Oh My Jasson

Oh My Jasson
Kenapa mendiamkanku?



Seusai pulang dari seminar, Jasson dan Kimmy melakukan perjalanan menuju ke rumah Alana dan juga Ken. Hanya hiruk pikuk jalanan dan juga audio musik yang membelah keheningan di antara mereka  selama melakukan perjalanan yang tidaklah dekat. Langit mulai berubah berwarna Jingga saat matahari sudah meninggalkan tempat peraduannya.


Kimmy dan juga Jasson  baru saja tiba di rumah Alana. Dinginnya malam  sudah menyambut mereka saat  mereka turun dari mobil dan menjejakan kakinya di sana. Saling berjalan beriringan menuju ke pintu rumah yang terlihat tertutup rapat.


Tangan Jasson menjangkau sebuah bell yang ada di samping pintu, lalu menekannya berulang kali. Hingga tak lama kemudian, terlihat Daven keluar membukakan pintu dengan senyuman menyeringai wajahnya.


"Kimmy, Jasson." Daven  segera membuka lebar pintu yang semula hanya ia buka sebagian.


"Apa kakak sudah pulang?" tanya Jasson.


"Sudah, kakak Ken sedang di kamar. Ayo masuklah, aku akan memangilkannya."  Saat Kimmy dan Jasson hendak masuk ke dalam rumah. Elga terlihat keluar dari kamar. Senyuman gadis kecil itu mengembang saat melihat Kimmy.


"Bibi dokter ...." Teriakannya yang melengking memecah seisi rumah itu membuat rasa lelah Kimmy sirna seketika.


"Bibi dokter, tangkap aku ... tangkap aku ...."  Elga segera berlari ke arah Kimmy, rambutnya yang dikuncir bergerak mengikuti tubuhnya.


"Elga ...." Kimmy berjongkok dan meregangkan kedua tangannya, ia menyambut tubuh mungil gadis kecil itu ke dalam pelukannya. Memberikan begitu banyak ciuman hingga membuat Elga tertawa geli dibuatnya.


"Bibi kemari? kenapa tidak memberitahuku?"


"Biar seperti kejutan." Kimmy dengan gemasnya mencium kembali pipi bulat keponakannya itu, sebelum kemudian, ia berdiri dan menggendongnya.


"Aku suka kejutan ...." Elga melingkarkan tangannya di leher Kimmy dan memberikan satu ciuman di pipi bibinya itu.


"Bibi dokter, mana adik bayiku?" tanya Elga secara tiba-tiba.


"Ehm ...."


"Elga!" Suara Jasson memperingati keponakannya tersebut. Seakan mengerti dengan perkataan Jasson. Elga seketika diam dan menyandarkan kepalanya di salah satu bahu Kimmy..


Daven mempersilakan Jasson dan Kimmy untuk duduk. Sementara dirinya memanggilkan Alana dan juga Ken yang kala itu diketahui memang sedang berada di dalam kamar. Tak lama kemudian, Daven kembali bersama Ken dan juga Alana yang terlihat menggendong baby bryen.


"Alana ...." Kimmy dengan hebohnya beranjak berdiri namun tak menurunkan Elga dari pangkuannya. Ia menggendong Elga dan menghampiri Alana. Saling bertukar sapa dan melekatkan masing-masing pipinya.


"Aku merindukanmu, Kimmy."


"Sama Alana, aku juga merindukanmu."


"Hai Bryen ...." Salah satu tangan Kimmy dengan gemas menekan-nekan pipi bulat keponakan laki-lakinya yang baru berusia empat bulan, senyuman mengembang di pipi bayi mungil itu.


"Alana, bolehkah aku menggendongnya?"


"Tentu saja," sahut Alana dengan senang hati.


"Sayang, Bibi dokter boleh menggendong adik Bryen?" Kimmy meminta izin kepada Elga supaya gadis kecil itu tidak merasa iri.


"Tentu saja boleh." Setelah mendapat izin dari Elga. Kimmy pun menurunkan Elga dan beralih menggendong Bryen yang tampak anteng dalam dekapannya.


"Sudah waktunya kau memiliki anak," ledek Alana seraya mendaratkan tubuhnya di samping Kimmy yang baru saja duduk.


"Kau pikir anak seperti buah pepaya yang  tinggal dipetik." Kimmy tertawa kesal kepada Alana. Namun, dirinya tidak menanggapi hal itu serius.


"Kimmy, aku tinggal ke dalam. Aku mau membicarakan sesuatu dengan kakak," pamit Jasson.


"Iya ...."  Setelah mendapat izin dari Kimmy, Jasson dan Ken berlalu meninggalkan ruang tamu.


***


Alana, Daven, dan Kimmy saling mengobrol dan bercanda  di ruang tamu. Sementara Elga sendiri, terlihat menciumi pipi adiknya yang saat ini masih digendong oleh Kimmy.


