
Mobil yang Jasson kemudikan berhenti di depan sebuah rumah minimalis yang memiliki warna cat serba putih, hanya cerobong asap di rumah itu saja yang memiliki warna berbeda, yaitu warna bata. Rumah itu Kimmy yakini ialah rumah milik Alea yang saat ini menjadi tujuan Jasson, entah apa yang akan dilakukan oleh suaminya di sana, sampai sekarang Kimmy masih belum bisa mengetahuinya.
Tangan Jasson berhasil membuka pintu mobilnya, ia hendak turun, namun terurungkan saat dirinya masih melihat Kimmy terdiam di tempat tanpa mengubah posisi atau membuka pengait sabuk pengaman yang masih melilit di tubuhnya.
"Kenapa diam? ayo turun!" Perintah Jasson membuat Kimmy mengangkat kepala dan menoleh ke arahnya, lalu menggelengkannya pelan. "Aku menunggu di sini saja!" tolaknya.
"Turunlah, Alea hanya sendirian, aku tidak mau kau berpikiran macam-macam," ujar Jasson tanpa memandang ke arah Kimmy. Wanita yang telah menjadi istrinya itu sejenak membisu, kenapa Jasson bisa berpikiran seperti itu? pikirnya diikuti dengan kening yang sedikit berkerut.
"Kau lupa dengan kesepakatan yang kau buat sendiri?" Perkataan Kimmy membuat Jasson mengalihkan pandangannya ke arah wanita itu.
"Aku tidak akan pernah menuntut atau melarangmu pergi dengan siapapun, jadi kenapa kau takut aku berpikiran macam-macam?" sambungnya, kedua mata mereka saling beradu pandang menyirat penuh arti. Jasson mengakhiri pandangan itu dan segera turun dari mobil.
Kimmy memperhatikan Jasson yang ia kira akan masuk ke dalam rumah Alea, namun pikirannya salah. Suaminya itu malah membuka pintu mobil tempat dirinya duduk dan memaksanya untuk turun dari sana.
Kimmy tidak memiliki pilihan lain selain menuruti perintah suaminya. Meskipun sebenarnya, alasan terbesar yang membuat dirinya tidak mau turun dan ikut masuk ke sana ialah karna tidak ingin melihat kedekatan Jasson dengan Alea.
Kimmy dan Jasson berjalan beriringan, langkah mereka berhenti tepat di depan pintu kayu yang memiliki ukiran unik dan berwarna putih mendominasi dengan warna cat rumahnya. Jasson menekuk jemarinya dan mulai mengetuk pintu tersebut dengan punggung jarinnya.
Hingga ketukan yang ketiga kali, suara Alea terdengar menyaut dari dalam. Dan tak lama setelahnya, pintu pun terbuka. Senyuman menyeringai wajah Alea saat seseorang yang ia nantikan telah datang, namun senyuman itu sirna tatkala dirinya melihat Kimmy ternyata juga ikut bersama dengan laki-laki yang cintai.
"Selamat siang, Nona Alea." Kimmy mengulas senyuman dari bibir tipisnya, saat pandangannya bertemu cukup lama dengan sang pemilik rumah yang belum mempersilahkannya untuk masuk.
"Siang, Nona Kimmy." Raut wajah Alea mendadak menjadi masam, ia mengalihkan pandangannya kembali ke arah Jasson.
"Ayo silahkan masuk." Alea membuka lebih lebar lagi pintu rumahnya, berjalan menaduhului pasangan suami istri itu untuk memandu dan mempersilahkannya duduk di sofa yang ada di ruang tamu yang memiliki ukuran tidak terlalu luas tersebut.
"Kenapa Jasson mengajak Nona Kimmy?" Alea memandangi Kimmy yang baru saja mendudukan tubuhnya, kedua sudut bibirnya tertarik ke atas dengan paksa tatkala Kimmy tersenyum ke arahnya.
"Alea mana berkasnya?" tanya Jasson yang menyusul untuk mendaratkan tubuhnya duduk di samping Kimmy, laki-laki itu duduk berseberangan tepat di hadapan Alea.
