Oh My Jasson

Oh My Jasson
Lupakan yang telah terjadi.



"Jasson, apa kita tidak jalan-jalan?" tanya Kimmy setelah dirinya mengakhiri makan malamnya terlebih dahulu. Jasson mengangkat singkat pergelangan tangannya untuk membaca jarum dari jam tangan yang melingkar di sana. Terlihat masih pukul 19.13.


"Memangnya kau tidak lelah?" Jasson meletakan garpu dan juga sendok menyilang di atas piring, menandakan dirinya juga sudah mengakhiri makan malamnya.


"Tidak, aku ingin sekali jalan-jalan." Kimmy menopang dagu dengan kedua tangannya dan tatapan matanya menatap dengan penuh kebosanan.


"Besok saja, aku lelah."  Jawaban Jasson seketika membuat Kimmy kecewa. Jasson beranjak berdiri. Ia hendak melangkahkan kakinya meninggalkan meja makan, namun sesuatu mengurungkan niatnya.


"Aku mau ke balkon mencari udara malam, apa kau mau ikut?"


"Tidak!" sahut Kimmy, raut wajahnya terlihat masih kecewa.  Tanpa berkata lagi, Jasson kembali melangkahkan kakinya meninggalkan Kimmy yang masih bersungut di meja makan.


"Untuk apa jauh-jauh kemari jika tidak jalan-jalan?" Kimmy melemaskan punggungnya di sandaran kursi. "Astaga, kenapa  aku jadi egois seperti ini?"


"Oh, iya. Alana dan Jesslyn sempat memberiku pakaian waktu berangkat, aku belum sempat melihat dan mencobanya."


Dengan penuh semangat Kimmy beranjak berdiri meninggalkan tempat duduknya dan berjalan terburu-buru untuk masuk ke dalam kamar.


Wanita itu segera membongkar isi lemari yang berisi tumpukan baju yang tadi pagi ia keluarkan dari dalam koper dan ia tata dengan rapi di sana.


Sebuah night gown  berwarna merah menyala yang terselip di tumpukan paling akhir segera Kimmy tarik. Kini, pakaian tersebut ada di genggaman tangan wanita itu.


Kimmy sayang, jika kau menghargai aku dan Jesslyn sebagai saudara sekaligus sahabatmu. Tolong pakailah hadiah yang kami berikan ini saat kau berbulan madu, ini adalah gaun keberuntungan. Mintalah pendapat kepada Jasson.  ~ Alana.


Pakailah ini di dalam kamar saja, jangan memakainya di tempat umum. Mintalah pendapat Jasson, jangan meminta pendapat kepada penjaga villa. Hahaha  ~ Jesslyn.


Dua carik kertas dengan pesan yang berbeda itu Kimmy temukan di lipatan gaun tersebut. Wanita itu hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Hanya sebuah gaun bisa menjadi keberuntungan?" Kening Kimmy berkerut penuh tanda tanya. "Bagaimana bisa?"


"Mereka sungguh aneh."


Kimmy menempelkan gaun tidur tersebut di tubuhnya sembari berdiri di depan cermin. Pakaian tipis dan cukup tembus pandang itu kini menjadi pusat sorotan mata peraknya yang menyala untuk bisa ia kritik.


"Aku tidak menyukai warnanya." Kimmy memperhatikan dengan seksama pakaian yang masih belum ia balutkan dengan sempurna di tubuhnya itu. "Kenapa tidak warna merah muda atau biru muda? aku menyukai dua warna itu," cebik Kimmy.


"Tapi, Jesslyn dan Alana sudah berbaik hati memberikan ini untukku. Dan aku harus memakainya. Baiklah ...." Kimmy memutar kedua bola matanya. Padahal, sebenarnya, ia enggan sekali untuk memakai pakaian tersebut. Tapi, mau tidak mau, demi menghargai kedua sahabat sekaligus saudaranya itu, Kimmy harus memakai pemberian mereka.


"Aku akan mencoba." Kimmy menengok ke luar kamar yang pintunya terlihat tertutup sebagian, merasa aman karna tidak ada siapapun di sana kecuali dirinya dan juga Jasson. Dan sekarang, suaminya itu sedang berada di balkon untuk mendapatkan udara malam, jadi tidak masalah jika dirinya mengganti pakaian di dalam kamar tanpa menutup pintu, pikirnya.


Kimmy segera menanggalkan mini dress yang masih membalut tubuhnya, hingga mini dress itu terjuntai di lantai dan membiarkannya tergeletak begitu saja tanpa memungutnya.


