
Kesokan siangnya di sebuah Coffee Shop.
Gio terlihat sedang duduk sendirian sambil menikmati secangkir kopi dan juga puff pastry yang baru ia pesan beberapa menit yang lalu sembari menunggu kedatangan seseorang di sana. Kopi yang ia teguk kini tersisa sebagian, seseorang mengejutkannya secara tiba-tba. Gio reflek hendak menelan semua kopinya, namun ia segera menjauhkan cangkir tersebut dan meletakannya kembali di tempatnya semula.
"Kau sudah menunggu lama?" Orang itu tak lain ialah Louis. Telapak tangannya menepuk bahu Gio, sebelum kemudian ia duduk di kursi kosong yang ada di hadapan sahabatnya tersebut.
"Tidak, baru satu setengah jam yang lalu."
"Maaf, aku sedikit terlambat. Karna tadi ada pasien yang perlu kutangani."
"Tidak masalah." Gio memanggil pelayan dan memesankan kopi dan juga snack yang sama dengannya untuk Louis. Dan tak lama setelah itu, pelayan kembali untuk membawakan pesanannya.
"Bagaimana?" tanya Gio. Louis sejenak mengangkat cangkir dan meneguk sedikit kopi hitam miliknya, lalu meletakan kembali cangkir itu ke tempatnya, mulai berbicara.
"Sebenarnya aku masih belum siap melepaskan putriku untuk menikah, tapi karna kau yang meminta putriku untuk menikah dengan putramu aku tidak keberatan untuk melepaskannya."
"Tapi aku dengar, Kimmy memiliki kekasih seorang dokter juga, apa itu benar?" tanya Gio.
"Siapa yang kau maksud? Mark?"
"Iya, Mark."
"Mark dan Kimmy memang dekat, tapi dia bukan kekasih Kimmy. Ayah pemuda itu juga pernah meminta Kimmy untuk menikah dengan putranya, tapi Kimmy sepertinya tidak menyukai Mark. Itu sebabnya aku tidak mau memaksanya lagi."
"Gio, tapi aku memiliki sedikit kekhawatiran." Louis terlihat begitu was-was dan nampak tak tenang, seharusnya ia senang, bukan?
"Apa yang kau khawatirkan?" tanya Gio, dahinya mengerut penasaran menunggu jawaban lelaki itu.
"Apa menikahkan anak kita dengan cara seperti ini, benar?"
"Waktu kita bertemu sebelum pembukaan restaurant milik keluargaku kemarin, kita sudah sepakat untuk mendekatkan anak-anak kita, bukan?"
"Tidak ada yang salah menurutku. Karna, kejadian ini di luar dugaan kita, adanya kejadian kemarin, kita jadi lebih mudah untuk menikahkan anak kita. Meskipun sebenarnya aku kasian dengan putraku, karna kemarin Merry sangat marah kepadanya dan menamparnya, tapi aku tidak bisa memberitau Merry yang sebenarnya, aku juga takut dia akan memarahiku."
"Aku juga tidak bisa memberitau Kelly, kalau kita memang sengaja melakukan ini."
"Louis, apa kau meragukan putraku?"
"Tidak, Gio. Aku sama sekali tidak meragukan Jasson, dia anak baik."
"Lalu apa yang kau khawatirkan?" tanya Gio.
"Aku khawatir Kimmy tidak akan bahagia, karna Kimmy kemarin sempat menolak saat Jasson mengajaknya menikah, apa ini keputusan yang benar?"
"Kau percaya saja, semuanya akan berjalan dengan baik, Kimmy akan bahagia. Aku dan Merry sangat menyayanginya, terlebih lagi putri dan menantuku juga sahabat Kimmy, kau tidak perlu mengkhawatirkan jika putrimu tidak akan bahagia." Gio mengambil cangkir miliknya dan kembali meneguk sebagian minuman berwarna hitam itu. Mendengar penuturan Gio, hati Louis sedikit lebih lega dari sebelumnya.
"Apa alasanmu ingin menikahkan Jasson?" tanya Louis.
Gio sejenak meletakan kembali cangkir itu ke tempatnya, lalu ia menjawab, "Karna aku nasih memiliki anak perempuan, kalau aku tidak menikahkan Jasson terlebih dulu, aku takut Jesslyn juga tidak akan mau menikah. Sementara aku ingin melihat semua anakku menikah."
