
"Apa kau sudah menikah Kimmy?" tanya Mario kemudian sesaat tak mendapat balasan akan perkataanya.
"Sudah!" timpal Jasson secara tiba-tiba. "Kimmy sudah menikah denganku," sambungnya dengan mempertegas ucapannya.
"Kimmy istrimu?" tanya Marrio, laki-laki itu begitu terkesiap, karna ia tidak tau bahwa ternyata Jasson sudah menikah. Terlebih lagi, wanita yang menjadi istri Jasson ialah wanita yang ternyata ia kenal juga.
Jasson menganggukan kepalanya, lalu laki-laki itu berkata, "Iya." Singkatnya membuat Kimmy dan Alea terperangah untuk mengalihkan pandangannya dengan tatapan heran ke arah laki-laki yang memasang wajah dengan penuh keseriusan itu, bukankah raut wajah Jasson memang seperti itu?
"Bukannya kata Harry Jasson tidak menginginkan pernikahannya dengan Nona Kimmy, lalu kenapa dia malah mengakui pernikahannya," Alea membatin, ada rasa yang tercekat di dalam rongga dadanya yang membuat napas wanita itu kian melambat. Begitu pun Kimmy, wanita itu masih tak mengalihkan pandangannya, menatap laki-laki yang telah menjadi suaminya itu dengan tatapan penuh keheranan, bisa saja Jasson tak mengakui pernikahan yang sejak dari awal tak diinginkannya, lantas kenapa laki-laki itu kini justru malah memberitaukan status pernikahannya.
"Wah, kau sungguh beruntung bisa menikah dengan Kimmy," puji Marrio, ada rasa kagum tersirat di kedua manik matanya yang berwarna perak tersebut hingga rasanya tak mau berpaling untuk menatap Kimmy, wanita yang baru saja ia ketahui telah menjadi istri temannya.
"Aku yang beruntung karna telah menikah dengan Jasson, tapi Jasson? dia menganggapku adalah kesialan. Tidak! Aku sama halnya dengan dia. Aku sama sekali tidak beruntung. Bukankah, sebuah pernikahan dikatakan beruntung jika keduanya saling mencintai, sementara aku? bukan cinta yang kudapatkan, tapi kebencian yang aku sendiri tidak tau seberapa dalam rasa benci itu menjalar di hatinya." Tatapan Kimmy masih merantai kuat laki-laki yang berdiri beberapa jarak dari lantai yang kini masih ia pijak.
"Tapi kalian tidak pantas menjadi suami istri." Ucapan Mario diiringi dengan tawa, seketika membuat kening Jasson berkerut dalam. Apa maksud ucapan dari laki-laki itu?
"Maksudmu?" tanya Kimmy, perlahan namun penuh desakan akan rasa penasaran yang dikatakan oleh Mario sesaat memindahkan pandangannya dari Jasson.
"Kalian terlihat seperti bukan pasangan suami istri, mungkin orang lain juga akan berpikiran sama denganku." Kedua mata Mario seketika beralih ke arah Alea yang jaraknya lebih dekat dengan Jasson dibanding Kimmy, terlihat tak tersisa cela di antara mereka, bahkan kemeja yang mereka pakai saling bersentuhan, mungkin yang dikatakan oleh Mario benar, orang akan mengira jika istri Jasson ialah Alea, bukan Kimmy.
Kedua mata Kimmy mengikuti mata Mario mengarah, suasana panas mendesir hatinya secara tiba-tiba saat dirinya disadarkan bahwa tidak ada cela antara jarak suaminya dan juga wanita yang ia kenal sebagai teman sekaligus sekretaris pribadi suaminya itu, hingga ujung baju dengan renda yang mendominasi menjadi sasaran Kimmy saat tangannya reflek untuk meremmasnya.
Tanpa diminta, Jasson segera menjauhkan tubuhnya dari sekretarisnya tersebut, pandangannya bertemu kembali dengan Kimmy seolah sedang memastikan wanita itu. Lalu, Jasson mengembalikan pandangannya kepada Mario. "Aku tidak punya cukup waktu, ini sebenarnya mengganggu hari liburku. Jadi kita mulai sekarang saja," ujarnya dengan tergesa-gesa, raut wajah Jasson berubah lebih dingin dari biasanya, begitu pula suaranya.
