
"Dia berani sekali menertawakanku!" umpat Jasson merasa sedikit kesal, tatapan dingin yang ia layangkan kepada Kimmy sama sekali tak membuatnya takut, justru malah membuat wanita itu semakin tertawa hingga merebakkan air mata.
Namun, rasa kesal Jasson seketika sirna tatkala kedua matanya sedari tadi tak henti memperhatikan Kimmy yang masih tak henti menertawakannya, rasanya ia sudah lama sekali tidak pernah melihat wanita itu tertawa.
Tawa Kimmy serasa menular, membuat laki-laki itu juga ingin tertawa pula, namun sebisa mungkin Jasson menahannya. Ia lebih memilih menarik kedua sudut bibirnya ke atas hingga membentuk sebuah senyuman tipis tanpa sepenglihatan Kimmy.
Tak lama setelah itu, tawa Kimmy menyusut, raut wajahnya menjadi datar seperti semula sesaat setelah tersadar bahwa tertawanya sudah keterlaluan. Kini ia bisa melihat dengan jelas bahwa kedua mata Jasson menerkamnya tanpa ampun dan tak membiarkan dirinya lepas sedikitpun dari pandangannya. Pun Elga, gadis kecil itu sama halnya dengan Kimmy yang sempat menertawakan pamannya akan kejahilan yang telah ia lakukan.
"Kenapa berhenti?" Jasson melayangkan tatapan dingin kepada Kommy. "Kau sudah puas menertawakanku?" sambungnya kembali tanpa ekspresi sedikitpun.
"Ma-maaf, sepertinya rahangku bermasalah, itu sebabnya aku tiba-tiba tertawa," bantah Kimmy seraya menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Ia tak berani melihat ke arah Jasson yang masih melayangkan tatapan dingin dan menyeramkan.
"Matilah kau Kimmy, kau berani sekali menertawakannya," gumam Kimmy. Ia menundukan pandangan dan memusatkan kedua manik cokelat kehitaman itu ke arah kedua tangannya yang saling meremmas satu sama lain, ia begitu bingung karna tidak ada perkataan lagi untuk membentengi rasa takutnya dari tatapan Jasson.
"Paman, jangan melihat Bibi dokter seperti itu. Kau menakutinya!" cetus Elga secara tiba-tiba. Kedua mata gadis itu melotot sembari berkacak pinggang, merasa tak terima dan mencoba menghalangi Kimmy dari pandangan pamannya.
"Kau takut denganku?" tanya Jasson kepada Kimmy. Seperti ada sesuatu yang menarik dari diri Kimmy, semacam sebuah amagnet yang membuat Jasson enggan untuk mengalihkan pandangannya.
"Tidak." Kimmy menjawab diikuti dengan gerakan kepalanya yang menggeleng cepat.
"Angkat kepalamu!" perintah Jasson. Kimmy perlahan mengangkat kepalanya, lalu menundukannya kembali, dirinya benar-benar tidak berani melihat tatapan mata Jasson yang masih saja tak berubah.
"Ehm, Elga, ayo ikut Bibi." Kimmy mengalihkan perhatian, hendak bangkit dari posisi duduknya untuk mengajak Elga pergi dari sana.
"Kau mau ke mana?" Jasson tiba-tiba menarik lengan tangan Kimmy, niat istrinya yang sudah mendekap tubuh Elga dalam dekapannya dan hendak berjalan saat kakinya menjejak di lantai kamar, pun terpaksa terhentikan.
"A-aku mau mengajak Elga bermain di taman samping."
"Enak sekali kalau kau berbicara!" Jasson menajamkan kedua alisnya hingga guratan di sekitar pelipisnya ikut berbekas.
"Ma-maksudmu?" Kimmy pikir suara gemuru ombak dan petir ialah dua hal yang paling menakutkan dalam hidupnya. Namun, ternyata, tatapan dan suara Jasson tak kalah menakutkannya.
"Bantu aku membersihkan make-up ini terlebih dulu!" perintahnya kemudian. Kimmy mengangkat wajahnya dan memberanikan diri melihat ke arah suaminya.
"Hanya membersihkan make-up saja?" tanya Kimmy.
"Tentu saja, kau tadi yang bilang sendiri akan membantuku untuk membersihkannya!" seru Jasson.
Astaga, Kimmy sendiri saja lupa dengan perkataanya tadi.
"Apa kau tidak bisa membersihkannya sendiri?" pertanyaan Kimmy tak membuat Jasson menggubrisnya, dahinya berkerut dalam dan tak ingin menjawab atau mengulangi perkataanya kembali.
"Ba-baiklah, aku akan membantumu untuk membersihkannya." Kimmy meregangkan tangannya dan melepaskan Elga dari dekapannya. "Sayang, tunggu Bibi, ya. Bibi mau membantu Paman Jasson membersihkan wajahnya," tuturnya dengan lembut sembari memberi usapan di kepala gadis kecil itu. Namun, Elga merasa kesal dan tidak terima karna waktu bermainnya tersita.
"Paman ini sungguh menyusahkan Bibi dokter saja," cebik Elga.
"Heh, kau yang menyusahkan Paman!" protes Jasson. Entah kenapa keponakannya itu sangat menyebalkan, jelas-jelas wajahnya menjadi berantakan karna-nya. "Lihatlah, wajah Paman penuh dengan lipstik hanya karna ulahmu!" Wajah Jasson terlihat galak hingga membuat Elga merasa bersalah.
