
Tiga hari kemudian,
Setelah kepulangan dari bulan madu. Jasson dan Kimmy melakukan rutinitas seperti biasanya. Namun kali ini, hubungan di antara mereka terlihat semakin dekat. Pun juga Jasson yang kecanduan akan tubuh Kimmy, membuat laki-laki itu selalu menjamahnya setiap hari. Saling menyadari, bahwa tubuh mereka saling membutuhkan.
Jasson memang tidak pandai merayu atau bertutur kata romantis seperti laki-laki pada umumnya. Setiap kata yang keluar dari mulutnya, selalu saja seperti orang yang hendak mengajak berdebat. Namun, setiap kali perdebatan kecil yang terjadi di antara mereka, selalu berujung kehangatan hingga membuat jiwa Kimmy melunak kembali. Bahkan Kimmy terkadang dibingungkan akan pikiran dan sikap suaminya yang sulit sekali untuk ia baca.
"Kau berangkat seminar jam berapa? Aku akan mengantarkanmu nanti," kata Jasson setelah sesaat mobil yang ia kemudikan berhenti di depan halaman rumah sakit untuk mengantarkan Kimmy bekerja.
"Jam satu. Aku tidak mau merepotkanmu, biar paman Alert saja yang mengantarkanku."
"Tidak usah banyak membantah! Biar aku yang mengantarmu. Nanti tunggu aku," tutur Jasson.
"Baiklah."
"Ehm, Jasson ...."
Kimmy tiba-tiba memanggil nama itu dengan suara ragu. Tatapan matanya dalam, ada sesuatu yang ingin ia tanyakan dan sampaikan kepada laki-laki yang ada di sampingnya saat ini. Namun, ia masih maju mundur.
"Ada apa?" Jasson menunggu jawaban. Namun Kimmy tetap saja bungkam dan hanya mengunci tatapan matanya seolah matanya itu bisa mewakili apa yang ingin ia katakan.
"Ehm, tidak jadi." Kimmy mengulas tipis senyuman di bibirnya. Langkahnya yang nyaris menjejak di tanah saat pintu mobil baru saja berhasil ia buka, seketika terurungkan tatkala tangan Jasson menariknya.
"Apa yang mau kau bicarakan?" tanya Jasson, tatapannya penuh keseriusan. Ia sudah kepalang tanggung dibuat penasaran akan apa yang ingin dikatakan oleh istrinya. Tatapannya yang dingin gagal membaca raut wajah wanita yang ada di sampingnya itu.
"Tidak ada, lupakan saja."
"Katakan apa yang ingin kau bicarakan!" Jasson berucap pelan, namun penuh dengan desakan.
"Tidak ada, Jasson."
"Jangan membuatku semakin penasaran! Katakan apa yang ingin kau katakan!" Suara Jasson yang kali ini terlepas dengan nada tinggi, membuat Kimmy sedikit takut. Kimmy menutup kembali pintu mobil yang tadi berhasil ia buka. Ia mengangkat dagunya dan memberanikan diri menatap Jasson kembali.
Sesuatu seperti tercekat di tenggorokan Kimmy, hingga membuat wanita itu kesulitan untuk berbicara.
"Ehm ...."
"Apa?" desak Jasson, suaranya terdengar seperti tidak sabar.
"Jika aku berbicara tentang kesepakatan itu, aku takut Jasson mengira aku menuntutnya. Lebih baik tidak usah mempertanyakannya, biar saja ini semua mengalir dengan sendirinya."
"Kenapa kau masih diam?"
"Ehm, a-aku ... aku mau meminta nomer ponselmu."
"Hanya meminta nomer ponsel?" Kening Jasson berkerut.
"I-iya ... supaya aku bisa menghubungimu kalau aku membutuhkan sesuatu. Aku tidak memiliki nomer ponselmu." Kimmy mengambil ponsel miliknya yang kala itu ia simpan di dalam tas.
"Kau sudah memiliki nomer ponselku," ujar Jasson.
"Belum, aku belum memilikinya."
"Sudah! Coba saja kauperiksa di kontak ponselmu!" seru Jasson seraya mengalihkan pandangannya lurus ke depan. Namun, ia tak membiarkan ekor matanya melepas Kimmy begitu saja.
