Oh My Jasson

Oh My Jasson
Tidak bisa menjaga rahasia



Elga melihat ke kiri dan ke kanan. Memastikan tidak ada siapapun di sana kecuali dirinya dan Alea. Saat dirasa sudah aman. Elga mendekatkan bibir mungilnya di telinga Alea.


"Bibi dan Paman sedang membuatkanku adik bayi, jadi tidak ada yang boleh mengganggunya termasuk Bibi! Ini rahasia. Bibi tidak boleh bilang kepada siapa-siapa," bisiknya dengan penuh hati-hati.


Jantung Alea seketika mencelus saat mendengar perkataan Elga. "Bukannya daridulu Jasson selalu bilang kepadaku kalau dia tidak ingin memiliki anak sebelum usianya 35 tahun? Ini tidak mungkin."


Tapi tidak mungkin juga anak sekecil Elga berbohong, pikirnya. Sesuatu seakan tercekat di tenggorokan Alea hingga ia kesulitan untuk berbicara. Dadanya terasa sesak akan bantahan yang kini ia benarkan.


"Elga ...."  Suara Alana mengalihkan perhatian Elga dan Alea untuk menoleh ke arahnya.


"Mami ...." Elga beranjak turun dari pangkuan Alea dan berhambur ke pelukan Alana.


"Kenapa kau ada di sini, Sayang? katanya mau pergi ke kamar bermain bersama Bibi Kimmy?" Alana mengusap dahi Elga yang menampakan setitik keringat melekat di sana.


Elga menoleh ke arah Alea, Sssttt ... jari telunjuknya ia letakan di depan bibir mungilnya, memberi ultimatum kepada wanita itu supaya bisa menjaga rahasia yang tadi sempat ia katakan. Lalu, ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Memastikan tidak ada siapapun di sana kecuali, dirinya, Alana dan Alea.


"Elga, ada apa?" Alana bertanya keheranan melihat sikap putrinya yang penuh dengan  rahasia. Elga menyatukan kedua tangannya di telinga Alana membentuk sebuah cerobong. "Kata Paman Jasson, Bibi dokter sedang membuatkanku adik bayi, jadi aku tidak boleh menganggunya," bisik Elga. "Ini rahasia, Mami tidak boleh bilang kepada siapa-siapa."


Kedua mata Alana berwarna coklat bak kacang kenari itu membulat penuh. Nyaris keluar dari tempatnya. Merasa terkesiap akan perkataan Elga yang terdengar tidak pantas.  Dengan cepat, ia menarik tubuh Elga  dan membekap mulutnya rapat-rapat.


"Mami, lepaskan aku." Elga meronta saat tangan Alana yang berukuran tiga kali lipat lebih besar darinya  itu memenuhi mulutnya.


"Diam!" tutur Alana.


"Alea, aku permisi membawa Elga ke kamar sebentar. Tunggulah di sini, setelah ini aku akan kembali untuk menemanimu."


"Iya, Nona Alana. Silakan ...." Alea melesatkan senyuman di bibirnya. Terkesan terpaksa, karena pikiran dan hatinya masih sibuk memikirkan perkataan Elga tentang Jasson.


Alana masih membekap mulut Elga yang tak henti memrotes. Ia dengan tergesa-gesa membawa putrinya itu masuk ke dalam kamar.


"Kenapa kau menyiksa putriku?" Teguran Ken menyambut mereka berdua. Ia merasa tidak terima saat melihat Alana membekap mulut putri kesayangannya.


"Iya ... kenapa Mami menyiksa putri Daddy?" Elga menirukan gaya bicara Kendrick saat tubuhnya terlepas dari Alana. Berlari ke pelukan Ken yang baru saja mengalihkan laptop dari pangkuannya ke atas meja.


"Putrimu ini sungguh berbahaya." Alana menarik Elga dari dekapan Ken, hendak mengintrogasinya.


"Berbahaya kenapa?" Pertanyaan Ken tak mendapat jawaban dari Alana yang saat ini hanya fokus akan Elga.


