
Tangan Jasson menyibakan rambut Kimmy yang terasa mengganggu, sejenak menatap lekat-lekat wajah wanita yang kini menyembulkan rona merah di sekitar pipinya, sebelum kemudian, ia membenamkan kembali ciuman yang cukup lama di bibir tipis istrinya yang terlihat begitu mendamba.
Tidak ada penolakan dari Kimmy. Wanita itu justru menikamatinya, terlebih lagi saat bibir Jasson mulai berjelajah dan tangannya mulai menyusup di balik balutan pakaian yang masih ia kenakan, hingga membangkitkan suhu panas di sekujur tubuh wanita itu.
"Berisik!" seru Jasson saat erangan-erangan kecil lolos dari bibir Kimmy. Namun, Kimmy tak menghiraukannya, suara erangannya semakin memecah seisi kamar itu, hingga menciptakan gairah Jasson semakin bertambah. Terlebih lagi sentuhan tangan Jasson memang disengaja untuk membuat darah wanita itu berdesir menghangatkan sekujur tubuhnya. Pergumulan di antara mereka kembali terjadi sesaat setelah Jasson dan Kimmy saling menanggalkan pakaian masing-masing. Kali ini Jasson melakukannya lebih mudah daripada sebelumnya.
***
Percintaan yang terjadi di antara mereka beberapa jam yang lalu diakhiri dengan sebuah ciuman yang cukup lama. Rasa lelah dan lega yang semula tertahankan, kini sudah tertuang jadi satu. Dada mereka mengembang kempis, saling berebut oksigen untuk melingkupi paru-parunya supaya pernapasan mereka kembali teratur seperti sedia kala.
Tangan Jasson menarik selembar selimut untuk membungkus sebagian tubuhnya dan juga Kimmy. Rasa lelah karna membuang cukup banyak tenaga, membuat Kimmy dan Jasson enggan untuk mengenakan kembali pakaian mereka yang berserakan. Mereka lebih memilih untuk beristirahat saat itu juga. Namun, tidak semudah itu mengistirahatkan tubuhnya yang masih dihujam sisa-sisa kenikmatan.
Jasson mendekap tubuh Kimmy, mengangsur wajah wanita itu untuk membenamkan ke dada bidangnya yang keringatnya nampak masih belum mengering. Kimmy berasa geli saat bulu-bulu halus yang tumbuh di sana menyentuh wajahnya sehingga dirinya menarik kembali wajahnya, dan memilih untuk menatap wajah Jasson.
Kini pandangan mereka saling bertemu. Tatapan mata mereka tersirat dalam, seperti ada sesuatu yang ingin mereka sampaikan, namun keduanya memilih saling bungkam.
"Kenapa melihatku seperti itu? tidurlah!" Suara Jasson membelah kesenyapan di antara mereka berdua.
"Aku belum mengantuk." Kimmy menjawab sembari menggelengkan pelan kepalanya, namun tatapannya tak berpindah.
"Kenapa?" Kening Jasson berkerut. "Apa kau menyesal?"
"Menyesal untuk apa?" Kimmy menggeser sedikit kepalanya supaya pandangannya bisa dengan jelas terfokus akan wajah suaminya itu.
"Menyesal karna melakukan ini denganku." Kedua manik mata perak Jasson yang menghujam dalam kornea mata Kimmy serasa melumpuhkan wanita itu. Tatapan itu sungguh melemahkannya, bahkan bisa dibilang cukup mematikan.
"Aku sangat mencintaimu. Bagaimana bisa aku menyesal? aku sama sekali tidak pernah menyesalinya."
Kimmy mengatupkan bibirnya tanpa menjawab pertanyaan Jasson. Kedua mata wanita itu disibukan untuk membaca tatapan mata suaminya, hingga manik mata Kimmy yang berwarna perak itu terlihat berbinar layaknya sebuah permata, saat cairan bening nampak mengkilat melapisinya.
"Kenapa diam?" Kening Jasson berkerut dengan penuh teguran. Kata-kata itu menyentaknya dari lamunan.
