
"TerimakasIh." Kimmy mengembalikan obat luka bakar itu kepada suaminya, silau akan teriknya matahari yang menembus kaca depan mobil hingga mengenai wajah Kimmy, menjadikan alasan bagi wanita itu menundukan pandangannya agar terhindar dari tatapan mata Jasson.
"Apa sudah membaik?" Jasson mengambil alih obat itu dari tangan Kimmy dan meletakannya ke sembarang tempat, kedua matanya memperhatikan leher Kimmy bagian bawah yang masih menampakan warna merah sama seperti sebelumnya, bahkan belum memudar sedikitpun.
"Sedikit pedih, tapi aku baik-baik saja." Senyuman tipis melesat dari bibir tipis Kimmy. "Hatiku yang tidak baik-baik saja, Jasson," gumamnya kemudian.
"Apa tidak sebaiknya kita ke dokter?"
"Itu tidak perlu, aku hanya tertumpah kopi panas," tolak Kimmy.
Jasson tak memberi balasan, ia hanya diam dan matanya sibuk memperhatikan luka bakar Kimmy hingga menimbulkan kesenyapan di antara mereka berdua. Ya, inilah kelemahan Jasson dan juga keluarganya, mereka tidak bisa melihat orang terdekatnya terluka sedikitpun.
Kimmy menarik kerah kaus yang ia kenakan sedikit lebih ke atas hingga kerah kaus itu menutupi sebagian kulit lehernya, merasa malu karna wanita itu menyadari bahwa Jasson sedari tadi masih tak mengalihkan pandangan ke arahnya.
"Jika itu pegawaiku, aku akan memecatnya!"
"Siapa yang kau maksud?" Kimmy menoleh ke arah Jasson dengan kening yang setengah berkerut.
"Pelayan tadi."
"Kenapa kau masih membahasnya? jelas-jelas aku yang bersalah!" seru Kimmy.
"Tetap dia yang bersalah. Seharusnya dia juga harus berhati-hati, kenapa kau malah membiarkannya begitu saja!"
"Jasson, tubuhku hanya tertumpah kopi panas, aku tidak mau seseorang kehilangan pekerjaannya hanya karna lukaku yang tidak seberapa. Lagipula aku baik-baik saja, jadi tolong jangan membahas ini lagi."
"Entah kenapa hari ini aku benar-benar sial." Kimmy mencebikan bibirnya dan mengalihkan pandangannya lurus ke depan.
Keheningan sejenak tejeda, sesaat kedua ekor mata Kimmy bergerak melirik ke arah Jasson yang tengah menatapnya dengan tatapan dingin. Tubuhnya beringsut takut.
"Maksudku, aku sial bukan karna dirimu," ujar Kimmy, namun tak ada balasan dar suaminya.
"Ehm, sampai kapan kau akan menghentikan mobilmu di sini?" sambungnya kembali.
"Kita akan pulang sekarang." Jasson mulai memegang kemudinya dan melajukan mobil itu berlalu pergi dari sana.
***
Di tempat lain
Jesslyn terlihat berada di dalam mobil bersama Harry, sudah sekitar setengah jam yang lalu mereka bertemu di tempat yang sekiranya tak diketahui oleh siapapun. Karna Jesslyn tidak mau ada orang lain terutama keluarganya tau bahwa dirinya sedang pergi bersama Harry, laki-laki yang sejak dari kecil sangat tidak ia sukai.
Namun, Harry bingung harus mengajak Jesslyn pergi ke mana, karna ia belum memiliki tujuan untuk mengajak wanita itu pergi berkencan.
Sebenarnya, Harry sudah memiliki rencana untuk membawa Jesslyn datang ke beberapa tempat, salah satunya makan siang di roof top hotel bintang lima yang memiliki view sangat menarik, pegunungan, pepohonan yang menjulang tinggi dan juga gumpalan awan biru siap menemani makan siang mereka di sana. Namun Harry tiba-tiba ragu saat akan membawa Jesslyn mengunjungi tempat itu, mengingat wanita yang ia ajak untuk berkencan bukanlah tipe wanita yang memiliki selera romantis seperti pada umumnya.
