Oh My Jasson

Oh My Jasson
Karna aku suamimu!



Sore harinya, Kimmy yang masih melakukan perayaan bersama rekan-rekan medisnya di sebuah ballroom restaurant, terlebih dulu berpamitan pulang. Ia berjalan membelah keramaian meninggalkan tempat itu untuk mencari taxi. Namun, Mark yang mengetahui bahwa Kimmy berpamitan pulang, ia segera menyusul dan menghampirinya.


"Kimmy ...." Panggilan Mark menghentikan langkah wanita itu yang hendak berjalan menyebrang jalan. Berbalik badan dengan rasa malasnya.


"Ada apa, Mark?" tanyanya dengan raut wajah masam dan tak bersemangat. Ya, sejak daritadi Kimmy memang  tidak bersemangat, bahkan semua rekan medisnya mempertanyakan keadan Kimmy yang tidak seperti biasanya, namun Kimmy selalu menjelaskan bahwa dirinya baik-baik saja.


"Kimmy, kenapa kau pulang terlebih dulu? acaranya masih belum selesai."


"Aku terlalu lama meninggalkan rumah, ini sudah hampir menjelang petang," jawabnya sembari mengulas senyuman yang terkesan dipaksa.


"Kalau begitu aku akan mengantarkanmu pulang." Mark memberi tawaran, namun Kimmy menolaknya.


"Tidak perlu, Mark."


"Kimmy, kenapa kau selalu menolak tawaranku?"


"Karna aku sudah menikah, aku tidak mau orang lain atau keluargaku berpikiran hal yang buruk tentang diriku. Aku akan naik taxi saja."


"Kenapa harus naik taxi?" tanya Mrk, "kau sudah menikah dan kau  memiliki suami, kenapa kau tidak menghubungi Jasson untuk menjemputmu saja?"


Pertanyaan Mark yang terlontar secara berangsur tak membuat Kimmy langsung menjawabnya, ia menundukan pandangannya ke bawah, suasana hatinya semakin buruk jika membahas tentang Jasson.


"Kenapa kau diam? kau pasti  tidak memiliki nomer ponselnya."


Kimmy mengangkat wajahnya dengan terperangah, kenapa Mark bisa tau bahwa dirinya tidak memiliki nomer ponsel Jasson? padahal ia sama sekali tidak pernah memberitaunya.


"Kimmy, pernikahan macam apa ini? Jasson sama sekali tidak menghargaimu sebagai istrinya. Lalu apa yang kau pertahankan dan kau harapkan dari laki-laki seperti itu?"


"Kau jangan terlalu ikut campur rumah tanggaku, Mark!" Kimmy menepis tangan Mark yang berhasil menyentuh lengan tangannya.


"Aku permisi pulang."


"Kimmy, biarkan aku mengantarmu." Mark mencoba mengikuti Kimmy yang berjalan cepat meninggalkannya, tangan Kimmy yang baru saja melambai  membuat sebuah taxi berhenti untuk menganggkutnya pergi dari sana. Dan usaha Mark pun sia-sia.


"Apa yang diharapkannya dari Jasson?" Mark mendengus kesal sesaat setelah taxi yang ditumpangi oleh Kimmy lenyap dari pandangan matanya.


***


Kimmy terlihat duduk tepat di belakang kursi kemudi, ia menyandarkan punggungnya di sandaran kursi, kedua matanya mengamati jalanan dan juga langit berwarna jingga sesaat setelah matahari nampak menenggelamkan dirinya.


"Sampai kapan aku akan terus seperti ini? merasakan jatuh cinta dan terluka hingga berulang kali." Kimmy memejamkan erat kelopak matanya, meresapi perasaannya yang berkecamuk tak karuan. Namun, tubuh Kimmy mendadak terguncang saat taxi yang mengangkutnya berhenti secara tiba-tiba.


"Tuan, kenapa kau berhenti mendadak?" protes Kimmy.


"Ada sebuah mobil yang menghalangi jalan kita, Nona."


Kimmy hendak memastikan siapa yang menghalangi jalannya, namun seseorang tiba-tiba membuka pintu taxi tempat dirinya duduk dan menariknya keluar dari sana secara paksa.


"Jasson?" Kimmy baru tersadarkan bahwa seseorang itu tak lain ialah suaminya sendiri sesaat setelah  dirinya turun dari taxi dan menjejakan kedua kakinnya  di aspal.


"Kenapa kau menghalangi taxi yang kutumpangi? apa kau tau ini sangat berbahaya!" protes Kimmy.


