Oh My Jasson

Oh My Jasson
Aku cemburu



Kimmy menyandarkan punggungnya di sandaran kursi mobil. Tatapannya kosong lurus ke depan, dadanya terasa sesak. Ingin sekali ia menangis. Tapi itu tidak mungkin.


Sementara Mario, kedua mata lelaki itu tak lepas memperhatikan Kimmy di sela-sela kefokusannya akan kemudi.


"Kenapa Jasson malah meninggalkanku? kenapa dia tidak mencariku?" Kalimat itu menggema berulang kali di kepala Kimmy. Kedua mata wanita itu terlihat berkaca-kaca. "Dia lebih mementingkan pulang bersama Nona Alea daripada diriku." Buliran air mata tiba-tiba lolos dari tempatnya saat Kimmy sudah tak kuasa menahan rasa sakit yang terasa menyesakan dada.


Kimmy melempar pandangannya ke arah luar jendela mobil menghindar dari Mario yang berusaha melihat wajahnya. Kedua ibu jarinya dengan cepat mengusap air mata yang menggenangi wajah cantiknya.


"Kimmy, apa kau baik-baik saja?" tanya Mario.


"Ya, aku baik-baik saja." Kimmy menarik kembali pandangannya saat dirasa air matanya telah mengering.


"Kau pasti belum makan. Bagaimana kalau kita mampir ke rumah makan sebentar?


"Tidak usah, Mario," tolak Kimmy. "Aku mau pulang saja. Jasson pasti menungguku," sambungnya dengan suara yang kian memberat.


"Menunggumu? bahkan dia tidak mempedulikanmu." Perkataan itu membuat Kimmy tertarik untuk mengalihkan pandangannya kepada Mario.


"Maksudmu?"


"Jika dia mempedulikanmu, kau tidak akan mungkin sampai terkunci di dalam toilet seperti itu!"


"Jasson tidak tau kalau aku terkunci di toilet basement."


"Seharusnya dia mencari tau. Bukan malah pulang bersama sekretarisnya!" sembur Mario. "Jangan-jangan dugaanku benar."


"Dugaan apa?" Kening Kimmy berkerut. Tidak sabar menunggu laki-laki itu menjawab pertanyaanya.


"Dugaan bahwa Jasson dan Nona Alea memiliki hubungan lebih dari sekedar atasan dan karyawan."


"Jangan berbicara sembarangan!" seru Kimmy. Ia merasa tidak terima akan tuduhan yang dilayangkan oleh Mario terhadap suaminya.


"Maaf jika asumsiku salah, tetapi itu  yang aku rasakan semenjak memiliki kontrak kerja sama dengan perusahaan Jasson. Jasson memperlakukan Alea sangat istimewa daripada karyawan lainnya."


"Karena Nona Alea sekretaris pribadinya. Dan dia juga teman baik Jasson!" sergah Kimmy.


Mario tiba-tiba tertawa hingga membuat Kimmy mengernyit kebingungan akan laki-laki itu.


"Ya, perselingkuhan memang diawali dari sebuah pertemanan," ujar Mario.


"Kimmy, aku memiliki sekretaris pribadi, dan dia adalah sepupuku sendiri. Sekalipun dia sepupuku, aku tidak pernah memperlakukannya dengan istimewa. Aku memperlakukan dia  seperti karyawanku yang lainnya. Tidak pernah menjemput atau mengantarkannya pulang, seperti yang dilakukan oleh Jasson kepada Nona Alea." Suara dan tatapan mata Mario penuh ketegasan.


"Hah, sudahlah, Kimmy, lupakan saja." Mario mengakhiri percakapan itu dan kembali fokus akan kemudinya.


Kedua mata Kimmy berkaca-kaca. Ia membenarkan perkataan lelaki itu. Kimmy menarik pandangannya ke luar jendela mobil. Kedua matanya terpejam singkat dan diikuti dengan embusan napasnya yang terasa berat. Ia membenarkan perkataan Mario. Rasa sakit dan ketakutan kini kian menjamah hatinya.