"Ke mana tujuan kita?" Jesslyn melemparkan pertanyaan dengan suara yang sama sekali terdengar dengan tidak ramah, namun Harry selalu menanggapi apapun ucapan wanita yang duduk di sampingnya itu dengan senyuman, karna baginya adalah suatu hal yang langkah bisa diajak berbicara oleh Jesslyn.
"Entahlah, aku juga bingung. Kau sendiri ingin pergi ke mana?"
"Pulang!" Jesslyn melototkan kedua matanya saat ia memilih menghadap ke arah laki-laki itu.
"Kau jangan ingkar! Sudah berapa kali kau membatalkan janjimu!"
"Makanya, cepat-lah tentukan tempatnya!" bentak Jesslyn.
"Kau saja yang menentukannya, apa kau mau makan di roof top? berbelanja, menonton bioskop, bermain golf atau memanah?" Tawaran yang diberikan oleh Harry terdengar cukup menarik, namun tidak untuk Jesslyn, wanita itu sama sekali tidak tertarik dengan salah satu pilihan yang disebutkan oleh Harry.
"Aku tidak mau!"
"Lalu kau mau ke mana?"
"Kita pergi ke taman hiburan saja." Permintaan Jesslyn membuat Harry terperangah, bukannya meminta untuk pergi ke tempat yang mahal, wanita itu jutsru malah meminta pergi ke taman hiburan.
"Taman hiburan?" Dahi Harry berkerut mengulangi perkataan Jesslyn.
"Iya, aku dari dulu ingin sekali pergi ke taman hiburan dan bermain wahana, karna sudah lama sekali aku tidak pergi ke sana, jawabnya dengan penuh semangat layaknya anak kecil.
"Baiklah."
"Aku sudah menduga, dia pasti tidak akan mau diajak pergi ke roof top." Harry mengulas senyuman tipis di bibirnya saat kedua ekor matanya melirik ke arah Jesslyn yang masih menampakan wajahnya dengan penuh semangat.
°°°
Selama di perjalanan tadi, kedua mata Jesslyn tak henti terfokuskan ke arah kaca spion mobil yang menampakan sebuah boneka besar yang berukuran setengah badan manusia tergolek di kursi tepat yang ada di belakangnya. Namun wanita itu tak berani bertanya kepada Harry, sang pemilik boneka tersebut. Mungkin boneka itu milik kekasih Harry, karna setahu Jesslyn, laki-laki itu tidak memiliki saudara perempuan.
***
"Ayo turun!" Harry membukakan pintu mobil untuk Jesslyn saat tujuan mereka sudah tiba. Senyuman menyeringai penuh kehangatan wajah laki-laki itu, sebab ini kali pertamanya dia mengajak seorang wanita pergi berkencan, dan yang ia ajak bukanlah wanita sembarangan, melainkan wanita yang sudah ia sukai sejak kecil.
Jesslyn segera turun dari mobil dan berjalan cepat mendahului Harry, rasanya tidak sabar mencoba satu persatu wahana yang ada di dalam taman hiburan.
Harry ikut mempercepat langkahnya menyusul wanita yang sudah berjalan beberapa langkah di depannya, laki-laki itu mngayunkan tangannya hingga kini tangan Jesslyn mampu ia gapai dan langkahnya pun ikut terhenti.
"Lepaskan tanganku!" Jesslyn mencoba mnghempas tangan Harry, guratan penuh kekesalan berkerut tipis di dahinya yang tertutupi oleh beberapa sulur anak rambut, namun laki-laki itu tak mau melepaskan tangannya.
"Lihatlah, di sini ramai pengunjung. Kita tidak tau, mungkin saja salah satu di antara mereka adalah orang jahat."
Perkataan Harry memang ada benarnya, taman hiburan seluas itu terlihat dipadati oleh ratusan bahkan mendekati ribuan pengunjung, terlebih lagi ini adalah hari minggu, taman hiburan menjadi tempat pilihan bagi para keluarga.
