Oh My Jasson

Oh My Jasson
Tidak bisa menahan



Kimmy terlihat  berdiri di tempat yang sama dengan wajah yang masih berhamburan penuh air mata. Ya, setelah percakapan singkat dirinya dengan Alea, Kimmy merasa tidak baik. Tidak ada yang bisa mengertikan hatinya, kecuali dirinya sendiri. Dan Alea? wanita itu seolah seorang peramal yang bisa membaca hati orang lain. Padahal, yang dikatakan olehnya tentang perasaan Kimmy sama sekali tidak tepat. Kimmy bukan hanya baru mencintai Jasson, tetapi sudah sejak lama sebelum Jasson mengenal wanita yang bernama Alea itu. Sebelum Ia menyadari bahwa cinta ternyata bisa membuat dirinya yang semula manja menjadi wanita dewasa.


"Kimmy?" Suara seseorang yang tak asing seketika  menyadarkan Kimmy. Kedua matanya dikejutkan akan Jesslyn yang berdiri di ambang pintu.


"Jesslyn?" Kimmy segera menghindar dari pandangan Jesslyn yang kini tengah berjalan ke arahnya. Ia dengan segera menghapus air matanya yang masih menggenang di sana.


Jesslyn dengan kasar menarik tangan Kimmy untuk memastikan bahwa wanita itu baik-baik saja. Wajah Kimmy kini ditatap lekat olehnya. "Kau menangis?" tanyanya diikuti dengan kening yang berkerut.


"Tidak," bantah Kimmy. Ia mengulum senyuman supaya meyakinkan saudara ipar sekaligus sahabatnya bahwa dirinya sama sekali tidak menangis. Namun, kedua matanya tidak bisa membohongi siapapun.


"Bohong!" sergah Jesslyn. "Siapa yang membuatmu menangis? katakan kepadaku!" Ia beralih mengguncang kedua bahu Kimmy, mendesaknya supaya berbicara.


"Aku tidak menangis, Jesslyn."


"Jelas-jelas aku melihatmu menangis. Lihatlah, matamu saja merah! Kau habis menangis!" Jesslyn meyakinkan dirinya sendiri.


"Aku tidak menangis, Jesslyn. Aku Hanya kemasukan debu."


"Bohong!" seru Jesslyn. "Ayo katakan kepadaku, siapa yang membuatmu menangis? apa Jasson?"


"Bu-bukan, bukan Jasson."


"Jesslyn, kenapa kau sangat berisik? suaramu terdengar sampai di luar ruangan!" Suara Jasson menyita perhatian keduanya untuk menoleh ke arah sana.  Laki-laki itu terlihat berjalan masuk dengan tubuh tegapnya sembari menenteng beberapa berkas di salah satu tangannya. Langkahnya terhenti tepat di depan Jesslyn dan juga Kimmy. Matanya bergantian menyoroti kedua wanita itu.


"Kau?" Jesslyn tiba-tiba menarik kerah kemeja Jasson hingga membuat laki-laki itu terkesiap begitupun dengan Kimmy.


"Jesslyn, apa yang kaulakukan?" Kening Jasson berkerut dalam, diikuti dengan kedua alisnya.


"Jesslyn!" Kimmy mencoba menjauhkan sahabatnya itu. Namun, usahanya sia-sia. Jesslyn dengan kasar menepis tangan Kimmy.


"Kau membuat Kimmy menangis, kan?" bentak Jesslyn sambil mengguncang tubuh saudaranya itu. Sungguh bar-bar sekali wanita ini jika urusan berkelahi.


"Lepas!" perintah Jasson, suaranya terdengar gusar dan penuh peringatan.


"Kau berani sekali membuat Kimmy menangis!" Jesslyn tak mengindahkan perintah Jasson dan malah mencengkram kuat kerah kemeja saudaranya tersebut, menandakan bahwa dirinya siap untuk bergelut. Ya, setelah Jasson menikah, rasanya Jesslyn lama sekali tidak bertengkar dengannya seperti ini.


"Jesslyn, jangan seperti ini. Jasson tidak melakukan apapun!" Kimmy mencoba kembali menjauhkan tangan Jesslyn dari Jasson. Namun, usahanya lagi-lagi sia-sia.


"Jauhkan tanganmu!" bentak Jasson. "Kenapa kau jadi liar seperti ini?"


"Aku menjadi liar karna dirimu! Kau memang  pembuat masalah. Bisanya hanya membuat orang menangis! Apa kau tidak puas dulu sering membuatku menangis? Dan sekarang kau berani sekali membuat Kimmy menangis!"


Kimmy seketika menjadi kebingungan, Jesslyn sama sekali tidak mempedulikan perkataannya.


"Aku tidak tau maksudmu!"


"Kau sudah membuat Kimmy menangis dan sekarang kau  berpura-pura tidak tau? Kau akan berhadapan denganku jika kau berani macam-macam atau menyakitinya!" bentak Jesslyn. Jasson melekatkan telapak tangannya di wajah Jesslyn dan segera menjauhkan saudaranya tersebut.


