiakan."
"Dan laki-laki itu kau! Kenapa kau tidak bisa merasakannya!" Suara Kimmy dipertegas supaya suaminya itu menyadari. Namun rasanya percuma. Dari tatapan mata Jasson, ia tidak mempercayainya.
"Kimmy, aku mengenal Alea."
"Iya ... kau lebih mengenalnya daripada mengenalku. Itu sebabnya kau tidak mempercayaiku!"
Jasson segera menarik tubuh Kimmy yang nyaris menjauh darinya. Ia bingung harus berkata atau bersikap bagaimana lagi. Wanita sungguh makhluk membingungkan, batinnya. Ingin membalas perkataan Kimmy, namun ia takut salah bicara.
"Kimmy, aku bukan tidak mempercayaimu!" Jasson kembali mendekap erat tubuh Kimmy setelah ciuman di puncak kepala wanita itu. "Aku sangat mempercayaimu."
"Ayo kita duduk dulu." Jasson melepaskan pelukannya. Ia membimbing Kimmy yang semula menolak ajakannya untuk duduk di tepi tempat tidur. Jasson ikut mendaratkan tubuhnya di samping wanita itu.
Kedua mata Jasson memusat pada lengan tangan Kimmy yang terlihat merah. Merasa bersalah, karna menyadari tangan istrinya seperti itu karena ketidak sengajaannya.
"Maafkan aku, aku tadi sudah kasar." Jasson mengusap lengan itu dengan sangat lembut. Seolah usapan itu bisa menyembuhkannya. Kimmy sejenak diam. Matanya yang sebab menatap ke sembarang arah.
"Bukankah kau selalu bersikap seperti itu jika sedang marah?"
"Maaf, aku kadang tidak bisa menyadari atau mengontrol emosiku jika sedang marah,"ujarnya seraya menyelipkan rambut Kimmy ke belakang telinga.
"Tunggulah sebentar." Jasson beranjak berdiri dan mengambilkan pakaian untuk istrinya dari dalam lemari.
"Gantilah pakaianmu. Aku akan mengambilkan makanan untukmu." Kimmy mengambil pakaian yang telah diberikan oleh Jasson, lalu menganggukan kepalanya.
***
Jasson terlihat sibuk menyuapi Kimmy di dalam kamar. Ini untuk pertama kalinya setelah menikah laki-laki itu menyuapi istrinya. Kimmy sempat menolak dan meminta untuk makan sendiri. Namun, Jasson tetap saja memaksa untuk menyuapinya. Kimmy merasa diperhatikan sekali malam itu oleh Jasson.
"Aku sudah kenyang." Kimmy menghalangi suapan yang nyaris mendarat ke dalam mulutnya.
"Terakhir ini saja."
"Aku tidak mau, aku sudah kenyang."
"Baiklah." Jasson tak bisa memaksa. Ia meletakan piring yang masih tersisa makanan itu di atas nakas.
Suara Bi Katty dan ketukan pintu tiba-tiba membelah keheningan di dalam sana. Bi Katty membuka lebar pintu kamar yang semula tertutup setelah Jasson memberinya izin untuk masuk.
"Ada apa, Bi?" tanya Jasson.
"Ada, Tuan Ken, di ...."
"Bibi dokter ...." Elga tiba-tiba muncul saat tubuh mungilnya berhasil menerobos tubuh Bibi Katty yang menghalangi jalan pintu.
"Elga?" Senyuman mengembang sempurna di raut wajah Kimmy hingga membuat kedua matanya semakin menyipit. Ia beranjak turun dari tempat tidur dan segera memeluk Elga yang seketika membenamkan tubuh mungilnya.
"Kau bersama siapa, Sayang?" tanya Kimmy sesaat setelah pelukan di antara keduanya terlepas diakhiri dengan sebuah ciuman mendarat di pipi bulat keponakannya itu.
"Daddy ...."
Elga mendekatkan kedua tangan mungilnya di telinga Kimmy. "Aku merindukanmu," bisiknya membuat telinga Kimmy geli hingga wanita itu tertawa. Kesedihan di dalam diri Kimmy seketika nampak sirna tergantikan oleh kehadiran gadis kecil itu.
"Kimmy ... Jasson ...." Ken terlihat masuk menghampiri. Bi Katty pamit pergi setelah tugasnya dirasa selesai.
"Kakak Ken?" Sebuah senyuman terulas untuk menyambut kedatangan kakak iparnya yang secara mendadak.
"Di mana, Alana, Kak?" tanya Jasson.
"Alana tidak ikut. Aku kemari mengantarkan Elga. Dia dari tadi merengek ingin kemari." Ken menggeleng-gelengkan kepalanya akan permintaan putrinya yang tidak bisa dibantah.
"Apa kalian tidak keberatan jika Elga menginap di sini?" tanya Ken.
"Tidak," sahut Elga. Kimmy dan Jasson seketika tertawa.
Ken menghela napas. "Daddy bertanya kepada Paman dan Bibi, Nak. Bukan kepadamu."
"Sama saja. Bibi tidak akan keberatan, iya, kan, Bibi?"