"Ini berkasnya." Alea mengambil beberapa tumpukan berkas yang ternyata sudah ia siapkan sebelumnya di atas meja yang kini menjadi pembatas antara dirinya dan juga Jasson.
Jasson mengambil berkas itu dan mulai membuka halaman demi halaman. "Maaf, aku jadi menyusahkanmu karna pekerjaan dadakan ini."
"Tidak apa-apa, Jasson."
"Di mana paman Kin, Nona Alea? apa kau tidak tinggal bersamanya?" Pertanyaan itu terlontar dari mulut Kimmy setelah wanita itu cukup lama memperhatikan bangunan rumah milik Alea.
"Ayahku sudah meninggal dua tahun yang lalu, Nona Kimmy. Jadi sekarang aku tinggal bersama dengan adikku saja."
"Maaf, aku tidak tau kalau paman Kin sudah meninggal. Aku turut berduka cita," ucap Kimmy, wanita itu merasa sangat tidak enak hati kepada Alea.
"Tidak apa-apa, Nona Kimmy."
Alea berpamitan kepada Jasson dan juga Kimmy untuk pergi ke dapur. Kimmy menyandarkan punggungnya di sandaran sofa sembari kedua ekor matanya melirik ke arah berkas yang sedang dipegang oleh suaminya tersebut, cukup lama ia mengamati tulisan-tulisan kecil yang tergores dengan samar di atas kertas yang saat ini ia amati. Namun, Kimmy tiba-tiba mengalihkan pandangannya ke sembarang arah tatkala Jasson menyadari bahwa dirinya tengah diperhatikan.
"Na-na-na ...." Kimmy mengetuk-ngetuk tempurung lututunya dengan jari-jarinya, berpura-pura bernyanyi. Namun Jasson masih saja tak mengindahkan pandangan dari arahnya.
"Kenapa Jasson masih memandangiku."
Jasson tiba-tiba memberikan berkas yang ia pegang kepada Kimmy lalu mengalihkan pandangannya ke depan. "Kalau mau lihat isinya katakan! Jangan diam-diam mengamati."
"Siapa yang mengamati!" bantah Kimmy. "Aku tidak ingin melihatnya." Kimmy mengembalikan berkas itu kepada sang pemiliknya.
Alea terlihat keluar dari dalam dapur membawa nampan yang berisikan jus jeruk dan juga kopi, lalu meletakannya di atas meja tepat di depan Kimmy dan juga Jasson.
"Nona Kimmy, silahkan minumlah."
"Terimakasih, Nona Alea."
"Jasson minumlah dulu, aku membuatkan kopi Turki kesukaanmu."
Ekor mata Kimmy seketika menangkap sebuah senyuman di bibir Jasson saat sebuah ucapan terimakasih dilontarkannya kepada Alea, senyuman yang tidak pernah Kimmy dapatkan dari suaminya selama ini, wanita itu merasa begitu iri.
Kimmy mencoba mengalihkan pandangannya yang menyakitkan itu dengan meneguk jus jeruk yang baru saja dibuatkan oleh Alea untuknya.
°°°°
"Bagaimana menurutmu?" tanya Alea kepada Jasson.
"Aku tertarik, kapan kita bisa melakukan pertemuan dengan Mario?" tanya Jasson.
"Apa kau hari ini memiliki waktu? kalau kau ada waktu, kita bisa menemuinya sekarang juga. Karna besok Mario sudah kembali ke Amerika dan akan kemari dua bulan lagi."
"Apa dia mau melakukan pertemuan dan membicarakan masalah bisnis di hari minggu?" tanya Jasson.
"Dia justru malah menawarkan diri untuk bertemu sekarang, Mario kan teman sekolahmu dulu, jadi pasti obrolan kalian nanti tidak akan terlalu formal seperti obrolan dengan klien pada umumnya, kita sekalian menikmati kopi di cafe favorit kita."
"Baiklah, kalau begitu, kau hubungi Mario kita melakukan pertemuan sekarang."