Kini tangannya berganti untuk membalutkan gaun tidur  pemberian Alana dan juga Jesslyn, hingga gaun itu membalut tubuhnya dengan sempurna.


"Apa aku terlalu gemuk hingga ini terasa penuh sekali?" Kimmy berjalan kembali mendekati cermin dan memperhatikan dengan seksama gaun tidur yang ia kenakan saat ini. Nampak sexy, hingga memperjelas lekuk tubuhnya. Namun Kimmy tidak terlalu menyukainya. Menurut wanita itu, ini sungguh aneh.


Dan saat bersamaan, Jasson masuk ke dalam kamar, langkah lelaki itu terhenti saat melihat Kimmy sedang sibuk memandangi pantulan tubuhnya di cermin.  Ia memperhatikan Kimmy dari ambang pintu sambil menyandarkan salah satu bahunya dengan kedua  tangan yang bersedekap. Masih mencoba mengamati apa yang wanita itu sedang lakukan.


"Gaunnya terlihat cantik karna aku yang mengenakannya. Tetapi, ini  sangat tidak pantas untuk kukenakan. Ini lebih pantas jika dipakai oleh wanita penggoda." Kimmy tertawa hingga memecah keheningan kamar, namun  belum menyadari bahwa Jasson tengah memperhatikannya dari ambang pintu.


"Atau lebih pantas dipakai oleh penari. Seperti ini ...." Kimmy memutar tubuhnya, hendak memperagakan penari yang ia maksud. Namun, tubuhnya tiba-tiba tak bergeming, kedua matanya dibuat mendelik dan terkesiap saat dirinya baru disadarkan akan Jasson yang tengah memperhatikannya di ujung sana.


"Ja-Jasson ...." Wajah Kimmy seperti terbakar api hingga memerah padam. malunya bukan kepalang saat tatapan suaminya itu berubah menjadi penuh ledekan.


Laki-laki itu tak bersuara, ia berjalan mendekat ke arah Kimmy. Menyorot setiap tubuh wanita itu dan mencari sesuatu untuk bisa ia kritik. Langkahnya terhenti tepat di depan Kimmy. Tatapannya semakin diperdalam.


"Se-sejak ka-kapan kau di sini?" Lidah Kimmy terasa kaku untuk bertanya hal itu.


"Sejak kau memuji dirimu sendiri." Suaranya terdengar meledek, pun tatapannya.


"Kau melihatku saat berganti pakaian?" Kimmy memundurkan langkahnya dan menyilangkan kedua lengan tangan untuk menutupi tubuh bagian atas.


Jasson tak langsung menjawabnya. Ia melangkahkan kakinya mendekati wanita itu. "Tidak." Jawaban itu seketika membuat Kimmy lega dan membubarkan kedua tangannya.


"Tapi entah setelah ini," sambung Jasson kemudian, seraya menarik singkat salah satu sudut bibirnya.


"Ma-maksudmu?" Kimmy gagal mencerna apa yang dimaksud oleh suaminya tersebut.


"Maksudku ...." Jasson mengangsur tubuhnya supaya semakin mendekat ke arah Kimmy, hingga membuat wanita itu ketakutan.


"Maksudku, kenapa kau memakai gaun ini?" Kedua manik mata Jasson kembali menelusuri tubuh Kimmy yang dibalut gaun tersebut.


"I-ini pemberian Alana dan Jesslyn. Aku disuruh oleh mereka untuk mengenakannya," jawab Kimmy, suaranya masih gemetar takut. Rasanya Jasson ingin sekali menertawakan kepolosan wanita itu. Dia ini memang polos atau hanya berpura-pura saja? batinnya.


"Oh ...."


Kimmy menundukan pandangannya saat mata Jasson berlama-lama menatapnya. Tubuhnya seakan selalu mati rasa setiap kali Jasson menatap dan menghimpit tubuhnya seperti ini.


"Ja-Jasson ...." Kimmy menggusur tubuh Jasson agar menjauh darinya. Ia meminta pendapat kepada lelaki itu.


"A-apa menurutmu gaun ini pantas untukku?" Kimmy melenggangkan kedua tangannya supaya Jasson lebih leluasa menilai gaun yang ia kenakan saat ini. Namun, hal itu justru membuat tubuh Jasson memanas saat pikirannya menerka-nerka akan isi dan bentuk bagian tubuh yang dibalut oleh gaun tersebut.


