
"Aku juga tidak tau kenapa Kimmy bisa terkunci di toilet basement. Besok senin aku akan mencaritaunya." Jawaban itu serasa menggelegak di tenggorokan Chelia dan Alea. Ketakutan seketika menyergap wajah kedua wanita itu. Terlebih lagi Chelia yang tak henti mengutuki Alea berulangkali karena kecerobohannya dalam bicara.
"Basement kan sudah lama tidak dipakai, Jasson? mungkin saja pintu toiletnya rusak hingga Kimmy terkunci di dalam sana," ujar Daven.
"Iya, bisa jadi pintunya rusak." Chelia menimpali dengan penuh keyakinan.
"Sekalipun toilet basement jarang digunakan, tetapi office boy selalu melakukan perawatan setiap hari, jadi itu sangat tidak mungkin." Jasson mengalihkan pandangannya kepada Alea yang wajahnya terlihat memucat dan sedaritadi hanya diam tanpa banyak bercakap seperti biasanya. "Kecuali memang sengaja ada yang merusaknya."
"Lupakan masalah Kimmy. Aku akan mencaritahunya sendiri besok."
Jasson mendaratkan tubuhnya untuk duduk di samping Alana; persisnya di depan Alea, saat kakak iparnya itu menyuruhnya untuk duduk bergabung dan berbincang sebentar. Sebuah pitcher yang digenangi air es dengan perasan jeruk limau dan juga beberapa gelas yang tertata di atas meja yang kini menjadi pembatas antara duduknya dan juga Alea, menjadi sorotan mata Jasson saat ia kembali disadarkan akan tenggorokannya yang terasa gersang. Ia meminta izin kepada Alana untuk meminumnya. Dan Alana pun mengizinkannya.
"Kimmy di mana sekarang, Jasson?" tanya Alana.
Jasson sejenak menikmati seteguk air es jeruk limau untuk menyejukan tenggokannya, sebelum kemudian ia menjawab, "Dia sedang tidur."
"Sesore ini? kenapa cepat sekali Kimmy tidur?"
"Ya, karena dia kelelahan." Jawaban Jasson membuat semua mata menatapnya dengan penuh salah arti.
"Maksudku, seharian Kimmy mengajak Elga bermain. Bahkan Elga selalu minta digendong olehnya. Itu sebabnya dia kelelahan." Jasson kembali meneguk minuman segar itu.
"Itu sebabnya kau membujuk Elga dengan membuatkannya adik bayi?" bisik Alana supaya suaranya tidak terdengar oleh yang lain. Kedua mata Jasson dibuat membulat penuh akan perkataa Alana. Ia terbatuk-batuk saat air jeruk limau itu nyaris meluncur ke dalam tenggorokannya.
Jasson meletakan gelas kaca yang masih menyisakan sedikit air yang tergenang di sana.
"Elga memberitahumu?" tanyanya dengan sedikit panik.
"Bukan hanya aku saja!"
"Siapa saja yang diberitahu olehnya?"
"Aku, Ken, dan ...." bisik Alana.
"Dan siapa?"
Jasson mengikuti gerak ekor mata Alana yang mengarah kepada Alea.
"Alea." Kedua mata Jasson semakin membulat penuh hingga menampakan warna terangnya. Ternyata keponakannya tidak sedewasa yang ia kira untuk mengartikan arti dari sebuah kata rahasia.
"Alana, aku membohongi Elga. Tadi aku hanya membujuknya supaya dia tidak mengganggu Kimmy beristirahat," bantah Jasson. Tatapannya penuh kebohongan, Alana bisa membacanya. Ia masih setia dengan suara pelannya supaya percakapannya dengan Alana tidak didengar oleh Daven dan yang lainnya yang saat ini ini juga sedang sibuk berbicara.
"Tapi justru kau yang malah mengganggu istirahat Kimmy!" Alana tersenyum sarkastik. "Kau pikir aku tidak tau!"
"Sialan ...."
"Apa Kimmy yang berbicara seperti itu kepadamu?" tanya Jasson.
"Tidak." Alana menggeleng singkat kepalanya. "Katamu Kimmy sedang tidur. Mana mungkin dia berbicara kepadaku."
"Oh, iya."
"Lalu kenapa kau bisa tau?"
"Ya tentu saja tau. Karena kakakmu juga seperti itu! Dia selalu mengkambing hitamkan Elga sebagai pengganggu, padahal pengganggu yang sebenarnya adalah dia!" seru Alana suaranya terdengar kesal.
