
Jasson sejenak diam. Lalu, kedua matanya beralih menatap Kimmy dengan tatapan dingin, hingga membuat istrinya itu takut saat melihatnya.
"A-aku tidak mengajarinya," ucap Kimmy, merasa takut akan tatapan dingin yang masih mengalir dari kedua manik mata suaminya tersebut.
Jasson tak lepas memandangi Kimmy hingga menciptakan suasana di antara mereka semakin membeku, ia tiba-tiba mendekatkan wajahnya ke arah Kimmy ketika mendengar suara Elga yang masih tak berhenti menyorakinya.
Jarak di antara mereka semakin dekat, membuat kedua mata Kimmy membulat sempurna. Ini tidak benar, Kimmy sudah bisa melihat dengan jelas bagian-bagian dari wajah Jasson, namun kedua mata Kimmy hanya berpusat di bibir suaminya yang tidak terlalu tebal.
Sumpah demi apapun, jantung Kimmy rasanya ingin berhenti untuk memompa aliran darahnya, hingga membuat wajah wanita itu memucat dan mulutnya sulit terbuka untuk berkata.
"Ayo, Paman. Cium Bibi, biar Bibi cepat tidur." Suara Elga terdengar kembali memaksa. Jasson melirik ke arah Elga, ia melebarkan telapak tangannya dan menutup kedua mata keponakannya itu dan mulai melanjutkan niatnya yang hampir tertunda.
Kimmy menggigit kuat bagian dalam bibir bawahnya, ia memejamkan kedua matanya saat mengetahui wajah Jasson semakin mendekat, namun ternyata bukan untuk memberi ciuman kepada wanita itu.
"Tidurlah, selamat malam." Jasson berbisik pelan saat bibirnya sudah berhasil mendekati daun telinga Kimmy, diikuti oleh uap hangat yang terbuang dari mulutnya hingga membuat wanita itu merasa geli. Kedua mata Kimmy terbuka, ia sudah mendapati Jasson menjauh dari tubuhnya.
"Astaga, apa yang kau pikirkan, Kimmy?" Kimmy malunya bukan kepalang, ia mengira Jasson akan menuruti permintaan Elga untuk menciumnya, namun tidak demikian.
"Paman sudah mencium Bibi?" Elga bertanya setelah Jasson menjauhkan telapak tangan yang semula menutupi kedua matanya.
"Sudah, ayo sekarang tidurlah." Jasson merebahkan tubuhnya di samping Elga. Kedua tangan mungil Elga saling berlomba meraih masing-masing tangan paman dan juga bibinya untuk ia benamkan di tubuh mungilnya. Tangan Kimmy terlebih dulu berhasil melesat di tubuh Elga, namun tidak dengan Jasson yang tiba-tiba menarik kembali tangannya saat tangan itu hampir menindih tangan istrinya.
"Paman, ayo peluk aku seperti mami dan daddy." Elga mencoba merampas kembali tangan pamannya, namun tidak berhasil.
"Biar Bibi dokter saja yang memelukmu, cepat tidurlah!" perintah Jasson.
"Tidak mau! Elga juga mau dipeluk oleh Paman juga." Suara Elga yang merengek dan dipenuhi dengan prmintaannya yang kuat, membuat Jasson ingin sekali meledakan kepalanya. Ia berdecak, merasa kesal akan permintaan keponakannya yang ia rasa ada-ada saja, memang permintaannya sederhana, namun ini sungguh sulit untuk ia lakukan.
"Paman ..." Elga memasang wajah memelas, matanya sayup-sayup mengantuk.
"Elga, sudah ayo cepat tidurlah sayang," perintah Kimmy.
"Tapi, Bi. Elga--"
"Kalau kau tidak tidur sekarang, Bibi akan mengembalikanmu ke kamar Bibi Jesslyn! Kau mau Bibi kembalikan ke kamar Bibi Jesslyn?" tukasnya, kemudian memberi sedikit ancaman.
"Tidak mau."
"Makanya, kau harus tidur sekarang dan tidak boleh meminta apapun kepada paman," tutur Kimmy.
"Baiklah, Elga akan tidur sekarang." Ancaman Kimmy seketika membuat Elga menurut, gadis kecil itu segera memejamkan kedua matanya dan melupakan keinginannya untuk meminta pelukan dari Jasson. Kimmy mendekap erat tubuh Elga, memberi ciuman di keningnya diikuti dengan kedua matanya yang terpejam.
Kedua mata Jasson masih terjaga, ia bergantian menatap lekat kedua perempuan yang saat ini sedang tertidur di sampingnya. Namun tatapan terlama ia tujukan kepada Kimmy, sebelumnya ia tidak pernah melihat wajah istrinya sedekat ini, wanita itu terlihat cantik saat tertidur, namun Jasson menyangkalnya.
