
Saat dirasa teman-teman suaminya itu sudah pulang, Kimmy pun membawa Elga masuk kembali ke kamarnya untuk menidurkan keponakannya yang sudah benar-benar mengantuk. Kimmy hendak menutup pintu kamar itu, namun Jasson tiba-tiba menahan tangannya. Kedua mata Kimmy seketika teralihkan ke arah tangan Jasson yang dengan jelas menyentuh tangannya tersebut.
"Maaf." Jasson segera menjauhkan tangannya dari tangan Kimmy. Laki-laki itu bermaksud menahan pintu itu agar tidak ditutup oleh istrinya itu, namun tangannya itu justru malah tidak sengaja menyentuhnya.
"Ada apa?" tanya Kimmy seraya menundukan pandangannya.
"Paman juga mau ikut tidur bersama Bibi, ya?" cetus Elga seraya menguap. Gadis kecil itu terlihat benar-benar mengantuk.
"Tidak, Paman juga mau masuk ke dalam kamar, karna Paman harus menyelesaikan pekerjaan Paman yang belum selesai." Jasson menjawab pertanyaan Elga, namun kedua matanya mengarah ke arah Kimmy yang masih menundukan pandangannya.
Kimmy hanya diam, ia membiarkan pintu kamar itu terbuka dan berjalan mendahului Jasson untuk meletakan Elga di atas tempat tidur, lalu ia juga menyusul dan merebahkan tubuhnya di samping putri kecil sahabatnya tersebut. Tangannya melingkar di tubuh mungil Elga, memberi kehangatan hingga membuat gadis kecil itu begitu nyaman akan dekapan bibinya.
"Ayo sayang tidurlah!" perintah Kimmy, semakin mengeratkan dekapannya.
"Bibi bernyanyilah supaya aku tidur," pinta Elga.
"Bibi tidak bisa bernyanyi, sayang."
"Semua orang pasti bisa bernyanyi ... ayo bernyanyilah Bibi," cetusnya dengan memaksa. Kimmy tidak bisa menolak permintaa kepokannya tersebut, ia mengingat-ingat lagu yang sekiranya mudah untuk ia nyanyikan. Hingga sebuah lagu yang dipopulerkan oleh Barry Manillow yang berjudul Cant smile without you, menjadi lagu pilihan yang akan ia nyanyikan untuk mengiringi Elga tidur. Lagu semasa kecil dirinya yang sering sekali dinyanyikan oleh mama Kelly untuknya.
"Baiklah, Bibi akan menyanyikan lagu untukmu, tapi kau harus tidur, ya." Elga menganggukan cepat kepalanya saat Kimmy menuturinya, kedua telinganya sudah ia persiapkan dengan baik untuk mendengarkan bibinya tersebut bernyanyi.
You know I can't smile without you
I can't smile without you
I can't laugh and I can't sing
I'm finding it hard to do anything
You see I feel sad when you're sad
I feel glad when you're glad
If you only knew what I'm going through
I just can't smile without you.
Kau tau aku tidak bisa tersenyum tanpamu
Aku tidak bisa tersenyum tanpamu
Aku tidak bisa tertawa dan tidak bisa bernyanyi
Aku merasa sulit untuk melakukan apa pun
Lihatlah, aku merasa sedih ketika kau sedang bersedih
Aku merasa senang ketika Anda senang
Andai saja kau tahu apa yang aku alami
Aku hanya tidak bisa tersenyum tanpamu.
Kimmy menyanyikan lagu itu berulang kali dengan suaranya yang terdengar sangat lembut dan merdu hingga suaranya itu memenuhi isi kamar itu, telapak tangannya tak berhenti bergerak naik turun mengusap dengan lembut kepala Elga hingga keponakannya tersebut benar-benar tertidur.
Gadis kecil itu sangat menikmati suara bibinya, begitu pula dengan Jasson yang tidak sengaja ikut mendengarkan suara istrinya yang sedang menyanyikan lagu untuk keponakannya. Laki-laki itu kini terlihat sedang bekerja dengan meletakan laptop di atas kedua pahanya. Namun, sesekali, kedua matanya tak lepas mengarah ke arah tempat tidur, memperhatikan Kimmy dan juga Elga dari balik layar komputer lipat yang saat ini masih ia pangku.
Saat dirasa Elga sudah tertidur dengan pulas, Kimmy menghentikan nyanyiannya, ia perlahan menjauhkan tangannya dari tubuh keponakannya itu untuk beranjak bangun dari tempat tidur. Selimut yang memiliki bulu-bulu halus ia balutkan di sebagian tubuh Elga supaya menghangatkan tubuh keponakannya itu.
