
Kimmy dan Jasson terlihat sedang mengobrol bersama mama Merry dan juga papa Gio di dalam kamar, duduk saling berhadap-hadapan di sofa yang terdapat meja kecil yang terbuat dari lapisan kaca tebal sebagai pembatas di antara mereka berempat.
Seperti dugaan sebelumnya, Merry memanggil Kimmy dan Jasson ke kamar hanya untuk membahas dan merencanakan bulan madu untuk mereka.
Wanita yang telah memiliki tiga orang anak itu tampak antusias sekali memaksa menantu dan putranya untuk melakukan bulan madu. Sebab, sejauh yang Merry tau, Kimmy dan Jasson sama-sama sibuk dengan profesinya masing-masing, yang ia takutkan kurangnya komunikasi yang bisa saja akan merenggangkan hubungan mereka berdua. Setidaknya, bulan madu adalah solusi yang tepat untuk mereka menghabiskan waktu bersama, jauh dari siapapun, sejenak lepas dari pekerjaan maupun gangguan dari orang-orang sekitar untuk sementara waktu.
Saat sedang difokuskan akan perbincangan mereka untuk memilih tempat bulan madu, pintu kamar yang terlihat tertutup sebagaian tiba-tiba terbuka lebar, pintu yang terbuat dari kayu itu membentur dinding hingga menimbulkan suara berisik yang membuat siapapun mengalihkan pandangannya ke arah sana.
Elga terlihat masuk ke dalam kamar itu, ia berlari ke arah Kimmy dengan raut wajah yang penuh semangat dan dihiasi senyuman yang mengembang dari kedua sudut bibir mungilnya, nampak sangat menggemaskan.
Gadis kecil itu membenamkan wajahnya saat kedua tangan mungilnya berhasil melingkar di pinggang Kimmy, meskipun kedua jemari tangannya tak saling menggapai.
"Bibi dokter."
"Elga, tadi kan Nenek menyuruhmu menemui bibi Jesslyn, kenapa kembali lagi, sayang?" tanya Merry.
"Bibi Jesslyn mau pergi bekerja," jawab Elga. Ia mengulurkan tangannya ke atas meminta Kimmy supaya membiarkan duduk di atas pangkuannya.
"Ini hari minggu, bibi tidak bekerja," tutur Gio.
"Tapi bibi Jesslyn akan pergi bekerja."
"Sayang, di sini ada Elga, lebih baik jangan membahas hal ini dulu," tutur Gio kepada Merry. Perkataan papa Gio membuat Kimmy dan Jasson yang tidak menginginkan pembahasan tentang bulan madu seketika merasa lega, mereka terselematkan akan kehadiran Elga.
"Baiklah ...." Merry mengembuskan napas sedikit kecewa.
"Kimmy, Jasson, sepertinya kita bahas hal ini nanti saja, tetapi kalian harus janji kepada Mama, kalian harus mengambil cuti untuk meluangkan waktu kalian pergi berbulan madu. Nanti kami akan mengatur tempatnya," sambungnya setelah itu.
"Kenapa mama memaksa sekali," Jasson membatin, merasa tidak suka akan paksaan mamanya, namun ia tidak punya bisa menolaknya.
"Baiklah, Ma." Jasson menyauti penuturan mamaya terlebih dulu sebelum kemudian Kimmy ikut menjawab dengan perkataan yang sama.
"Sayang, ayo kita bermain di luar." Kimmy hendak mengajak Elga berdiri, namun keponakannya itu menolak.
"Elga, tidak mau bermain." Elga menggeleng-gelengkan kepalanya seraya memainkan kancing baju atas Kimmy.
"Baiklah, Elga mau apa?" tanya Kimmy menawarkan.
"Bibi dokter, aku ingin adik bayi," pinta Elga secara tiba-tiba, membuat kening siapapun berkerut penuh tanya saat mendengar permintaan gadis kecil itu.
"Adik bayi?" tanya Kimmy.
Elga menganggukan kepalanya, lalu Kimmy tersenyum. "Kau setelah ini akan mendapatkan adik bayi dari mami Alana dan daddy Ken," tuturnya.
"Tapi, aku mau adik bayi lucu yang banyak," pintanya kembali seraya meletakan kepalanya di dada Kimmy dengan sangat manja.
"Sayang, setelah ini kau akan memiliki adik bayi," timpal Merry.
"Aku mau adik bayi lagi , Nenek." Elga merengek membuat Kimmy kebingungan harus menjawab apa.
"Nanti mintalah adik bayi lagi kepada mamimu, ayo kita bermain di luar," ajak Jasson.
"Tapi aku mau adik bayi dari Bibi dokter dan Paman, supaya aku memiliki adik bayi lucu yang banyak, aku mau adik bayi." Elga mengerucutkan bibir mungilnya disusul dengan guratan halus di keningnya, merasa kesal dengan orang-orang dewasa yang ada di sekitarnya saat ini tak bisa mengertikan apa yang ia inginkan.
"Kenapa Elga tiba-tiba berbicara seperti itu?" kening Jasson berkerut menatap keponakannya dengan tatapan penuh selidik.