"Lain kali jangan mengajari anakku berbicara yang tidak-tidak. Karena terlalu banyak bergaul dengan Jesslyn, dia selalu bertingkah seperti orang yang sudah dewasa."
"Maafkan aku. Aku pikir Elga bisa menjaga rahasia."
"Jesslyn saja tidak bisa menjaga rahasia, apalagi Elga," cebik Alana merasa kesal dengan setiap jawaban adik iparnya.
***
Semilir angin mengoyak jendela kamar hingga mengayun-ayunkan tirai yang menggantung di sana. Dinginnya terasa menusuk ke kulit hingga tulang sekaligus. Membuat Kimmy terbangun dari tidur singkatnya saat sisi tempat tidur itu terasa lapang ketika ia raba. Kimmy menarik tubuhnya. Beranjak duduk saat tak mendapati Jasson di sampingnya.
"Di mana Jasson?" Kimmy mengedarkan pandangannya ke setiap sudut kamar sambil membalutkan kembali selimut ke tubuh polosnya yang tersingkap sebagian karena merasa kedinginan. Diambilnya piyama miliknya yang tergeletak di sekitar tempat tidur. Ia kenakan piyama tersebut. Sebelum kemudian, wanita itu beranjak turun dari sana dan mencari Jasson yang tak ia ketahui keberadaannya.
Kamar mandi menjadi tempat tujuan utama Kimmy untuk ia periksa. Namun, ia tak mendapati suaminya itu di dalam sana.
Kimmy menarik langkahnya keluar dari kamar saat suara cekikian menyelinap di telinganya. Ia menghentikan langkah kakinya di lorong dekat kamar yang ia tempati saat melihat Jasson tengah duduk bersama Alea dan juga yang lainnya di ruang tamu.
"Kenapa Nona Alea ada di sini?" Kimmy mematung tanpa pergerakan sedikitpun. Perbincangan akrab dan tawa di antara mereka terasa begitu menyakitkan saat ia dengar. Terlebih lagi saat suara Alea dan Jasson terdengar saling bersahutan. Sesuatu terasa memenuhi di dadanya. Kimmy mengurungkan niatnya untuk menemui suaminya tersebut. Dan ia lebih memilih kembali masuk ke dalam kamar dibanding keluar menemui Alea yang pasti akan membuat dadanya kian menyesak.
"Dia tidak akan pernah bisa menjauhi Nona Alea." Kimmy melemaskan tubuhnya di atas tempat tidur seraya memejamkan kedua matanya.
***
Alea dan Chelia mengakhiri perbincangannya dengan Alana, Daven dan Jasson. Kedua wanita itu tau diri untuk segera berpamitan pergi. Setelah kepulangan Alea dan Chelia, Jasson berpamitan kepada Alana dan Daven untuk kembali ke kamar. Ia mendapati Kimmy duduk tercenung di atas tempat tidur. Tatapan sendu menerkamnya saat pintu kamar baru saja ia buka.
"Kenapa sudah bangun?" Pertanyaan itu diikuti dengan seulas senyuman yang melesat di kedua sudut bibir Jasson. Jasson menutup rapat pintu itu dan berjalan menghampiri Kimmy yang hanya diam dan tidak menjawab pertanyaannya.
"Kau dari mana?" tanyanya dengan datar saat lelaki itu mendaratkan tubuhnya untuk duduk persis di sampingnya.
"Dari ruang tamu." Beberapa sulur anak rambut yang membingkai wajah Kimmy diselipkannya di belakang telinga.
Kening Jasson berkerut, bagaimana istrinya itu bisa tau? pikirnya.
"Ehm, kau tau jika Alea datang kemari?"
"Kau menyuruhnya kemari?" Tatapan Kimmy penuh selidik. Air mukanya datar, tidak ada senyuman yang terselip di setiap pertanyaan yang ia ajukan kepada Jasson. Wanita itu sekarang menjadi sensitif setiap kali mendengar nama Alea, apalagi melihatnya. Seakan Alea kini menjadi sebuah ancaman baginya.
"Tidak."Jasson menggelengkan kepala dengan meyakinkan. "Aku sama sekali tidak menyruhnya kemari. Bahkan aku tadi tidak tau kalau Alea kemari."
"Lalu kenapa dia bisa kemari?" Kimmy masih tak henti menyerangnya dengan pertanyaan-pertanyaan itu.
"Dia kemari karena mengantarkan Chelia bertemu dengan Daven."
"Dan saat kau tau Nona Alea kemari, kau langsung keluar kamar dan menemuinya?"
Jasson menghela napas panjang. Bingung harus menjelaskan kepada istrinya. Ia tau bahwa Kimmy saat ini sedang cemburu.
