Oh My Jasson

Oh My Jasson
Sungguh memalukan



Sang surya nampak naik ke tempat peraduannya, sinarnya membias setiap sudut kamar melalui kaca jendela yang hanya dibalut tirai tipis berwarna putih transparan, namun silaunya mampu menjamah siapapun yang berada di dalam sana. Suara kicau burung dan kucuran air yang entah dari mana asalnya, terdengar samar-samar di pendengaran.


Jasson merasa terganggu, laki-laki itu mengerjap, hingga manik mata peraknya terlihat berbinar saat kelopak matanya terbuka dengan  sempurna. Ia merasakan beberapa anggota bagian tubuhnya terasa nyeri, tepatnya di lengan tangan sebelah kanannya. Karna ia baru menyadari, bahwa tangan itu dibuat olehnya untuk menumpu kepala Kimmy.


Jasson mengalihkan kepala Kimmy dari lengan tangannya dengan perlahan, karna tidak mau membangunkannya. lalu ia menarik  sebuah bantal ber-material silicone sebagai pengganti untuk menyangga kepala wanita itu. Ia beranjak duduk. Kilas matanya memperhatikan Kimmy yang masih tertidur pulas dengan tubuh polosnya yang masih berbagi selembar selimut dengannya.


"Sakit sekali." Jasson tiba-tiba mengeluh saat bahunya terasa sakit, ia baru disadarkan, semalam bahunya menjadi sasaran Kimmy untuk digigitnya, saat dirinya bersusah payah memasuki tubuh wanita itu.


Jasson mengamati tiga bekas gigitan di bahu kekarnya dengan darah yang nampak membeku dengan samar. Ia melirik ke arah Kimmy yang bergerak hanya untuk memeluk selimutnya lebih dekap.


"Dia seperti kelinci." Jasson menarik salah satu sudut bibirnya saat kedua matanya berlama-lama menatap wajah Kimmy, pun beberapa kiss mark yang ia tinggalkan semalam masih nampak membekas dengan jelas di beberapa bagian tubuh wanita itu. Jasson membenahkan selimut supaya lebih sempurna membungkus tubuh istrinya. Sebelum kemudian, laki-laki itu beranjak turun dan masuk ke dalam kamar mandi.


***


Kimmy terlihat meregangkan ototnya, saat wanita itu baru saja terbangun dari tidurnya. Tanpa mengubah posisi, pandangannya beredar, menyoroti kamar itu dengan seksama, namun tak mendapati siapapun kecuali dirinya.


"Astaga, aku lupa kalau aku sedang di Bali."


Kimmy memejamkan singkat kedua matanya. Wanita itu hendak beranjak duduk, namun kedua matanya dibuat terkejut saat mendapati tubuhnya telanjang tanpa sehelai pakaian satupun, hanya selimut yang masih setia melekat di tubuhnya.


Kimmy nyaris berteriak akan keterkejutannya, namun ia urungkan saat dirinya melihat Jasson baru saja keluar dari kamar mandi dengan telanjang dada, wanita itu langsung beringsut ke dalam selimut tersebut.


"Kenapa aku bisa telanjang?" Kimmy  bersembunyi dalam selimut itu. Ia mengingat-ingat kembali apa yang terjadi dengan dirinya semalam.


"Semalam aku ...."


Kedua mata Kimmy seketika membulat, ia segera membungkam mulutnya yang menganga dengan satu telapak tangan supaya tidak mengeluarkan suara. Ia masih bisa mengingat dengan jelas bagaimana Jasson menjamah setiap bagian tubuhnya.


Kimmy juga masih bisa merasakan ciuman suaminya yang terasa mematikan, begitu pun dengan desah napasnya saat saling bersahutan dengannya.


"Kenapa kau malah tidur lagi?" Suara Jasson terdengar dari balik selimut, namun tak membuat Kimmy  keluar dari persembunyian maupun menyauti pertanyaannya.


"Jangan menarik selimutku! Jangan menariknya!" seru Kimmy saat selimut yang membungkus tubuhnya nyaris terlepas saat tangan Jasson berusaha  menariknya.


