Oh My Jasson

Oh My Jasson
Tidak ada yang boleh mengganggu!



"Ini penginapan yang akan kita tempati?" Kimmy mengedarkan pandangannya ke setiap sudut villa saat kakinya baru saja menjejak di sana. Senyuman mengembang di raut  wajah wanita itu yang semula sempat muram karna terlalu lelah menghabiskan waktunya di perjalanan.


Ya, setelah satu hari melewatkan malam di rumah papa Louis,  kemarin pagi, Kimmy dan Jasson berangkat meninggalkan negaranya untuk beberapa hari. Mereka melakukan perjalanan panjang yang memakan waktu hingga 22 jam lamanya untuk tiba di tempat tujuannya saat ini.


Setelah tadi pagi, tepatnya dua jam yang lalu tiba di bandara, Jasson dan Kimmy dijemput oleh salah seorang tourist guide yang mengantarkan mereka di villa private yang ternyata memang disiapkan khusus oleh mama Merry dan papa Gio, villa tersebut terletak di kawasan Ubud.


Kimmy dan Jasson berjalan memasuki villa tersebut. Fasilitas di villa yang mereka tempati terbilang sangat mewah dan berbaur dengan nuansa nature, pun pemandangan sekitar yang  sungguh luar biasa menakjubkan, dengan dikelilingi penghijauan yang sangat meneduhkan mata. Ini akan membuat mereka berdua betah berlama-lama  di sana.


Kimmy menghirup dalam-dalam aroma bunga Frangipani yang bertebaran dan menyeruak di indera penciumannya, saat ia melangkahkan kakinya  masuk ke dalam kamar yang juga bertaburan dengan begitu banyak kelopak bunga mawar. Kedua matanya terpejam singkat untuk meresapi aroma bunga yang ia rasa begitu  lembut dan sangat menenangkan jiwanya.


"Apa kau menyukai tempat ini?" Jasson melayangkan pertanyaan dengan wajah datar. Lak-laki itu mendaratkan tubuhnya di atas sofa yang ada di kamar itu, setelah sesaat melemparkan koper yang ia pegang di samping tempat tidur. Ia sangat lelah dibanding Kimmy. Terlebih lagi, semua barang-barang bawaan dibebankan kepadanya.


"Tentu saja aku menyukainya, aku akan sangat betah tinggal di sini." Kimmy menarik tubuhnya mendekat ke arah jendela untuk menyingkap sedikit tirai putih yang tertiup angin, kedua matanya berpendar takjub saat melihat pepohonan rindang di luar sana nampak tersapu oleh angin hingga dedaunnya mengayun-ayun, ini benar-benar luar biasa, batinnya.


Di salah satu sisi kamar tersebut, terlihat sebuah pintu yang ternyata  terhubung dengan kolam renang private yang membuat perhatian Kimmy teralihkan untuk berjalan ke arahnya, rasa lelah wanita itu sungguh dibayarkan oleh keindahan villa tersebut.


 


"Jasson, aku menyukai ini semua." Kimmy memutar tubuhnya seraya menghirup kembali aroma bunga yang seolah membuat dirinya jatuh cinta.


"Jangan kampungan!" cetus Jasson. Kimmy terkekeh merasa malu, ia berjalan mendekati Jasson dan duduk di samping suaminya tersebut.


"Aku baru kali ini pergi jauh meninggalkan rumah," ucap Kimmy sembari menyandarkan punggungnya di sandaran sofa. Jasson memutar lehernya, keningnya berkerut dalam dan penuh tanda tanya.


"Bukannya, kau pernah pergi ke luar negeri sebelumnya?"


"Iya, aku pernah. Waktu masih kecil aku pergi ke Amerika mengunjungi saudara nenekku di sana. Setelah itu tidak pernah lagi pergi ke luar negeri."


Kening Jasson bergurat semakin dalam. "Bukannya waktu itu kau  pernah pergi  ke luar negeri selama tiga tahun?" Pertanyaan Jasson membulatkan kedua mata Kimmy yang baru saja disadarkan, seperti sebuah jebakan.


"Kau pernah pergi ke luar negeri, bukan?" Tatapan mata Jasson berubah menjadi skeptis.