"Iya, Bibi sama sekali tidak keberatan. Bibi malah senang kalau kau menginap di sini. Jadi Bibi ada temannya." Kimmy dengan gemasnya meninggalkan ciuman di pipi Elga. Seperti candu, hingga membuat wanita itu tak henti ingin menciumi pipi keponakannya.
"Daddy bisa mendengarnya bukan? Bibi sama sekali tidak keberatan." Suara centil Elga terdengar meledek di telinga Ken.
"Sungguh mirip dengan Alana, sama-sama menyebalkan," gerutu Ken.
"Oh, iya, Jasson, Kakak mau bicara sesuatu yang penting denganmu."
"Bicara tentang apa, Kak?" Kening Jasson berkerut penasaran.
"Tentang perusahaan."
"Oh ... kalau begitu, kita bicara di ruang kerjaku saja, Kak."
***
Mereka kini sedang berada di dalam ruangan yang biasa digunakan oleh Jasson bekerja. Ruangan itu cukup luas. Banyak buku dan berkas-berkas lama yang tertata dengan rapi di sana. Pun sebuah komputer melekat di atas meja yang berwarna coklat tua dengan aksen ukiran-ukiran unik yang terbuat dari kayu jati belanda.
Ken memulai membuka percakapan setelah keduanya menyesap kopi hitam di cangkir masing-masing. Mereka membicarakan perihal perusahaan. Perbincangan itu terjalin cukup lama dan serius. Hingga tak lama setelah itu, kesenyapan menyelimuti ruangan saat topik pembicaraan mereka telah usai.
Jasson menyesap kembali kopinya, lalu meletakan cangkir itu ke tempat semula. Ia menyandarkan punggungnya di sandaran sofa. Tatapannya mengarah ke sembarang arah. Pikirannya tiba-tiba berkeluh saat perdebatannya dengan Kimmy tentang Alea kembali ia pertanyakan.
"Kau kenapa?" Kening Ken berkerut dalam, memperhatikan adik laki-lakinya yang tampak tidak seperti biasanya. Ken sangat tau bahwa adiknya saat ini sedang dilanda kebingungan. Jelas dari tatapan mata dan raut wajahnya.
"Tidak ada apa-apa, Kak." Senyuman yang terkesan dipaksa tidak bisa membohongi Ken.
"Jangan membohongi Kakak! Bicaralah, kau kenapa?"
Jasson terdiam sejenak. Ia tidak pernah mau berbagi ataupun bercerita tentang masalah pribadinya kepada siapapun kecuali Harry; sahabatnya sejak dari kecil. Karena, menurut Jasson, hanya Harry yang bisa mengertikannya.
"Aku hanya bingung, Kak." Jasson mengusap kasar wajahnya.
"Bingung kenapa? Apa kau memiliki masalah dengan Kimmy?" tanya Ken. Tatapannya menelisik.
Diamnya Jasson pun membenarkan dugaan kakaknya.
"Kau memiliki masalah apa dengan Kimmy?" Pertanyaan yang dilontarkan Ken mendesak Jasson supaya segera menjawabnya. Jasson menarik pandangannya ke arah Ken. Bingung menyusun jawaban.
"Ehm ... Kak, apa Alana pernah cemburu kepadamu?" tanyanya secara tiba-tiba.
Ken tertawa sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. Merasa bahwa pertanyaan adiknya itu sungguh konyol. "Tentu saja. Bukan hanya pernah, tetapi sering! Dia sungguh menakutkan jika sedang cemburu."
"Apa yang biasa membuat Alana cemburu kepadamu, Kak?"
"Apa lagi yang wanita cemburukan jika bukan karna wanita lain," jawabnya sembari mengangkat cangkir untuk menyesap cairan hitam yang masih menggenang di dalamnya.
"Jika kau dekat dengan wanita lain, Alana akan cemburu?"
"Tentu saja. Kau ini sungguh bodoh sekali!" seru Ken seraya meletakan kembali cangkir miliknya di atas meja.
"Alana cemburu karena dia mencintaiku." Ken tersenyum, merasa itu adalah sesuatu yang membanggakan bagi dirinya.
"Kenapa kau bertanya seperti itu?" Kening Ken berkerut. Diikuti dengan kedua alisnya. "Apa Kimmy cemburu kepadamu?"
Jasson sejenak diam. Kepalanya mengangguk dan membenarkannya. "Iya, Kimmy cermburu melihatku dekat dengan Alea. Padahal kan Kakak tau, aku dan Alea hanya berteman."
"Kakak sudah bilang berulangkali kepadamu. Jaga jarak dengan Alea!" sekak Ken. Tatapannya berubah penuh peringatan. Rasanya ia tidak terima.
"Jika kau sudah menikah, tidak ada yang namanya teman wanita. Teman wanitamu hanya istrimu! Istrimu saja!" tutur Ken dengan suara yang dipertegas.
Jasson menghela napasnya dengan kasar. Membenarkan perkataan Kakaknya. Padahal ia sendiri tidak terima jika Kimmy berteman dengan laki-laki lain, tetapi ia justru malah egois berteman dekat dengan Alea tanpa pernah menyadari bahwa kedekatannya selama ini membuat Kimmy sakit hati.