"Siapa yang membuat Kimmy menangis?" Jasson menghempas pelan tubuh Jesslyn hingga tangan wanita itu terlepas dari kerah kemejanya.


"Kau!" Jesslyn meletakan kedua tangannya di atas pinggang dan menatap Jasson dengan tatapan sengit.


Jasson mengalihkan pandangannya ke arah Kimmy. "Apa benar kau menangis?" tanyanya penuh selidik. Kimmy hanya menggelengkan singkat kepalanya, masih membantah.


"Aku tidak menangis."


Jesslyn menoleh ke arah Kimmy. "Kimmy, jelas-jelas kau tadi menangis!" serunya penuh keyakinan.


"Kan aku tadi sudah bilang, mataku hanya kemasukan debu."


"Bohong, Jasson, dia tadi menangis, aku melihatnya sendiri." Jasson masih tak mengalihkan pandangannya dari Kimmy. Tatapannya kembali dingin dan penuh selidik hingga membuat Kimmy membeku.


"Lupakan ini, ada apa kau kemari?" tanya Jasson sesaat setelah mengalihkan pandangannya kembali kepada Jesslyn.


"Tapi, Jasson?"


"Lupakan!" Jasson memelototi Jesslyn hingga membuat wanita itu mencebikan bibirnya dengan kesal. "Katakan, ada apa kau kemari?" tanyanya lagi.


"Aku disuruh oleh kakak memberikan berkas ini kepadamu." Jesslyn menyodorkan berkas yang ia pegang itu kepada saudaranya.


Jasson menerima berkas itu dari tangan Jesslyn. "Terimakasih," ucapnya.


"Kalau tidak ada keperluan lagi, cepat pergilah!" perintah Jasson. Namun, Jesslyn tak mengindahkan perintah Jasson. Ia menatap wajah saudaranya itu dengan tatapan penuh peringatan.


"Kau mengusirku?"


"Iya! Cepat pergi dari sini!" perintahnya kembali. Namun, Jesslyn masih menatap Kimmy dengan asumsinya sendiri.


"Kenapa masih di sini?"


"Iya, aku pergi! Awas kau jika berani menyakiti Kimmy! Kau akan berhadapan denganku, dan aku akan mengaduhkannya kepada papa dan kakak agar kau dimarahi!" ancam Jesslyn sembari menegaskan jari telunjuknya yang seketika ditangkup oleh tangan Jasson.


"Aduhkan, aduhkan semamu! Cepat pergi dari sini!" seru Jasson.


"Iya, Jesslyn. Kau hati-hati." Kimmy meraih tubuh Jesslyn dan sejenak saling memeluk satu sama lain.


"Awas kau!" Jesslyn kembali memelototkan kedua bola matanya kepada Jasson, sebelum akhirnya, wanita itu benar-benar pergi dari sana.


***


Setelah Jesslyn meninggalkan ruangan itu. Keheningan tercipta di antara mereka berdua. Hanya terdengar suara sepatu Jasson yang membentur lantai; laki-laki itu kini berjalan ke arah Kimmy.


Jasson menatap Kimmy yang sedang menundukan pandangannya ke bawah sambil menggigit bibir dalamnya kuat-kuat karna takut akan Jasson yang akan memarahinya. Laki-laki itu  sudah melayangkan pertanyaan-pertanyaan dari tatapan dinginnya.


"Maafkan aku, Jasson. Karna aku, Jesslyn jadi menduhmu yang tidak-tidak. Maafkan aku." Kimmy menyembunyikan rasa ketakutannya. Jasson hanya diam. Diangkatnya dagu wanita itu hingga wajahnya ditatap lekat-lekat olehnya.


"Kenapa kau menangis?" tanya Jasson, suaranya melunak. Tidak seperti yang dibayangkan oleh Kimmy bahwa laki-laki itu akan berbicara kasar atau memarahinya. Kedua mata perak mereka saling terkunci.


"Tidak, aku tidak menangis."  Kimmy masih saja membantah.


"Kau salah orang jika berbohong kepadaku ataupun Jesslyn," ujar Jasson.


"Katakan, kenapa kau menangis?" tanya Jasson sekali lagi, tangannya membelai pipi wanita itu dengan lembut.


Kimmy hanya diam. Menatap Jasson dengan tatapan dalam. Ada kilatan yang melapisi kedua bola mata wanita itu. 'Aku mencintaimu' rasanya ingin sekali kalimat itu ia ucapkan kepada Jasson. Namun, sesuatu seakan tercekat di tenggororkannya, hingga ia sulit sekali untuk berkata seperti itu. Tanpa menjawab pertanyaan Jasson, ia tiba-tiba membenamkan tubuhnya ke dalam pelukan lelaki itu. Air matanya kembali menggenangi wajahnya tanpa ada rasa malu.


