Oh My Jasson

Oh My Jasson
Aku mau adik bayi



"Terimakasih." Kimmy beranjak berdiri, namun masih mengalihkan pandangannya dan sama sekali tidak mau melihat ke arah Jasson. Kimmy berdiri dan menatap ke sembarang arah, berharap Jasson segera pergi meninggalkan kamar itu, namun laki-laki itu tak juga kunjung pergi dari sana.


"Apa kau perlu tongkat untuk berjalan?" Pertanyaan Jasson membuat Kimmy berbalik setelah mengusap cairan bening yang menggenang di pelupuk matanya.


"Kakiku hanya terluka bukan patah!" Kimmy mencebikan bibirnya, merasa kesal.


"Kalau begitu kenapa kau masih tetap di sini? cepat turun!"


"Setelah aku mandi aku akan turun, turunlah terlebih dulu!"


Jasson tak memberi balasan, laki-laki itu berlalu keluar meninggalkan kamar itu setelah menutup pintunya. Kimmy hanya bisa menatap bayangan suaminya yang masih membekas seraya memejamkan kedua matanya seraya dengan helaan napas yang ia buang dengan berat.


***


"Elga mau makan disuapi oleh Bibi dokter." Elga tiba-tiba  berlari ke arah Kimmy yang terlihat  baru saja menghampiri meja makan dan hendak  mendaratkan tubuhnya di kursi yang baru saja ia tarik.


"Elga sayang, makan-lah bersama Nenek, jangan merepotkan Bibi Kimmy!" tutur Gio.


"Tidak apa-apa, Pa. Kimmy sama sekali tidak merasa direpotkan, biar Elga makan bersama Kimmy." Kimmy mengangkat tubuh Elga dan meletakan keponakannya itu di atas pangkuannya.


"Bibi dokter saja tidak keberatan, kenapa jadi Kakek yang keberatan," cetus Elga seraya mencebikan bibir mungilnya. Semua yang ada di meja makan itu dbuat terkekeh gemas setiap kali mendengar gadis kecil itu berbicara, seakan tidak ada perkataan lagi untuk membalasnya.


Kimmy menikmati sarapannya sembari menyuapi Elga secara bergantian, keponakannya itu tak henti berceloteh, keingintahuannya di masa pertumbuhannya sekarang membuatnya tak berhenti berbicara dan bertanya tentang  apapun yang ingin ia ketahui. Kimmy pun tak merasa kesal sedikitpun, ia justru senang dan dengan sabar menjawab setiap pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh Elga.


"Elga, jika makan jangan banyak berbicara dan bertanya ..." tegur Jasson.


"Tidak apa-apa, Bibi dokter tidak keberatan jika aku bertanya."


"Iya, kan Bibi dokter?" Elga menaikan wajahnya berusaha melihat wajah Kimmy untuk menunggu jawaban wanita itu.


"Iya, Sayang." Bibir Kimmy menjangkau kening Elga, meninggalkan sebuah ciuman yang lembut di sana.


"Kau ini mirip sekali dengan Alana, sungguh cerewet!" celetuk Jesslyn seraya memasukan makanan ke dalam mulutnya.


"Sudah, cepat lanjutkan makan kalian. Oh iya Kimmy, Jasson, jangan pulang dulu tunggu Alana dan kakak kalian datang," tutur Gio.


"Kakak dan Alana kemari?" tanya Jasson.


"Iya, dia mau menjemput Elga.


"Baiklah ...."


"Oh, Iya, Jasson, Kimmy. Kapan kalian akan berencana pergi bulan madu?" pertanyaan Merry secara tiba-tiba membuat Jasson tersedak akan makanan yang baru saja ia telan.  Perhatian Kimmy dan Jesslyn sejenak  teralihkan ke arah laki-laki itu.


"Kimmy, kau ingin berbulan madu ke mana?" tanya Merry.


"Ehm, Kimmy tidak mau pergi  berbulan madu, Ma." Semua orang mengernyitkan keningnya dengan  heran akan jawaban Kimmy, wanita itu menunjukan raut wajah yang penuh penolakan.


"Kenapa, Sayang? kenapa kau tidak mau?" tanya Merry, keningnya masih berkerut, sejenak menghentikan aktivitas makannya supaya lebih fokus akan pembahasan kali ini.


"Ehm, maksud Kimmy. Kami sama-sama masih sibuk bekerja, Ma. Jadi kami belum memikirkan hal itu," sela Jasson.


"Iya, kan, Kimmy?" Jasson melihat ke arah Kimmy dengan tatapan dingin dan penuh ancaman, memberi kode kepada istrinya itu supaya membenarkan perkataannya.


"I-iya, Ma. Kami masih sibuk, kami tidak membutuhkan bulan madu, lagipula sama saja, Ma," sambung Kimmy seraya mengulas senyuman di bibir tipisnya, terkesan ada sedikit paksaan hingga membuat kening Jesslyn berkerut dengan penuh tanda tanya saat dirinya mencoba membaca raut wajah dari saudara iparnya tersebut.