***
Di Kantor.
Jesslyn terlihat menuruni anak tangga darurat untuk turun menuju ke kantin yang letaknya ada di basement
"Kau?" Jesslyn melototokan kedua matanya saat mengetahui siapa yang telah membawanya ke tempat itu, orang itu tak lain ialah Harry.
"Bagaimana kabarmu?" Harry malah tersenyum, tak memasang wajah takut sedikitpun.
"Kau sedang apa kemari? dasar pengacau!" seru Jesslyn.
"Aku kemari menemui Jasson dan menyelesaikan urusanku dengannya, tetapi berhubung aku tidak sengaja melihatmu, jadi aku mau menagih janjiku." Harry masih saja tersenyum, meskipun Jesslyn memasang wajah tak ramah kepadanya, seolah wanita yang ada di hadapannya itu sangatlah lucu dan menggemaskan.
"Janji apa?" Jesslyn melirik, bepura-pura lupa akan perjanjian yang sudah ia sepakati dengan laki-laki yang ada di hadapannya saat ini.
"Kau jangan berpura-pura lupa. Mau kuberitaukan kepada Jasson?" Harry hendak berlalu pergi dari sana, bermaksud menggertaknya, namun Jesslyn dengan cepat menahan tubuhnya.
"Jangan! Aku akan menepatinya."
Harry menarik salah satu sudut bibirnya. "Kapan kau akan menepatinya?" Kedua tanganya menerkam tubuh Jesslyn ke tembok, mendekatkan tubuhnya dan hanya menyisakan sedikit cela dengan tubuh wanita itu.
"Mundur atau kuhancurkan masa depanmu!" Jesslyn berucap dengan penuh ancaman, ia mengangkat salah satu kakinya seraya melirik ke arah sensitif milik Harry, laki-laki itu segera menjauhkan tubuhnya dari Jesslyn.
"Baiklah, kapan kau akan menepatinya?"
"Minggu depan, setelah Jasson dan Kimmy benar-benar menikah."
"Mereka jadi menikah?" tanya Harry yang begitu terkesiap, karna dirinya sama sekali tidak mengetahui hal ini, Jasson pun tidak memberitaukan kabar ini kepadanya.
Jesslyn menarik salah satu sudut bibirnya, merasa bangga akan rencananya yang ia rasa berhasil. "Iya, minggu depan Jasson dan Kimmy akan menikah. Kimmy akan menjadi saudara iparku, pershabatan dan persaudaraan kita akan terjalin sampai tua," ujarnya dengan penuh semangat."
"Bagaimana bisa? bukannya Jasson sudah memutuskan bahwa dia tidak akan menikah dengan Kimmy?"
"Hey pengacau, kenapa kau diam?" Bentakan Jesslyn membuat pikiran Harry membuyar.
"Tidak apa-apa. Baiklah, aku tunggu minggu depan, jika kau berbohong, kau akan tau akibatnya." Harry mengacak-acak rambut Jesslyn seraya tersenyum kepadanya.
"Jangan menyentuh rambutku!" Kimmy kembali melototkan kedua matanya. Menangkis tangan Harry dan mendorong tubuh laki-laki itu namun tak membuatnya berpindah akan posisinya. "Kau berani sekali menyentuh rambutku!"
"Awas kau berani menyentuhku lagi!" seru Jesslyn. Harry hanya menahan senyumnya, bukannya takut, tapi wanita itu justru nampak sangat menggemaskan sekali di kedua matanya.
"Tanganmu pasti banyak kuman dan virusnya, aku harus mandi dengan ribuan kelopak bunga mawar untuk membersihkan bekas tanganmu itu!" cetus Jesslyn seraya berlalu pergi meninggalkan Harry yang masih memandangnya di tempat yang sama.
"Seru sekali." Harry tersenyum dan tak lama setelahnya, ia meninggalkan tempat itu dan mengurungkan niatnya untuk pulang karna ia ingin kembali menemui Jasson di ruangannya dan menanyakan keberan tentang pernikahan sahabatnya tersebut dengan Kimmy.
.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa dukungan Like dan Votenya.