"Benarkah?" Kedua mata Kimmy melebar tidak percaya, ia segera memeriksa kontak ponselnya untuk memastikan. Ibu jarinya mulai menggulir layar ponsel tersebut dan guliran itu berhenti saat dirinya memang menemukan nama Jasson yang tertera di sana.
Kening Kimmy berkerut dalam. "Oh, iya. Kenapa ada nomer ponsel dia? aku saja bahkan tidak tau."
Kimmy mengangkat dagunya, kini pandangan mereka bertemu kembali saat Jasson menoleh ke arahnya. "Ehm, bagaimana nomer ponselmu ada di sini?" tanyanya. "Aku merasa sama sekali tidak pernah menyimpan nomer ponselmu."
"Jangan banyak berbicara, cepat turun dan berangkat bekerja." Jasson melayangkan tatapan tajam ke arah Kimmy. Namun, Kimmy yang sudah terbiasa dengan tatapan itu, kini tak membuatnya takut.
"Ehm, baiklah." Kimmy tak berani membantah lagi. "Aku berangkat, semoga pekerjaanmu dipermudah, Jasson."
Jasson tiba-tiba menarik kembali tangan Kimmy yang hampir membuka pintu mobil, tak membiarkan wanita itu pergi.
"Ada apa?"
"Jangan dekat-dekat dengan Mark!" tutur Jasson, namun perkataannya penuh dengan perintah. Kimmy sejenak diam, lalu menganggukan kepalanya sebagai jawaban.
Kedua ekor mata Jasson memperhatikan Kimmy yang baru saja turun dari mobil dan berjalan cepat untuk masuk ke dalam rumah sakit. Sebelum kemudian, sebuah senyuman lolos dari bibirnya dan laki-laki itu segera berlalu pergi menenggalkan tempat tersebut.
***
Siang harinya, setelah Kimmy menangani pasiennya. Ia hendak kembali masuk ke dalam ruangannya untuk bersiap pergi menghadiri acara seminar. Namun, langkah kaki wanita itu terhentikan oleh suara Mark. Kimmy berbalik badan, ia melihat lelaki itu berjalan cepat ke arahnya sembari menebarkan senyuman yang menyeringai.
"Iya, Dokter Mark?"
"Dokter Kimmy, bagaimana, apa kau mau berangkat seminar bersamaku hari ini?" tanya Mark dengan tatapan penuh harap.
"Sepertinya, tidak, nanti Jasson akan mengantarkanku."
Jawaban Kimmy membuat senyuman lelaki itu seketika sirna.
"Oh ...." Mark menganggukan kepalanya dengan raut wajah yang nampak kecewa. "Apa yakin dia akan mengantarkanmu? apa dia tidak sibuk dengan sekretarisnya?"
"Iya. Dia sendiri yang bilang kalau dia akan mengantarkanku. Kalau begitu aku permisi mau bersiap-siap." Kimmy tersenyum dan segera melanjutkan langkahnya masuk ke dalam ruangan. Hingga tubuh wanita itu lenyap dari pandangan Mark saat Kimmy menutup pintu ruangan tersebut.
"Dokter Mark, seorang wanita mencari anda." Seorang perawat tiba-tiba berjalan mendekati Mark. Mark segera berlalu pergi setelah mengiyakan dan memberikan ucapan terimakasih kepada perawat tersebut.
***
Kimmy baru saja mendaratkan tubuhnya di sebuah kursi sembari meletakan tas di atas meja. Keningnya tiba-tiba berkerut saat kedua matanya mendapati secarik kertas tertindih di tumpukan berkas. Kimmy dengan segera mengambil kertas itu dan mulai membacanya.
"Jangan dekati Mark! Atau kau akan tau akibatnya!"
Surat yang belum diketahui pengirimnya itu kembali Kimmy temukan. Gaya penulisannya pun sama seperti surat kaleng yang ia temukan pertama kali waktu itu di meja kerjanya.
"Siapa yang menulis surat ini?" Kimmy mengedarkan pandangannya, namun tak mendapati siapapun di sana kecuali dirinya sendiri.
"Apa mungkin Jasson yang mengirimkannya? dia kan sangat tidak menyukai Mark."