Alea beranjak berdiri dari duduknya dan segera mengambil ponselnya yang tertinggal di dalam kamar untuk menghubungi klien yang akan menjadi calon rekan bisnis Jasson, namun kliennya kali ini ialah teman Jasson waktu sekolah dasar. Jasson sendiri lupa bagaimana wajah temannya itu, karna dirinya sudah lama tidak pernah bertemu dengan Mario sejak laki-laki itu memutuskan pindah sekolah di Amerika saat setelah kelulusan sekolah dasar.
"Kau tidak keberatan jika ikut denganku sebentar?" tanya Jasson kepada Kimmy yang sedaritadi hanya berdiam diri.
"Tidak, aku tidak keberatan. Tapi kalau pekerjaanmu ini bersifat sangat penting, aku akan pulang naik taxi saja, aku tidak mau mengganggumu."
"Tidak apa-apa, kau ikut saja denganku."
"Baiklah."
***
Kimmy, Jasson dan Alea tengah berada di dalam mobil melakukan perjalanan ke cafe yang kini akan menjadi tempat pertemuannya dengan Mario.
Alea terlihat duduk di kursi depan, tepatnya di samping Jasson, karena Kimmy tadi sempat memaksa wanita itu untuk di depan. Kimmy lebih memilih duduk di kursi belakang karna menyadari bahwa Alea membutuhkan komunikasi lebih dengan Jasson, perihal pekerjaan.
Meskipun tak bisa dipungkiri bahwa Kimmy sebenarnya terluka setiap kali melihat kedekatan Alea dengan suaminya.
"Jasson menyukai kopi turki, dia dan Nona Alea benar-benar sangat dekat, bahkan memiliki cafe favorit." Hanya karena sebuah kopi, kenapa hati Kimmy bisa sesakit ini? Kimmy memandang jalanan seraya tersenyum getir, tanpa menyadari bahwa sepasang mata sedari tadi sedang memperhatikannya dari balik kaca spion.
***
Setibanya di cafe,
Alea, Jasson, dan juga Kimmy berjalan bersamaan masuk ke dalam sana. Saat doorman membukakan pintu untuk mereka, seorang laki-laki yang diyakini Jasson dan juga Alea adalah Mario tengah melambaikan tangan ke arahnya.
"Itu sepertinya Mario," kata Alea kepada Jasson.
"Iya, sepertinya itu dia."
"Jasson, aku ingin pergi ke toilet," pamit Kimmy yang sudah tidak bisa menahan rasa ingin buang air kecilnya.
"Iya cepatlah!"
°°
Alea berjalan mendahului Jasson untuk memandunya menuju meja yang paling ujung sendiri, menghampiri laki-laki yang ia yakini ialah Mario.
Laki-laki tampan bertubuh tegap dengan kacamata coklat yang membalut kedua maniknya yang berwarna abu-abu, kini tengah berdiri dan tersenyum ke arah mereka.
"Apa anda, Tuan Mario?" tanya Alea sembari mengulurkan telapak tangannya kepada laki-laki itu, menunggu jabatan tangannya.
"Iya, Aku Mario." Mario seketika menjabat tangan Alea.
"Saya Alea, saya sekretaris pribadi Tuan Jasson. Dan yang selama ini berkomunikasi dengan anda dan sekretaris anda adalah saya," ujar Alea.
"Oh, kau Nona Alea. Dan ini Jasson?" Mario bergantian menjabat tangan Jasson.
"Iya aku Jasson. Kau benar Mario teman sekolahku dulu?" Jasson memastikan kembali, ia memperhatikan wajah laki-laki yang ia rasa sangat asing itu dengan seksama.
"Iya, Jasson. Apa kau melupakanku?" tanya Mario. "Dalam satu kelas, hanya aku yang memiliki rambut panjang, aku dulu sering sekali dihukum denganmu karna sering menggoda saudara kembarmu."
Jasson mengernyitkan keningnya, ingatannya seketika terkumpul kembali.
