
Jasson meregangkan cengkraman tangannya hingga membuat Kimmy hampir saja melarikan diri, namun kedua tangan Jasson secepat kilat menarik kembali tubuh wanita itu. Sama sekali tak memberikan cela. Bahkan, kini tubuh Kimmy lebih mendekat dari sebelumnya. Jasson menatap lekat-lekat wajah Kimmy yang sudah berhamburan air mata, memperhatikan setiap inchi bagian wajah wanita itu. Tangannya meremmas pinggang Kimmy seiring dengan napasnya yang terbuang semakin cepat.
Bibir tipis berwarna merah jambu yang terlihat terbuka hingga manampakan belahannya, kini menjadi bagian yang paling menarik di kedua manik mata Jasson. Tangannya kini beralih memegang wajah wanita yang ada di hadapannya saat ini, kedua ibu jari Jasson secara bergantian mengusap air mata yang masih menggenangi wajah istrinya tersebut.
Jasson menghujam tatapan penuh mendamba sesaat setelah ibu jarinya mengusap bagian bibir bawah Kimmy hingga rasa keinginan itu muncul secara tiba-tiba, rasanya laki-laki itu ingin sekali ikut membenamkan bibirnya di sana. Namun, kesepakatan yang telah ia buat beberapa bulan yang lalu, seakan telah menjebaknya, hingga memusnahkan keinginannya menjadi sebuah angan-angan semata.
Jasson menggertakan giginya diikuti dengan kedua matanya yang sejenak terpejam karna tidak bisa berbuat lebih dari ini. Seketika itu, ia menjauhkan tubuh Kimmy dengan kasar, namun tak membuatnya berpindah akan posisinya.
Jasson meraih kontak mobil yang tadi sempat ia letakan di atas nakas, dengan langkah tergesa-gesa, laki-laki itu meninggalkan Kimmy sebelum kemudian tangisan wanita itu memecah memenuhi isi kamar tersebut.
"Aku tidak bisa seperti ini." Jasson mengusap kasar wajahnya untuk menyadarkan diri dari pikiran dan perasaan kalut yang dipenuhi tentang Kimmy. Laki-laki itu terlihat mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh. Perasaannya bercampur aduk dan meluap-luap, ingin sekali marah, namun pikiran lelaki itu seolah menertawakannya. Marah untuk hal apa? dirinya saja tidak mengerti.
***
Apartement Harry kini menjadi tempat tujuan Jasson untuk ia kunjungi. Laki-laki itu segera menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur, sesaat setelah Harry membukakan pintu untuknya.
"Tidak biasanya kau kemari di saat jam kantor seperti ini?" Harry terlebih dulu menutup pintu kamarnya sebelum kemudian, laki-laki itu menyusul untuk menjatuhkan tubuhnya di samping sahabatnya tersebut.
Namun Jasson tak menyahuti pertanyaan Harry. Ia lebih memilih memejamkan kedua matanya seraya memijit pelipisnya yang terasa pening karna pikirannya yang masih berkecamuk tak karuan.
"Jasson, kau kenapa? apa ada masalah?"
"Aku akan bermalam di sini, kalau bisa selama sepuluh tahun ke depan. Aku sungguh tidak tahan dengan ini semua." Mendengar jawaban Jasson, Harry begitu terperanjat hingga laki-laki itu memindah posisi tubuhnya yang semula telentang kini menjadi tengkurap.
"Apa kau sudah gila?" Harry menyambar wajah Jasson dengan sebuah bantal yang baru saja ia ambil.
"Katakan, kau kenapa? apa kau memiliki masalah dengan Kimmy?" tanyanya kemudian. Mulut Jasson tak bergeming. Laki-laki itu sibuk beradu dengan pikiran dan perasannya.
"Jasson ...."
"Aku sungguh tidak bisa menahan tinggal bersama Kimmy lagi!" Jasson tiba-tiba bangkit dan duduk, lalu mengusap wajahnya dengan gusar. Harry pun mengajak tubuhnya untuk beranjak duduk pula, ia bisa menangkap kebingungan yang cukup rumit di raut wajah sahabatnya.
"Kau mau bercerai dengan Kimmy?"
"Tutup mulutmu!" bentak Jasson, merasa tidak terima dengan ucapan Harry. "Aku sama sekali tidak memiliki pikiran seperti itu!"
"Lalu kau kenapa berbicara seperti itu?" Harry bertanya sekali lagi. Namun Jasson tetap saja tidak mau memberitahunya.
"Jasson, katakan kepadaku, sebenaranya kau dan Kimmy kenapa?"
Jasson semakin tidak bisa menyimpan kegundahan yang selama ini ia simpan sendirian. Terlebih lagi, pertanyaan-pertanyaan Harry yang mendesaknya membuat dirinya mau tidak mau harus menceritakan pernikahannya dengan Kimmy yang sebenarnya. Ia pun terpaksa memberitahu Harry tentang kesepakatan yang ia buat dengan Kimmy selama sepuluh tahun ke depan, kesepakatan yang seharusnya hanya diketahui oleh Kimmy dan juga dirinya, kini pun diketahui oleh Harry.