"Alana!"


"Apa kau tau, Elga bilang kepadaku bahwa Jasson dan Kimmy sedang membuatkan adik bayi untuknya."


"Mami, itu rahasia! Kenapa Mami memberitahu Daddy?" protes Elga. "Kata Paman Jasson ini rahasia."


"Jika sudah tau rahasia, kenapa kau memberitahukannya kepada Mami, Nak? Apa Elga tau apa itu rahasia?"


"Tentu saja tau," sahutnya sambil bersedekap layaknya orang dewasa yang mengerti perkataan Alana.


"Apa?"


"Kata Bibi Jesslyn, rahasia hanya boleh disimpan oleh dua orang saja. Itu namanya rahasia! Dan Mami sudah melanggarnya!" seru Elga.


"Astaga .... " Alana dan Ken saling menggeleng kepalanya.


"Sekarang Elga tidak boleh berbicara lagi rahasia itu kepada siapapun!" tutur Alana. "Elga tadi memberitahu siapa saja tentang rahasia ini?"


"Elga tidak memberitahukan rahasia ini kepada siapapun. Hanya kepada Mami dan Bibi Alea saja," sahutnya dengan begitu bangga. Seolah gadis kecil yang telah ia lahirkan lima tahun yang lalu ini sangat pandai menjaga rahasia. Kedua mata Ken dan Alana seketika membulat penuh.


***


Setelah kepergian Elga. Jasson kembali masuk ke dalam kamarnya. Ia melihat istrinya masih duduk dengan memegang crayon; tak berpindah dari posisi semula.  Tatapan mata Kimmy menerkamnya  dengan penuh pertanyaan saat mengetahui dirinya kembali tak bersama Elga.


“Di mana, Elga?” Kedua mata Kimmy berusaha menjangkau luar kamar dari cela pintu yang baru saja  ditutup rapat oleh Jasson.


“Aku menyuruhnya kembali ke kamar Alana dan Kakak.”


“Kenapa?” Kening Kimmy berkerut. Menunggu jawaban dari suaminya yang masih sibuk berbalik badan dan berjalan ke arahnya.


“Biar dia tak mengganggumu, dan kau bisa beristirahat.” Jasson mengambil satu crayon yang dipegang oleh Kimmy. Meletakan lilin warna itu ke dalam kotak, lalu menyimpannya  di atas nakas beserta buku gambar yang masih menampakan warna pucatnya.


"Jasson, aku sama sekali tidak merasa terganggu oleh Elga. Aku mau menemaninya bermain. Elga pasti akan menangis dan marah jika kau menyuruhnya pergi!" Kepanikan terlihat membuncah di wajah wanita itu.


"Katanya tadi kau lelah dan ingin beristirahat? Dia sama sekali tidak marah kepadamu. Justru malah senang saat aku menyuruhnya pergi." Kening Kimmy berkerut, mencoba membaca senyuman yang melesat di salah satu sudut  bibir suaminya.


"Kau membujuk apa hingga Elga mau pergi?" tanyanya penasaran. "Coklat? Atau ice cream?"


"Tidak."


"Lalu apa?"


"Adik bayi." Kata yang saat ini diandalkan oleh Jasson untuk membujuk keponakannya. "Aku hanya bilang kepada Elga, kalau kita akan membuatkan adik bayi untuknya."


"Jasson, kau membohonginya!" seru Kimmy.  "Bagaimana kalau Elga berkata seperti itu kepada semua orang."


"Tidak akan. Aku sudah menyuruh Elga menjaga rahasia supaya dia tidak berbicara kepada siapapun."


"Apa dia mengerti dengan rahasia?"


"Ehm ... aku rasa mengerti. Keponakanku itu sangat pintar. Dia seperti orang dewasa yang sedang terjebak di tubuh anak kecil."


"Tapi tetap saja kau berbohong!"