"Kenapa kau bersembunyi seperti itu?" Pertanyaan Jasson kali ini memberanikan Kimmy menurunkan sedikit selimutnya, namun hanya menampakan kedua mata peraknya saja. Ia melihat Jasson kini tengah berdiri di dekat ujung tempat tidur, tatapan matanya yang dingin membuat Kimmy membeku.


"Apa?" serunya membuat Kimmy takut dan menarik kembali selimut itu hingga membungkus seluruh tubuhnya..


"Kenapa kau malah bersembunyi lagi!"


Jasson yang merasa kesal kembali menarik selimut Kimmy, namun kali ini dengan paksaan dan penuh tenaga  hingga wajah wanita itu kini nampak saat pertahananya terkalahkan.


"Bangun!" kata Jasson dengan penuh perintah.


"Sebentar ...." Kimmy menarik tubuhnya untuk menutupi sebagian wajahnya karna merasa malu.


"Cepat bangun! Apa yang kautunggu?" seru Jasson. Namun Kimmy hanya diam saja.


Jasson berjalan mendekat ke arah Kimmy, ia mengulurkan wajahnya ke wajah Kimmy, hingga membuat wanita itu beringsut takut.


"Kau menungguku untuk menerkammu lagi di sini?"


Kedua mata Kimmy membulat. "Tidak!" sahutnya dengan cepat.


"Kalau begitu cepatlah bangun!" Jasson menjauhkan tubuhnya, namun tak membiarkan wanita itu lolos dari pandangannya.


"Baiklah, berbalikah dan hadaplah sana dulu!" perintah Kimmy seraya menggerakan tangannya. Kening Jasson berkerut, menyadari bahwa istrinya tengah malu, terlihat saat rona merah menyembul di wajah wanita itu.


Jasson segera membalikan tubuhnya membelakangi tubuh wanita itu. "Cepat!"


"Jangan lihat ... jangan lihat ...." Kimmy membungkus selimut ke seluruh  tubuhnya dengan mulut yang tak henti memperingati Jasson supaya tidak melihat ke arahnya.


"Kenapa tidak boleh melihat?" tanya Jasson.


"Tidak boleh, ya, tidak boleh!" seru Kimmy.


"Aku semalam tidak hanya melihatnya, tapi aku juga--"


"JASSON!" seru Kimmy sambil melototokan kedua matanya kepada Jasson yang masih memunggunginya, ia sungguh malu. Jasson menarik salah satu sudut bibirnya, senang sekali rasanya menggoda wanita itu.


Kimmy beranjak turun dari tempat tidur dengan susah payah. Ia merasakan nyeri yang teramat  di antara pangkal pahanya hingga menjalar ke tulang belakang punggungya akibat pergumulan semalam yang terjadi untuk pertama kalinya. Terlihat jelas  sekali wanita itu kesulitan berjalan. Kedua ekor mata Jasson sekilas menangkap Kimmy yang baru saja masuk ke dalam kamar mandi dengan tergesa-gesa.


Manik matanya menatap setiap tanda merah yang berbekas jelas di tubuh pucatnya, merasa geli dan malu bercampur jadi satu. Kimmy benar-benar masih beluum menyangka.


"Semalam bukan mimpi?" Kimmy menggigit kuat bibir bawahnya. Wajahnya seketika menjadi memerah padam.


"Apa yang dikatakan Jasson semalam tentang kesepakatan itu tidak berbohong?" Kimmy memejamkan kedua matanya, ia masih ragu akan penyataan Jasson untuk melupakan kesepakatan yang dibuatnya. Bisa saja, itu hanya kalimat penenang, pikirnya.


***


Jasson dan Kimmy sedang duduk saling berhadap-hadapan di atas balkon, mereka tengah  menikmati sarapan yang telah disiapkan oleh pelayan yang bekerja di villa tersebut. Sedaritadi, Kimmy tidak berani menatap Jasson, wanita itu hanya menunduk sekalipun Jasson berulangkali mengajaknya berbicara, karna rasa malu masih menyergap wajahnya.