"Memangnya kau mau diculik?" tanya Harry kemudian.
"Tidak mau!" sahut Jesslyn diikuti dengan gelengan kepalanya, wanita itu bergidik, meskipun usia Jesslyn sudah dikatakan dewasa, namun perlakuan Gio dan Merry terhadapnya membuat pikirannya masih seperti anak kecil yang terkadang takut dengan seorang penculik maupun penjahat, karna memang, sejak kecil Jesslyn tidak pernah berpergian sendiri dan selalu dalam pengawasan kedua orang tua dan juga kedua kakak lelakinya.
"Kalau begitu pegang tanganku dan jangan jauh-jauh dariku, kau mengerti?" tutur Harry. Jesslyn menganggukan cepat kepalanya sebagai jawaban.
Harry pun menyematkan jemarinya di sela-sela jari Jesslyn, hingga kini tangan mereka saling menggenggam dan bergandengan erat.
"Ayo." Harry menarik tangan Jesslyn dengan penuh kelembutan dan kehati-hatian, ia berjalan terlebih dahulu memandu Jesslyn yang berjarak satu langkah berdiri di belakangnya, kedua sudut bibirnya tertarik ke atas, membentuk sebuah senyuman akan moment langkah ini.
***
Jesslyn mengajak Harry bermain dari satu wahana ke wahana lain, hari itu ialah hari yang benar-benar menyenangkan bagi wanita itu, karna sudah 10 tahun lamanya, ia tidak pernah merasakan bermain di taman hiburan seperti ini. Semua wahana mulai dari Polercoaster, Rollercoaster, Giant canyon swing, Colossus sudah ia coba satu persatu dan terakhir ini ialah Train Ghost yang melewati goa kegelapan.
Jesslyn berdiri di atas kereta hantu beriringan dengan Harry dan pengunjung lain. Jesslyn berulang kali memejamkan kedua matanya dan menahan teriakan, saat beberapa hantu tiruan mengejutkan dirinya. Gua yang dilewati oleh kereta tersebut sangat gelap dan terasa dingin hingga menusuk ke kulit siapapun. Terlebih lagi lengan tangan Jesslyn telanjang hingga memudahkan tubuhnya merasa kedinginan.
"Kemarilah." Harry menarik tubuh Jesslyn dan menghadapkan tubuh wanita itu di hadapannya.
"Sudah tau takut, kenapa masih saja ingin menaiki wahana ini?" tanya Harry.
"Siapa yang takut? aku sama sekali tidak takut," bantahnya.
"Alasan saja!"
Jesslyn tak membalas, ia sibuk mengusap-usap lengan tangannya yang semakin lama semakin terasa kedinginan.
Harry yang sedari tadi memperhatikannya segera melebarkan jaket yang ia kenakan dan tiba-tiba mendekap tubuh Jesslyn, hingga tubuh wanita yang dua kali lebih kecil dari dirinya itu hampir tak terlihat saat jaket yang ia kenakan ikut membungkus tubuhnya.
"Pengacau lepaskan aku!" Jesslyn berteriak dan meronta hingga membuat perhatian semua pengunjung wahana itu menoleh ke arahnya.
"Ssst, diamlah, jangan berteriak. Semua orang melihat kita," tutur Harry.
"Kau mau mati kedinginan selama dua puluh menit ke depan?" tanya Harry. Kini tatapan mata mereka saling bertemu sangat dekat dan cukup lama. Yang dikatakan Harry ada benarnya, lengan tangan Jesslyn yang telanjang bisa-bisa membuatnya mati kedinginan berada di dalam goa itu.
"Diamlah ...." tutur Harry, suaranya terdengar lembut seakan menghipnotis wanita itu untuk mau menuruti setiap perintah yang terucap dari bibirnya, Jesslyn pun terlebih dulu mengakhiri tatapannya dengan Harry, dan kini hanya kaus yang membalut tubuh lelaki itulah yang saat ini hanya bisa ia pandang.