"Apa kau sudah membayar taxinya?" Jasson bertanya dengan begitu santai seolah merasa tak bersalah dan tak mengindahan celotehan istrinya.


Kimmy menggelengkan kepalanya, dan menatap bingung suaminya yang tiba-tiba ada di sana. Jasson mengambil sebuah dompet yang terselip di saku celananya. Ia mengambil beberapa lembar uang kertas, kemudian memberikan uang tersebut kepada sang sopir taxi.


"Ayo pulang bersamaku, kita ke rumah mama." Jasson merekatkan jemari tangannya di sela-sela jemari tangan Kimmy. Menggandeng tangan wanita itu untuk mengajaknya masuk ke dalam mobil.


"Aku bisa berjalan sendiri!" Kimmy menghempas tangan Jasson hingga terlepas dari pegangannya.


Jasson sejenak mematung, memperhatikan Kimmy yang memunggunginya dan berjalan terlebih dulu masuk ke dalam mobil.


*


"Bagaimana kau kau bisa tau kalau aku yang ada di dalam taxi itu?" tanya Kimmy setelah mobil milik Jasson melaju meninggalkan tempat tersebut, namun tetap memusatkan pandangannya lurus ke depan tanpa menoleh ke arah laki-laki yang duduk di sampingnya.


"Memangnya apa yang kau pikirkan? Aku tadi hanya melintas jalanan ini, dan aku tidak sengaja melihatmu, itu sebabnya aku menghentikan taxi yang kau tumpangi. Aku hanya tidak mau orang lain berpikiran buruk tentangku," ujar Jasson. Kimmy seketika menoleh setelah mendengar perkataan terakhir Jasson, kedua matanya yang berkaca-kaca tengah memperhatikan suaminya yang sibuk akan kemudinya.


"Dia hanya memikirkan dirinya sendiri, aku kira ...." Kimmy mengalihkan pandangannya melihat ke arah luar  jendela mobil sembari memejamkan kedua matanya diikuti dengan helaan napasnya yang terasa berat. Mungkin, lebih baik mulai saat ini dirinya membiasakan diri untuk bersikap tidak peduli dan acuh terhadap Jasson, pikirnya.


Setibanya di rumah mama Merry, Kimmy turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam rumah terlebih dulu tanpa menunggu Jasson seperti biasanya. Hal itu membuat Jasson mengernyit penuh tanya akan sikap Kimmy yang mendadak berubah terhadapnya.


***


Sejak hari itu, Kimmy mencoba membiasakan diri untuk bersikap tidak peduli dengan Jasson. Ya, sudah hampir satu bulan ini Kimmy bersikap berbeda dari biasanya, ia hanya berbicara seperlunya saja dengan Jasson. Meskipun tak bisa dipungkiri, Kimmy sendiri merasa tersiksa melakukan ini semua. Tapi ini jauh lebih baik daripada harus membiarkan hatinya terus-menerus terluka karna tidak pernah bisa berhasil membaca sikap dingin suaminya.


Perubahan sikap Kimmy ternyata mempengaruhi pikiran Jasson, bisa dikatakan semakin memperumit pikirannya akan penuh tanda tanya. Perasaan laki-laki itu semakin kacau dan berkecamuk tak karuan. Bahkan, membuat dirinya sering sekali tidak fokus akan pekerjaannya di kantor. Ya, seperti siang itu. Setelah Jasson mengadakan pertemuan dengan beberapa rekan bisnisnya, ia kembali ke ruangannya.


Jasson mendaratkan tubuhnya di atas kursi kerja sesaat setelah jas hitam yang membalut tubuhnya ia lepaskan dengan sengaja. Punggungnya yang kaku ia sandarkan, diikuti dengan gerakan tangan yang memijit keningnya karena terasa begitu pusing.


Suara ketukan pintu yang terdengar, membuat Jasson menyahuti dan mempersilakan siapapun itu untuk masuk ke dalam ruangannya. Saat pintu terbuka, terlihat Alea dan juga Jesslyn berjalan masuk menghampirinya.


"Ada apa kau kemari?" tanya Jasson kepada saudara kembarnya yang kini berhasil  mendaratkan tubuh di atas kursi yang ada di hadapannya tanpa disuruh.


"Aku disuruh oleh papa untuk memberikan laporan perusahaan kepadamu." Jesslyn mengulurkan beberapa tumpukan berkas yang ia bawa kepada Jasson.