***


Alea terlihat cemas. Wanita itu berjalan  mondar mandir di dalam rumahnya; tepatnya di ruang tamu. Suara ketukan pintu mengagetkan wanita itu. Ia dengan segera membuka pintu rumahnya. Terlihat seorang wanita yang tak lain ialah Chelia tengah berdiri di sana dengan pakaian santai. Alea menyuruh wanita yang ia kenal dengan baik itu untuk masuk dan mempersilakannya duduk.


"Bagaimana?" tanya Chelia seraya mendaratkan tubuhnya untuk duduk di atas sofa. Diikuti oleh Alea yang memilih duduk bersebrangan dengannya.


"Aku tadi sudah melakukan sesuai perintahmu untuk menyuruh penjaga memeriksa toilet basement."


"Lalu?"


"Penjaga menemukan Nona Kimmy, untungnya dia baik-baik saja."


"Aku kan sudah bilang, dia pasti baik-baik saja. Seharusnya kita mengurungnya selama dua jam." Seulas senyuman melukis tipis di bibir Chelia yang telah dipoles liptick berwarna peach.


"Kau  sungguh gila, Nona Chelia!" bentak Alea. "Kalau tadi Nona Kimmy  sampai meninggal bagaimana?"


"Jangan membentakku!" Chelia membentak balik Alea. "Aku hanya ingin memberi dirinya sedikit pelajaran. Dan kita sudah sepakat membicarakan ini waktu di kantormu tadi!"


Ya, tadi saat Alea masuk ke dalam lift dan hendak mencari Kimmy di basement, ia berpapasan dengan Chelia yang kebetulan memiliki keperluan dengannya. Chelia pun terpaksa mengikuti Alea turun ke basement untuk mencari Kimmy. Pandangannya diedarkan, bulu kuduknya serasa berdiri saat basement itu terasa menyeramkan baginya.


Saat mengetahui informasi dari Alea bahwa basement itu sudah lama tak terpakai dan jarang ditapaki, sebuah niat buruk tiba-tiba  terbesit di pikiran Chelia.


"Aku tidak mau, Nona!" Suara Alea yang penuh penolakan terdengar menggema di basement itu saat Chelia menyampaikan rencana buruknya.


"Jangan berteriak!" Chelia membungkam mulut Alea dengan telapak tangannya, tatapannya penuh peringatan.


"Kita hanya menguncinya di dalam toilet selama satu jam saja." Chelia menjauhkan telapak  tangannya dari mulut Alea saat dirasa temannya itu sudah bisa ia kendalikan..


"Tidak, aku tidak mau."


"Alea, aku hanya mau memberi pelajaran kepada Kimmy. Karna Kimmy, hubunganku dan Daven jadi merenggang."


"Lalu apa hubungannya dengan Nona Kimmy?" seru Alea.


"Karena Daven menyukainya!" seru Chelia.  "Alea, kau jangan naive. Aku tau kau juga sangat tidak menyukai Kimmy. Karna kehadiran dia, kau tidak bisa dekat dengan Jasson seperti dulu  lagi, iya, kan?"


Alea mengalihkan pandangannya. Sejenak diam, lalu berkata, "Iya, aku memang tidak terlalu menyukai Nona Kimmy, tetapi aku tidak mau melakukan itu. Bagaimana kalau hal buruk terjadi terhadapnya, Nona!"


"Dia akan baik-baik saja di dalam sana! Percayalah kepadaku. Kita hanya menguncinya di dalam toilet satu jam saja."


"Tidak. Aku tidak mau!" Gelengan kepala Alea menguatkan penolakannya.


"Kau harus mau!" desak Chelia. Ia  mencengkram lengan Alea, pun tatapan mata penuh paksaan  dipertajam.


"Aku tidak mau melakukan itu, Nona. Kasihan Nona Kimmy."


"Kau tidak kasihan dengan adikmu?" seru Chelia. "Bagaimana kalau keluargaku menghentikan biaya kuliah dan juga cuci darah adikmu?" ancam Chelia. Alea seakan tidak bisa berkutik akan ancaman itu. Di dunia ini, keluarga yang  tersisa hanya adiknya saja; adiknya yang memiliki riwayat penyakit ginjal sejak usia remaja. Biaya cuci darah yang dilakukan setiap dua kali dalam seminggu memakan biaya yang  tidaklah murah. Gaji Alea bekerja selama satu bulan saja hanya mampu untuk membayar enam kali cuci darah.