"Tidak, aku sama sekali tidak menyesal." Kimmy mengulas senyuman di bibir tipisnya sebelum ia memberanikan diri untuk melingkarkan tangannya kembali di tubuh Jasson, dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang lelaki yang menyambut tubuhnya dengan begitu hangat.
"Aku bukan menyesal, aku hanya takut. Takut jika sesuatu yang menyenangkan hatiku hari ini akan sirna di kemudian hari."
Ingin sekali Kimmy bertanya tentang sesuatu yang saat ini meresahkan dan mengganjal di hatinya, sesuatu itu layaknya duri kecil yang tertancap dalam hatinya dan tak kasat mata, hanya dirinya saja yang bisa merasakan sakitnya. Pun juga tentang kesepakatan yang dibatalkan secara tiba-tiba. Namun, Kimmy tak punya cukup nyali untuk mengutarakan isi hatinya saat ini. Terlebih lagi, Kimmy menyadari, bahwa Jasson sangat tidak suka siapapun menuntutnya secara berlebihan, termasuk dirinya.
Kimmy memilih untuk memejamkan kedua matanya, hingga cairan bening tak sengaja ikut tersapu di sana. Ia menyembunyikan wajahnya dari pandangan Jasson, sebelum kemudian, ia benar-benar terlelap tidur dalam pelukan lelaki itu.
***
Keesokan paginya, Jasson terbangun terlebih dulu karna tenggorokan lelaki itu terasa kering, hingga mengharuskannya turun meninggalkan tempat tidur untuk pergi ke dapur mengambil air minum, setelah sesaat dirinya mengenakan kembali celananya yang belum sempat ia pakai semalam.
Segelas air putih yang baru saja Jasson tuang dari pitcher seketika melegakan tenggorokannya. Jasson meletakan gelas yang sudah ia kosongkan itu ke atas meja. Lalu, laki-laki itu kembali ke dalam kamar. Jarum jam masih menunjukan pukul 05.25. Terlalu pagi untuk dirinya bangun, terlebih lagi matahari pun terlihat masih bersembunyi dari peredarannya.
Jasson kembali merangkak naik ke atas tempat tidur dengan perlahan supaya tidak membangunkan Kimmy. Kedua matanya berlam-lama memandangi wajah Kimmy yang tertidur sangat nyenyak, tubuh polosnya hanya dibalut dengan selimut yang terlihat sudah kusut, membuat dirinya ingin menerkam kembali tubuh wanitanya itu, namun menyadari bahwa itu tidak mungkin.
Jasson menggusur tubuhnya ke tepi tempat tidur. Tangannya meraih sebuah ponsel milik Kimmy yang kemarin sempat ia simpan di dalam laci nakas paling akhir. Kedua ekor matanya terlebih dahulu melirik ke arah Kimmy dengan tatapan ragu, memastikan bahwa wanita itu tidak akan terbangun untuk beberapa saat, sebelum kemudian, ia mengaktifkan ponsel itu karna rasa penasarannya sejak dari kemarin.
Saat dirasa aman, dan Kimmy masih pulas dalam tidurnya, Jasson segera menekan tombol power yang terletak di bagian samping ponsel itu. Hingga kini, wajahnya diterangi oleh sinar biru, saat ponsel itu menyala dengan terang dan menampakan foto Kimmy yang menyambutnya dengan ulasan senyum ceria sebagai wallpaper penghias ponsel itu.
Ini untuk pertama kalinya setelah menikah, Jasson memegang ponsel milik Kimmy. Tangan Jasson hendak menjelajah ke galeri foto. Namun, niatnya terurungkan tatkala ada beberapa notifikasi pesan masuk secara beruntun memenuhi ponsel tersebut.
Kedua mata Jasson kembali melirik ke arah Kimmy. Memastikan wanitanya itu masih tertidur.
Rasa penasaran lelaki itu semakin menguak saat nama Mark ikut tertera dalam runtunan pesan yang baru saja masuk itu. Keningnya berkerut dalam, merasa tidak menyukai nama laki-laki yang sudah tidak asing baginya itu. Jasson mengusap layar ponsel hingga beberapa pesan dari Mark kini mulai terbaca oleh kedua matanya.