"Kau mau jalan-jalan ke mana setelah ini?" tanya Jasson seraya mengunyah makanannya dan memperhatikan Kimmy yang hanya menudukan kepala untuk menikmati makanan miliknya.


"Ehm, terserah kau saja," jawabnya tanpa melihat ke arah Jasson, hingga membuat laki-laki itu jengkel.


"Kau sendiri ingin jalan-jalan ke mana?"


"Jika sedang berbicara, angkat kepalamu dan hadap ke orangnya!" seru Jasson. Kimmy memberanikan diri untuk mengangkat dagunya, namun tetap saja, ia malu untuk bersitatap dengan suaminya tersebut.


"Maaf ..." ucap Kimmy.


"Bagaimana kalau kita pergi ke tempat wisata terdekat saja?" usulnya kemudian.


"Baiklah."Jasson kembali melanjutkan untuk menikmati makanannya.


Kesenyapan terjadi di antara mereka berdua, hanya terdengar suara keributan dedaunan yang sesekali tertiup oleh angin. Kimmy berulang kali melihat ke arah Jasson yang sibuk mengunyah makanannya, seperti ada sesuatu yang sedang wanita itu susun.


"Jasson?"


"Hmmmm?"


"Apa aku tidak boleh membawa ponsel?" tanya Kimmy dengan ragu.


"Tidak boleh!" serunya dengan tegas.


"Lalu bagaimana jika aku mau berfoto?" cebik Kimmy.


"Bawalah ponselku saja!" Perkataan Jasson tak membuat Kimmy menyahutinya. Wanita itu hanya diam dengan kening yang berkerut samar. Jasson menghentikan aktifitas makannya dan mengangkat dagunya untuk melihat ke arah Kimmy, seperti bisa membaca raut wajah dan pikiran wanita itu.


"Kau bisa mengubah menjadi mode pesawat, supaya tidak ada yang menelpon nomerku."


"Baiklah." Kimmy mengulaskan senyuman di bibir tipisnya. Ada rasa lega tersendiri di dalam hati wanita itu.


***


Jasson tengah bersiap di dalam kamar. Begitupun dengan Kimmy yang terlihat duduk di tepi tempat tidur seusai mengambil ponsel milik Jasson yang ia sita dan kemarin sempat ia simpan di dalam laci nakas.


"Apa aku boleh menghidupkan ponselmu untuk melihat kejernihan kameranya?" Pertanyaan Kimmy membuat Jasson menoleh singkat ke arahnya sambil menganggukan kepala.


"Segera alihkan ke mode pesawat!" perintah Jasson.


"Iya ...."


Kimmy mulai menghidupkan daya ponsel milik suaminya tersebut dengan penuh semangat, hingga kini, layar ponsel itu menampakan kejernihannya. Kimmy menggeser layar bagian atas, bermaksud mengalihkannya ke  mode pesawat. Namun, ponsel itu tiba-tiba bergetar berulangkali, saat pesan singkat dari Alea masuk secara beruntun.


Melihat nama Alea yang sepagi itu sudah  menghiasi ponsel suaminya. Dada Kimmy seketika terasa sesak, seakan tidak menemukan udara yang melingkupi paru-parunya. Namun, sebisa mungkin Kimmy menunjukan kepada Jasson  bahwa dirinya baik-baik saja.


"Jasson, Nona Alea mengirimkan banyak pesan untukmu. Sepertinya ini sangat penting." Kimmy mengulurkan ponselnya sambil tersenyum kepada Jasson seusai dirinya berjalan menghampiri suaminya tersebut.


Jasson segera menerima ponsel itu, namun tak mengalihkan pandangannya dari kedua mata Kimmy yang menatapnya dengan tatapan sendu.


"Ehm, aku akan menunggumu di halaman." Kimmy kembali mengulas senyuman singkat di bibir tipisnya, ia berbalik badan, kedua matanya terpejam singkat seiring dengan helaan napasnya yang berat, sebelum kemudian, ia memilih berlalu pergi dari sana.


.


.


.