
Teriakan dan tawa yang cukup renyah terdengar sayup-sayup di pendengaran Jasson hingga membuat laki-laki itu bangkit untuk beranjak berdiri dan berjalan mendekati jendela kamar. Disingkapnya tirai tipis berwarna putih yang menutupi jendela itu, kedua matanya disuguhi akan pemandangan dua orang perempuan yang tengah tertawa di atas ayunan gantung, kedua perempuan itu tak lain ialah Kimmy dan juga Elga. Jasson tak mau berpindah, ia sibuk memperhatikan istri dan keponakannya dari balik jendela yang terhalang oleh teralis besi berlapisakan tembaga itu.
"Paman, ayo kemari-lah." Elga melambaikan tangannya kepada Jasson saat gadis kecil itu tak sengaja melihatnya. Tak ada balasan. Jasson menutup tirai jendela dan segera meninggalkan kamarnya untuk menghampiri istri dan juga keponakannya yang masih bermain di taman.
Saat melihat Jasson, Elga turun dari ayunan dan berlari menghampiri. Dirangkul-lah lengan tangan pamannya itu dan mengajaknya untuk ikut duduk di atas ayunan gantung hingga kini laki-laki itu duduk persis berhadapan dengan Kimmy.
"Kau sedang bermain apa?" Jasson meletakan tubuh Elga di atas pangkuannya. Tangannya menyelipkan rambut pirang keponakannya yang berhamburan karna tertiup oleh angin.
"Bermain tebak-tebakan bersama Bibi dokter."
"Apa kau tau, suaramu berisik sampai terdengar di kamar Paman," katanya sembari menekan hidung Elga yang mengembang kempis dengan jari telunjuknya.
"Bibi yang membuatku tertawa, jadi salahkan saja Bibi." Elga mencebikan bibirnya sambil terkekeh.
"Kenapa kau jadi menyalahkan Bibi?" Kimmy memrotes, tangannya mengambil alih tubuh Elga dari Jasson dan menggelitiki perutnya hingga gadis itu tertawa geli tiada henti.
Pemandangan yang ada di depan Jasson saat ini sungguh meneduhkan kedua mata sekaligus jiwanya, senyuman mendamba terulas tipis di bibirnya yang cukup tebal hingga memperlihatkan bulu-bulu tipis yang kini mulai tumbuh di atas bibir dan juga dagunya. Rumahnya seakan hidup setiap kali ada Elga di sana. Pun Kimmy, wanita itu selalu ceria setiap kali bersama Elga. Jasson seperti melihat kembali karakter Kimmy yang sempat tak ia kenali.
***
Malam harinya, saat Jasson sedang menikmati makan malam bersama Kimmy dan juga Elga, suara ketukan pintu terdengar dari luar. Seorang pelayan bernama bibi Katty yang bekerja di rumah Jasson selama beberapa bulan ini terpaksa meninggalkan makan malamnya untuk membukakan pintu rumah, namun Jasson tiba-tiba menghentikan langkah wanita yang sudah berusia kurang lebih seperti mamanya.
"Bibi lanjutkan saja malamnya, biar Jasson yang membukakan pintu, Bi." Jasson beranjak berdiri dan berlalu pergi sesaat setelah bi Katty mengiyakan perintah darinya.
Dengan langkah yang panjang, Jasson berjalan ke ruang tamu, diraihnya handle pintu sehingga pintu itu kini terbuka lebar. Seorang laki-laki yang ia kenal tengah berdiri dengan senyuman yang menyeringai wajahnya sembari membawa beberapa kantung belanjaan di salah satu tangannya.
"Hai Jasson ...." sapanya tanpa mengakhiri senyuman.
Sebuah pelukan seketika Jasson daratkan di tubuh tamunya yang ternyata tak lain ialah Harry, sahabat kecilnya. Memberi rangkulan dan tepukan bahu sebelum akhirnya ia mengajak sahabatnya itu untuk masuk dan mempersilahkannya duduk di sofa ruang tamu.
"Kau sudah pulang? kenapa tidak memberitahuku dulu kalau kau mau kemari?" Jasson bertanya secara berangsur. Sudah hampir seminggu mereka berdua tidak bertemu dikarenakan Harry sedang melakukan perjalanan bisnis di luar kota.
"Aku baru saja pulang jadi ini sekalian mampir ke rumahmu."
"Oh, iya, di mana Kimmy?" Kepala Harry mengangsur dan menyorot ke dalam rumah, namun tidak melihat istri sahabatnya tersebut.
