
Kucuran air yang mengalir dari kran menggenangi kedua telapak tangan Kimmy yang menengadah di bawahnya. Genangan air itu disapukan di wajahnya yang memang sengaja ingin ia basuh. Beberapa lembar tissue ia tarik untuk membantu mengeringkannya setelah itu.
Pantulan wajah pucatnya di cermin wastafel kini menjadi pusat sorotan matanya yang nyaris meredup. Mata itu terpejam singkat saat ia kembali mengingat baru saja telah menangani pasien kecelakaan yang sangat parah dari pasien-pasien yang pernah ia tangani sebelumnya. Tubuhnya bergidik. Tak bisa dipungkiri, meskipun Kimmy sudah cukup lama bekerja di dunia medis, ia masih saja sering pusing dan mual ketika melihat begitu banyak darah yang mengalir dari tubuh manusia. Sebenarnya, menangani pasien kecelakaan ialah hal yang sangat tidak ia sukai daridulu. Namun, Kimmy tetap bersyukur akan pekerjaannya. Pekerjaan yang telah mendarah daging di silsilah keluarganya.
Kimmy sejenak merapikan kemeja dan juga rambutnya setelah ia memutuskan akan meninggalkan toilet tersebut. Wajahnya kembali terpancar saat keluar dari sana. Setiap senyuman dan sapaan selalu ia tebarkan kepada siapapun yang sedang berpapasan dengannya.
Langkah kaki Kimmy yang semula berjalan dengan penuh semangat, kini diperlambat. Keningnya berkerut penuh tanda tanya saat kedua manik matanya yang berwarna perak kini memantulkan sosok wanita yang tengah berdiri di depan ruangannya dengan mengintip kaca yang melekat jadi satu di bagian atas pintu itu. Sososk wanita yang tidaklah asing.
"Nona Chelia ...." Tepukan di bahu membuat wanita yang tengah berdiri di depan ruangan Kimmy itu berjingkat penuh dengan keterkejutan. Ya, wanita itu Chelia. Wajahnya seketika memucat saat melihat Kimmy di sana.
"No-Nona Kimmy ... ma-maksudku Dokter Kimmy." Seulas senyuman gagal menyembunyikan rasa keterkejutan Chelia.
"Kau sedang apa di depan ruanganku?" Kerutan di kening Kimmy masih belum memudar, namun sudah membuat Chelia kelagapan untuk menyusun jawaban.
"Ehm, a-aku mencari Dokter Mark."
"Dokter Mark?" Chelia menganggukan kepala untuk membenarkan saat Kimmy mengulangi nama itu.
"Ruangan Dokter Mark bukan di lantai ini, Nona Chelia. Tetapi di lantai dua," ujarnya memberitahu. "Ehm, bukannya kau pasiennya Dokter Mark? Seharusnya kan kau sudah tau ruangan Dokter Mark?"
"Iya, aku tadi sudah memiliki janji bertemu dengan Dokter Mark. Tetapi dia tidak ada di ruangannya. Dan kata beberapa perawat, dia sering mengunjungimu di ruanganmu. Itu sebabnya aku mencarinya kemari."
"Iya, Dokter Mark memang sering sekali kemari menemuiku. Tapi aku rasa untuk saat ini dia tidak ada di sini. Mungkin dia sedang pergi ke kantin atau kalau tidak menemui pasiennya."
"Ehm ... iya, aku rasa mungkin juga seperti itu."
"Apa perlu kubantu untuk menghubunginya?"
"Tidak! Tidak usah. Aku akan menunggunya di ruang tunggu saja. Permisi." Chelia cepat-cepat berlalu pergi dari sana, meninggalkan Kimmy yang mematung di depan ruangan dengan tatapan yang masih terheran-heran. Ia tak melepaskan Chelia dari pandangannya, sebelum wanita itu benar-benar lenyap dari pandangannya.
***
Kimmy menyandarkan punggungnya di kursi. Matanya terpejam cukup lama untuk mengistirahatkan tubuhnya di dalam ruangan sembari menunggu Jasson menjemputnya. Entah jam berapa suaminya itu menjemputnya. Ia sendiri pun tidak tau.
Suara decitan pintu akibat seseorang mendorongnya, membuat Kimmy terbangun. Seulas senyuman menyambutnya di depan sana. Senyuman yang sungguh membosankan.
"Mark?" Kimmy tak membalas senyumannya. Rasanya enggan sekali bertemu dengan laki-laki itu. Mengingat, ia sangat tidak aman jika selalu dekat dengan Mark. Begitu pun suara Jasson yang memperingatinya seakan terngiang-ngiang untuk tetap menjaga jarak.
"Ternyata kau belum pulang?"
"Iya ..." sahut Kimmy. "Ada apa kau kemari?"
"Tidak apa-apa, aku mau menemuimu saja saat tau kau masih belum pulang." Tanpa disuruh, Mark mendaratkan tubuhnya duduk di kursi yang ada di depan meja kerja Kimmy. "Kenapa kau masih belum pulang?"
"Aku menunggu Jasson menjemputnya."
"Terlambat?"
"Dia ada pekerjaan penting."
"Perlu kuantarkan pulang?"
"Tidak perlu, Mark. Aku mau menunggu Jasson saja."
"Kalau begitu aku akan menemanimu sampai Jasson menjemputmu." Kimmy menatap Mark waspada. Bagaimana ia harus menolaknya?
"Ehm ... Mark, lebih baik kautinggalkan aku sendiri di sini. Aku tidak mau ada masalah dengan Jasson hanya karena dia salah paham nantinya."