"Tidak seperti itu. Aku keluar kamar karena aku ingin mengambil minum di dapur, dan aku tadi tidak sengaja melihat Alea dan Chelia sedang mengobrol bersama Alana dan Daven. Alana menyuruhku untuk duduk dan ikut mengobrol bersama, tidak mungkin, kan, aku menolaknya."
"Oh ...." Kimmy mengangguk-anggukan kepalanya seolah dirinya bisa menerima jawaban Jasson, padahal dalam hatinya tidak.
"Baiklah ..."
"Aku mau melanjutkan tidurku." Kimmy merebahkan tubuhnya dan menarik selimut tebal berbulu itu hingga membalut di sebagian tubuhnya. Jasson menganggukan kepala dan memberi usapan di kepala Kimmy. Ia ikut merebahkan tubuhnya di samping istrinya itu, namun Kimmy justru malah berpindah posisi dengan tidur membelakanginya saat Jasson hendak melingkarkan tangan di tubuhnya.
"Apa dia marah." Jasson mengusap kasar wajahnya diikuti dengan decakan kecil, nyaris tak terdengar. Bingung harus berkata apa. Dia sungguh tidak pandai merayu atau membujuk wanita.
"Kau marah kepadaku?"
"Tidak."
"Lalu kenapa tidur membelakangiku?"
"Aku mengantuk!"
"Aku bukan Elga yang harus kau beri tau jika sedang mengantuk! Tapi apa pantas tidur membelakangiku seperti itu?" Diamnya Kimmy sudah bisa Jasson simpulkan bahwa istrinya itu tengah marah terhadapnya.
Jasson menghela napas. "Kimmy ...." panggilnya dengan penuh rayuan. Padahal, Jasson tidak pernah seperti ini sebelumnya.
"Aku mengantuk!"
"Apa kau tidak mau memelukku?" Seulas senyuman melesat di salah satu sudut bibir Jasson, mengoyak hati Kimmy yang semula ingin mendiamkan suaminya untuk beberapa saat.
Kimmy mengatupkan erat bibirnya. Ia menarik kedua ekor matanya berusaha melihat Jasson. Namun pandangannya tak mampu menjangkau laki-laki yang ia punggungi saat ini.
"Tidak!" sahutnya dengan suara yang terkesan dipaksa, namun penuh keyakinan. Padahal, sebenarnya, Kimmy ingin sekali tidur sambil memeluk suaminya itu.
"Yakin tidak mau tidur sambil memelukku?" tawarnya kembali hinga membuat Kimmy nyaris goyah dari pertahananya.
"Tidak ... tidak ... tidak! Aku tidak mau!" Kimmy menyahut dengan penuh penolakan sambil menarik selimutnya lebih ke atas.
Jasson berkelakar. Ternyata istrinya tak kalah menggemaskan dari Elga jika sedang marah atau cemburu.
"Ya sudah, aku saja yang memelukmu." Jasson melingkarkan tangan dan membenamkan tubuh Kimmy ke dalam dekapannya.
"Selamat tidur." Beberapa ciuman Jasson tinggalkan di puncak kepala Kimmy yang seketika membuat hati wanita itu melunak. Sekali lagi Kimmy menyadari bahwa laki-laki itu benar-benar kelemahannya.
"Hah, menyebalkan sekali. Kenapa aku tidak bisa marah kepadanya?"
Dekapan hangat itu membuat Kimmy tersenyum dan melupakan amarah dan rasa kesalnya terhadap Alea 'Meskipun tidak semuanya'. Kimmy mengubah posisinya menghadap kepada Jasson dan memebenamkan wajahnya di dada laki-laki itu. Tidak ada yang lebih nyaman selain pelukan suaminya, sekalipun ia tertidur di atas tumpukan kain sutra.
"Katanya tidak mau memelukku?" Suara dan tatapan mata Jasson seolah sedang menertawakan dirinya.
"Banyak bicara!" Kimmy memejamkan kedua matanya sambil mengeratkan pelukannya.
.
.
.
.
.
Kalau updatenya lama mohon dimaklumi, karena nulis ini ngga asal copy paste.
Ide memang datangnya setiap waktu, yang sulit itu menuangkan dan merangkainya menjadi sebuah bentuk tulisan yang enak dibaca.
Buat kalian yang ngga sabar nunggu, yang bisanya cuma ngeluh karena updatenya lama. Kalian bisa coba nulis cerita sendiri biar ngerti hehe.
Ini novel On going ya ... bukan novel End.
yang ngga sabar, baca tunggu tamat aja.