"Apa sampai hari ini hubungan Kimmy dan Jasson tidak baik? aku rasa tidak, karna sejauh ini yang aku lihat, Kimmy dan Jasson baik-baik saja," gumam Jesslyn dengan tatapan penuh selidik.


"Sayang, tentu saja berbeda, jika kalian bulan madu kalian akan lebih fokus dengan liburan kalian. Setidaknya kalian harus mengatur waktu untuk merencanakan bulan madu."


"Iya, apa yang dikatakan Mama itu benar, Papa mau kalian meninggalkan pekerjaan kalian untuk beberapa hari dan pergi merencanakan bulan madu," timpal Gio. Jasson tak langsung menjawab perkataan kedua orang tuanya, ia sejenak melihat ke arah Kimmy dengan tatapan yang masih sama.


"Kami--"


"Iya, Ma, Pa. Jasson dan Kimmy akan mencoba mengatur waktu." Jasson menukas perkataan Kimmy begitu saja hingga mengambil perhatian Kimmy untuk menoleh ke arahnya. Tatapan dingin Jasson membuat Kimmy membeku.


"Kenapa Jasson malah menjawab seperti itu?" gumam Kimmy.


"Apa itu bulan madu?" Elga memiringkan kepalanya, mencoba mencerna apa yang tengah dibicarakan oleh orang-orang dewasa yang ada di sekitarnya.


"Bukan apa-apa, sayang." Kimmy mengusap lembut pipi Elga, mencoba membuatnya mengerti.


"Anak kecil tidak perlu tau!" sahut Jesslyn.


***


Seusai sarapan, Kimmy hendak naik ke kamar untuk mengambil ponsel miliknya yang seingatnya  ia tinggal di atas nakas dekat tempat tidur.


Wanita itu hendak menaiki anak tangga, namun langkahnya terhenti saat Jasson menarik kasar tangannya dan membawanya bersembunyi di balik tangga tersebut.


"Ada apa, Jasson?" Kimmy menepis pelan tangan Jasson hingga tangan lelaki itu terlepas dari pergelangan tangannya yang hampir saja memerah.


"Kau tidak lupa dengan apa yang aku bilang dua minggu yang lalu, bukan?" seru Jasson, sedikit membentak namun menahan suaranya agar tidak terdengar oleh siapapun.


"Iya, aku ingat, kenapa?"


"Aku sudah bilang, tunjukan di depan keluarga kita kalau hubungan kita baik-baik saja!"


"Bukannya aku selalu menunjukan kepada keluarga kita kalau hubungan kita baik-baik saja, lalu apa yang salah?" seru Kimmy.


"Kau tidak sadar, perkataanmu tadi hampir membuat mama dan papa curiga kalau hubungan kita tidak baik!"


"Memang hubungan kita tidak baik. Lalu apa yang kau permasalahkan? apa aku salah jika berbicara seperti tadi?" seru Kimmy.


"Pelankan suaramu! Kau--"


"Kimmy ...."


Kehadiran Jesslyn yang secara tiba-tiba seketika menghentikan perdebatan di antara mereka berdua.


Jesslyn tak langsung menjawab, kedua manik matanya secara bergantian menyoroti Jasson dan Kimmy dengan tatapan penuh selidik. "Bibi Kelly menelponmu, tadi bibi Kelly sempat  menelpon di ponsel dan juga telepon rumahmu tapi katanya kau tidak menjawabnya, makanya bibi menelpon kemari."


"Oh, iya. Aku lupa, ponselku tertinggal di kamar, terimakasih." Kimmy segera bergegas pergi untuk menerima panggilan dari mamanya tersebut. Namun tidak dengan Jesslyn yang masih memandangi saudara kembarnya dengan tatapan curiga.


"Kenapa kau melihatku seperti itu?" tanya Jasson dengan suara penuh penekanan.


"Kau memiliki masalah apa dengan Kimmy sampai kau berbicara dengannya sembunyi-sembunyi seperti ini?"


"Bukan urusanmu, jadi jangan ikut campur!" Jasson hendak berlalu pergi meninggalkan saudara kembarnya itu, namun tangan Jesslyn secepat kilat menghentikan langkah Jasson.


"Jangan mencari masalah sepagi ini denganku!" bentak Jasson.


"Kau yang selalu mencari masalah! Awas saja sampai kau berani menyakiti Kimmy, aku tidak akan pernah mengampunimu!" Jesslyn menegaskan jari telunjuknya kepada Jasson seraya melototkan kedua matanya dengan penuh ancaman, sebelum kemudian, wanita itu berlalu pergi dari sana.


Jasson hanya mematung dan tidak mengerti, kenapa semua orang begitu menyayangi Kimmy? pikirnya.


***


"Sepertinya benar, Kimmy dan Jasson tidak memiliki hubungan baik. Apa yang harus kulakukan?" Jesslyn berdecak bingung seraya mendudukan tubuhnya di atas sofa ruang tamu. Ia memijit keningnya mencoba berpikir, namun tak menemukan ide untuk merekatkan hubungan Kimmy dan Jasson.


"Hah, kepalaku pusing, aku akan memikirkan ini nanti!"