Kimmy menyimpan kertas itu ke dalam tasnya, dan berlalu meninggalkan ruangannya tersebut. Saat keluar dari ruangannya, Kimmy tak sengaja melihat Mark sedang mengobrol dengan seorang wanita yang ia kenal. Kimmy menyipitkan kedua matanya untuk memastikan wanita tersebut. Dan ternyata benar, itu Chelia, sepupu David sekaligus sahabatnya Alea.
Dengan langkah yang panjang dan pasti, Kimmy segera menghampiri Mark dan juga Chelia yang berdiri saling berhadap-hadapan dan tengah mengobrol serius.
"Nona Chelia ...." Sapaan Kimmy menghentikan percakapan mereka. Chelia menoleh ke arah Kimmy yang tengah tersenyum kepadanya.
"Nona Kimmy." Chelia tak membalas senyuman wanita itu. Tatapannya terlihat sengit.
"Kau sedang apa di sini, Nona?" tanya Kimmy.
"Tentu saja berobat," cetusnya.
"Nona Chelia ini pasien baruku, Dokter Kimmy."
"Pasien?" Kening Kimmy berkerut. "Nona Chelia sakit?" tanyanya kemudian.
"Nona Chelia ini memiliki riwayat jantung lemah," jawab Mark.
"Oh ... apa kau kemari diantar oleh Daven, Nona?" tanya Kimmy.
"Tidak, aku datang kemari hanya sendiri," jawab Chelia seraya mengalihkan pandangannya dari Kimmy. Jelas sekali wanita itu menunjukan rasa ketidaksukaannya terhadap Kimmy.
"Dokter Mark, kalau begitu aku permisi pulang dulu. Terimakasih," pamit Chelia.
"Iya, hati-hati, Nona. Sampai bertemu bulan depan," sahut Mark. Chelia berlalu pergi begitu saja tanpa berpamitan kepada Kimmy.
***
Kimmy terlihat berdiri di halaman depan rumah sakit, wanita itu menantikan Jasson yang katanya sedang dalam perjalanan kemari untuk menjemputnya. Sudah hampir sepuluh menit dirinya dibuat menunggu laki-laki itu.
"Jasson belum tiba di sini. Jadi tidak mungkin Jasson yang mengirimkan pesan itu. Lalu siapa yang mengirimkan surat kaleng itu kepadaku?" Kimmy dibuat bertanya-tanya akan surat yang ia dapatkan di meja kerjanya tadi. Dirinya tiba-tiba menjadi was-was dan ingin sekali mencaritau pengirim surat kaleng tersebut.
Kimmy hendak berpindah tempat, ia mencari tempat duduk yang sekiranya nyaman untuk dirinya menunggu Jasson. Namun, ia tidak sengaja berpapasan dengan sopir pribadinya.
"Paman Alert?"
"Nona Kimmy."
"Kenapa Paman ada di sini?" tanya Kimmy yang seketika menghentikan langkah kakinya.
"Tadi, kan, Kimmy sudah bilang, kalau Jasson yang akan menjemput dan mengantarkan Kimmy ke seminar. Apa papa tidak memberitahukan kepada Paman?" tanya Kimmy.
"Iya, Nona. Tuan Louis sudah memberitahu saya. Saya kemari karna disuruh oleh Tuan Louis mengantarkan barang yang tertinggal."
"Oh, begitu, baiklah, Paman."
"Kimmy ...."
"Jasson? kau sudah di sini."
"Hem, ayo kita pergi sekarang." Jasson mengaitkan jemari tangannya di sela-sela jari tangan Kimmy. Ia berlalu pergi dari sana setelah berpamitan kepada Paman Alert.
Namun, saat di parkiran mobil, mereka tidak sengaja bertemu dengan Mark yang kala itu juga akan mengambil mobilnya yang terparkir beberapa jarak dari mobil milik Jasson.
Jasson menatap Mark dengan tatapan tidak suka. Pun sebaliknya dengan Mark. Melihat laki-laki itu. Dengan sengaja, Jasson melepaskan jemarinya dari tangan Kimmy dan beralih melingkarkan tangannya di pinggang istrinya tersebut.