***
Keesokannya, matahari terlihat sudah naik ke peraduannya, cahayanya menyusup ke jendela kamar yang tirainya nampak tersingkap sebagian, kedua mata Kimmy mengerjap akan silaunya, merasa malas untuk bangun dari tempat yang sudah membuat tubuhnya nyaman. Semalam ia merasa benar-benar tertidur dengan sangat lelap hingga melupakan hal apa yang semalam ia impikan. Kimmy membuka lebar-lebar kelopak matanya, hingga kedua matanya kini terbuka sempurna, ia beranjak duduk dan mencoba melenturkan otot-ototnya yang terasa kaku.
Kedua matanya menyapu seisi kamar itu, tak mendapati siapapun kecuali dirinya sendiri yang masih berada di atas tempat tidur. "Di mana Elga dan Jasson?" Kimmy beranjak turun dari tempat tidur, namun ia tiba-tiba mengaduh kesakitan saat sesuatu menyakiti telapak kakinya yang baru saja menjejak di atas lantai.
Serpihan kaca dari bingkai pigora melukainya, darah terlihat mengalir dan membekas di antara serpihan kaca yang berserakan di lantai marmer tersebut. Kimmy segera menjauhkan kakinya, wanita itu hendak memeriksa seberapa parah lukanya, namun niatnya ia urungkan tatkala dirinya dibuat terkejut saat mengetahui serpihan kaca itu berasal dari bingkai pigora foto Jasson dan juga Alea yang sempat ia lihat kemarin malam. Kimmy memilih mengabaikan lukanya.
"Astaga, kenapa foto Jasson dan Nona Alea bisa terjatuh seperti ini?" Kimmy duduk berjongkok, wanita itu menjadi panik karna takut jika dituduh merusaknya, ia hendak memunguti foto beserta bingkainya yang sudah tak berbentuk. Namun pintu kamar yang terbuka menghentikan aktivitasnya, perhatian Kimmy teralihkan ke arah sana.
Kedua mata wanita itu membulat saat ia melihat Jasson berjalan masuk ke dalam kamar. Ia mendapatkan tatapan yang sama dari suaminya tersebut.
"Ja-jasson ..." Kimmy beranjak berdiri, menahan luka yang masih basah di telapak kakinya supaya bisa berdiri tegak di hadapan suaminya.
"Jasson, aku tidak merusak fotomu dengan Nona Alea, tadi aku terbangun dan melihat bingkai pigora ini sudah pecah." Dahi Jasson berkerut heran saat mendengar apa yang diucapkan oleh Kimmy secara tiba-tiba. Hendak menyauti perkataan istrinya, namun Bi Molley yang masuk ke dalam kamar mengurungkannya.
"Tuan, mana yang harus Bibi bersihkan?" tanya Bi Molley, kedua tangannya terlihat memegang sapu dan dustpan.
"Itu, Bi."
Bi Molley mengikuti arah jari telunjuk Jasson mengarah. "Tolong bersihkan pecahan pigora itu!" perintahnya kemudian.
"Apa foto ini mau dipindahkan di bingkai pigora yang baru Tuan?" tanya Bi Molley sesaat stelah berjongkok dan hendak memungut pecahan bingkai itu.
"Tidak usah, buang saja, Bi. Aku tidak suka menyimpan barang-barang yang sudah rusak." Perintah Jasson membuat Bi Molley segera melaksanakan tugasnya.
Jasson hendak berbalik dan pergi meninggalkan kamar, namun Kimmy mengayunkan tangannya dengan cepat untuk menahan laki-laki itu supaya tidak pergi.
"Jasson, aku tidak menjatuhkan pigora ini. Aku tidak menyentuh barangmu sama sekali, saat aku terbangun pigora itu sudah dalam kondisi seperti ini. Aku sungguh tidak menjatuhkannya." Kimmy masih berusaha meyakinkan suaminya, karna ia takut Jasson menyangka bahwa dirinya-lah yang menjatuhkan pigora tersebut karna tidak suka akan foto itu, terlebih lagi Jasson sangat tidak suka jika barang-barangnya disentuh olehnya.
"Jasson tolong percayalah, aku bersumpah tidak merusak bingkai pigora fotomu dengan Nona Alea. Aku tidak menyentuh barang-barangmu sama sekali."
"Memangnya siapa yang menuduhmu merusak pigora itu?" tanya Jasson. "Elga tadi tidak sengaja menyenggolnya, itu sebabnya pigora itu terjatuh," sambungnya. Hati Kimmy seketika menjadi lega, karna yang ia takutkan tadi hanyalah Jasson menyalahkan dirinya.