"Kimmy berada di dapur, dia sedang menyuapi Elga."
"Elga di sini?" tanyanya.
"Iya, dia menginap di sini sampai hari minggu."
"Wah, bisakah aku bertemu dengannya?"
"Elga masih makan, jangan menemuinya dulu karna dia sulit makan jika sudah bertemu dengan orang lain," tutur Jasson. Harry sempat kecewa, namun bisa laki-laki itu bisa mengertikannya.
"Baiklah. Oh, iya, ini aku membelikan Kimmy dan Jesslyn baju rajut. Tolong nanti berikan kepada mereka." Harry mengulurkan paper bag yang sudah diketahui isinya kepada Jasson.
Jasson tak langsung menerima pemberian dari sahabatnya itu. "Tidak biasanya sekali kau membelikan baju untuk Kimmy dan Jesslyn?" tanyanya dengan heran hingga salah satu alisnya terangkat.
"Ehm, iya, temanku menawarkan baju rajut ini kepadaku, aku tidak enak jika menolaknya. Aku pikir ini akan sangat bagus dipakai oleh Kimmy dan Jesslyn. Baju rajutnya ini sama, yang membedakan hanya warnanya saja."
"Oh ...." Jasson menerima paper bag itu. Sejenak mengintip isi di dalamnya, setelah itu meletakannya di atas sofa, sebelum kemudian mengucapkan terimakasih.
"Ingatlah, itu untuk Kimmy dan juga Jesslyn. Bukan untukmu!"
"Aku tau! Kau pikir aku sudah gila memakai baju wanita!" cetus Jasson, tangannya reflek memukul bahu Harry yang tengah menertawakannya.
"Sebenarnya, aku ingin membelikan baju ini untuk Jesslyn, tapi untuk mempermudah supaya Jesslyn mau menerimanya, aku sekalian membelikan juga untuk Kimmy," gumam Harry.
"Oh, iya, aku juga membelikan beberapa buku dan film fantasy untuk Alea dan dirimu." Harry mengambil paper bag lain dan mengeluarkan beberapa buku dan film yang berbentuk CD seperti yang ia katakan baru saja.
"Apa Alea akan menyukai ini?" tanyanya kembali.
"Tentu saja, apapun yang berbau fantasy, dia pasti akan menyukainya."
"Syukurlah, besok aku akan ke rumahnya dan memberikan ini untuknya. Dan ini untukmu." Harry memberikan satu buku dan satu film fantasy untuk Jasson.
"Ini semua untuk Alea?" tanya Jasson, salah satu alisnya kembali terangkat dan menatapnya dengan penuh kehernan.
"Tentu saja. Apa ada yang salah?"
"Tidak, heran saja. Kau memberikan buku dan film sebanyak ini untuknya," kata Jasson.
"Iya, sebagai ucapan terimakasih, karna selama ini dia sudah membantu dan juga selalu menjadi pendengar baikku. Dia sungguh wanita dewasa," pujinya sembari tersenyum.
"Iya, kau benar itu. Alea memang wanita dewasa," sahut Jasson.
"Bagaimana perjalanan bisnismu? apa kau menemukan wanita di sana?" Jasson menepuk bahu Harry sambil tertawa meledek.
"Aku tidak menemukan apapun. Niatku bekerja bukan mencari wanita. Dasar kau ini!" Harry terkekeh dan membalas tepukan di bahu sahabatnya itu.
"Sampai kapan kau akan sendiri seperti ini? kau tidak bosan?" ledek Jasson.
Harry mengembuskan napasnya perlahan. "Aku sedang menunggu wanitaku," katanya sembari menatap ke sembarang arah, tatapan dan suaranya terdengar cukup dalam.
"Selalu itu yang kau katakan dari dulu. Bagaimana jika wanita yang kau tunggu tidak mau denganmu? atau dia sudah memiliki laki-laki lain?" Perkataan Jasson membuat Harry mengalihkan pandangan dengan cepat ke arahnya.
Terdiam sejenak, nyalinya menjadi ciut. "Entahlah ..." jawabnya sambil mengedikkan kedua bahunya.
"Harry ...." Kimmy yang terlihat menggendong Elga dan berjalan ke menghampiri seketika menghentikan percakapan mereka berdua.
"Hai Kimmy, apa kabar?" tanya Harry.
"Aku baik, kau sudah kembali dari luar kota?" tanya Kimmy setelah menolak untuk duduk saat Harry menyuruhnya.
"Iya, aku baru saja kembali. Oh, iya, Kimmy, aku membelikanmu dan Jesslyn baju rajut, sedikit oleh-oleh dari luar kota. Kuharap kau menyukainya."