"Dia lucu sekali jika tidur." Kimmy mencubit dengan pelan bibir mungil Elga, lalu mendaratkan ciuman di kening keponakannya tersebut, memandang wajah Elga yang begitu menggemaskan sembari menyematkan seulas senyuman di bibir tipisnya, namun senyuman itu seketika sirna tatkala Kimmy lagi-lagi tidak sengaja melihat Jasson menatapnya dari ujung sana.
"Kenapa dia selalu menatapku seperti itu? dia menatapku seperti aku ini seorang pencuri saja." Kimmy menggurutu, ia segera mengalihkan pandangannya dan berpura-pura tidak melihat laki-laki yang telah menjadi suaminya tersebut, hendak memilih keluar untuk meninggalkan kamar dan pergi ke dapur.
"Kau mau ke mana?" suara Jasson sesaat menghentikan langkah kaki Kimmy hingga tubuh wanita itu berbalik dan menoleh ke arahnya.
"Mau membuatkan kopi untukmu, apa kau memerlukan sesuatu?"
"Ehm, tidak, aku juga mau memintamu untuk membuatkan kopi untukku."
"Oh, tunggulah sebentar. Aku akan membuatkannya."
***
Tak lama setelah itu, Kimmy kembali ke kamar dengan membawa secangkir kopi yang ia buatkan untuk Jasson, ia dengan begitu hati-hati meletakan cangkir kopi tersebut di atas meja tepatnya di depan suaminya, rasanya begitu kaku dan canggung hingga membuat tangannya sedikit gemetar saat mengetahui Jasson tak berhenti menatapnya dengan tatapan dingin.
"Kenapa Jasson selalu saja memandangiku seperti itu? apa ada yang salah dengan diriku?"
"Apa kopi ini enak?" tanya Jasson melirik ke arah cangkir itu dengan tatapan meragukan, mengalihkan laptop yang ia pangku dan meletakannya di atas meja, lalu menukarnya dengan cangkir yang berisi kopi tersebut.
"Aku tidak tau, coba saja, kalau tidak enak kau bisa membuangnya."
Jasson mendekatkan bibir cangkir itu dan mulai meneguk sedikit minuman berwarna hitam tersebut hingga tenggorkannya teraliri. Sejenak menjauhkan cangkir itu dari bibirnya untuk mencecap rasa.
"Tidak enak, ya?" tanya Kimmy.
"Maaf, aku tidak pandai memasak atau membuat kopi seperti Nona Alea," sambungnya. Kedua matanya terlihat mengkilat, benar-benar berat saat membandingkan dirinya sendiri dengan wanita yang dekat dengan suaminya tersebut. Karna kenyataannya, yang ia tau, Alea memang sangat pandai sekali memasak dan juga membuat kopi. Jasson pasti sangat menyukai masakan dan juga kopi buatan wanita itu, pikirnya.
Jasson tak langsung menjawabnya, perlu beberapa saat untuk kedua matanya menatap istrinya yang sedang menundukan pandangannya ke bawah. Hendak menyauti perkataan Kimmy, namun suara telepon rumah yang berbunyi terlebih dulu mengurungkan niatnya.
Bayangan Kimmy dalam sekelebat hilang dari pandangannya, karna wanita itu dengan tergesa-gesa keluar dari kamar tanpa permisi hanya untuk mengangkat telepon yang masih menyuarakan deringnya.
"Kenapa dia jadi membandingkan dirinya sendiri dengan Alea?" gumam Jasson.
"Kopi buatannya sama sekali tidak buruk. Ini sangat enak." Jasson kembali meneguk dan menikmati kopi tersebut.
***
Sore harinya, Kimmy terlihat duduk melamun di ruang tamu dengan menyandarkan punggungnya di sandaran sofa. Lagi-lagi, wanita itu merasa Insecure setelah tadi membuatkan kopi untuk Jasson, merasa tidak berguna dan kembali membanding-bandingkan dirinya dengan Alea.
"Bibi dokter ...." Suara Elga yang parau membuyarkan pikiran Kimmy yang sedang menjelajah tak tentu arah. Elga yang sudah bangun terlihat digendong oleh Jasson yang kini sedang berjalan menghampirinya.
"Sayang, kau sudah bangun?" Kimmy beranjak berdiri, saling menghampiri. Elga seketika meminta untuk digendong olehnya. Jasson pun mengalihkan keponakannya tersebut kepada Kimmy.
"Kenapa Bibi meninggalkanku?" rengek Elga, kepalanya ia sandarkan di bahu Kimmy dengan sangat manja.
"Tidak, Sayang. Bibi tidak meninggalkanmu."
"Bersiaplah, kita akan membawa Elga ke rumah mama," perintah Jasson.
"Ehm, kau tidak mengantarkan Elga ke rumah Alana dan kakak Ken?" tanya Kimmy.
"Tidak, mama meminta kita membawa Elga ke sana. Elga akan menginap di rumah mama."