"Kita sama-sama membutuhkan bisnis ini, jadi kau jangan merasa kubutuhkan. Ayo silahkan duduk," perintah Mario, laki-laki itu menarik kursi dengan menggunakan salah satu kakinya, sebelum kemudian tubuhnya mendarat dengan sempurna di sana, kemudian diikuti oleh Jasson dan juga Alea, namun tidak dengan Kimmy.
"Kimmy, ayo duduklah." Mario menengadahkan kepalanya ke arah Kimmy yang masih berdiam diri di posisi yang sama, masih menatap Jasson. Tersisa satu bangku kosong di samping Mario, namun Kimmy menolak untuk duduk di samping laki-laki yang sudah belasan tahun tak pernah ia temui.
"Tidak, terimakasih, Mario. Aku akan membuka meja sendiri." Kimmy menarik setengah dari kedua sudut bibirnya, membentuk ulasan senyuman yang terkesan dipaksakan. Ia membalikan tubuhnya dan berjalan meninggalkan meja itu, kedua matanya terpejam perlahan seraya mengembuskan napasnya yang ikut terbuang beserta rasa sakit yang sama sekali tak bisa ia tunjukan, sebelum akhirnya, ia membuka sempurna kedua matanya dan berlalu pergi dari sana.
Kedua mata Jasson memperhatikan langkah kaki Kimmy yang berjalan mendekati meja lain yang berjarak satu meja dari meja yang saat ini tempati, memastikan wanita itu hingga benar-benar duduk di sana.
"Jasson, ayo kita mulai." Suara Alea membuyarkan pandangan Jasson, untuk mengalihkan pandangannya.
"Iya."
***
Kimmy terlihat memegang kedua sisi mangkuk ice cream yang baru saja diantarkan oleh seorang pelayan saat setelah lima belas menit menunggu lamanya. Kimmy tidak terlalu menyukai kopi maupun teh, karna ia tau, kandungan caffeine tidak terlalu baik bagi seorang wanita, jadi ia lebih memilih ice cream vanilla kesukaannya untuk ia pesan. Namun, ice cream vanilla yang biasa menjadi kesukaannya kini tak membuatnya tertarik dan belum tersentuh oleh bibrinya sama sekali. Ia lebih tertarik memperhatikan Jasson yang sedang sibuk dengan pekerjaan dadakannya. Ternyata, pekerjaan Alea membuatnya sedekat itu dengan Jasson, pikirnya.
Kimmy perlahan menarik napasnya yang kian memberat. "Andai saja aku seperti Nona Alea." Senyuman getir mengulas bibir tipisnya yang merah merekah layaknya buah cherry. "Film dan buku kesukaan mereka sama, mereka juga sama-sama penggemar kopi. Nona Alea pintar memasak, dia sangat dewasa. Sedangkan aku? aku sama sekali tidak memiliki kesamaan dengan Jasson, bahkan aku tidak pintar untuk mengambil hatinya."
Kimmy tiba-tiba mengalihkan pandangannya, saat lagi-lagi dirinya ketahuan memperhatikan Jasson dari kejauhan. Wanita itu langsung memakan ice creamnya yang sudah mencair karna terlalu lama ia abaikan. Namun Jasson, laki-laki itu memandangi istrinya cukup lama, sebelum akhirnya, ia kembali fokus akan pekerjaannya.
^^^
Mario memasang pendengarannya untuk mendengarkan penjelasan dari Alea dan juga Jasson untuk rencana kerja sama antar perusahaan mereka, namun Jasson dibuat kesal saat mendapati Mario yang tak fokus akan apa yang telah disampaikannya panjang lebar, terlebih lagi yang membuat kliennya itu menjadi tak fokus ialah Kimmy. Ya, laki-laki itu tengah memperhatikan Kimmy yang sedang sibuk menikmati ice cream di meja yang berbeda dengannya.
"Apa kau mendengarkan penjelasan kami, Tuan Mario?" Pertanyaan Jasson dengan intonasi suara yang tinggi membuat Mario mengalihkan kembali pandangannya ke arah teman yang akan menjadi rekan bisnisnya itu.