"Kenapa kau diam?" tanya Kimmy. "Alana dan juga Jesslyn menyuruhku untuk meminta pendapat darimu. Itu sebabnya aku bertanya kepadamu." Kimmy  kembali menundukan pandangannya sambil meremas kedua telapak tangannya yang basah. Wanita itu tidak bisa mengontrol perasaannya saat tatapan mata suaminya  itu belum juga berakhir.


"Pantas," katanya singkat. Jasson melangkahkan satu langkah kakinya mendekat ke arah Kimmy. Tak memberinya cela untuk lari dari pandangannya yang hanya berjarak sejengkal saja.


"Hanya gunakan ini di depanku saja. Jangan menggunakan ini di depan orang lain," tutur Jasson, suaranya berbisik lembut, namun penuh maksud.


"Jasson, minggirlah, aku mau mengganti  pakaianku." Kimmy hendak menerobos tubuh Jasson yang menghalangi jalannya, namun lelaki itu semakin menghimpit dan mengunci tubuhnya.


"Ja-Jasson ...."


"Tidak usah!"


Jasson menatap dalam kedua mata sayu wanita itu secara bergantian, ia  mengatur napasnya yang kian memanas, tatapannya penuh mendamba, gumpalan asap tebal serasa melingkupi tubuhnya, hingga membuat dirinya ingin sekali menerkam wanita itu dalam dekapannya untuk menghangatkan malam.


Gaun berwarna merah dengan kait-kait kecil dan juga aksen renda yang menghiasi setiap ujungnya, membuat mata lelaki itu tak henti menyorotinya. Pun, kini, sorot mata Jasson berpusat kepada bibir tipis berwarna merah jambu yang menampakan belahan di antara keduanya. Bibir wanita itu seakan membuatnya candu. Pantas saja, hampir semua temannya sangat suka sekali memberi sapaan kepada teman-teman wanitanya dengan sebuah ciuman.


"Ja-Jasson ...." Kimmy menopang dada Jasson  dengan kedua tangannya, saat lelaki itu nyaris menarik tubuhnya untuk mendekat semakin dalam.


Wajahnya memucat, seakan tidak teraliri darah sama sekali di sana. Kimmy nampak terlihat ketakutan hingga Jasson melonggarkan kedua tangannya untuk membebaskan wanita itu.


"Ada yang tertinggal ...." Suara Jasson menghentikan langkah kaki Kimmy yang hendak menghindar darinya.


"A-apa?"


Jasson kembali mendekat ke arah wanita itu. Tangannya ia ayunkan hingga pinggang ramping itu kini ada dalam dekapannya. Kedua mata Kimmy dibuat membulat saat Jasson tiba-tiba menanamkan sebuah ciuman yang cukup lama di bibirnya, tangan lelaki itu mengunci pangkal lehernya, hingga membuat tubuhnya terasa lumpuh dan tidak bisa bergerak untuk menghindar.


"Kau sudah menciumku tiga kali!" Kimmy memprotes saat laki-laki itu mengakhiri ciumannya yang lebih lama dari sebelum-sebelumnya.


"Kenapa kau selalu melakukannya? sementara kau sendiri tidak pernah menginginkannya!" seru Kimmy.


"Aku melakukannya karna aku menginginkannya!" seru Jasson. Ia menarik kembali tubuh Kimmy hingga melekat di tubuhnya. "Dan aku menginginkan lebih dari ini." Bisikan itu membuat tubuh Kimmy memanas.


"Lepaskan aku!" Kedua mata Kimmy mengkilat saat cairan bening terlihat  berlapis di sana dan siap untuk digenangkan, dirinya sendiri tidak tau kenapa rasanya ia  ingin sekali menangis, ia selalu gagal membaca apa yang selama ini diinginkan oleh suaminya itu.


Jasson kembali memegang pangkal leher Kimmy, sekali lagi, ia membenamkan ciuman di bibir wanita yang telah menjadi istrinya itu.


Rasanya Kimmy ingin menolak, namun ia tidak bisa. Tubuhnya berdesir hebat hingga membuat denyut nadinya memacu semakin cepat. Kimmy menikmati ciuman itu tanpa tau apa yang harus ia lakukan.


Jasson mulai menulusuri setiap bibir Kimmy yang semakin ia pagut lebih dalam, hingga tangannya kini mulai menjamah setiap inchi tubuh dari wanita itu.


Jasson menggiring tubuh Kimmy menuju ke atas tempat tidur saat ciuman yang terjadi di antara mereka semakin memanas. Namun, Kimmy tiba-tiba menahan tubuh Jasson saat lelaki itu berhasil  menjatuhkannya di atas ranjang hingga membuat gaun yang ia kenakan tersingkap sebagian.