Harry mengambil kembali paper bag yang tadi telah diberikan kepadaJasson. "Jasson, bajunya aku berikan langsung kepada Kimmy, aku takut nanti kau ikut memakainya," ledek Harry seraya tertawa.
"Kau ini benar-benar sialan."
"Terimakasih banyak, Hary. Kenapa jadi merepotkanmu." Kimmy menerima paper bag itu tanpa melihat isi yang di dalamnya.
"Apa kabar Paman Hairy?" timpal Elga yang tiba-tiba ikut menyapa.
"Paman Harry, bukan Hairy!" cebik Harry dengan kesal. "Paman baik sayang, apa kau tidak mau Paman gendong?"
"Elga sepertinya mengantuk, Harry," tutur Kimmy.
"Baiklah tidak masalah ...."
"Oh, iya. Bagaimana, apa kalian sudah menyiapakan calon keponakanku?" Harry bergantian melihat ke arah Kimmy dan juga Jasson. Namun Jasson dan Kimmy gagal mencerna pertanyaan laki-laki itu. Namun tidak dengan Elga yang mengerti akan apa yang sedang ditanyakan oleh Harry.
Kimmy mengernyitkan dahinya. "Maksudmu?" tanyanya kemudian.
"Paman Hairy menginginkan adik bayi," timpal Elga.
"Itu maksudku, apa kau sudah hamil, Kimmy? Aku sungguh tidak sabar ingin melihat bagaimana hasil cetakan Jasson." Harry tertawa seperti orang yang sama sekali tak memiliki dosa hingga berbicara seperti itu. Ia tak berpikir bahwa pertanyaan itu ternyata menyakiti perasaan Kimmy.
Tatapan Kimmy dan Jasson sejenak saling bertemu. Sebelum akhirnya wanita itu menjawab, "Ehm, belum." Senyuman getir mengulas di bibir tipisnya yang sedikit pucat. Jasson pun bisa membaca raut wajah istrinya tersebut.
"Kau ini terlalu banyak bertanya, cepat pulanglah!" usir Jasson.
"Kau mengusirku?"
"Iya, aku mengusirmu!" seru Jasson.
"Ehm, Harry. Aku permisi masuk ke dalam, aku mau menidurkan Elga," pamit Kimmy. Ia berjalan dengan langkah gontai, kedua matanya sejenak terpejam bersamaan dengan embusan napasnya yang terbuang dengan sangat berat.
***
Setengah jam yang lalu, setelah Harry pulang, Jasson memilih untuk memeriksa laporan kerja yang telah dikirimkan oleh Alea melalui email. Lebih baik menuntaskan pekerjaannya malam itu juga supaya besok ia tak memiliki tanggungan dan benar-benar menghabiskan waktunya untuk sejenak meninggalkan urusan kantor, pikirnya.
Sementara Kimmy, wanita itu terlihat sedang merebahkan tubuhnya di samping Elga sembari menyanyikan sebuah lagu untuk keponakannya itu supaya lekas tidur. Namun sudah beberapa putaran lagu ia nyanyikan, namun kedua mata Elga masih saja terjaga.
Elga tiba-tiba beranjak duduk, ia mengamati Jasson yang duduk di atas sofa dengan memangku sebuah lapotop di kedua pahanya, laki-laki itu terlihat masih sibuk akan pekerjaannya.
"Elga, ayo tidur, kenapa bangun?" tanya Kimmy, namun Elga tak menggubrisnya.
"Paman tidak tidur?" Pertanyaan Elga seketika mengalihkan perhatian Jasson untuk menoleh ke arahnya.
"Sebentar, Sayang. Paman masih bekerja," sahutnya seraya tersenyum.
"Kenapa lama sekali?" Bibir mungil Elga memrotes.
"Iya sebentar lagi. Tidurlah dulu bersama Bibi," tutur Jasson.
"Baiklah, tetapi nanti jika aku sudah tertidur, peluk aku ya, Paman," pinta Elga, suara gadis kecil itu terdengar parau saat setelah menguap.
"Iya, Sayang."
Elga kembali merebahkan tubuhnya dan melingkarkan tangannya di tubuh Kimmy. Kedua matanya memperhatikan Kimmy tanpa berkedip, seperti ada pertanyaan yang sedang ia susun.
"Sayang, ayo tidur!" perintah Kimmy. Namun Elga menggelengkan kepalanya tanpa bersuara.
"Kenapa? Apa kau mau Bibi buatkan susu lagi?"