Kimmy, aku tadi hanya mau menyampaikan bahwa minggu depan ada seminar kedokteran. Tapi suamimu sangat kerterlaluan mematikan panggilanku sebelum aku berbicara. Aku harap minggu depan kau datang, nanti kita berangkat bersama seperti biasanya. ~ Dr. Mark.
Kimmy? ~ Mark.
Kimmy, bagaimana liburanmu? apa menyenangkan? Kuharap suamimu memperlakukanmu dengan baik di sana. ~ Dr. Mark.
"Dia sungguh tidak tau malu sama sekali!" umpat Jasson, keningnya berkerut dalam. Tatapannya menjadi gelap. Ingin sekali rasanya memaki laki-laki itu.
"Aku tidak akan membiarkan dia dekat-dekat dengan Kimmy. Dia bukan laki-laki baik." Tatapan Jasson beralih ke arah Kimmy yang masih nampak sibuk memeluk selimutnya.
Tangan Jasson mengambil ponsel miliknya yang tergeletak di sekitar sana. Tatapannya tertuju di galeri foto, dilihatnya beberapa foto dirinya dengan Kimmy yang menampakan kemesraannya saat kemarin sempat berkunjung di terasering.
Ia mengaktifkan fitur bluetooth, lalu memindahkan beberapa foto dirinya bersama Kimmy ke galeri ponsel milik istrinya tersebut.
Setelah itu, Jasson dengan sengaja mengirimkan beberapa foto mesra dirinya dengan Kimmy kepada Mark akan rasa kekesalannya yang meluap. Ia pun juga menyisipkan sebuah pesan kepada laki-laki yang ia ketahui sangat dekat dengan istrinya itu.
Liburanku di sini sangat menyenangkan, bahkan menyenangkan sekali. ~ Kimmy.
Setelah puas mengirimkan balasan pesan kepada Mark yang mengatasnamakan Kimmy. Jasson segera mengaktifkan mode pesawat pada ponsel Kimmy supaya tidak ada yang mengganggu liburan terakhirnya di Bali. Ya, ini adalah hari terakhir mereka berbulan madu di Bali. Dan besok pagi-pagi sekali, mereka harus kembali ke negaranya.
***
Jasson melanjutkan niatnya untuk mengamati koleksi foto di galeri ponsel milik Kimmy. Ia menemukan banyak sekali foto istrinya itu saat bersama Alana dan juga Jesslyn. Namun, kedua alis tebal Jasson tiba-tiba berkerut dalam saat dirinya mendapati beberapa foto Mark dan juga Kimmy yang tersimpan di galeri itu. Emosinya seakan membuncah, foto-foto itu sungguh menyakiti matanya. Tak berpikir panjang, Jasson segera menghapus semua foto Kimmy bersama Mark dari galeri ponsel itu tanpa meminta izin terlebih dulu kepada sang pemiliknya.
"Jasson ...." Suara Kimmy membelah keseriusan Jasson yang masih belum mengalihkan pandangannya dari ponsel Kimmy yang saat ini masih ia pegang.
Laki-laki itu menoleh, sedikit terkejut namun tak menampakannya. "Sudah bangun?" tanya Jasson dengan melayangkan tatapan dingin. Rasa kesalnya yang penuh tanya akan hubungan Kimmy dan Mark ikut terlampiaskan akan tatapannya.
Kimmy tak menjawab pertanyaan Jasson. Ia sibuk memperhatikan tangan Jasson yang terlihat menggenggam ponsel miliknya.
"Ehm, a-apa yang sedang kau lakukan dengan ponselku?" Kimmy beranjak duduk sembari membenahkan selimut supaya membungkus dengan sempurna tubuhnya.
"Hanya membalasi pesan dari Mark dan menghapus beberapa foto yang tidak penting di galerimu!" Jawaban Jasson yang terdengar santai seketika membuat kedua mata Kimmy membulat sempurna. Kimmy dengan segera merampas ponsel itu dari tangan Jasson, dan memeriksa pesan balasan yang dimaksudkan oleh suaminya itu.
"Kenapa kau mengirimkan pesan seperti ini kepada Mark?" seru Kimmy, dagunya terangkat menunggu jawaban setelah membaca pesan yang dikirimkan oleh suaminya itu kepada Mark.
