Oh My Jasson

Oh My Jasson
Tidak mau pulang



"Biar Elga bermain bersamaku, aku sedang tidak sibuk." Kimmy tersenyum hendak melanjutkan kembali langkahnya untuk membawa Elga  masuk ke dalam kamarnya. Namun, ia sejenak beradu pandang dengan Jasson. Suaminya itu selalu menatapnya dengan tatapan yang sama, tatapan yang sama sekali tidak pernah bisa ia terjemahkan. Elga tiba-tiba meminta Kimmy untuk berhenti karna ia masih ingin berbicara kepada Jasson.


"Paman Jasson tidak mau bermain bersama Bibi dokter juga di kamar?" tanya Elga, gadis kecil itu terlihat nyaman di gendong oleh Kimmy, mengangkat kepalanya yang semula bersandar di salah satu bahu Kimmy, namun tetap membiarkan kedua tangannya melingkar di leher wanita yang kini telah menjadi istri pamannya tersebut.


"Tidak, sayang. Kau saja yang bermain bersama Bibi," ucap Jasson seraya mengusap kepala keponakannya itu.


"Kenapa Paman tidak mau bermain bersama Bibi dokter?" Elga lagi-lagi mencebikan bibir mungilnya, terlihat semakin menggemaskan.


"Karna Paman Jasson setiap malam sudah bermain bersama Bibi dokter, Sayang." Suara ledekan itu menyaut dari mulut Harry diiringi dengan tawa meledek hingga membuat Jasson menoleh dan menerkam sajabatnya itu dengan tatapan yang cukup menyeramkan.


"Apa kau sudah bosan berbicara?" seru Jasson, suaranya terdengar datar namun penuh dengan ancaman.


Harry terkekeh takut, tawanya seketika menyusut. "Aku hanya  bercanda," sautnya tak berani lagi meledek. Jasson mengalihkan pandangannya kembali ke arah Kimmy dan juga Elga.


"Elga, Paman mau menemani bibi Alea dan paman Daven di sini, kau bermain saja bersama Bibi dokter."


"Baiklah. Bibi ayo bawa aku ke kamar." Elga kembali menyandarkan kepalanya di bahu Kimmy. Kimmy mengiyakan dan segera membawa keponakannya itu masuk ke dalam kamar dan mengajaknya untuk bermain boneka.


***


Selama Kimmy mengajak Elga bermain di dalam kamar, Jasson menyibukan diri untuk  mengobrol dan minum teh bersama Harry dan juga yang lainnya di ruang tamu. Obrolan mereka tak jauh dari buku dan juga film fantasy, karna mereka semua memiliki hobi yang sama, jadi tak heran jika Jasson merasa nyaman untuk menghabiskan waktunya mengbrol bersama Alea, Chelia dan juga Daven.


"Oh, iya, Harry. Kata Alea kau tadi mau membelikan kado untuk seseorang?" tanya Jasson.


"Iya aku mau membelikan kado untuk seseorang, karna ini kencan pertamaku jadi aku harus membelikan dia kado spesial," jawab Harry, kedua matanya berpendar akan bayangan Jesslyn, diikuti dengan senyuman yang tersemat di bibirnya yang cukup tebal.


"Siapa yang mau kau kencani?" timpal Daven, diikuti dengan alisnya yang berkerut dalam.


"Apa dia seorang wanita?" ledek Jasson.


"Tentu saja, mana mungkin aku berkencan dengan seorang pria!" Harry menyautinya dengan suara kesal, membuat Jasson dan lainnya  tertawa hingga tawa mereka memecah seisi rumah itu.


"Kau tidak ingin memperkenalkan dia  kepadaku? aku jadi penasaran wanita seperti apa yang kau kencani. Kapan kau akan berkencan? malam ini?" Jasson melontarkan pertanyaan secara berangsur, merasa penasaran. Karna, selama ini Jasson hampir tidak pernah melihat sahabatnya itu dekat dengan wanita sama sekali, jadi ia sedikit meragukannya.


"Kalau saja dia menyukaiku, kau adalah orang pertama yang akan kuberitau terlebih dulu. Seharusnya malam ini kami berkencan, tetapi dia mendadak membatalkannya dan  mengganti kencan kami besok malam," ujar Harry, tatapan matanya terlihat sedikit kecewa karna satu jam yang lalu, ia mendapat pesan dari Jesslyn, bahwa wanita itu  mendadak membatalkan kencannya dan mengubahnya besok malam.


"Memangnya wanita mana yang tidak menyukai sahabatku yang baik ini?  Semoga semuanya berjalan sesuai  dengan apa yang kau inginkan." Satu tepukan mendarat dari tangan Jasson dengan cukup keras di bahu Harry, lalu diakhiri dengan mengunci leher sahabatnya itu dengan menggunakan lengan tangannya, ini ialah bentuk dukungan dan salam persahabatan yang selalu mereka lakukan setiap waktu.