Kimmy menarik tubuhnya supaya duduk tegap. "A-aku ... iya, aku memang pernah pergi ke luar negeri."


"Lalu kenapa kau tadi bilang pergi ke luar negeri hanya  waktu kecil saja? dan ... ke mana kau pergi waktu selama tiga tahun itu?" Jasson kembali bertanya dengan penuh selidik, kini ia menghadapkan tubuhnya ke arah Kimmy dengan sempurna, supaya kedua matanya bisa lebih menjangkau wajah wanita itu.


"Ke ...."


"Ke mana!" tukas Jasson.


"Lo-London, iya di London." Kimmy menjawab dengan suara yang gugup seraya mengalihkan pandangannya ke sembarang arah supaya  Jasson tidak mengetahui bahwa dirinya sedang berbohong. Jelas saja, hanya demi menghindar dari Jasson, selama tiga tahun dirinya membohongi semua orang dengan mengatakan pergi ke luar negeri.


"Dan beberapa bulan lagi, aku juga akan melanjutkan pendidikan di sana," lanjutnya kemudian.


"Tidak! Kau tidak boleh pergi ke mana-mana! Bukannya papa sudah melarangmu untuk tidak melanjutkan pendidikanmu di luar negeri!" seru Jasson.


Kimmy mengalihkan pandangannya ke arah Jasson. "Bagaimana kau tahu kalau papa tiba-tiba melarangku?" tanyanya curiga. Namun, ia  tak mendapatkan jawaban langsung dari Jasson. "Atau kau yang menyuruh papa agar melarangku untuk tidak melanjutkan pendidikan ke luar negeri?" seru Kimmy.


"Jika iya memang kenapa?" Jasson menyahutinya secara terang-terangan. "Aku yang meminta papa supaya tidak memberimu izin untuk melanjutkan pendidikan di luar negeri."


"Kenapa?" seru Kimmy, rasanya ia tidak terima.


"Aku sudah bilang berulang-kali kepadamu, kau tidak boleh pergi ke mana-mana! Aku memang mengizinkanmu untuk melanjutkan pendidikan, tapi tidak untuk di luar negeri!"


"Kau sendiri yang membuat kesepakatan, jika kau tidak akan mencampuri urusanku!" seru Kimmy. "Aku tidak peduli. Siapapun tidak boleh melarangku." Kimmy menarik kembali  pandangannya ke sembarang arah dengan tatapan gusar.


Tubuh Kimmy seketika terguncang, saat tangan Jasson dengan kasar menariknya. "Pergilah jika kau mau. Aku sendiri yang akan membuatmu memilih untuk menetap dan membatalkan semuanya." Jasson menghempas tubuh Kimmy, ia  beranjak berdiri dan masuk ke dalam kamar mandi. Kimmy memperhatikan lelaki itu dengan tatapan penuh tanya.


"Apa maksud dia?"


 


 


 


 


Setelah perseteruan yang terjadi tadi pagi, Kimmy dan Jasson pun melupakannya. Kini, mereka akur kembali dan terlihat  sedang  menikmati makan siang di balkon. Suasana mendung menyelimuti sekitar villa yang mereka tempati itu. Angin berembus kencang, hingga membuat rambut Kimmy yang kala itu tergerai, berhamburan menutupi wajah cantiknya.


"Bisakah kau mengikat rambutmu?" Jasson menghentikan aktifitas makannya. Ia merasa terganggu dengan rambut Kimmy yang berkibaran ke sana ke mari, hingga membuat tangan lelaki itu turun tangan untuk merapikannya.


"Aku tidak membawa ikat rambut. Biarkan saja." Kimmy salah tingkah. Ia menjauhkan tangan Jasson dari rambutnya, dan menyuruhnya untuk kembali melanjutkan makan.


Ponsel Kimmy yang ia letakan di atas meja dekat dengan piring makannya, tiba-tiba berdering.  Terlihat ada satu panggilan masuk yang mengharuskan Kimmy untuk  menghentikan aktifitas makannya.


"Mark? ada apa dia menelpon?" gumam Kimmy. Wanita itu segera menerima panggilan dari rekannya tersebut.