"Kenapa? tidak suka?" Tatapan dingin itu membekukan Kimmy, membuat wanita itu mengalihkan pandangannya.
"Ehm, ti-tidak, bukan seperti itu." Kimmy beralih ke galeri ponsel, ia memeriksa foto yang dihapus oleh Jasson.
"Foto apa yang dihapus olegnya? kenapa dia lancang sekali?"
Kimmy dengan serius menggulir ponselnya dan mengamati satu persatu kolase foto yang ada di galerinya. Hingga guliran terakhir, dirinya sama sekali tidak mendapati fotonya bersama Mark di sana. Wanita itu kembali mengangkat dagunya dan menatap ke arah Jasson dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Aku menghapus semuanya!" kata Jasson tanpa ditanya.
"Kenapa?"
"Karna aku tidak suka! Kau sudah menikah denganku. Apa menyimpan foto bersama laki-laki lain itu baik?" seru Jasson.
"Lalu bagaimana dengan kau dan Nona Alea? Hanya kau saja yang boleh menyimpan foto bersama wanita lain?" Kimmy memberanikan diri untuk mempertanyakan hal yang sama.
"Alea temanku! Aku tidak menyimpan foto wanita di dalam ponselku!" seru Jasson.
Kimmy tersenyum kecut. "Tapi kau menyimpannya di dalam kamarmu." Kimmy mengingat betul saat dirinya pertama kali menginjakan kakinya masuk ke dalam kamar Jasson yang dihiasi beberapa foto Alea di sana. Jasson terkesiap akan perkataan Kimmy.
"Alea hanya temanku. Tidak lebih dari itu! Dan foto yang kaulihat di kamarku itu adalah foto formal dan aku sudah menyuruh bibi Molley untuk membuangnya!" bantah Jasson.
"Sama halnya dengan Mark! Dia juga temanku. Aku mengabadikan fotoku dengan Mark di ponselku, karna ada sebuah acara tertentu!" seru Kimmy yang tak mau kalah.
"Tapi aku tidak suka kau dekat-dekat dengan dia. Dia bukan laki-laki baik. Harus kukatakan beberapa kali supaya kau bisa mengerti?" Jasson mencengkram kedua bahu Kimmy, mencoba meyakinkan wanitanya itu dengan tatapan mata yang gelap dan mencoba menuangkan rasa kesalnya.
"Apa kau memang sengaja ingin membuat dia menganggapmu lebih dari sekedar teman? aku rasa memang seperti itu!" sambungnya kemudian.
"Kau ini bicara apa?" seru Kimmy, tangan Jasson berhasil ia singkirkan dari bahunya.
"Kau daritadi berbicara tentang Mark, tanpa tau betul siapa dia yang sebenarnya!" seru Kimmy.
"Aku tau dia!"
"Kau sama sekali tidak tau! Kau tidak mengenalnya!" bentak Kimmy.
"Kau selalu menyudutkan Mark. Lalu bagaimana dengan Nona Alea yang bisa saja mengharapkanmu lebih dari sekedar teman dan juga atasan?" Kata-kata itu tiba-tiba terlepas begitu saja dari mulut Kimmy dengan emosinya yang cukup meluap, dan tanpa menyadarinya sedikitpun. Bahkan suaranya terdengar meninggi dari sebelumnya, menandakan wanita itu benar-benar kesal.
Kening Jasson berkerut dalam. Gagal mencerna apa yang dikatakan oleh istrinya baru saja. "Apa maksudmu?" tanyanya kemudian.
Kimmy mengalihkan pandangannya, kedua matanya terpejam singkat seraya mengembuskan napasnya hingga emosinya ikut terbuang di sana.
"Lupakan, aku tidak mau berdebat sepagi ini denganmu. Maaf jika aku berkata kasar dan kurang sopan kepadamu."
Kimmy nyaris bangkit meninggalkan tempat tidur, namun Jasson tak membiarkannya pergi. Tangan lelaki itu dengan kuat menariknya, hingga membuat selimut yang membalut tubuh Kimmy terlepas dan kini menampakan tubuh polosnya.
.
.
.
.
.