"Hanya saudaramu, hanya Jesslyn yang tidak pernah menyukaiku." Harry tersenyum, nyalinya sedikit menciut saat mengingat nama wanita itu.


Hening ....


Hening ....


"Jasson, bagaimana  pernikahanmu dengan Kimmy? kau sangat beruntung bisa menikah dengannya," tanya Daven secara tiba-tiba, namun rasa iri sedikit terbesit dalam ulasan senyuman lelaki itu.


"Ehemmm." Chelia seketika berdehem dan mengambil cangkir teh miliknya untuk ia teguk, merasa tidak nyaman dan tidak suka saat laki-laki yang ia suka bertanya seperti itu. Namun Daven tak mempedulikannya.


Mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Daven, wajah Jasson seketika berubah hingga membuat Alea yang sedaritadi memperhatikannya bisa menangkap dan mengartikan perubahan di raut wajah teman sekaligus atasannya itu.


"Ehm, ya seperti itulah pernikahan," jawabnya dengan tersenyum paksa. "Menikahlah biar kau tau!" imuhnya dengan meledek.


"Kalau saja kau belum menikahi Kimmy, aku pasti akan menikahinya. Tapi sayang sekali dia sudah menjadi milikmu jadi nanti saja aku menikah." Perkataan Daven seketika membuat kening Jasson dan Chelia berkerut, semua orang yang ada di sana menerkamnya dengan tatapan penuh keseriusan.


"Kau menyukai Kimmy?" cetus Harry.


"Iya, Daven. Kau menyukai Nona Kimmy?" timpal Alea.


"Hey, aku hanya bercanda, kenapa kalian menanggipanya serius." Daven tertawa seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Aku kira kau benar-benar menyukai Kimmy!" seru Harry.


"Sudah, kita terlalu banyak bicara, ayo minumlah teh kalian," tutur Jasson, mendahului menggambil cangkir teh miliknya dan meneguk air berwarna hijau kecoklatan itu.


Begitu pun Alea, ia menikmati teh dari cangkir miliknya. Kedua ekor matanya sedari tadi tak henti memperhatikan raut wajah Jasson yang duduk hanya beberapa jarak dari sisinya.


"Jasson, aku tau kau tidak bahagia menikah dengan Nona Kimmy, karna menikah bukan keinginanmu untuk saat ini. Terlebih lagi, tadi Harry memberitau kepadaku alasanmu dan Nona Kimmy menikah. Setidaknya aku masih bisa memiliki harapan untuk mengambil hatimu. Jatuh cinta tidak berdosa, aku akan membantumu keluar dari pernikahan yang tidak benar ini."


***


Kimmy terlihat duduk di atas tempat tidur menemani Elga yang sedang bermain boneka miliknya. Ya, dari kecil Kimmy sangat menyukai boneka, jadi ia membawa beberapa koleksi boneka miliknya ke rumah barunya tersebut, dan boneka-boneka itu kini dimainkan oleh keponakannya.


Kimmy tak henti memandangi wajah Elga yang ia rasa begitu menggemaskan, ia memainkan rambut pirang keponakannya itu yang sedang sibuk bermain.


Elga semakin lama semakin bosan, kedua mata gadis kecil itu mendadak layu, ia terlihat menguap berulang-kali hingga cairan bening menggenang di pelupuk matanya.


"Sayang, apa kau mengantuk?" tangan Kimmy menyentuh lembut dagu Elga hingga wajah keponakannya itu sedikit terangkat menghadap ke arahnya. Elga menganggukan cepat kepalanya tanpa bersuara.


"Bibi akan menemanimu tidur, Sayang."


"Tapi Elga masih ingin bermain," rengeknya.


"Elga ...." Suara Daven terdengar dari luar kamar dan memanggil-manggil nama keponakannya diriingi dengan suara ketukan pintu berulang-kali.


"Bibi dokter, tunggu sebentar, paman Daven memanggilku." Elga beranjak turun dari tempat tidur dan berlari mendekati pintu yang terlihat tertutup rapat itu, tangannya segera meraih gagang pintu tersebut dan memutarnya hingga terbuka. Daven terlihat berdiri di depan pintu  dengan senyuman yang menyeringai, disusul oleh Chelia dari belakang, begitu pula dengan Kimmy yang mengharuskan tubuhnya yang sudah nyaman bangkit dari tempat tidur untuk menghampiri keponakannya itu.


"Ada apa Paman memanggilku?" tanya Elga. Daven menjongkokan tubuhnya supaya bisa berdiri sejajar dangan Elga.


"Ayo kita pulang sekarang, Sayang. Paman dan bibi Chelia mau pulang karna  mami dan daddy sudah kembali dari rumah sakit."