Kedua mata Harry membulat, laki-laki itu begitu terkesiap setelah mendengar apa yang baru saja diceritakan oleh sahabatnya tersebut.
"Apa kau tidak waras membuat kesepakatan seperti itu?" Harry mengguncang bahu Jasson cukup kuat, hingga membuat tubuh sahabatnya itu sedikit bergeser dari posisi semula. Ini sungguh sulit dipercaya.
"Kau menikah selama enam bulan, tetapi kau ...." Suara Harry terhenti.
"Hanya orang tidak normal yang tinggal satu atap dengan wanita selama berbulan-bulan tanpa melakukan apapun." Harry tiba-tiba menggusur tubuhnya menjauh dari Jasson, seketika merasa geli. "Kau masih normal, kan?" tanyanya dengan penuh keraguan.
"Setiap hari aku berbagi tempat tidur dan bertatap wajah dengan Kimmy. Kau pikir selama ini aku bisa menahan itu semua?"
"Lalu kenapa kau melakukan kesepakatan bodoh ini?"
"Aku kan sudah pernah bilang dari dulu kepadamu, aku tidak mau menikah sebelum usiaku 35 tahun. Atau setidaknya, aku memiliki perusahaan sendiri. Aku tidak mau hanya karna wanita impianku jadi terhambat dan hidupku jadi kacau. Aku juga masih belum siap menjadi orang tua!"
"Kalau kau belum siap, lalu kenapa kau menikah?" seru Harry.
"Karna terpaksa! Aku terpaksa menikahinya karna kejadian di kamar Jesslyn waktu itu."
Raut wajah Harry menciut seketika. Tidak tau bagaimana jadinya jika Jasson tau yang sebenarnya, bahwa ternyata, ia juga terlibat akan penyebab dirinya dan Kimmy menikah.
"Kalau kau terpaksa, kenapa kau tidak menceraikan Kimmy sekarang juga?" Perkataan Harry yang tersulut oleh emosi membuat Jasson tercengang, mulutnya seketika membisu, seakan ada sesuatu yang tercekat di tenggorokannya. "Kau bisa memiliki banyak alasan untuk bercerai dengan Kimmy," lanjutnya kemudian.
Jasson mengalihkan pandangannya ke sembarang arah. "Aku tidak bisa melepaskannya begitu saja," jawabnya pelan namun penuh dengan ketegasan setelah dirinya sempat memilih diam untuk beberapa saat.
"Kenapa?"
"Karna aku tidak mau mengecewakan orang tuaku. Karna sejarah di dalam keluargaku tidak ada yang pernah bercerai."
Harry menarik salah satu sudut bibirnya sesaat setelah dirinya menangkap sesuatu dari kedua manik mata Jasson yang berbeda dari biasanya. Sesuatu yang tidak pernah ia lihat selama hampir dua puluh tahun berkawan dengannya. "Itu bukan sebuah alasan, Jasson!" ujarnya kemudian.
Jasson tak menanggapi perkataan Harry, raut wajahnya semakin disergap kebingungan yang mendalam. Dan Harry pun bisa melihatnya dengan jelas.
"Kenapa wajahmu terlihat bingung seperti itu?" Harry kembali menarik salah satu sudut bibirnya.
"Bukankah kau sendiri yang membuat kesepakatan ini? fokuskan saja niatmu untuk ambisimu memiliki perusahaan sendiri, nikmati masa-masa pernikahanmu sebelum kau benar-benar kehilangan Kimmy!"
Jasson menoleh dengan cepat. "Apa maksudmu?" Keningnya berkerut dalam, laki-laki itu gagal mencerna perkataan sahabatnya.
"Kau tidak mau menceraikan Kimmy, dan akan tetap mempertahankan penikahanmu. Lalu kau mengorbankan Kimmy supaya dia mau menunggumu hingga berusia 35 tahun?" Harry menggelengkan kepalanya. "Sepuluh tahun bukan waktu yang sebentar!"
"Jasson, ini sebuah pernikahan. Bukan sebuah lelucon!"
"Kimmy wanita cantik dan pintar, dia seorang dokter. Laki-laki mana yang tidak tertarik dengannya?"
Sekelebat raut wajah Mark dan juga Mario tiba-tiba melintas di pikiran Jasson, ia tau betul bahwa kedua laki-laki itu sangat tertarik dengan istrinya. Seakan ada ketakutan sendiri yang bergejolak di dalam batinnya. Ia pun membenarkan perkataan Harry hingga ketakutannya semakin menjadi-jadi.
.
.
.
.
Maaf, ya, Nona cuma bisa nulis sedikit karna baru pulang dari luar kota.
Kalau ngga capek, In sha Allah bakal Nona update lagi nanti. Terimakasih atas perngertiannya ^_^