"Aku mendengar semuanya, aku sudah melakukan observasi dan mencari informasi tentang perusahaanmu terlebih dulu, karna dari awal aku sudah tertarik ingin bekerja sama dengan perusahaanmu, karna kerja sama yang akan kita bangun pasti akan sangat menguntungkan. Jadi aku tidak membutuhkan penjelasan lagi."
"Baiklah kalau begitu," jawab Jasson.
"Ayo minumlah kopi kalian dulu." Mario terlebih dulu mengangkat cangkir kopi miliknya, laki-laki itu menyesap minuman berwarna hitam yang masih memperlihatkan uap panasnya sembari memperhatikan kembali Kimmy dari kejauhan, dan Jasson pun mengetahui hal itu.
"Ahhh panas ...." Teriakan keras sesaat setelah suara pecahan gelas yang membentur lantai menyita semua perhatian para pengunjung, tak terkecuali Jasson.
Jasson terperangah saat menyadari bahwa suara teriakan itu berasal dari Kimmy yang terlihat mengadu kepanasan karna tertumpah kopi yang dibawa oleh seroang pelayan.
"Ahhh panas, panas sekali." Kimmy mengibaskan bajunya yang nyala terang kini terlihat basah akan tumpahan kopi yang mengotori bajunya tersebut.
"Nona maaf, maafkan saya, saya tidak sengaja." Begitulah seorang pelayan laki-laki yang mendadak panik saat melihat Kimmy mengadu kepanasan.
"Kimmy." Jasson meletakan cangkirnya ke tempat semula, ia beranjak berdiri dan segera berjalan cepat menghampiri Kimmy yang tak henti mengaduh kepanasan.
"Apa kau tidak punya mata? Kopi yang kau bawa menumpahi tubuh istriku." Jasson tiba-tiba mendorong pelayan itu hingga hampir terjatuh, namun tubuhnya masih bisa menumpu agar tidak tergelincir di lantai yang cukup licin itu.
"Tu-tuan, maaf. Saya tidak sengaja." Pelayan itu menunduk, gemetar takut tak karuan.
"Menumpahkan kopi kepada pelangganmu dan kau bilang tidak sengaja? apa kau juga akan berkata dengan perkataan yang sama jika kau mengulangi hal ini kepada pelangganmu yang lain?" Suara Jasson yang menggelegar membuat seisi cafe itu menjadi ricuh.
"Jasson, aku yang salah." Kimmy segera menarik lengan tangan suaminya tersebut agar tidak terlalu membuat kegaduhan di sana. "Aku yang salah, saat aku mau pergi ke toilet, aku tadi langsung berdiri dan tidak melihat jika ada pelayan yang membawa kopi panas." Kening Kimmy bekerut matanya mengkilat karna masih menahan rasa pedih akan kopi panas yang masih membakar di sekitar kulit leher dan dadanya.
"Nona maafkan pelayan kami karna tidak sengaja sudah menumpahkan kopi." Seorang laki-laki parubaya dengan perawakan tinggi rapi dan kumis yang menjuntai hingga hampir menyentuh dagunya tiba-tiba menghampiri mereka dengan membungkukan sedikit tubuhnya penuh dengan permohon maafan, sepertinya laki-laki itu ialah sang pengelola cafe tersebut.
"Pelayanmu ini--"
"Jasson, jangan memperpanjangnya!" tukas Kimmy seraya menggertak lengan suaminya.
"Tidak apa-apa, Tuan. Ini salahku, pelayanmu sudah bekerja dengan baik. Aku yang kurang berhati-hati, ini murni kesalahanku."
"Nona, maafkan saya. Sekali lagi maafkan saya." Pelayan itu berulang kali membungkukan tubuhnya di hadapan Kimmy, benar-benar merasa bersalah hingga membuat Kimmy merasa kasihan.
"Tidak, tidak apa-apa."
"Nona sekali lagi saya minta maaf akan pelayan kami yang kurang berhati-hati."
"Tidak apa-apa, Tuan, lupakan saja. Lagi pula saya baik-baik saja. Tolong jangan memarahi pelayanmu, ini benar-benar kesalahanku," tutur Kimmy.
"Terimakasih banyak, Nona."
"Kimmy ...." Tangan Jasson ditarik oleh Kimmy untuk menjauh pergi dari sana. Alea dan Mario pun mengikuti mereka berdua.