"Apa kau lupa caranya membalas budi, Alea?" Suara Chelia menyadarkan Alea akan kebungkamannya. "Bibi dan Mamiku sudah terlalu banyak membantu keluargamu. Dan sekarang, untuk permintaan sekecil ini kau tidak mau melakukannya  untukku?"


"Tapi, Nona."


Seperti tidak memiliki pilihan lain. Alea pun akhirnya terpaksa menyanggupi perintah Chelia meskipun dirinya tidak tega  untuk mengunci pintu toilet  yang ia ketahui ada Kimmy di dalam sana. Alea berulangkali mengutuki dirinya sendiri. Meskipun dia benar-benar tidak menyukai Kimmy, dia tidak pernah berpikiran sedikitpun untuk melakukan niat buruk kepada wanita itu, tapi kali ini dia benar-benar terpaksa dengan menuruti perintah Chelia. Dengan penuh hati-hati, Alea  mengunci pintu toilet itu supaya tidak menimbulkan suara.


"Siapa di luar?" Suara Kimmy menyahut saat pendengarannya menangkap sebuah logam jatuh dari luar. Suara itu berasal dari kunci yang tidak sengaja Alea jatuhkan.


Namun, Kimmy  tak menghiraukannya. Ia sibuk membuang sampah-sampah yang masih mengendap di dalam perutnya selama berhari-hari.


***


Jasson sudah menanyakan kepada  Jesslyn, Alana maupun mertuanya tentang keberadaan istrinya itu, tetapi mereka sama sekali tidak ada yang tahu. Berulangkali nomer ponsel Kimmy ia hubungi, tetapi yang ia dapati tetap sama.


"Kimmy, kau di mana?" Jasson rasanya sudah hilang kesabaran. Ia benar-benar tidak tenang jika hanya berdiam diri di rumah tanpa mengetahui kabar akan keberadaan istrinya.


Dengan langkah yang penuh kecemasan. Jasson mengambil sebuah mantel yang digantung dengan hanger dari dalam lemari yang baru saja ia buka. Lalu, ia membalutkan mantel itu ke tubuhnya dengan tergesa-gesa.


Tangannya meraih kontak mobil yang tergeletak di atas nakas. Langkahnya yang panjang mengajak tubuh tegapnya keluar meninggalkan rumah untuk mencari Kimmy tanpa mengetahui tempat mana yang harus ia tuju terlebih dulu.


Jasson masuk ke dalam mobil yang pintunya baru saja ia buka. Tubuhnya mendarat untuk duduk di kursi kemudi. Namun, Jasson menarik kembali tubuhnya keluar dari dalam mobil, hingga kini kedua kaki laki-laki itu menjejak sempurna di tanah saat sebuah mobil yang tak asing berhenti tepat di halaman rumahnya.


Tatapannya yang semula dipenuhi kecemasan kini berubah menjadi dingin dan penuh amarah saat ia mendapati Kimmy turun dari mobil itu bersama Mario.


Jasson manarik kasar tubuh Kimmy dan menjauhkannya dari laki-laki itu. Tatapannya menakutkan  dan lebih dingin dari biasanya hingga membuat Kimmy menundukan pandangannya karena merasa ketakutan.


"Kau dari mana?" tanyanya gusar. Namun Kimmy hanya diam karna malas menjawab pertanyaan itu. Rasanya percuma jika menjawabnya. Itu sebabnya Kimmy memilih membisu.


"Jasson lepaskan aku!" Kimmy mencoba meronta saat merasa tangan Jasson terlalu kuat mencengkram lengan tangannya yang rapuh. Wanita itu masih menundukan pandangannya dan sama sekali tidak berani melihat ke arah Jasson, namun Jasson sama sekali tak mau melepaskannya.


Jasson mengalihkan pandangannya kepada Mario dengan tatapan tak ramah. "Kenapa kau masih tetap di sini? apa ada keperluan lagi?"