"Jika Kimmy cemburu, apa itu tandanya Kimmy juga mencintaiku, Kak?" tanya Jasson.
"Menurutmu?" Pertanyaan Ken membuat Jasson membisu. "Jika seseorang tidak mencintaimu, dia tidak akan pernah cemburu sekalipun kau dekat dengan seribu wanita sekaligus!"
Jasson masih tidak percaya sepenuhnya. Ia masih meragukan perasaan Kimmy sebelum mengetahui kebenarannya sendiri dari wanita itu. Mengingat bahwa istrinya itu sangat dekat sekali dengan Mark. Bisa saja Mark adalah laki-laki yang Kimmy sukai, atau bahkan dicintainya, pikir Jasson.
"Lalu aku harus bagaimana, Kak?" Jasson melemaskan punggungnya yang semula ia tegapkan.
"Jauhi Alea!"
"Bagaimana bisa? Kakak kan tau sendiri Alea sekretarisku. Semua pekerjaanku selalu melibatkan dirinya," ujar Jasson. "Tapi jika aku tetap terus menerus bersama Alea. Aku takut Kimmy akan sakit hati."
Ken diam, masih membantu untuk berpikir. "Biar Kakak yang mengurusnya," sahutnya dengan santai saat sebuah ide melesat di pikiran laki-laki yang telah memiliki dua orang anak itu.
"Dengan cara apa?"
"Kakak akan menarik Alea supaya dia menggantikan Jesslyn untuk membantuku dan Daven."
"Lalu Jesslyn?"
"Dia akan menggantikan Alea bekerja denganmu."
"Kakak yang benar saja? Kakak mau setiap hari aku berdebat dengannya?" seru Jasson.
"Kau mau setiap hari berdebat dengan Kimmy atau dengan Jesslyn?" Pilihan yang tidak bisa dibantah oleh Jasson. Lebih baik ia debat setiap hari dengan Jesslyn daripada harus debat dengan Kimmy. Rasanya ia tidak sanggup. Apalagi saat perdebatannya membuat wanita itu menangis, hatinya serasa ikut sakit. Karena daridulu sejak mengenal Kimmy. Yang ia lihat hanya keceriaannya saja, namun setelah menikah, ia hampir tak pernah melihat keceriaan di wajah wanita itu.
"Bagaimana?" tanya Ken memastikan.
"Baiklah, Kak. Tetapi, apa Jesslyn mau bekerja denganku?"
"Kau tidak perlu khawatir. Kalau Kakak yang menyuruhnya, dia pasti mau." Perkataan itu serasa menenangkan hati dan pikiran Jasson. Ia seketika lega saat menemukan jalan keluar yang ia rasa tepat.
Hening ....
"Apa kau mencintai Kimmy?" tanya Ken secara tiba-tiba.
Jasson mengangkat dagunya. Menatap kakaknya dengan tatapan bingung. "Aku tidak tau," jawabnya sambil menggeleng polos.
"Bagaimana kau tidak bisa tau?" seru Ken. Merasa kesal. "Terlalu lama menyendiri, ya, seperti ini!" keluh Ken.
"Kakak dulu juga seperti itu!" seru Jasson.
"Tapi Kakak tau kalau Kakak mencintai Alana. Sementara kau?"
"Tapi aku benar-benar tidak tau, Kak." Jasson mengedikan kedua bahunya. "Sayang, suka, atau cinta, aku benar-benar tidak bisa membedakannya."
Ken sejenak diam. "Kalau begitu tinggalkan Kimmy!" perintahnya membuat kening Jasson berkerut dalam.
"Apa maksud Kakak menyuruhku meninggalkan Kimmy?" seru Jasson. Ada tekanan emosi yang mengguncang suaranya. "Apa Kakak sudah gila menyuruhku meninggalkan Kimmy? Aku tidak akan meninggalkanya!"
"Kau saja tidak mengerti bagaimana perasaanmu. Lalu untuk apa kau mempertahankannya?"
"Karna aku ...." Kebisuan seketika membekap mulut Jasson.
Ken menarik kedua sudut bibirnya. "Kau sudah menemukan jawabannya."
Ken beranjak berdiri dan menarik kerah baju adiknya tersebut.
"Kau jangan pernah sekali-sekali berani menyakiti Kimmy, jika kau tidak mau berurusan dengan Kakak!" Sebuah tepukan mendarat di pipi Jasson. Peringatan itu seperti sebuah tamparan baginya.
"Kakak pulang dulu. Salamkan untuk Kimmy. Aku titip Elga." Ken mengenakan mantel yang semula ia lepas. Lalu berlalu pergi dari sana, saat Jasson memberikannya izin.
Jasson masih mematung di tempat yang sama. Merenungi hati dan pikirannya sendiri.
"Apa benar yang dikatakan oleh Kimmy bahwa Alea memiliki perasan kepadaku?" Jasson mencoba menerka-nerka.
"Mulai sekarang aku harus menjauhi Alea demi Kimmy." Perkataan itu sudah diperbulat penuh oleh Jasson.