"Kimmy, apa-apa kau baik-baik saja?" tanya Marrio yang tak kalah paniknya.
"Aku baik-baik saja." Kimmy terpaksa berbohong, padahal ia masih menahan rasa pedih yang membakar kulitnya.
"Kimmy, tunggulah di sini, aku membawa sweater di dalam mobilku, kau bisa memakainya."
"Tidak perlu! Aku akan mengajak Kimmy pulang!" sahut Jasson.
"Kau kan sudah tau apa yang harus kau lakukan, jadi kau tangani saja," balasnya.
"Jasson, tidak usah, aku bisa pulang sendiri naik taxi , kau lanjutkan saja pekerjaanmu, aku akan pulang sendiri," timpal Kimmy. Ia benar-benar tidak mau menyusahkan atau mengganggu pekerjaan suaminya.
Namun mulut Jasson tak bergemming sama sekali. Ia tiba-tiba menarik tangan istrinya tersebut dan segera mengajaknya untuk berpamitan kepada Mario dan juga Alea untuk pergi dari sana.
"Jasson ...." Kimmy berusaha meronta, namun laki-laki itu tak menghiraukannya.
"Jasson, aku bisa pulang sendiri, tolong lepaskan tanganku."
"Kau diam atau akan kulepaskan kau di tengah jalan!" Bentakan Jasson yang penuh ancaman tak terbantahkan lagi oleh Kimmy. Wanita itu kini diam dan mengikuti arah suaminya melangkah menuju ke parkiran mobil.
***
"Sakit sekali." Kimmy terlihat baru saja masuk ke dalam mobil dan mendudukan tubuhnya. Wanita itu memejamkan kedua matanya seraya memegangi leher dan dadanya yang tadi tersiram oleh kopi panas, kulitnya terasa masih terbakar. Namun, ia tak mau mengadu atau menunjukan rasa sakitnya kepada Jasson.
Jasson segera melajukan mobilnya untuk meninggalkan tempat tersebut. laki-laki itu mencari jalanan yang sekiranya sama sekali tidak dilewati oleh siapapun. Lalu, mobil berwarna putih miliknya itu menepi saat dirasa jalanan sudah benar-benar sepi. Kakinya dengan segera menginjak pegas rem hingga mobil itu kini berhenti dengan sempurna.
"Ganti pakaianmu!" Jasson tiba-tiba menyodorkan sebuah kaus polos yang baru saja ia ambil dari dalam travel bag yang di dalamnya berisi beberapa baju yang selalu ia bawa di dalam mobilnya tersebut.
"Ehm ...." Kimmy menerima baju tersebut dan memandanginya dengan bingung.
"Cepat gantai pakaianmu!" perintah Jasson.
"Di sini?"
"Iya, memangnya mau di mana lagi? kau mau mengganti pakaianmu di tengah jalan?" seru Jasson.
"Kau sudah gila?"
"Cepat pakai, di sini tidak ada siapapun."
"Lalu kau?"
"Aku tidak akan melihatnya, aku tidak berselera!" Jasson mengalihkan pandangannya ke arah luar jendela mobil, namun tak mengindahkan Kimmy untuk segera memakai baju yang telah diberikan oleh suaminya tersebut.
Jasson berdecak, ia mengambil sebuah jas yang terlipat rapi di jok belakang, lalu menggelarnya dan menutupkan jas yang memiliki kain cukup tebal itu di tubuh Kimmy.
"Cepat gantilah!" Jasson mengalihkan pandangannya kembali ke luar jendela dan tak melihat ke arah Kimmy.
"Jangan melihat!" perintah Kimmy.
"Tidak akan, cepatlah!"
Kimmy pun segera melepas baju atasan yang ternodai oleh tumpahan kopi itu. "Jangan melihat! Jangan melihat! Jangan melihat!" Kimmy mengucap kata itu berulang kali.
"Aku tidak berselera untuk melihatmu, cepat!"
"Jika kau melihat, matamu akan berubah menjadi mata sapi!"
Jasson merasa kesal akan ucapan Kimmy, ia terlupa dan hendak menoleh ke arah wanita itu, namun Kimmy berteriak terlebih dulu hingga membuat laki-laki itu mengurungkannya.
"Aku bilang jangan melihat!" seru Kimmy.