"Kimmy, aku hanya ingin menemanimu saja di sini. Tidak lebih dari itu. Jasson tidak akan tahu. Jika dia sudah tiba di rumah sakit. Aku akan segera pergi." Paksaan Mark tak bisa membuat Kimmy menolak lagi. Ia pun terpaksa membiarkan laki-laki itu tetap berada di dalam satu ruangan bersamanya.
"Apa kau tadi tau kalau Nona Chelia mencarimu."
"Iya aku sudah menemuinya. Aku lupa kalau aku sedang memiliki janji dengannya." Kimmy tak membalas perkataan Mark. Kesenyapan terjeda di antara mereka berdua.
"Oh, iya, Kimmy. Apa kau jadi melanjutkan pendidikanmu di luar negeri?" Pertanyaan Mark membelah keheningan di sana.
Kimmy menghela napasnya. "Aku tidak tau."
"Bagaimana kau tidak tau?" Mark mengangkat salah satu alisnya. "Bukannya kau mau melanjutkan pendidikan supaya mendapat gelar sebagai dokter spesialis?"
"Lalu kau tidak jadi melanjutkan pendidikanmu?"
"Aku tetap melanjutkannya. Mungkin aku akan melanjutkannya di sini." Jawaban itu seakan sudah mantap untuk Kimmy ucapkan.
***
Jasson keluar dari ruangannya. Langkahnya dengan sengaja ia hentikan, saat ia mendapati meja kerja yang biasa digunakan oleh Alea sudah kosong tak tersisa satu barang sedikit pun di sana. Biasanya setiap kali ia keluar dari ruangan itu, senyuman Alea selalu menyambutnya dengan hangat. Begitu pun dengan keceriaan yang selalu terpancar di wajah wanita itu. Jasson menghela napasnya yang baru saja ia tarik panjang.
Jasson melanjutkan kembali langkah kakinya untuk menjemput Kimmy di rumah sakit. Namun, sebelum itu, ia terlebih dulu pergi basement untuk mencaritahu penyebab yang membuat Kimmy terkunci di dalam toilet yang ada di basement yang sudah lama tidak digunakan itu. Jasson berjalan dengan tubuh tegapnya menuju ke toilet basement saat lift baru saja membawanya turun ke sana.
Sebuah pintu toilet yang bagian atasnya terlihat rapuh dan sengaja di rusak, tergeletak di lantai yang ada di depan toilet tersebut. Kedua mata Jasson mengamati pintu itu.
"Pintu ini bukan rusak, tetapi memang sengaja dikunci." Jasson menepuk-nepuk telapak tangan saat debu dari pintu itu melekat di sana. Dia bisa menyimpulkan seperti itu karena kenop yang mengait pada tuas pintu bukan karena sudah berkarat. Melainkan memang karena dikunci.
"Siapa yang mengunci Kimmy di dalam toilet?"
Sesaat tercenung. Sibuk dengan asumsinya sendiri. "Apa office boy?"
"Semua pintu toilet dari dulu tidak pernah dikunci. Lalu untuk apa mereka menguncinya?"
Jasson masih dirundung akan rasa penasarannya. Ia meninggalkan ruang bawah tanah tersebut. Ia terpaksa mengulur waktu menjemput Kimmy untuk memanggil semua office boy dan office girl yang bekerja di perusahaan yang saat ini ia pimpin. Jasson bertanya kepada para office boy itu satu persatu tentang toilet basement yang sengaja dikunci. Namun, mereka sama sekali tidak merasa menguncinya karena memang sejak dari perusahaan itu dikelola sendiri oleh Papa Gio, semua pintu toilet tidak pernah dikunci dengan alasan apapun.
Jasson memanggil penjaga yang sempat menolong Kimmy saat terkunci di dalam toilet. Penjaga itu pun menjelaskan bahwa pintu memang sengaja dikunci. Itu sebabnya penjaga itu merusak pintu toilet dengan cara mendobraknya.
"Minta kepada teknisi untuk mengambil rekaman cctv hari jumat. Khususnya di basement," perintah Jasson kepada penjaga tersebut. "Besok berikan rekaman itu kepada saya."
"Semua cctv basement sudah dipindahkan di lahan parkiran depan, Tuan. Jadi, di basement tidak ada cctv," tutur penjaga itu, mengingatkan Jasson yang ternyata memang lupa bahwa sudah tidak ada cctv yang tersisa di sana.
"Oh, iya, aku sungguh lupa," ujarnya sambil menepuk dahi. "Tidak apa-apa, berikan saja semua rekaman cctv kantor kepadaku. Semuanya!"
"Baik, Tuan. Besok saya akan memberikan rekaman cctv kantor kepada Anda." Penjaga itu segera berpamitan untuk undur diri dari sana. Jasson termenung di dalam ruangannya sembari tangannya mengusap-usap dagu runcingnya yang ditumbuhi oleh bulu-bulu yang cukup kasar. Masih memikirkan terkuncinya Kimmy di dalam toilet.
"Jika memang sengaja ada yang mengunci Kimmy di dalam toilet. Aku tidak akan mengampuni siapapun itu." Rahang Jasson mengeras. Guratan-guratan melukis jelas di raut wajahnya. Menandakan bahwa laki-laki itu berucap dengan penuh amarah.
Jasson tersadarkan bahwa ia harus segera menjemput Kimmy. Ia bangkit meninggalkan tempat duduknya. Namun, saat langkahnya nyaris mencapai pintu ruangan. Ia tiba-tiba melihat Alea masuk ke dalam sana.
"Alea ...." Kening Jasson berkerut penuh tanya akan kedatangan Alea di sana. Bukannya wanita itu sudah meninggalkan kantor sejak tadi pagi?
.
.
.