"Kimmy, aku titip Bryen sebentar, aku mau ke dapur membantu Bi Ester menyiapkan makan malam," pamit Alana.


"Baiklah, Alana."


"Mami, aku ikut." Elga beranjak berdiri dan berlari mengikuti Alana.


Setelah Alana pergi meninggalkan ruang tamu. Suasana di sana tiba-tiba menjadi senyap. Tidak ada obrolan akrab antara Kimmy dan Daven seperti tadi saat bersama Alana. Kimmy merasa canggung saat ditinggalkan berdua dengan laki-laki itu.


"Ehm, oh, iya, Daven. Aku tadi siang bertemu dengan Nona Chelia di rumah sakit." Kimmy mencoba membelah keheningan di sana dengan memulai sebuah peracakapan.


Kening Daven berkerut. "Di rumah sakit?"


"Iya, dia tadi sedang check-up. Aku baru tahu kalau Nona Chelia memiliki jantung lemah," ujar Kimmy.


"Iya, dia  memang sejak dari SMP memiliki jantung lemah."


"Kenapa kau tadi tidak mengantarkannya ke rumah sakit?" tanya Kimmy.


"Aku tadi sedang bekerja. Dia juga tidak memberitahuku kalau mau ke rumah sakit. Hubungan pertemanan kami juga sedikit meregang."


Kening Kimmy berkerut, diikuti dengan kedua alisnya. "Kenapa? bukannya kalian berpacaran, ya?"


Daven tiba-tiba tertawa, membuat kening Kimmy kembai berkerut heran. "Tidak, kami tidak berpacaran. Kami hanya berteman. Tapi Chelia menginginkan lebih, tapi aku tidak bisa. Itu sebabnya pertemanan kami sedikit meregang."


"Oh ... berarti kau dan Nona Chelia selama ini tidak berpacaran?"


Daven menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.


"Aku kira kau dan Nona Chelia berpacaran, karna kalian sangat dekat sekali."


***


Tak lama kemudian, Jasson terlihat keluar dari salah satu ruangan. Tatapannya tiba-tiba kembali dingin saat dirinya mendapati  Kimmy tengah berbincang akrab dengan Daven, bahkan keduanya terlihat saling tertawa. Jasson sendiri tidak mengerti apa yang sedang mereka bicarakan. Tbh tegapnya pun mengajaknya  berjalan mendekati Kimmy dan juga Daven.


Namun, Bryen tiba-tiba menangis, membuat Kimmy merasa kebingungan. Daven segera beranjak dari duduknya dan mencoba membantu Kimmy menenangkan keponakannya itu.


"Kau terlihat sudah pantas sekali memiliki anak." Kimmy terkekeh, tatapannya berbinar kagum melihat Daven yang dengan telatennya menenangkan Bryen.


"Pekerjaan ini sudah biasa kulakukan saat kakakku sedang berkencan dengan suaminya."


Daven menggeleng-gelengkan kepalanya hingga membuat Kimmy tertawa.


"Kimmy!" Suara Jasson tiba-tiba menghentikan tawa Kimmy.


"Jasson, kau sudah selesai berbicara dengan Kakak Ken?" tanya Kimmy sesaat setelah dirinya menoleh ke Jasson sembari mengulas senyumannya.


"Hem, ayo kita pulang!" Jasson dengan kasar merampas tangan Kimmy dan meletakan di genggamannya.


"Jasson, Kimmy, ayo kita makan malam dulu," ajak Ken yang berjalan mendekati mereka.


"Kalian mau pulang?" kenapa terburu-buru?" timpal Alana yang terlihat berjalan keluar dari dapur dan menghampiri mereka.


"Jasson, Kimmy, ayo kita makan malam dulu. Makan malam sudah kami siapkan," pinta Alana seraya menghentikan langkahnya di depan Kimmy.


"Tidak usah, Alana. Aku sudah kenyang," jawab Jasson.


"Iya, Alana, Kakak Ken. Lain kali saja, ya, kami sudah kenyang karna tadi saat di hotel kami sudah makan," timpal Kimmy. Penolakan Jasson dan Kimmy pun tak bisa membuat Alana dan juga Ken memaksanya untuk tinggal terlalu lama di sana. Dan akhirnya, Kimmy dan Jasson pun berpamitan pulang, meskipun Elga sempat merengek karna ingin ikut bersamanya.


***


Jasson dan Kimmy kembali melakukan perjalanan pulang. Selama perjalanan, tidak ada percakapan ataupun suara musik hingga membuat suasana di dalam mobil serasa membeku.


"Kenapa Jasson daritadi hanya diam saja?" gumam Kimmy seraya menarik kedua ekor matanya melirik ke arah Jasson yang tengah fokus akan kemudinya.


"Ehm, Jasson apa kau yakin sudah kenyang? jika kau masih lapar, nanti setibanya di rumah aku akan memasakan makanan untukmu." Kimmy mencoba memulai percakapan, namun sialnya Jasson hanya membisu dan tak menghiraukannya.