"Bibi, aku menginginkan adik bayi." Elga menatap kedua mata Kimmy dengan penuh harap.
"Iya, Sayang. Nanti Paman dan Bibi Kimmy pasti akan memberikanmu adik bayi," timpal Gio.
"Ayo kita bermain di luar." Jasson beranjak berdiri dan mengambil alih tubuh Elga dari pangkuan Kimmy, lalu membawanya keluar dari sana, Kimmy pun ikut berpamitan kepada mertuanya untuk menyusul Elga dan juga suaminya yang entah pergi ke mana.
"Paman, aku mau adik bayi, aku mau adik bayi ...." Elga tak henti merengek dengan permintaan yang sama. Jasson membawa Elga ke ruang tengah yang sekiranya tidak ada orang di sana. Lalu menurunkan keponakannya itu.
"Elga, kau tidak boleh seperti ini! Nanti kau juga akan memiliki adik bayi dari mami," tutur Jasson.
"Tapi aku mau adik bayi dari bibi dokter." Elga kembali mencebikan bibirnya dengan kesal.
"Memiliki adik bayi tidak semudah itu!" cebik Jasson.
"Aku mau adik bayi, Paman."
"Elga ...."
Kimmy terlihat masuk dan berjalan menghampiri mereka berdua.
"Bibi dokter, aku menginginkan adik bayi." Elga kembali merengek. Kimmy duduk berjongkok supaya bisa berdiri sejajar dengan keponakannya tersebut. Menyelipkan rambut Elga yang berwarna pirang itu ke belakang telinga, supaya kedua matanya mampu menjangkau wajah cantik keponakannya tersebut.
"Iya, nanti Bibi akan memberikanmu adik bayi, ayo kita sekarang kita pergi ke depan. Mami dan daddy sepertinya sudah menjemputmu," ujar Kimmy.
"Bibi akan memberikanku adik bayi?" Elga memastikan. Kimmy tersenyum dan menganggukkan kepalanya dengan sedikit ragu, wanita itu hanya memberi bujukan saja supaya Elga tidak merengek meminta keinginan yang sama.
"Yeay, aku akan punya adik bayi yang banyak." Elga melompat-lompat kegirangan. Memberi pelukan dan banyak ciuman di wajah Kimmy. "Terimakasih, Bibi dokter, aku menyayangimu."
"Elga ...." Suara Alana yang memenuhi isi rumah terdengar memanggil-manggil nama Elga.
"Mami datang." Elga seketika berlari meninggalkan ruangan itu untuk menghampiri asal suara tersebut.
Kimmy beranjak berdiri, ia hendak menyusul Elga yang sudah tak terlohat dari jangkauan matanya, namun tangan Jasson menariknya, hingga menghentikan langkah kaki istrinya tersebut. Tatapan mereka bertemu dan saling terkunci cukup lama, sebelum kemudian Jasson mengutarakan pendapatnya.
"Tidak seharusnya kau berbicara seperti itu kepada Elga!" Tangan Jasson beralih memegang lengan Kimmy dan mencengkramnya, namun tidak menyakiti wanita itu. Tatapannya mengalir dingin membuat tubuh Kimmy membeku karenanya.
"Kenapa, apa aku salah?"
"Tentu saja salah, kau tau kan itu tidak mungkin terjadi!" Perkataan Jasson mengingatkan Kimmy kembali tentang kesepakatan yang mereka buat dua minggu yang lalu.
"Aku tau, kau tidak perlu mengingatkannya lagi!" Kimmy menghempas tangan Jasson hingga tangan yang memiliki telapak tangan lebih besar darinya itu terlepas dari lengannya.
"Kalau kau tau kenapa kau berbicara seperti itu?"
"Aku hanya membujuk Elga supaya dia diam!"
"Elga bukan seperti anak kecil lainnya yang hanya diberi permen lalu diam! Dia pasti akan menagih perkataanmu lagi."
"Aku akan membuatnya mengerti!" tegas Kimmy.
"Dia tidak akan mengerti!" bentak Jasson
"Jasson, Kimmy ...."
"Kakak Ken."
"Apa yang kalian ributkan?" tanya Ken menatap penuh selidik kedua adiknya itu secara bergantian.
"Tidak, Kak. Kami tidak meributkan apapun," jawab Jasson.
"Kimmy, ayo ke depan, Alana mencarimu."
Kimmy menganggukan kepalanya sebagai jawaban dan berjalan meninggalkan ruangan itu mendahului Jasson dan juga Ken.
***
"Kimmy, maaf aku jadi merepotkanmu," ucap Alana kepada Kimmy yang baru saja mendaratkan tubuhnya untuk duduk di atas sofa setelah saling menyapa dan memeluk satu sama lain, dan tak lama setelah itu Jasson dan Ken menyusul menemui para istrinya.
Alana merasa tidak enak hati karena sudah menitipkan Elga kepadanya, menyadari bahwa anaknya itu sangat aktif dan tidak bisa diam.
"Aku merasa tidak direpotkan sama sekali, Alana. Aku justru senang Elga bisa bersamaku," balas Kimmy.