"Elga tidak mau pulang, Elga mau tidur bersama Bibi dokter." Elga menarik tangan Kimmy dan menggelayutinya.


"Elga sayang, ayo kita pulang sekarang, nanti mami Alana mencarimu." Chelia hendak menggapai tangan Elga. Namun Elga menepisnya dan malah bersembunyi di belakang tubuh Kimmy.


"Elga, ayo, sayang." Chelia dan Daven  tak menyerah membujuk Elga, namun gadis kecil itu malah menangis dan merengek ingin tetap berada di sana bersama Kimmy.


"Tidak mau, aku tidak mau pulang. Aku tidak mau pulang."


"Elga ...." Kimmy segera meraih tubuh Elga dan menggendongnya. Daven pun beranjak berdiri.


"Daven, Nona Chelia. Biarkan Elga di sini, karna dia mengantuk," tutur Kimmy.


"Nona Kimmy, selama ini aku lebih tau dan lebih dekat dengan Elga, dia memang suka merengek seperti ini, jadi biarkan kita membawanya pulang." Chelia tersenyum, suaranya terdengar  anggun namun penuh dengan sindirian.


"Aku tidak mau!"  Elga semakin mengeratkan kedua tangannya untuk memeluk Kimmy seakan tidak mau lepas dari bibinya itu.


"Daven, Chelia, biarkan saja Elga di sini bersama Kimmy." Jasson tiba-tiba menghampiri mereka berempat, entah sejak kapan laki-laki itu berdiri di sana.


"Tapi, Jasson. Bagaimana kalau kak Alana dan kak Ken mencarinya?" tanya Chelia, merasa keberatan.


"Tidak akan, mereka pasti akan mengizinkan Elga di sini. Karna Elga tidak sedang berada di rumah orang lain. Tapi dia sedang berada di rumah bibi dan juga pamannya! Kimmy sahabat Alana dan sekarang juga sudah menjadi bibi dari  Elga, jadi kau jangan megkhawatirkan itu!" tutur Jasson, merasa tidak suka dengan perkataan Chelia.


"Bukan begitu, Jasson. Aku takut Elga merepotkan Kimmy, kau kan tau keponakan kita ini seperti apa."


"Daven, aku sama sekali tidak merasa direpotkan, aku malah senang jika Elga bersamaku," timpal Kimmy.


"Kau yakin tidak merasa direpotkan?" tanya Daven, laki-laki itu merasa tidak enak hati.


"Tidak sama sekali, mana mungkin anak selucu ini merepotkanku." Kimmy memandang wajah Elga yang masih dipenuhi air mata. Karna merasa gemas, Kimmy menghujani wajah keponakannya itu dengan begitu banyak ciuman, Daven pun tersenyum melihatnya, kedua matanya merasa teduh saat melihat Kimmy sangat menyayangi keponakannya tersebut.


"Terimakasih banyak, Kimmy."


"Iya sama-sama, tolong sampaikan salamku kepada Alana dan Kakak Ken," pinta Kimmy sambil tersenyum.


"Tentu saja akan kusampaikan." Senyuman Daven yang masih terulas tak membuat Kimmy mengakhiri senyumannya, namun senyuman itu menyusut saat Kimmy tak sengaja melihat Jasson yang sedari tadi menatapnya dengan tatapan dingin. Kimmy seketika mengalihkan pandangannya dari Jasson.


"Ehm, apa ada yang ingin kalian bicarakan lagi dengan Elga?" tanya Kimmy. Ia masih tidak berani menatap Jasson.


"Elga, kau jangan nakal bersama Bibi. Jangan menyusahkannya!" tutur Daven seraya memberi ciuman di kedua pipi pulat keponakannya hingga membuat jaraknya dengan Kimmy begitu dekat.


"Biarkan saja, lagi pula Elga tidak menyusahkan Bibi dokter setiap hari!" cetusnya.


"Bye, Bibi!" Elga menjulurkan lidahnya kepada Chelia dengan penuh ejekan, lalu menyandarkan kepalanya di bahu Kimmy dengan sangat manja.


"Jangan menjulurkan lidah seperti itu kepada orang lain! Itu tidak sopan!" tutur Jasson,


"Tapi kata Bibi Jesslyn tidak apa-apa!" bantah Elga.


"Jesslyn sungguh berbahaya!" decak Jasson.


Daven dan Chelia berpamitan pulang, begitu juga dengan Alea dan juga Harry.


Saat dirasa teman-teman suaminya itu sudah pulang, Kimmy pun membawa Elga masuk kembali ke kamarnya untuk menidurkan keponakannya yang sudah benar-benar mengantuk tersebut. Kimmy hendak menutup pintu kamarnya, namun Jasson tiba-tiba menahan tangannya.


.


.


.


.


.


.


..


.


Jangan lupa dukungan Like dan votenya. ^_^