"Bisakah kau tidak kasar kepada Kimmy?" seru Mario. Tatapannya pun gusar saat melihat perlakuan Jasson.


"Dia istriku. Jadi terserah aku mau melakukan apapun kepadanya!" jawabnya dengan penuh emosi hingga tak menyadari bahwa tangannya semakin menyakiti lengan tangan Kimmy.


"Jasson, lenganku sakit." Kimmy mencoba menghindar dari cengkraman tangan Jasson. Namun, usahanya sia-sia. Emosi Jasson yang terasa meluap tak menghiraukannya.


"Jasson, lepaskan Kimmy!" bentak Mario.


"Kau siapa berani membentakku dan menasehatiku?" Jasson membentak balik rekan bisnisnya itu.  "Dan kau dengan seenaknya membawa istriku pergi dan pulang selarut ini? Apa kau tidak malu Tuan Mario?"


"Dan kau?" Jasson mengalihkan kembali pandangannya kepada Kimmy yang hanya diam dan berusaha keras supaya air matanya tidak menumpah. Tangannya  mencengkram kedua  bahu istrinya itu. Tatapan kecewa dan penuh amarah menghujam dalam di kornea matanya. "Apa kau juga tidak malu pulang bersama laki-laki yang bukan suamimu hingga selarut ini?" Bentakan Jasson menggelegar. Menyentak wanita itu hingga air matanya tak mampu terbendung lagi.  Namun hanya sedikit yang lolos dari sudut matanya. Bahkan cairan bening itu nyaris tak terlihat.


"Tidak tau malu? untuk apa malu?" Perkataan Mario menarik kembali perhatian Jasson untuk meninggalkan Kimmy dari pandangannya.


"Kau yang tidak tau malu!" seru Mario dengan penuh penekanan. "Istrimu terkunci di dalam toilet hingga nyaris kehilangan napas dan sekarang kau malah memerahai dan menuduhnya yang tidak-tidak."


"Kimmy terkunci di dalam toilet?"  Cengkraman tangan Jasson  meregang dari lengan  tangan Kimmy.  Hingga tubuh wanita itu memiliki kesempatan untuk meloloskan diri masuk ke dalam rumah.


"Kimmy ...." Jasson hendak mengejar istrinya, tetapi penjelasan dari Mario saat ini sangat ia butuhkan. Hinnga ia memilih untuk tetap berada di sana.


"Apa maksudmu? Kimmy terkunci di dalam toilet?"


"Suami macam apa dirimu? istrimu terkunci di dalam toilet basement dan  kau tidak tau?" Mario menggelengkan kepalanya dengan sarkastik. "Kau malah asik-asikan pulang bersama sekretarismu. Untung saja Kimmy tidak mati karna ada penjaga yang menemukannya di sana."


Perkataan itu membuat tubuh Jasson terhenyak dan begitu terkesiap. Dirinya benar-benar tidak mengetahui hal itu, dan malah memarahi Kimmy.


"Aku tadi  melintas di depan kantormu, dan tidak sengaja melihat Kimmy bersama penjaga di pos keamanan. Itu sebabnya sekarang aku mengantarkan Kimmy pulang kemari," ujar Mario.


"Kau pasti bertanya, kenapa kau tidak mengubungiku? Tanyakan saja kepada istrimu kenapa dia tidak mau menghubungimu, padahal aku dan penjaga sudah berulangkali membujuknya... Ya, mungkin dia kecewa kepadamu."


Mario berjalan mendekati Jasson. "Kalau kau tidak bisa menjaga istrimu dengan baik, lebih baik lepaskan saja. Di luar sana masih banyak laki-laki yang mau menjaga dan merawatnya dengan baik," tutur Mario seraya meninggalkan beberpa tepukan di bahu Jasson. "Salah satunya aku." Senyuman tipis di salah satu sudut bibir laki-laki itu.


"Kau jangan macam-macam!"


"Berdoalah agar Kimmy tidak menceraikanmu." Mario tertawa dengan penuh ledekan, hingga membuat amarah  Jasson semakin meledak.


"Kau!" Jasson menarik kerah kemeja yang dikenakan oleh laki-laki itu. Rahangnya mengeras, diikuti guratan-guratan di dahinya yang timbul  dengan jelas.