"Astaga, kau Mario itu? iya, aku baru mengenalimu. Maaf, aku sungguh lupa dengan teman-teman SD kita dulu, penampilanmu sungguh berubah jauh sekali. Aku bahkan hampir tidak mengenali wajahmu." Jasson tertawa diselingi dengan tepukan berbalas di bahu Mario.
"Haha, apa seburuk itukah aku dulu?"
"Tidak buruk, hanya sedikit hancur." Mereka saling tertawa.
"Maaf, Mario. Aku hanya bercanda."
"Tidak masalah, ayo kita duduk."
Mario seketika menghentikan niatnya untuk duduk, tatkala parhatiannya teralihkan ke arah Kimmy yang baru saja kembali dari toilet.
"Kimmy?" sapa Mario secara tiba-tiba, ia membuka kacamatanya hingga menampakan kedua manik matanya yang berwarna perak itu.
Kening Kimmy berkerut, merasa bingung, kenapa laki-laki di hadapannya saat ini mengenalinya. Masih tak menjawabnya, ia hanya diam dan menatap Mario dengan penuh tanda tanya. Jasson pun baru menyadari bahwa istrinya dulu juga satu kelas dengannya dan juga Mario saat kelas 4 sekolah dasar.
"Kau Kimmy, kan?" Mario berucap kembali, memastikan.
"Iya, kau siapa?" tanya Kimmy semakin dibuat bingung dengan laki-laki yang ia rasa asing itu.
"Aku Mario, kita dulu pernah satu kelas saat SD, apa kau mengingatku?"
"Mario?" kening Kimmy berkerut.
"Oh, kau ...."
"Kau sudah mengingatku?" tanya Mario.
"Iya, aku ingat," jawabnya sambil tersenyum.
"Kau apa kabar?"
"Aku sangat baik, bagaimana denganmu?"
"Kabar yang sama, aku juga sangat baik, kau sekarang bekerja di mana?" tanya Mario.
"Aku sekarang bekerja di rumah sakit dekat dengan jalan tol," jawab Kimmy.
"Kau seorang dokter?" tanya Mario, mata laki-laki itu berpendar kagum.
Kimmy menganggukan kepalanya sambil tersenyum. "Iya, hanya dokter umum. Tapi, kemungkinan tahun depan aku akan melanjutkan pendidikan untuk menjadi dokter spesalis."
"Wah, hebat," puji Mario. "Kau sekarang berubah, terlihat sangat cantik sekali." Mario tak henti memperhatikan Kimmy dan melontarkan begitu banyak pujian kepada wanita itu.
"Astaga, Mario memujiku cantik." Kimmy tersenyum dengan wajah yang bersemu merah, namun senyumannya menyusut saat ia tak sengaja melihat Jasson sedang menatapnya dengan tatapan dingin dan dan menyeramkan.
"Semua wanita itu cantik," balas Kimmy. Wajahnya terlihat datar, tak berani mengulas senyuman sedikitpun di depan laki-laki itu, bahkan ia tak berani melihat ke arah Jasson yang masih menatapnya dengan tatapan dingin.
"Padahal aku ingat, di kelas dulu kau yang paling kecil dan sering sekali ingusan." Mario tertawa mengingat Kimmy waktu kecil, bahkan tawanya terdengar sangat menjengkelkan.
"Kurang ajar sekali dia, habis memuji lalu mengataiku, apa maksudnya? mau mencari gara-gara denganku!" umpat Kimmy. Alisnya berkerut dalam menandakan wanita itu benar-benar kesal.
"Apa kau sudah menikah Kimmy?" tanya Mario kemudian sesaat tak mendapat balasan akan perkataanya.
"Sudah!" timpal Jasson secara tiba-tiba. "Kimmy sudah menikah denganku," sambungnya dengan mempertegas perkataanya.
"Kimmy istrimu?" tanya Marrio , laki-laki itu begitu terkesiap, karna ia tidak tau bahwa ternyata Jasson sudah menikah. Terlebih lagi, wanita yang menjadi istri Jasson ialah wanita yang ternyata ia kenal juga.
Jasson menganggukan kepalanya, lalu laki-laki itu berkata, "Jangan lupa dukungan like dan votenya, ya."