"Baiklah, aku dan Elga akan bersiap."
***
Kimmy terlihat duduk memangku Elga di dalam mobil, kini ia dan Jasson akan pergi ke rumah mama Merry untuk mengantarkan keponakannya tersebut. Setibanya di sana, Kimmy dan Jasson tak langsung pulang, mereka terlebih dulu mengobrol bersama mama Merry dan juga papa Gio. Begitu pun Jesslyn, suasana rumah itu menjadi ramai ketika wanita itu bertemu dengan keponakan dan juga sahabatnya yang kini telah menjadi saudara iparnya tersebut.
Karna merindukan anak dan menantunya, mama Merry pun menyuruh Kimmy dan Jasson untuk sekalian makan malam bersama di sana. Seusai makan malam, mereka berdua berniat berpamitan untuk pulang, namun Elga merengek dan tidak mengizinkan paman dan juga bibinya tersebut untuk pulang.
"Bibi dokter dan Paman tidak poleh pulang!" Elga yang kala itu dipangku Merry, segera beranjak turun dan berganti menghampiri Kimmy yang duduk di beberapa kursi samping neneknya tersebut.
"Iya, Sayang. Kalian bermalam saja di sini, Elga tidak mau kalian tinggalkan," timpal Merry.
"Iya, Kimmy, kau dan Jasson tidur saja di sini, nanti kita tidur berdua seperti biasanya sambil menonton film kesukaan kita dan juga makan banyak snack," sahut Jesslyn dengan penuh semangat.
"Jesslyn!" tegur Gio. Jesslyn seketika terdiam dan mengunci rapat mulutnya, ia terlupa bahwa Kimmy sudah menjadi istri dari saudaranya, tidur bersama sahabatnya seperti dulu tidak akan mungkin bisa.
Kedua ekor mata Kimmy melirik ke arah suaminya. "Ehm, Kimmy terserah Jasson, Ma, Pa ...."
"Baiklah, Ma. Kami akan bermalam di sini. Besok pagi-pagi sekali kami akan kembali." Mendengar kalimat itu Jesslyn dan Elga merasa sangat senang.
***
Jasson mengajak Kimmy untuk pergi ke kamar yang dulu sering ia tempati saat dirinya masih lajang. Kamar itu terlihat sangat rapi dan bersih, bahkan tidak ada debu yang mengendap di sana, karna Bi Molley setiap hari selalu membersihkannya dan tidak akan membiarkan kamar tersebut menjadi kotor.
"Ini kamarmu?" tanya Kimmy.
"Bukan, kamarnya Bi Molley!" seru Jasson dengan kesal.
"Sudah jelas dari dulu tau ini kamarku, masih saja bertanya," gerutu Jasson.
"Ya Tuhan, kamar ini lebih rapi daripada kamarku."
Ini untuk pertama kalinya Kimmy masuk ke dalam kamar Jasson, banyak sekali barang-barang antik dan juga buku-buku lama yang tertata dengan rapi dan apik di sana. Begitu pula dengan foto-foto suaminya yang lebih dari satu terpajang di dinding kamar tersebut.
Namun, ada satu foto yang kini menarik perhatian Kimmy. Yaitu foto Jasson saat bersama Alea, entah kenapa hati Kimmy merasa sesak saat melihat foto itu, terlebih lagi senyuman yang merekah di antara keduanya, bahkan dirinya tidak pernah berfoto bersama Jasson dengan jarak sedekat itu, sekalipun mereka berdua pernah berfoto saat pernikahan, tetapi Jasson tidak mau memajangnya di rumah baru mereka.
"Kau tidurlah di tempat tidur, aku akan tidur di sofa," perintah Jasson membuyarkan pandangan Kimmy, hingga wanita itu menoleh ke arah suaminya. Karna, tempat tidur di kamar itu memiliki ukuran lebih kecil dari tempat tidur milik mereka yang ada di rumah, jadi Jasson lebih memilih mengalah, karna rasanya tidak mungkin jika harus berbagi tempat tidur bersama istrinya.
Kimmy menganggukan kepalanya sebagai jawaban, namun rasanya wanita itu tidak bertenaga setelah melihat foto suaminya bersama Alea. Jasson berjalan mendekati sofa yang ada di dalam kamarnya dan segera mendaratkan tubuhnya di sana.
Kedua mata Jasson memperhatikan Kimmy yang terlihat kembali memandangi fotonya bersama Alea. Wanita itu kini terlihat mendudukan tubuhnya di tepi tempat tidur, hendak merebahkan tubuhnya, namun pintu kamar tiba-tiba terbuka hngga menyita perhatian Kimmy dan Jasson, terlihat Elga masuk ke dalam sana.
"Bibi dokter." Elga berlari menghampiri Kimmy, hingga mengurungkan tubuh wanita itu yang hampir saja berbaring, Kimmy pun memilih untuk beranjak duduk kembali.