"Kau mau apa?" Mario masih tak melepaskan  tawanya. "Mau masuk surat kabar?"


Jasson seketika meredam emosinya dan menghempas tubuh Mario dengan kasar. Menyadari bahwa perkelahiannya dengan rekan bisnisnya akan memperburuk reputasi perusahaan keluarganya. Jasson lebih memilih menahan emosinya dan masuk ke dalam rumah.


***


Langkah Jasson berhenti di  dalam kamar. Ia melihat Kimmy berdiri memunggunginya. Isakan tangis wanita itu membelah keheningan di sana.  Air mata Kimmy berhamburan menggenangi wajah. Ia memegangi lengan tangannya yang terlihat memerah akibat tangan Jasson yang membekas di sana. Padahal Jasson tidak berniat untuk menyakitanya. Namun Jasson tidak menyadari itu, karna emosinya terlalu meluap.


"Kimmy ...." Sentuhan tangan Jasson terasa jelas di pungungnya. Kimmy hanya diam, ia dengan cepat mengusap air matanya dan hendak meninggalkan laki-laki itu untuk masuk ke dalam kamar mandi. Namun, tubuh Jasson berhasil menghalanginya.


"Kimmy maafkan aku, aku tidak tau kalau kau tadi terkunci di dalam toilet."


"Minggirlah ...."  Kimmy berusaha menyembunyikan wajahnya  dari pandangan Jasson.


Tangan Jasson menangkup kedua pipi Kimmy dan menatap lekat-lekat wajah istrinya yang sudah basah karna digenangi oleh air mata. "Kimmy maafkan aku, aku benar benar tidak tau jika kau terkunci di toilet basement."


"Kenapa kau tidak mencari tau? atau menungguku?" Suaranya terdengar sesenggukan.


"Aku kira kau tadi sudah pulang. Aku tadi sudah mencarimu. Aku juga menghubungimu puluhan kali, tetapi nomermu sulit sekali untuk kuhubungi. Dan--"


"Dan mengantarkan Nona Alea jauh lebih penting daripada aku?"


"Kau menyuruhku untuk tetap menunggumu di sana. Jadi aku tidak mungkin pergi ke mana-mana. Tapi kenapa kau malah meninggalkanku?" Air mata Kimmy semakin memecah, membuat Jasson tak kuasa melihatnya.


"Aku sudah bilang, aku tidak tau! Kalau aku tau mana mungkin aku meninggalkanmu di sana!" seru Jasson. Suaranya meninggi dari sebelumnya. "Kau pikir aku tidak mencemaskanmu? kau pikir aku tidak kebingungan mencarimu?"


Kimmy hanya diam, air matanya semakin mengalir deras melalui dagu runcingnya hingga membasahi kerah pakaian yang ia kenakan. Air matanya cukup mewakili akan apa yang dirasakan olehnya saat ini.


"Kimmy ...." Jasson menarik tubuh Kimmy dan membenamkan wanita itu ke dalam pelukannya, namun Kimmy mencoba menghindar.


"Lepaskan aku!"


"Kau marah karna Alea?" Pertanyaan dari laki-laki yang tidak peka itu membuat Kimmy merasa semakin kesal. Ia mengangkat dagunya. Bola matanya yang hampir tak terlihat kini memberanikan diri menatap Jasson.


"Iya, aku marah karna aku tidak suka melihatmu dengan Nona Alea, sekalipun dia hanya teman atau sekretarismu!" seru Kimmy. "Kau selalu memarahiku jika aku dekat dengan laki-laki lain, tetapi kau tidak pernah sadar kedekatanmu dengan Nona Alea membuatku selama ini sakit hati!"


"Aku sakit hati setiap kali kau dekat dengan Nona Aleaa. Aku cemburu ... aku sangat cemburu ... kau mengerti!" Air mata Kimmy semakin berhamburan menggenangi wajahnya. Jasson berusaha memeluk Kimmy. Namun pukulan-pukulan telapak tangan Kimmy mendarat berulangkali di dada Jasson, seakan pukulan itu  bisa mengurangi rasa sakit yang selama ini rasakan.


.


.


.


.