"Sekarang aku harus memikirkan si pengacau itu. Aku hari ini benar-benar akan keluar berdua dengannya, hah, sungguh sial." Jesslyn mendesah kesal hingga tubuhnya melemas di sandaran sofa yang saat ini duduki. Ingin sekali membatalkan janjinya, namun ini tidaklah mungkin. Ia sudah berulangkali membatalkan janjinya dengan Harry.


"Bibi Jesslyn ..." Elga yang terlihat baru saja dimandikan oleh mama Merry, terlihat berlari ke arahnya, bau wangi khas bedak bayi menaburi ruangan itu hingga indera penciuman  Jesslyn bisa menciumnya dengan sangat pekat.


"Keponakan Bibi yang cerewet ini sudah cantik." Jesslyn segera menangkap tubuh mungil keponakannya itu dan meletakannya di atas pangkuannya. Memberi ciuman di kedua pipi bulat Elga, hingga bedakk putih yang masih melingkupi wajah Elga menempel di bibirnya. Sejenak menghapus bedak yang melekat di bibirnya itu menggunakan lengan tangannya.


"Elga selalu cantik, tidak seperti Bibi," cetusnya.


"Bibi mau pergi, ya?" tanyanya kemudian.


"Iya, sayang."


"Bibi mau pergi ke mana?"


"Ke mana saja, apa kau mau--"


"Bibi mau mengajakku?" tanya Elga seraya memiringkan kepalanya dengan penuh harap.


"Tidak, aku tidak boleh mengajaknya. Sangat berbahaya jika mengajak Elga, yang ada dia akan memberitaukan kepada  semua orang kalau aku pergi bersama Harry. Tidak boleh!"


"Tidak, Bibi tidak mengajakmu, karna Bibi ada pekerjaan penting, Sayang."


"Pffttt ...."


Perhatian Jesslyn teralihkan saat  tak sengaja melihat Kimmy dan juga Jasson yang berjalan masuk ke dalam kamar mama dan papanya, sepertinya Gio dan Merry memanggil mereka berdua dan membahas masalah bulan madu. Kimmy tiba-tiba mengerti apa yang harus ia lakukan.


"Oh, iya, Elga.  Bibi mau bertanya sesuatu." Jesslyn menghadapkan tubuh keponakannya itu supaya menghadap ke arahnya dengan sempurna.


"Bibi mau bertanya apa?"


"Apa kau menginginkan seorang adik bayi?"


"Tentu saja, setelah ini Elga akan memiliki seorang adik bayi yang lucu."


"Apa kau mau adik bayi lagi? adik bayi yang banyak sekali ...."


"Adik bayi yang banyak?" Elga membelalakan kedua matanya, wajahnya terlihat sangat menggemaskan, terlebih lagi kedua pipi bulatnya yang sangat menonjol membuat siapapun ingin sekali menggigitnya.


"Iya, adik bayi yang banyak. Kau mau?" tanya Jesslyn kembali. Gadis kecil itu membayangkan betapa menyenangkannya memiliki adik bayi yang banyak.


"Tentu saja Elga mau, di mana Elga bisa mendapatkan adik bayi yang banyak?" Elga menyaut dengan penuh semangat dan suaranya  yang polos.


"Sssst, jangan berbicara keras-keras, ini rahasia kita berdua tidak ada yang boleh tau."


"Rahasia?"


"Iya, ini rahasia sayang," tutur Jesslyn.


"Rahasia seperti tadi malam?"


Entah rahasia tadi malam apa yang sedang dimaksud oleh Elga namun Jesslyn mengiyakannya.


"Iya, anak cerewet!"


"Baiklah, Bibi. Ini rahasia. Lalu bagaimana Elga bisa mendapatkan adik bayi yang banyak?" tanya Elga dengan tidak sabar.


"Mintalah kepada paman Jasson dan bibi Dokter," tutur Jesslyn sambil berbisik agar siapapun tidak mendengarnya.


"Minta kepada paman dan bibi dokter?" tanya Elga ragu.


"Iya, paman dan bibi dokter kan sudah menikah, jadi bisa memberikanmu adik bayi, mintalah adik bayi kepada mereka. Elga mau kan adik bayi yang banyak? jika Elga mempunyai adik bayi dari paman dan bibi dokter, Elga akan memiliki dua adik bayi, Elga bisa bermain bersama mereka." Rasanya apa yang dikatakan oleh Jesslyn dengan cepat melesat ke dalam pikiran Elga.


"Aku mau adik bayi yang banyak. Aku akan meminta sekarang juga kepada paman dan bibi dokter." Elga segera turun dari pangkuan Jesslyn dan berlari menuju ke kamar mama Merry dan juga Gio yang diketahui ada Kimmy dan juga Jasson di dalam sana.


"Aku mau adik bayi, aku mau adik bayi."  Suara Elga yang begitu semangat membuat Jesslyn terkekeh menahan tawanya.


follow instagram Nona @Nona.lancaster


Watt.pad @Nona Lancaster


Jika kalian menyukai Oh My Jasson, jangan lupa beri dukungan Like dan juga Vote ya...


terimakasih banyak, dukungan dari kalian sangat membantu. Semoga sehat selalu ^_^