"Berikan saja kepada Kimmy, biar dia yang mengurusnya." Perkataan Jasson yang terucap dengan tidak sadar membuat Alea dan Jesslyn mengernyitkan keningnya.


"Kimmy? untuk apa aku memberikannya kepada Kimmy, dia tidak mengerti masalah perusahaan, Jasson. Dia kan dokter!" protes Jesslyn.


Jasson seketika tersadar. "Ehm, maksduku, berikan kepada Alea biar dia yang mengurusnya."


"Baiklah, kalau begitu aku akan kembali ke kantor papa," pamit Jesslyn seraya memberikan berkas laporan itu kepada Alea.'


"Kau kemari dengan siapa?" tanya Jasson.


"Tadi diantar oleh sopir, tetapi sepertinya aku akan kembali ke kantor papa naik taxi, soalnya aku mau membeli kue terlebih dulu." Jesslyn beranjak berdiri dari tempat duduknya dan sejenak merapikan rok kerjanya yang sedikit tersingkap.


"Kerasukan apa kau mau  mengantarku?" cetus Jesslyn secara terang-terangan, sulit mempercayai ini, karna biasanya Jesslyn harus berdebat terlebih dulu dengan saudara kembarnya itu jika meminta tolong  mengantarkannya pergi. Namun kali ini, Jasson justru malah menawarkan diri.


"Jangan banyak bicara tunggulah di lobby!"


"Baiklah." Jesslyn pun dengan penuh semangat berlalu pergi dari sana.


*


"Alea, aku tinggal terlebih dulu, tolong kau pindahkan laporan perusahaan milik papaku lalu kirimkan kepadaku via email," perintah Jasson seraya memakai jas miliknya yang sempat ia lepaskan tadi.


"Apa kau nanti tidak akan kembali lagi ke kantor?" tanya Alea.


"Aku rasa tidak, kepalaku sungguh pusing, aku ingin sekali pulang untuk beristirahat."


"Ehm, baiklah."


"Jasson?"


"Hem?"


"Kenapa kau akhir-akhir ini terlihat berbeda, apa kau sedang ada masalah dengan Nona Kimmy?" Pertanyaan Alea menghentikan aktivitas Jasson yang tengah merapikan meja kerjanya.


"Di ruang meeting kau juga tadi salah menyebut nama klien kita dengan nama Nona Kimmy, sebenarnya kau kenapa? jika kau memiliki masalah dengan Nona Kimmy kau bisa berbagi cerita kepadaku."


"Tidak ada yang perlu diceritakan, karna aku dan Kimmy baik-baik saja. Kami tidak ada masalah." Jasson menjelaskan, menahan suaranya yang sedikit kesal akan Alea.


"Tapi, kenapa kau--"


"Tolong jangan terlalu berlebihan untuk ingin tahu urusan pribadiku!" seru Jasson, kali ini ia lebih mempertegas suaranya seperti seorang atasan kepada bawahannya, bukankah memang seharusnya seperti itu?


"Maaf ...." Alea seketika menundukan pandangannya ke bawah.


Jasson tak menyahuti perkataan maaf yang terucap dari bibir Alea. Dengan wajah gusar, ia mengambil tas dan kunci mobil, lalu berlalu pergi dari sana.


Alea memberanikan diri untuk kembali mengangkat kepalanya. Kedua matanya yang sendu memandangi gerak tubuh Jasson yang berjalan memunggunginya keluar dari ruangan dengan tergesa-gesa.


"Kenapa dengan Jasson? aku seperti tidak mengenalinya." Alea memejamkan kedua mata diikuti dengan helaan napasnya.


***


Sebelum mengantarakan Jesslyn kembali ke kantor papa Gio. Jasson terlebih dulu mengantarkan saudara kembarnya tersebut untuk pergi ke toko kue yang letaknya tidak jauh dari kantor miliknya.


"Turun dan cepat belilah kue yang kau mau, jangan membuatku menunggu lama!" seru Jasson sesaat setelah menghentikan mobilnya di depan toko kue yang menjadi tujuan Jesslyn saat ini.


"Iya, cerewet sekali." Jesslyn turun dari mobil dan segera masuk ke dalam toko kue tersebut.


Sebuah mini market yang ada di samping toko kue itu kini menjadi tujuan Jasson untuk ia kunjungi sesaat merasa tenggorokannya begitu  kering karena dahaga. Jasson mengantri di kasir untuk membayar  minuman  dan juga permen mint yang ia beli.