"Jasson?"


"Hah, benar kata Jesslyn, keahliannya menjadi orang bisu kambuh lagi," umpat Kimmy sambil mencebikan bibirnya. Rasanya mulutnya ingin sekali mengutuki laki-laki itu setiap kali Jasson mendiamkannya seperti ini.


Setibanya di rumah, Jasson dan Kimmy turun  dari mobil. Jasson berjalan mendahului Kimmy untuk masuk ke dalam rumah tanpa menunggu atau menegurnya sama sekali. Ini sungguh tidak seperti biasanya.


"Kenapa dia? apa aku berbuat salah?" Kimmy merasa serba salah, hatinya dibuat resah dan bertanya-tanya akan suaminya yang tiba-tiba mendiamkan dirinya.


*


Saat di dalam kamar, seusai mengganti pakaiannya dari  kamar mandi, Kimmy mencoba mengajak Jasson berbicara kembali. Namun tetap saja Jasson tak menghiraukannya. Laki-laki itu hanya diam  membisu dan berpura-pura mencari kesibukan membaca buku di atas tempat tidur.


"Jasson, kau marah kepadaku?" Kimmy merangkak naik ke atas tempat tudur. Menyandarkan punggungnya dan duduk di samping Jasson. Namun Jasson masih saja tak menggubrisnya, ia masih sibuk membaca buku yang ia tumpu dengan kedua telapak tangannya.


"Jasson ...."


Kimmy yang merasa kesal tiba-tiba merampas buku yang dipegang oleh suaminya itu.  Tatapan dingin seketika itu dilayangkan oleh Jasson, saat ia menoleh ke arah Kimmy.


"Apa kau tidak melihat aku sedang membaca? kemarikan bukuku!" perintahnya dengan tatapan serius.


"Kau marah kepadaku?" tanya Kimmy. Tatapan mata wanita itu terlihat sendu, Jasson bisa melihatnya.


"Jika aku memiliki kesalahan, tolong maafkan aku," lanjutnya kemudian.


"Kembalikan bukuku!" pinta Jasson.


"Aku tidak mau mengembalikannya!"  Kimmy menyembunyikan buku itu di belakang punggungnya.


"Kimmy!"


Kimmy hanya terdiam dan menerima tatapan serta suara gusar Jasson yang ditujukan kepadanya. Ingin sekali Jasson membentaknya, namun ia merasa tak tega. Jasson mengalihkan pandangannya sembari mengembuskan napasnya dengan kasar.


"Bukannya kau sendiri yang bilang, kalau kita tidak boleh menyembunyikan sesuatu?" Perkataan Kimmy menarik kembali pandangan Jasson ke arahnya.


Jasson dibuat membisu dengan perkataannya  sendiri yang ia katakan kepada Kimmy siang tadi.


"Aku tidak marah kepadamu, tolong kembalikan bukuku." Suara Jasson kini kembali melunak, pun juga tatapannya.


"Kalau kau tidak marah kenapa kau mendiamkanku?" tanya Kimmy.


Jasson sejenak diam, bingung harus menjawab apa. Dirinya sendiri tidak tau kenapa ia tiba-tiba marah dan mendiamkan Kimmy setelah dirinya melihat keakraban istrinya itu dengan Daven.


"Aku tadi hanya lelah saja," bantah Jasson.


Kimmy rasanya tidak percaya dengan alasan itu. Tapi tidak masalah, setidaknya dirinya merasa lega, bahwa Jasson sudah mau berbicara dengannya.


"Hanya lelah?" tanya Kimmy memastikan.


"Hem!" Jasson menganggukan kepalanya dengan malas.


"Ya sudah, ambil ini dan lanjutkan membacamu. Maaf jika aku merampas bukumu!" Kimmy mengembalikan buku itu kepada Jasson.


"Aku sudah tidak berselera membaca buku!" Jasson merampas buku itu dari dari tangan Kimmy dan meletakannya di atas nakas. Kedua matanya beralih menatap Kimmy dengan tatapan tajam dan penuh mendamba. Kimmy merasa tidak baik.


"Sungguh berbahaya." Kimmy hendak mengangsur tubuhnya menjauh dari Jasson. Namun tangan Jasson dengan cepat mendekap wanita itu.


"Mau ke mana?" Jasson meninndih tubuh Kimmy. Tak membiarkannya lepas dari terkamannya. Wanita itu pun sudah paham akan apa yang setelah ini terjadi kepada dirinya.


"Ja-jasson, ka-katanya kau lelah?" Bibir Kimmy gemetar saat detak jantung memacu cepat denyut nadinya hingga membuat darahnya berdesir hebat.


"Tidak untuk yang satu ini." Jasson membenamkan ciuman di belahan bibir Kimmy, diikuti dengan tangannya yang mulai melepas kancing piyama Kimmy satu persatu. Dan percintaan mereka yang memanas kembali terjadi.