"Halo, Mark?" Baru saja ponsel itu Kimmy letakan di dekat daun telinga. Namun, tangan Jasson secepat kilat merampas dari genggaman tangannya.


"Jasson!" protes Kimmy. Namun Jasson tak mengindahkannya. Laki-laki itu mengambil alih ponsel milik Kimmy dan dengan santainya ia  meletakan benda pipih itu mendekat ke daun telingannya.


"Halo, Kimmy, apa  kau mendengarku?" Suara Mark terdengar dari seberang sana.


"Halo ...." Suara Jasson yang menyahut seketika membuat Mark kecewa.


"Kau? di mana Kimmy?" tanya Mark, suaranya tak sesemangat seperti sebelumnya.


"Ada apa kau mencari istriku?" Jasson mengintrogasi, kedua mata peraknya lurus ke arah Kimmy dan menatapnya dengan tatapan dingin.


"Aku hanya mau membicarakan tentang pekerjaan. Tolong berikan ponselnya kepada Kimmy!"


"Kimmy sedang libur dan mengambil cuti, apapun pekerjaan yang kau bicarakan itu, sudah di luar tanggung jawabnya! Jadi, jangan mengganggu liburan kami!" tegas Jasson.


"Tuan Jasson, aku hanya---"


Tut ... Tut ... Tut ....


Belum selesai melanjutkan perkataannya, Jasson terlebih dulu mematikan panggilan Mark yang sedang berlangsung.


"Jasson, kembalikan ponselku!" Kimmy hendak merebut ponsel miliknya, namun Jasson tak memberikannya. Ia masih sibuk mematikan daya  ponsel itu dan mengambil kartu selulernya.


"Apa yang kau lakukan? kembalikan ponselku!"


"Aku akan mengembalikannya setelah kita pulang nanti!" Jasson menyelipkan ponsel itu di saku celannya. "Aku tidak mau ada siapapun mengganggu liburan kita!" katanya semakin mempertegas.


"Jasson, jangan seperti ini! Bagaimana kalau papa dan mama menghubungiku?"


"Aku sudah memberitahukan kepada papa Louis dan mama Kelly, kalau aku dan kau di sini baik-baik saja. Dan aku sudah berbicara kepada mereka, supaya tidak mengganggu liburan kita."


Kimmy tak bisa berkutik, ia menatap kesal Jasson yang berbuat semaunya, giginya menggertak menahan rasa geramnya. "Kau menyita ponselku, lalu bagaimana dengan ponselmu? siapapun tidak boleh menggangguku, sementara kau?" seru Kimmy, "bagaimana dengan Nona Alea yang pasti akan mengganggumu dengan pekerjaan kantor setiap waktu?" lanjutnya, saat menyebut nama wanita itu, emosi Kimmy seakan  dibuat meledak dan tidak terkendali.


"Aku sudah mematikan ponselku setelah tadi memberi kabar kepada orang rumah, jadi siapapun tidak ada yang mengganggu. Ambilah, sita ini jika mau." Jasson melemparkan ponsel yang baru saja ia ambil dari dalam saku celannya ke  atas meja tepat di depan Kimmy.


"Aku akan menyita ini!" Kimmy merampas ponsel milik Jasson dan menggenggamnya dengan penuh kekesalan.


"Aku tadi sudah bilang, sita semamu!" Jasson dengan santainya berbicara, dan laki-laki itu kini  kembali melanjutkan makannya."


Kimmy masih mematung, tatapan matanya masih menunjukan rasa kesalnya kepada suaminya tersebut.


"Apa yang kau tunggu?" Jasson mengangkat dagunya seraya mengunyah makanan yang baru saja ia daratkan di dalam mulutnya, tatapan matanya masih saja membuat Kimmy membeku.


"Cepat makanlah, apa kau menunggu aku menyuapimu?"


"Tidak, tidak perlu! Aku bisa makan sendiri," cetus Kimmy seraya mencebikan bibirnya.


"Kenapa dia begitu menyebalkan hari ini? tidak, tidak hanya hari ini saja. Tetapi setiap waktu dia selalu menyebalkan."