Rasanya, darah Jesslyn mengalir lebih cepat dari seharusnya, membuat tubuh wanita itu menghangat hingga tak menyadari bahwa dekapan Harry yang terasa nyaman membuat dirinya meletakan wajahnya di dada bidang laki-laki yang tidak ia sukai itu.
begitu pun Harry. Dirinya tidak pernah berpikir bahwa ia bisa pergi berdua bahkan sedekat ini dengan wanita galak yang selalu membuat dirinya hampir gila karna setiap saat kepalanya dipenuhi oleh wanita yang ada didekapannya saat ini.
***
"Apa kau terburu-buru?" tanya Harry. Kini ia dan Jesslyn berada di dalam mobil dan sedang melakukan perjalanan kembali pulang ke rumah, mengingat ini sudah hampir menjelang petang, meskipun sebenarnya, Harry tidak mau mengakhiri pertemuannya dengan Jesslyn. Karna, dirinya menyadari, kesempatan untuk pergi berdua dengan wanita itu tidak akan ia dapatkan dua kali. Namun Harry tidak se'egois itu mengajak seorang wanita yang ia sukai pergi hingga larut malam hanya demi kepuasan hatinya saja.
"Tentu saja!" sahut Jesslyn.
"Kalau begitu, ikut aku sebentar ke tempat pembuangan sampah," ajak Harry.
"Untuk apa kau pergi ke tempat pembuangan sampah?" tanya Jesslyn sembari menoleh ke arah Harry.
"Untuk membuangmu!" Harry tertawa kecil namun tak membuatnya kehilangan kefokusan akan kemudinya, niatnya yang bercanda justru malah mengundang amarah Jesslyn.
"Tidak lucu!" bentaknya membuat tawa lelaki itu menyusut.
"Aku hanya bercanda. Aku mau pergi ke pembuangan sampah karna aku ingin membuang boneka yang ada di belakangmu." Perkataan Harry membuat leher Jesslyn menoleh ke arah belakang dan memperhatikan boneka itu. Ya, boneka yang sedari tadi tak lepas ia perhatikan dari kaca spion yang ada di depannya.
"Boneka selucu ini mau kau buang?" Jesslyn terperangah, laki-laki yang ada di sampingnya ini gila atau bodoh? pikirnya.
"Iya, aku mau membuangnya."
"Kenapa kau membuangnya?" seru Jesslyn dengan penuh tanya.
"Karna aku tau, orang yang akan kuberi boneka itu pasti tidak akan mau menerimanya, jadi ya sudah lebih baik aku buang saja."
"Jangan!"
Harry menarik salah satu sudut bibirnya sembari melirik ke arah Jesslyn. "Kenapa?" tanyanya kemudian.
"Boneka ini sangat lucu, jangan dibuang."
"Lalu untuk apa aku menyimpannya?" Pertanyaan Harry tak membuat Jesslyn menjawabnya, kedua manik mata Jesslyn yang berwarna biru keabu-abuan iitu masih tak berpaling memandangi boneka tersebut.
"Jika ada seseorang yang mau menyimpan boneka itu, aku tidak akan membuangnya. Tapi sayang sekali tidak ada yang mau menyimpan boneka itu," sambung Harry, kedua ekor matanya masih menangkap ekspresi Jesslyn dengan sangat jelas.
"Aku mau menyimpannya." Jesslyn menyaut dengan begitu semangat, kedua matanya berpendar penuh harap.
"Kau benar mau menyimpan boneka itu?"
"Tentu saja aku mau. Boneka selucu ini jangan dibuang, aku akan menyimpannya dengan baik."
"Boneka ini lucu?" tanya Harry.
"Iya, boneka ini lucu sekali, kasihan jika dibuang."
"Baiklah, jika kau mau, aku akan memberikannya kepadamu." Harry kembali menangkap ekspresi raut wajah Jesslyn yang begitu ceria saat mendengar perkataanya baru saja. Tubuh wanita itu sedikit bergeser saat tangannya mencoba meraih boneka yang ada di kursi belakang tersebut.