Setelah itu, Jasson hendak kembali ke dalam mobilnya, namun langkahnya sejenak terhenti saat dirinya  tidak sengaja melihat seseorang yang kenal. Jasson hendak menghampiri seseorang tersebut, namun niatnya terurungkan tatkala Jesslyn sudah kembali dari toko kue. Hingga akhirnya, Jasson pun lebih memilih pergi dari sana.


***


Setelah mengantarkan Jesslyn ke kantor papa Gio, Jasson pun segera kembali pulang ke rumah. Baru beberapa langkah dirinya masuk ke dalam kamar, namun bertepatan saat itu juga Kimmy ternyata baru pulang dari bekerja, tanpa memberi sapaan wanita itu melewatinya begitu saja hingga membuat amarah Jasson meluap.


"Apa kau tidak tau sopan santun?" Jasson tiba-tiba menarik dengan kasar tangan Kimmy hingga menghentikan langkah wanita itu.


"Lepaskan tanganku!" Kimmy menghempas tangan Jasson hingga terlepas dari pergelengan tangannya. "Kau bilang aku tidak sopan?" tanyanya kemudian.


"Iya, kau melewatiku begitu saja, apa kau sudah melupakan sopan santunmu!"


"Bukannya, kau juga sering sekali melewatiku? kita sudah terbiasa sepert ini, bukan? Sekarang kenapa kau jadi mempermasalahkannya!" seru Kimmy.


Kedua alis Jasson berkerut dalam, tak ada kata perlawanan untuk ia lontarkan. Kimmy hendak melanjutkan langkahnya yang terhenti, namun ia mengurungkannya sesaat ia teringat akan sesuatu.


"Oh, iya, Jasson, dulu aku pernah bilang kepadamu jika tahun depan aku akan melanjutkan pendidikan. Aku akan melanjutkan pendidikanku sebagai dokter ahli penyakit dalam, dan mungkin akan memakan waktu empat setengah tahun," ujar Kimmy. Jasson masih diam untuk menunggu perkataan Kimmy selanjutnya.


"Tiga bulan lagi aku akan memulai melanjutkan pendidikanku, aku akan melanjutkannya di luar negeri dan aku sudah meminta izin kepada papa, kau bisa bebas dari diriku." Kimmy berucap dengan suara berat, senyuman paksa yang terulas di bibir tipisnya ikut menggetarkan kedua matanya hingga terlihat berkaca-kaca.


"Aku tidak mengizinkannya!" seru Jasson, suaranya terdengar menajam penuh penolakan, pun kedua matanya.


"Kau tidak lupa ingatan bukan? Aku tidak meminta izin kepadamu, aku hanya ingin memberitahumu saja." Kimmy hendak melanjutkan langkahnya,  namun Jasson kembali merenggut kasar tangan wanita itu, mendekatkan tubuhnya hingga kini tak tersisa cela di antara keduanya.


Jasson mencengkram kedua lengan tangan Kimmy, namun tak menyakitinya. "Aku tidak akan mengizinkanmu! Kau akan tetap di sini, jika kau mau melanjutkan pendidikanmu, kau lanjutkan di sini!" tegasnya.


Kimmy dibuat membeku saat kedua manik mata perak lelaki itu menerkamnya dan tidak membiarkan dirinya lolos sedikitpun dari pandangannya.


"Kau tidak berhak melarangku!" Kimmy berusaha lepas dari cengkraman tangan Jasson, namun usahanya gagal.


"Aku berhak, karna aku suamimu!" Jasson meninggikan suaranya, rahangnya mengeras, menatap dalam kedua mata Kimmy yang terlihat sudah digenangi oleh cairan bening yang hanya berjarak sejengkal di hadapannya. Guratan tipis terlihat berbekas di dahi laki-laki itu menandakan bahwa dirinya sedang marah.


Jasson meregangkan cengkraman tangannya hingga membuat Kimmy hampir melarikan diri darinya, namun kedua tangan Jasson secepat kilat menarik kembali tubuh wanita itu. Bahkan, kini tubuh Kimmy lebih mendekat dari sebelumnya. Jasson  menatap dalam wajah Kimmy yang sudah berhamburan air mata, memperhatikan setiap inchi bagian wajah wanita itu. Tangannya meremmas pinggang Kimmy seiring dengan napasnya yang terbuang semakin cepat.


.


.


.


.


Follow akun instagram Nona, ya. @Nona.lancaster


Karna biasanya, Nona lebih aktif kasih informasi di sana.


Jangan lupa dukungan like dan votenya, terimakasih ^_^