"Kau mau apa?" pertanyaan itu sungguh membuat Jasson jengkel. Laki-laki itu sejenak diam, menatapnya dengan tatapan tajam.


"Dirimu." Jason kembali menjamah bibir Kimmy dengan ciumannya yang terasa mematikan bagi wanita itu. Laki-laki itu menikmatinya, pun juga Kimmy, meskipun ia tidak bisa membalas ciuman tersebut.


Demi apapun, tubuh Kimmy gemetar hebat, seakan  melebur saat gairah yang memanas melahap sekujur tubuhnya.


Jasson mengakhiri ciuman itu, ia menatap kedua mata Kimmy yang berkaca-kaca.  Secepat kilat, tangan Kimmy menahan gaun yang ia kenakan dari tangan Jasson yang nyaris melucutinya.


Tatapan mata Jasson menghujam dalam dan penuh mendamba. Seakan ada sihir yang membuat Kimmy tidak mau mengalihkan pandangannya.


"Aku tidak akan melakukannya jika kau tidak mengizinkannya," ujar Jasson. Laki-laki itu hendak menjauhkan tubuhnya dari Kimmy. Namun, Kimmy menarik lengan tangannya hingga membuatnya tak berpindah.


"Bukannya kau sendiri yang membuat kesepakatan selama 10 tahun ke depan? jangan melupakan ambisimu hanya  karna  keinginanmu malam ini!"


Kimmy mengingatkan kembali, suaranya terdengar parau saat berbicara seperti itu, dadanya terasa sesak seakan tidak ada udara yang melingkupi paru-parunya. Jasson memejamkan singkat kedua matanya.


"Aku tidak memedulikannya lagi!"


Tatapannya kembali mendamba hingga membuat Kimmy meregangkan tangannya, tidak bisa dipungkiri, wanita itu sama halnya dengan Jasson yang menginginkan lebih dari ini.


Dalam sekali tarikan, tangan Jasson mampu melepaskan gaun yang Kimmy kenakan dari tubuhnya, rasa malu dan takut menyergap kuat wajah wanita itu. Pun disusul oleh Jasson yang ikut menanggalkan seluruh pakaiannya, hingga kini tubuh mereka sama sekali tak terbalut seutas benang satupun.


Dan malam itu, Kimmy memasrahkan tubuhnya kepada lelaki yang sudah lama ia cintai dalam diam, lelaki yang saat ini telah menjadi suaminya.


***


Tak terhitung berapa kali Jasson menghujani wajah Kimmy dengan begitu banyak ciuman saat pergumulan di antara mereka berlangsung cukup lama dan susah payah.


Seluruh organ tubuh Kimmy seakan dibuat melebur dan  meledak-ledak, untuk pertama kalinya, gelayar kenikmatan menghujam dalam-dalam tubuh wanita itu.


Pun dengan Jasson, tubuh mereka seakan tersengat aliran listrik. Hingga tak lama setelah itu, Jasson terlebih dulu mengakhirinya.


Kedua matanya menatap lekat-lekat wajah Kimmy yang bercampur keringat dan air mata. Dadanya mengembang kempis, mereka saling berebut oksigen saat napasnya terbuang saling bersahutan. Kedua ibu jari Jasson  mengusap cairan bening yang mengalir di kedua sudut mata wanita itu, sebelum kemudian, ia menarik tubuh Kimmy dan membenamkan  ke dalam pelukannya.


Air mata Kimmy masih mengalir saat bersitatap dengan Jasson, seperti ada sebuah penyesalan saat ia tak mendapatkan kejelasan dari pernikahannya.


"Lupakan yang telah terjadi." Perkataan Jasson membuat air mata Kimmy semakin menggenangi wajahnya. Ia menarik tubuhnya menjauh dari Jasson dengan tatapan penuh kekecewaan. Namun tangan lelaki itu tak melepaskannya.


"Maksudku, lupakan kesepakatan yang pernah kita buat," tuturnya pelan, namun tatapannya menghujam dalam hingga membuat Kimmy merasa tenang. Jasson mengusap kembali air mata yang mengalir di wajah Kimmy.


"Tidurlah." Jasson kembali membenamkan kepala Kimmy di dadanya yang masih telanjang dan berbalur keringat. Sebelum kemudian, ia meninggalkan ciuman di puncak kepala wanita itu dan membalutkan selimut di tubuh polosnya.


.


.


.


.