"Elga, kau belum tidur?" Kedua tangan Kimmy mnangkap Elga dan meletakan keponakannya itu di atas pangkuannya.
Jasson beranjak berdiri dan menghampiri istri beserta keponakannya tersebut. "Elga, kenapa kemari? kau bukannya tidur bersama bibi Jesslyn?" Jasson duduk menjongkokan tubuhnya di depan Kimmy dan juga Elga seraya mengusap kepala keponakannya tersebut. Elga yang diusap kepalanya tetapi justru malah jantung Kimmy yang berdesir, sungguh kesialan bagi wanita itu karna tidak bisa mengendalikan perasaannya.
"Kata Paman Harry, Bibi dan paman bermain setiap malam, Elga ingin ikut bermain," pinta Elga dengan suara polosnya.
"Harry sungguh keterlaluan!" umpat Jasson, disusul dengan decakan dari bibirnya.
"Bibi dan Paman tidak bermain, Sayang. Kami akan tidur."
"Kalian tidak mau bermain, ya, jika ada aku?" Elga mencebikan bibirnya, merasa kesal hingga bibir mungil itu kini terlihat mengerucut.
"Tidak, Sayang. Bibi dan Paman tidak pernah bermain, malam hari adalah waktunya semua orang untuk beristirahat bukan untuk bermain," tutur Kimmy.
"Oh, seperti itu? baiklah, Elga akan tidur bersama Bibi dan Paman."
"Ya sudah, tdiurlah di sini bersama Bibi!" tutur Jasson ia beranjak berdiri dan kembali mendaratkan tubuhnya di sofa.
"Paman tidak tidur?" tanya Elga.
"Paman akan tidur di sofa."
"Kenapa Paman tidak tidur bersama Bibi?"
"Tempat tidurnya tidak muat!"
"Muat, tubuhku dan tubuh Bibi dokter tidak terlalu besar, jadi kita bisa tidur bertiga."
"Elga ...."
Kimmy meminta Kimmy untuk menurunkannya, gadis kecil itu berjalan menghampiri Jasson.
"Ayo Paman, kita tidur bersama!" Elga menarik-narik tangan Jasson.
"Elga, jangan memaksa! Paman akan tidur di sini!" tutur Jasson.
"Tidak mau, aku mau tidur bersama Paman dan Bibi." Elga masih saja terus merengek dan menarik-narik tangan Jasson, hingga membuat Jasson tidak memiliki pilihan selain menuruti keinginan keponakannya itu untuk tidur bersama.
Jasson beranjak berdri, menggendong lga dan berjalan kembali menghampiri Kimmy.
"Apa kau tidak keberatan berbagi tempat tidur dengan kami?" tanya Jasson.
"Tidak, tidak sama sekali." Kimmy menjawabnya cepat.
"Bagaimana mungkin aku keberatan."
Jaason, meletakan tubuh Elga di atas tempat tidur, disusul oleh Kimmy yang merebahkan tubuhnya di samping keponakannya itu. Jasson memberikan ucapan selamat malam dan juga ciuman di kening Elga tanpa diminta, karna itu sudah menjadi kebiasaannya. Jasson hendak merebahkan tubuhnya di samping Elga, namun tangan mungil Elga tiba-tiba menahannya.
"Tunggu, Paman!"
"Ada apa, Sayang?" tanya Jasson.
"Paman belum memberikan ucapan selamat malam dan ciuman untuk Bibi dokter," ujar Elga.
"Elga!" seru Kimmy.
"Biasanya, daddy selalu memberiku dan mami ucapan selamat malam dan juga ciuman, kenapa paman tidak memberikannya kepada Bibi?" celoteh Elga.
"Elga, sudah. Ayo cepat tidurlah!" printah Kimmy, namun hal itu tak mengindahkan Elga.
"Ayo Paman, beri ucapan selamat malam dan ciuman kepada Bibi!" perintah Elga dengan suara pelan namun memaksa.
"Dia ini sungguh berbahaya," gumam Jasson.
Jasson sejenak diam. Lalu, kedua matanya beralih menatap Kimmy dengan tatapan dingin, hingga membuat istrinya itu takut saat melihatnya.
"A-aku tidak mengajarinya!" ucap Kimmy, merasa takut akan tatapan suaminya tersebut.
.
.
.
.
Fyi:
Follow akun IG Nona ya: @Nona.lancaster
Watt'pad: Nona lancaster
Biar kalian tidak tertinggal infromasi, karna kemungkinan, Nona ngga akan hanya menulis di Noveltoon saja.
Jangan lupa ya beri dukungan Oh My Jasson berupa Like dan juga Vote, itu akan sangat membantu Nona untuk semangat menulis, terimakasih ^_^