"Apa bedanya dengan dirimu?" sembur Jasson. "Kau yang terlebih dulu membohonginya untuk memberikannya adik bayi. Jadi tidak ada salahnya jika aku berbohong."


"Situasinya berbeda! Rasanya itu tidak pantas."


"Aku sudah terlanjur berbohong kepadanya," ujar Jasson. Tubuhnya kini nyaris naik ke atas tempat tidur untuk menghampiri Kimmy yang menatapnya dengan tatapan penuh waspada.


"Kecuali ...." Tatapan mata Jasson tersirat penuh maksud. Kimmy  bisa mengartikannya. Sebelum akhirnya, tubuh wanita itu beringsut masuk ke dalam selimut yang baru saja ia tarik. Mencoba menghindar  dari tangan Jasson yang berhasil melucti selimut yang membungkus tubuhnya. Begitu pun dengan pakaian yang ia kenakan. Pengganggu sebenarnya bukanlah Elga. Melainkan suaminya sendiri.


***


Jasson memakai kembali pakaian yang semula ia tanggalkan setelah mengakhiri percintaan singkatnya dengan Kimmy. Ia meninggalkan Kimmy yang baru saja tertidur, untuk pergi ke dapur bermaksud  mengambil minum. Namun, langkahnya terhenti saat Daven meneriakinya. Jasson menoleh ke arah ruang tamu yang di sana menampakan Alana, Chelia, Daven dan juga Alea yang tengah duduk seperti sedang mendiskusikan sesuatu. Laki-laki itu memutar arah dan berjalan menghampiri mereka semua.


"Alea, Chelia, ada apa kalian kemari?" tanya Jasson.


"Ehm, aku mengantarkan Nona Chelia untuk menemui Daven. Aku tidak tau ternyata kau ada di sini juga."


"Iya, Elga menyuruhku dan Kimmy untuk menginap di sini."


"Oh, iya, Jasson. Bagaimana keadaan Nona Kimmy?" tanya Alea dengan tiba-tiba .


"Keadaan Kimmy?" Kening Jasson berkerut. Ia gagal mencerna pertanyaan Alea. "Kenapa memangnya dengan Kimmy?"


"Kemarin bukannya Nona Kimmy sempat terkunci di toilet basement." Alea yang kelepasan bicara membuat kedua bola mata  Chelia membulat penuh akan pertanyaan bodoh temannya itu. Begitu pun dengan Jasson. Keningnya semakin berkerut dalam. Karena, ia merasa belum memberitau siapapun tentang masalah Kimmy yang terkunci di dalam toilet basement. Lalu kenapa Alea bisa mengetahuinya?


"Kimmy terkunci?" Alana dan Daven berlomba melemparkan pertanyaan. Namun, mereka masih tak mendapatkan jawaban akan pertanyaannya.


Jasson masih fokus akan Alea. Tatapannya menerkam penuh selidik. "Kenapa kau bisa tau kalau Kimmy terkunci di dalam toilet basement?"


"Astaga." Alea kelimpungan untuk mencari jawaban yang sekiranya membuat Jasson tak mencurigai dirinya.


"Alea!" Suara Jasson kembali menyambar. Menunggu jawaban.


"A-aku tau dari penjaga keamanan kantor. Tadi penjaga memberitahuku." Jasson menerima jawaban Alea yang cukup masuk akal. Hingga ia tak mempertanyakan kembali.


"Jasson, bagaimana bisa Kimmy terkunci di toilet basement?" desak Alana yang membutuhkan jawaban dari adik iparnya tersebut.


"Iya, Jasson. Bagaimana bisa?" timpal Daven yang tak kalah penasaran.


"Aku juga tidak tau kenapa Kimmy bisa terkunci di toilet basement. Besok senin aku akan mencaritaunya." Jawaban itu serasa menggelegak di tenggorokan Chelia dan Alea. Ketakutan seketika menyergap wajah kedua wanita itu. Terlebih lagi Chelia yang tak henti  mengutuki Alea berulangkali karena kecerobohannya dalam bicara.


.


.


.


.


.


.