"Lucu sekali ...." Senyuman menyeringai wajah Jesslyn saat kedua tangannya memeluk boneka itu dengan gemas.
"Dia menyukainya." Kedua sudut bibir Harry kembali tertarik ke atas. senyuman terulas tipis di sana, lak-laki itu merasa senang saat boneka yang memang sengaja ia belikan untuk Jesslyn ternyata diterima oleh wanita itu dengan baik.
***
"Hey, berhenti di sini!" perintah Jesslyn secara tiba-tiba, membuat kaki Harry reflek menginjak pegas rem kemudinya, hingga mobil itu berhenti secara mendadak.
"Ada apa?"
"Aku turun di sini, aku akan berjalan."
"Rumahmu belum sampai."
"Hanya beberapa langkah, aku akan berjalan saja."
Harry mencoba memaksa Jesslyn untuk mengantarkannya hingga ke rumah, namun perempuan itu tetap saja tidak mau diantarkan olehnya.
"Terimakasih," ucap Harry sesaat setelah dirinya membukakan pintu mobil untuk wanita itu.
"Terimakasih untuk apa? dasar gila!" umpat Jesslyn secara terang-terangan sembari turun dari mobil dan menjejakan kedua kakinya di atas tanah.
"Terimakasih, kau sudah mau menemaniku hari ini." Harry mengacak-acak rambut Jesslyn hingga membuat sang pemilik rambut itu memrotes tidak terima.
"Jangan menyentuhku! Kalau kekasihku tau dia akan marah!" Jesslyn melototkan kedua matanya kepada Harry.
"Memangnya kau memiliki seorang kekasih?" tanya Harry.
"Kau menghinaku? tentu saja aku memiliki seorang kekasih." Jesslyn mengalihkan pandangannya, menandakan wanita itu sedang berbohong.
"Memangnya siapa kekasihmu?"
"Kau tidak perlu tau! Yang pasti, dia-seorang-manusia. Bukan seorang pengacau sepertimu, kau terlalu banyak bertanya. Aku pulang dulu, bye ...."
Jesslyn berlalu pergi dari sana.
Kedua mata Harry memperhatikan Jesslyn yang berjalan menjauh dari mobil miliknya sembari memeluk boneka yang telah ia berikan kepadanya. Senyuman terulas di bibir lelaki itu, tatapannya berubah menjadi sendu saat merasakan hatinya bergejolak tak karuan.
***
Jesslyn baru saja tba di rumah, ia segera masuk ke dalam kamar dan menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur, merasa begitu lelah. Boneka pemberian Harry terlihat masih berada di dalam pelukannya. Ia baru disadarkan bahwa di leher boneka itu terselip sebuah kertas kecil yang seketika membuat wanita itu beranjak duduk.
"Apa ini?" Jesslyn segera membuka lembaran kertas tersebut dan mulai untuk membacanya.
Jesslyn, terimakasih sudah mau menerima boneka ini. Jika tidak, aku akan benar-benar membuang boneka ini ke tempat sampah. :) Harry.
"Jadi boneka ini memang diberikan untukku?"
"Dasar pengacau." Jesslyn tiba-tiba menarik kedua sudut bibirnya hingga senyumannya terlihat mengembang, ia kembali merebahan tubuhnya sembari memeluk erat boneka tersebut.
.
.
.
.
Kalau Nona terlambat update atau nggak update, selain hari weekend itu pasti karna ada alasan tertentu, jadi tolong pengertiannya, ya. Nona juga manusia sama seperti kalian semua yang mempunyai urusan dan kewajiban di kehidupan nyata.
,
^_^ Ini episode khusus Jesslyn, besok pagi Nona update lagi episode Jasson dan Kimmy. Jangan membanding-bandingkan cerita Jesslyn dan Jasson, ya. Karna Nona akan nulis kisah mereka berdua di sini juga. Terimakasih, Jangan lupa dukungannya, ya.