"Oh, Elga yang menjatuhkannya?"
"Cepat turun dan sarapan, mama dan papa sedang menungu kita. Setelah sarapan kita pulang!" tutur Jasson. Kimmy menganggukan kepalanya sebagai jawaban. Jasson hendak melanjutkan kembali langkahnya untuk berlalu pergi dari sana. Namun sedikit noda darah yang mengotori lantai seketika menyita perhatiannya.
"Darah siapa ini?" Jasson memperhatikan dengan seksama lantai yang ternodai darah yang masih basah tersebut. Jelas ini luka baru, pikirnya.
"Bi Molley, apa Bibi terluka?" tanyanya kepada wanita yang sudah berusia lebih dari lima puluh tahun itu.
"Tidak, Tuan."
Jawaban Bi Molley seketika mengalihkan pandangan Jasson ke arah Kimmy, istrinya itu kini terlihat menundukan pandangannya ke bawah.
"Apa kau terluka?" tanyanya kemudian mendekat.
"Ehm, telapak kakiku tadi tidak sengaja menginjak sedikit serpihan kaca pigora."
Tak banyak bicara, Jasson menarik tangan Kimmy dan menyuruh istrinya itu untuk duduk di tepi tempat tidur.
"Jasson, lukanya tidak parah, aku baik-baik saja." Kimmy mencoba menghindar saat Jasson duduk berjongkok di hadapannya dan hendak memegang telapak kakinya yang terluka. Namun laki-laki itu tak menggubris penolakan Kimmy, ia tetap saja memeriksa luka di telapak kaki istrinya.
Telapak kaki itu terlihat sedikit sobek, namun darah masih mengucur deras dari asal luka itu. Serpihan kaca yang hampir tak terlihat juga masih tertancap di sana. Untung saja mata Jasson jeli, sehingga tangannya bergerak cepat untuk menarik serpihan kaca yang menembus kulit telapak kaki istrinya tersebut.
"Aww ..." Kimmy memekik kesakitan saat serpihan kaca berhasil Jasson buang.
"Apa sakit?" tanya Jasson.
"Tentu saja sakit!" seru Kimmy.
"Jika sakit, berarti kau tidak baik-baik saja! Kau ini seorang dokter tapi bodoh!"
Jasson beranjak berdiri dan mendekati sebuah nakas yang tak jauh dari jangkauannya, diambil-lah sebuah kotak obat dari dalam laci nakas yang baru saja ia buka, sebelum kemudian ia kembali menghampiri Kimmy dan duduk berjongkok di hadapan wanita itu.
"Jasson, aku bisa mengobati lukaku sendiri," tolak Kimmy mencoba menepis tangan Jasson.
"Diam!" bentak Jasson.
"Tuan, biar Bibi saja yang mengobati luka Nona Kimmy." Bi Molley menawarkan diri, namun Jasson malah menolaknya.
"Tidak usah, Bi. Bibi lanjutkan saja pekerjaan Bibi." Jasson mulai mengobati kaki Kimmy, namun wanita itu merasa tidak enak, ia benar-benar tidak ingin menyusahkan suaminya.
"Jasson, aku seorang dokter, aku bisa mengobati lukaku sendiri."
"Diam atau mulutmu yang akan kuperban!" ancamnya dengan penuh penekanan. Kimmy seketika terdiam dan tak berani berbicara, ia membiarkan suaminya itu mengobati lukanya yang tidak seberapa parah.
Kimmy tak henti memperhatikan Jasson yang masih sibuk mengobati lukanya, tatapannya berubah menjadi sendu hingga kedua mata itu nampak tergenangi oleh cairan bening, dadanya terasa sesak saat kekacauan serasa mencabik-cabik hatinya.
"Jasson." Kimmy mengucap nama itu dalam hati.
Nama laki-laki itu tidak pernah berubah dan selalu bersemeyam di dalam hatinya hingga detik ini, namun entah jika suatu hari nanti.
"Sudah." Jasson mengangkat wajahnya setelah menyelesaikan pengobatan singkat, melihat ke arah Kimmy, namun wanita itu tiba-tiba mengalihkan pandangannya ke sembarang arah supaya Jasson tdak melihat bahwa dirinya hampir saja menangis karena terlalu berperasaan saat memperhatikan dirinya.
Padahal, laki-laki itu sudah melihat air mata Kimmy yang hampir saja terjatuh, hingga kerutan di keningnya menggurat dengan penuh tanda tanya.
.
.
.
Jangan lupa follow Ig Nona: @Nona.lancaster
Watt.pad: @Nona lancaster
Mamah bobok dulu ya nak-anak, Jangan ribut wkwk.
sampai ketemu di chapter selanjutnya 🤗🤗🤗