"Tidak mau." Elga kembali menggelengkan kepalanya.
"Lalu kau mau apa?"
"Aku mau keponakan, Bi." Percakapan antara Elga dan Kimmy berhasil di dengar oleh Jasson hingga perhatian laki-laki itu tersita ke arah mereka.
"Keponakan?" Kimmy mengernyitkan keningnya.
"Iya, aku dan paman Hairy menginginkan keponakan dari Bibi dan Paman." Elga berucap dengan memelas. Sepertinya gadis itu terbawa akan perkataan Harry yang tadi sempat mempertanyakan tentang keponakan kepada Jasson dan Kimmy. Rasanya Kimmy ingin tertawa saat Elga berkata seperti itu.
"Yang benar itu adik, sayang, bukan keponakan." Kimmy mencubit hidung Elga dengan gemas.
"Iya, aku menginginkan adik bayi," ucap Elga. "Kata Bibi akan memberikan adik bayi yang lucu untukku? mana adik bayinya?" tanyanya kembali hingga membuat Kimmy bingung untuk menjawabnya.
"Ehm, iya, nanti Bibi akan memberikannya, sekarang tidurlah." Kimmy berucap dengan suara ragu dan berat. Bagaimana bisa dia memberikan apa yang sedang diinginkan oleh keponakannya itu. Sementara Jasson tidak menginginkannya.
"Bibi janji akan memberikanku adik bayi yang lucu seperti adik Bryen?" tanya Elga seraya mengulurkan jari kelingkingnya yang sangat mungil kepada Kimmy. Memang benar apa yang dikatakan oleh Jasson. Anak seusia Elga memang terlalu pintar untuk dibohongi.
Kimmy mengaitkan jari kelingkingnya dan menganggukan kepalanya sebagai jawaban. "Sekarang tidurlah, besok kita jalan-jalan," tuturnya setelah itu.
Elga pun menuruti perkataan Kimmy, ia mengangguk dan segera memejamkan kedua matanya. Dan tak lama kemudian, gadis kecil itu tertidur dengan pulas. Namun, Jasson masih saja berdiam di tempat yang sama dan memperhatikan istri dan juga keponakannya.
Kimmy mengusap-usapkan telapak tangannya dengan lembut di wajah dan juga kepala Elga yang baru saja tertidur, ia menatap wajah gadis itu lekat-lekat. Kedua sudut matanya terlihat basah saat genangan air mata merebak secara tiba-tiba.
"Aku juga menginginkan seorang anak ...."
"Aku sangat menginginkannya." Kimmy memejamkan kedua matanya dan membenamkan erat tubuh Elga ke dalam pelukannya, sebelum diakhiri dengan sebuah ciuman dan terlelap ke alam mimpi.
***
Jasson mengakhiri pekerjaannya, ia mematikan komputer lipat yang masih ia pangku dan meletakannya di tempat semula.
Laki-laki itu kini merangkak naik ke atas tempat tidur secara perlahan supaya tidak membangunkan Kimmy dan juga Elga yang sudah tertidur terlebih dulu. Jasson memposisikan tubuhnya tepat di samping Elga hingga tubuh keponakannya itu terapit di antara tubuhnya dan juga Kimmy. Sebuah ciuman ia daratkan di kepala gadis kecil itu.
Jasson hendak merebahkan tubuhnya, namun ia urungkan. Kedua matanya cukup lama menatap lekat wajah Kimmy yang tertidur dengan pulas. Ibu jarinya tiba-tiba menyentuh sudut mata Kimmy sesaat setelah dirinya melihat sepercik cairan bening masih melekat di sana.
"Dia menangis?" gumamnya heran. Masih tak mau mengindahkan pandangannya dari wajah istrinya tersebut.
"Paman, peluk aku." Suara Elga yang mengigau dengan tidak jelas membuyarkan pandangan Jasson.
Jasson pun segera merebahkan tubuhnya dengan posisi menghadap ke arah Elga dan juga Kimmy, ia hendak melingkarkan tangannya di tubuh Elga, namun sejenak ia urungkan.
Kedua matanya kembali tersita sesaat setelah menatap wajah Kimmy. Jasson dengan ragu melingkarkan tangannya perlahan di tubuh Kimmy. Hingga kini kedua tubuh perempuan itu tertidur dalam dekapannya.
.
.
.
.
.
Kalau kalian suka dengan cerita Kimmy dan Jasson, jangan lupa untuk selalu dukungan Like dan juga Vote, ya. Terimakasih. ^_^