"Kau banyak bicara!"
3 Minutes later.
5 Minutes later
10 Minutes later.
"Kenapa lama sekali cepatlah!" bentak Jasson. "Kau mau tanganku melebur."
"Tunggu sebentar."
"Kenapa lama sekali? kau sengaja ya?"
"Siapa yang sengaja!" bantah Kimmy.
"Aku sudah selesai." Kimmy menarik jas yang masih dipegang oleh Jasson untuk menutupi tubuhnya.
"Apa kau sudah memakai pakaianmu?" tanya Jasson yang masih tak berani mengalihkan pandangannya untuk melihat ke arah istrinya.
"Sudah."
Jasson pun perlahan menoleh ke arah Kimmy. Benar, wanita itu sudah mengganti pakaian yang telah ia berikan. Ia memperhatikan kaus miliknya itu terlihat kedodoran saat dipakai oleh istrinya tersebut, senyuman Kimmy terulas ke arahnya, wajahnya terlihat lucu dan menggemaskan saat memakai kaus miliknya itu, namun Jasson menyangkalnya.
Kedua mata Jasson menangkap kulit leher Kimmy bagian bawah memerah, berbeda dengan warna kulit aslinya yang putih bersih, kulit itu hampir melepuh dan terlihat menjalar ke bagian yang tak terjangkau oleh kedua matanya.
Jasson mengambil sebuah kotak obat yang ada di dalam mobilnya tersebut. Ya, bisa dikatakan, mobil Jasson lengkap dengan kebutuhan yang barangkali dibutuhkan saat urgent seperti ini. Tak hanya baju dan kotak obat yang selalu ia bawa ke mana-mana, beberapa sepatu, makanan ringan dan juga perlengkapan mandi untuk ia gunakan sewaktu-waktu saat melakukan perjalanan panjang pun tersedia di dalam sana.
Jasson mengambil sebuah obat oles berbentuk tube yang dikhususkan untuk luka bakar. Ia menggeser sedikit tubuhnya dan mendekati Kimmy. Tangannya tiba-tiba menarik kera baju Kimmy, berharap bisa leluasa melihat luka bakar akibat tumpahan kopi tadi.
"Kau mau apa?" Kimmy terperanjat, wanita itu segera menutupi dadanya dengan kedua telapak tangan.
"Mau mengobati lukamu! Jika tidak diobati nanti bisa melepuh! Mendekatlah kemari!" Seperti terhipnotis, Kimmy segera mendekatkan tubuhnya mengikuti perintah suaminya itu tanpa membantah.
Jasson membuka penutup botol obat oles tersebut, ujung jarinya yang sudah diberi obat dan kini mulai menyentuh kulit leher Kimmy. Pergerakan tangan Jasson yang mengobati kulit istrinya yang terbakar membuat wanitanya itu merasa geli, jantung Kimmy tiba-tiba berdetak cepat layaknya sebuah bom yang sudah siap untuk diledakan, terlebih lagi saat dirinya begitu lama memandangi wajah Jasson dengan jarak yang sangat dekat, bahkan membuat napas wanita itu melambat agar udara yang terbuang dari hidungnya itu tak sampai menyentuh kulit wajah laki-laki yang kini hampir membuat dirinya mati rasa. Tubuh Kimmy seperti tersengat aliran listrik membuatnya gemetar tak karuan hingga keringat dingin merembas ke sekujur tubuhnya saat tangan Jasson mulai menurun ke arah paling sensitiv di bagian tubuh atasnya.
"Kau kenapa?" Jasson menghentikan aktifitasnya, keningnya berkerut dalam dengan penuh tanda tanya, saat melihat perubahan raut wajah Kimmy yang memucat seakan tak teraliri darah sama sekali di sana.
"Kau sakit?" tanyanya kembali saat tak mendapat jawaban.
"T-tidak! A-aku tidak sakit!" jawabnya tergesa-gesa. "A-aku akan mengobati luka bakarku sendiri." Kimmy menyaut obat oles itu dari tangan Jasson dan memunggungi laki-laki itu, agar wajahnya tak terlihat.
"Ya Tuhan, ini sungguh memalukan." Kimmy memegangi jantungnya yang masih beretak cepat.
Jangan lupa dukungan like dan votenya, terimakasih.