"Oh iya, Alana. Apa kau sudah mengetahui jenis kelamin calon anakmu?" tanya Kimmy.
"Sudah, calon anak keduaku laki-laki."
"Laki-laki? pasti sangat menggemaskan dan lucu sama seperti Elga. Aku sungguh tidak sabar menanti kelahiran anak keduamu."
"Sama aku juga tidak sabar menantikannya, Kimmy."
"Jika kau kesulitan mengurus anakmu, berikan saja kepadaku." Kimmy tertawa membuat suasana ruangan itu menjadi hidup. Pandangan Ken dan Jasson secara bersamaan mengalih ke arah Kimmy.
"Enak saja, mintalah kepada Jasson, kenapa minta kepada Alana," ledek Ken, ia sedaritadi mendengarkan percakapan kedua orang wanita itu.
"Nanti jika kesulitan, mungkin aku akan lebih banyak menitipkan Elga kepadamu," tutur Alana.
"Mami, Bibi dokter dan Paman akan memberikanku adik bayi lagi, jadi aku akan memiliki dua adik bayi."
"Adik bayi?"
"Iya, Bibi dokter dan Paman akan memberikanku adik bayi lagi."
"Iya, kan, Paman Jasson?" tanya Elga kepada Jasson.
"Elga kenapa masih saja berbicara seperti itu?" gumam Kimmy.
Kedua matanya tak sengaja melihat Jasson yang ternyata sedari tadi mengawasinya dengan tatapan dingin.
"Iya, Paman akan memberikannya." Jawaban Jasson masih tak mengubah pandangannya kepada Kimmy.
***
"Jesslyn, kau mau pergi ke mana?" tegur Ken. Obrolan mereka terhenti saat melihat Jesslyn berpakaian rapi keluar rumah sambil mengendap-endap.
"A-aku ada pekerjaan, Kak."
"Pekerjaan apa? ini hari minggu!" seru Ken.
"Maksudku, aku memiliki janji bersama teman kuliahku dulu."
"Teman laki-laki atau perempuan?" tanya Ken dengan penuh selidik.
"Pe-perempuan," jawab Jesslyn terbata.
"Sudah ya, Kak. Bye, semuanya aku pergi dulu."
"Jesslyn ...." Panggilan Ken tak mengindahkan Jesslyn yang berjalan dengan tergesa-gesa meninggalkan rumah tersebut. Ken hendak beranjak berdiri mengikuti adik perempuannya karena merasa curiga, namun Jasson melarangnya.
"Biarkan saja, Kak."
"Alana, Kimmy, apakah Jesslyn sudah memiliki kekasih?" tanya Ken.
"Aku rasa belum," jawab Alana dan Kimmy.
"Kalau dia memiliki kekasih memangnya kenapa, Kak? Jesslyn bukan anak kecil!" tegur Jasson merasa kesal akan sikap kakaknya yang ia rasa trlalu berlebihan seperti papanya.
"Setidaknya aku harus tau bagaimana kekasihnya, baik atau tidak, dia pantas untuk adikku atau tidak!" seru Ken. Jasson hendak menyauti perkataan Ken, namun suara dering ponsel mengurungkan niatnya. Terlihat satu panggilan masuk dari Alea tertera di layar ponselnya. Jasson segera mengangkat ponselnya tersebut.
"Kimmy, ayo kita pulang," ajak Jasson setelah mengakhiri panggilannya bersama Alea.
"Pulang sekarang?" tanya Kimmy, merasa berat jika harus berpisah dengan Elga dan juga Alana.
"Iya, apa kau mau di sini?" seru Jasson.
"Tidak, aku akan pulang bersamamu."
***
Jasson dan Kimmy berada di dalam mobil, Kimmy sedikit dibuat heran karna Jasson melintaskan mobil yang ia kemudikan tidak melewati jalanan rumah yang seperti biasanya.
"Ini bukan jalanan menuju rumah, kan?" tanya Kimmy seraya memandang jalanan yang ia rasa asing tersebut.
"Iya, kita akan pergi sebentar ke rumah Alea,"ujar Jasson.
"Untuk apa? untuk membuatku sakit hati melihat kedekatan kalian berdua?"
Kimmy memutar lehernya menoleh ke arah Jasson dan memandang suaminya itu dengan tatapan dalam, ingin sekali mengatakan hal itu, namun perkataan itu hanya mampu ia katakan dalam hatinya saja.
"Kenapa? apa kau tkeberatan ikut denganku?" tanya Jasson.
"Ti-tidak, aku sama sekali tidak keberatan." Kimmy mengalihakna pandangannya kembali lurus ke depan.
Hening ....
Hening ....
Kedua ekor mata Jasson berulang kali melirik ke arah Kimmy yang sedang memandang jalanan dari balik kaca mobil.
"Apa luka di kakimu masih sakit?" tanyanya secara tiba-tiba, Kimmy mengalihkan pandangannya ke arah Jasson.
"Tidak, ini sudah lebih membaik," jawabnya seraya mengulas senyuman tipis di bibirnya.