"Kimmy ...." Jasson hendak menarik tubuh Kimmy menjauh darinya. Namun, Kimmy semakin mempererat pelukannya. Ada ketakutan tersendiri di dalam hati wanita itu, hingga ia tidak bisa mengontrol emosinya ataupun mengingat bahwa dirinya  harusnya  berpura-pura untuk tidak menunjukan perasaanya kepada Jasson, tetapi rasanya sangat sulit sekali. Perasaannya terlalu sakit untuk memendam ini semua terlalu lama hingga kini rasanya meledak dengan sendirinya dalam bentuk air mata. Terlebih lagi, saat dirinya mendapat kebenaran bahwa Alea juga menyimpan perasaan kepada suaminya; laki-laki yang mendekap tubuhnya saat ini.


"Jangan melihatku."


Jasson  berhasil menarik tubuh Kimmy saat ia merasakan kemeja yang ia kenakan semakin lama semakin basah. Ia  menatap wajah istrinya  yang dipenuhi dengan air mata.


"Kau kenapa menangis? apa aku membuat salah kepadamu?" tanyanya sedikit panik, mencoba membaca isi hati wanita itu dengan menatap dalam sumber air matanya berasal.


Kimmy hanya menggeleng kepalanya sebagai jawaban.


"Ayo kita duduk dulu." Jasson mengajak Kimmy terlebih dulu untuk duduk. Setelah keduanya saling mendaratkan tubuhnya di atas sofa. Jasson kembali mengintrogasi istrinya yang air matanya masih tak kunjung surut juga.


"Aku kan sudah bilang, jangan ada yang disebunyikan! Katakan ada apa?" Suara Jasson kembali terdengar angkuh, diikuti dengan ibu jarinya yang berusaha mengeringkan wajah  istrinya.


Kimmy menatap lekat-lekat kedua bola mata Jasson yang mendesaknya untuk segera berbicara.


"Aku—"


"Apa? katakan kepadaku, kenapa kau menangis?" desak Jasson.


"Permisi." Suara aeorang wanita yang tak lain Alea diiringi dengan ketukan di pintu ruangan yang terbuka lebar itu seketika mengalihkan perhatian Kimmy dan juga Jasson untuk menoleh ke arahnya.


"Masuklah!" perintah Jasson. Kimmy dengan cepat menghapus air matanya. Tatapan matanya kini bertemu dengan Alea. Mata wanita itu terlihat sama sembabnya, mungkin Alea juga menangis.


Alea mengalihkan pandangannya kepada Jasson. "Tuan Jasson, anda ditunggu oleh Tuan Andreas."


"Astaga, aku lupa." Jasson menepuk dahinya.


"Kimmy, tunggulah di sini, aku mau kembali menemui rekanku," ujarnya setelah tatapannya beralih kepada Kimmy.


"Kau masih memiliki hutang jawaban kepadaku," lanjutnya sembari mengusap lembut pipi Kimmy, Alea mengalihkan pandangannya karna tidak ingin melihat pemandangan yang ia rasa sangat menyakitkan ini.


Kimmy menganggukan kepalanya dan berkata, "Iya."


"Jika kau lapar, haus  atau menginginkan sesuatu, kau bisa meminta tolong kepada office girl yang bertugas di lantai ini."


"Jangan ke mana-mana sebelum aku kembali, kau mengerti?"


"Iya, kau ini cerewet sekali," Kimmy mengulas senyumannya. Jasson pun merasa lega meskipun rasa penasaran masih meliputi pikirannya.


Jasson beranjak berdiri, ia mendekati meja kerjanya untuk mengambil beberapa dokumen yang ia butuhkan sembari disibukan berbincang dengan Alea. Senyuman tak tertinggal di raut wajah lelaki itu. Kedua mata Kimmy tak melepaskan keakraban mereka dari pandangannya. Meskipun Kimmy tau, mereka tengah membicarakan tentang  pekerjaan, tetapi tetap saja, hatinya begitu egois mencemburui suaminya dengan Alea. Kimmy tetap mematung, tatapan mata sendunya mengawasi gerak tubuh Jasson dan Alea yang kini sudah lenyap dari pandangan matanya.


"Apa aku harus mengutarakan perasaanku kepada Jasson?" Kedua mata Kimmy berkaca-kaca.


"Tidak ..." Pikirannya memberontak. Namun, hatinya bersikeras untuk mendorongnya supaya mau mengungkapan perasaannya.


"Tetapi aku sungguh tersiksa. Aku sudah berusaha untuk tidak terlalu mengharapkannya, tetapi sikap Jasson selalu saja membuatku gagal untuk menyembunyikan perasaanku. Terlebih lagi setelah malam di Bali waktu  itu."


Kimmy kembali mengingat pengalaman pertamanya saat berbagi malam dengan Jasson waktu di Bali. Hingga keinginannya untuk pergi melanjutkan pendidikan di luar negeri seakan sudah terlupakan karna hatinya sudah terikat sepenuhnya untuk tidak bisa jauh dari laki-laki itu.


.


.


.


.


Nona usahain bulan ini Jasson tamat, ya. Kalau kalian menyukai cerita Jasson dan Kimmy, jangan lupa untuk selalu beri dukungan Like dan juga Vote. Terimakasih. ^_^