Gadis kecil itu seketika merangkak ke atas tempat tidur dan menghampiri Jasson, memberi pelukan dan ciuman di wajah paman kesayangannya. "Paman marah, ya, kepadaku?" tanya Elga sesaat setelah memegang kedua pipi pamannya. Wajah Elga yang memelas karna merasa bersalah membuat Jasson tak tega melihatnya, padahal ia sama sekali tak bermaksud marah kepada Elga.
"Maafkan, Elga, ya, Paman." Elga kembali memeluk Jasson dan menyandarkan kepalanya di belakang bahu adik dari daddy-nya itu, kenapa gadis kecil itu pandai sekali merayu, tingkahnya selalu saja menggemaskan.
Jasson menjauhkan tubuh Elga supaya kedua matanya bisa menjangkau wajah keponakannya itu. "Paman tidak pernah marah kepadamu, Sayang." Senyumannya terulas tipis seraya memberi ciuman di kedua pipi bulat Elga hingga lipstick berwarna merah terang yang masih melekat di bibirnya ikut menempel di kedua pipi keponakannya itu, sebelum kemudian, ia mengangsur tubuh Elga kembali dalam dekapannya.
"Paman tidak marah kepadaku?" tanya Elga memastikan seraya menjauhkan tubuhnya.
"Tidak, Sayang. Paman tidak marah."
"Terimakasih, Paman. Kalau begitu kita besok bermain alat make-up lagi," sorak Elga dengan penuh semangat hingga mengaharuskan Kimmy menahan tawa dan menggeleng kepalanya saat melihat tingkah keponakannya itu.
"Paman tidak mau!" seru Jasson.
"Harus mau!" cetus Elga.
"Bibi dokter, aku akan menunggumu di taman belakang. Bye ... bye ...."
"Jangan jauh-jauh, Sayang. Tunggu-lah Bibi," tutur Kimmy. Elga menganggukan cepat kepalanya sebagai jawaban, gadis kecil itu turun dari tempat tidur dan berlari keluar meninggalkan kamar.
Kimmy masih berdiri di samping tempat tidur, keheningan terjadi saat Elga sudah pergi dari sana, ia bingung harus melakukan apa.
"Apa yang sedang kau tunggu?" tegur Jasson.
"Ehm ...."
"Menungguku marah?"
"Ti-tidak, se-sebentar, aku akan mengambil cairan pembersih make-up." Kimmy berjalan mendekati meja rias, diambilnya bungkusan kapas dan juga remover make-up dari dalam laci, sebelum kemudian ia kembali menghampiri suaminya yang masih tak berpindah posisi duduk di atas tepi tempat tidur.
"Ehm. Ini ...." Kimmy menundukan pandangannya dan memberikan kapas dan juga remover itu kepada Jasson.
"Apa?"
"Kau bisa menghilangkan make-up itu sendiri, tidak sulit jika menggunakan ini."
"Kau ikut mengotori wajahku, jadi kau harus membersihkannya!" Jasson menarik paksa tangan Kimmy hingga tubuh wanita itu duduk di tepi tempat tidur persis di hadapannya.
"Ta-tapi—"
Kimmy tak memiliki pilihan selain menuruti perintah suaminya. Duduk sedekat ini dengan laki-laki yang ia cintai membuat hati wanita itu bergemuruh tak karuan, namun sebisa mungkin Kimmy menyembunyikan perasaanya supaya terlihat biasa saja di depan Jasson. Entah kenapa perasaannya bisa sekacau ini, bahkan dengan Mark atau rekan kerja laki-lakinya, Kimmy tidak pernah merasa sekacau ini.
Tangan Kimmy yang gemetar kini mulai bergerak membersihkan wajah Jasson yang dipenuhi oleh polesan make-up dengan menggunakan kapas yang sudah dituang dengan cairan pembersih make-up sebelumnya. Kimmy menyapu noda lipstick, bedak maupun eyeshaddow dari wajah suaminya dengan perlahan.
Jasson tiba-tiba menggeserkan tubuhnya semakin mendekat ke arah Kimmy hingga membuat jantung Kimmy berdetak lima kali lebih cepat dari seharusnya, terlebih lagi kedua mata Jasson yang terbuka sempurna dan tak henti memandanginya membuat wanita itu siap meledakan jantungnya hanya dalam hitungan detik.
"Ja-jason, tu-tuplah matamu!" perintah Kimmy, suaranya terdengar gemetar. Jasson pun bisa merasakannya.
"Kenapa?"
"Na-nanti, partikel make-upnya bisa masuk ke dalam matamu," ujar Kimmy. Ia berkata seperti itu supaya bisa terhindar dari tatapan mata Jasson.
"Aku tidak mau! Lagipula tidak akan membuat mataku buta. Cepat bersihkan!" perintahnya kembali.
"Ya Tuhan."
"Kimmy, anggap saja Jasson ini adalah Jesslyn." Kimmy menarik napasnya sedalam mungkin, ia mulai melanjutkan kembali membersihkan wajah Jasson, kali ini wanita itu terlihat lebih tenang dan santai dibanding sebelumnya.
Kedua mata Jasson yang berwarna biru keabuan itu tak lepas memperhatikan wajah Kimmy sejengkal pun, melihat begitu dekat setiap bagian wajah wanita itu. Matanya yang bulat, alisnya yang tebal, bulu mata lentik dan bibir tipisnya yang berwarna merah jambu. Tidak ada bedak maupun lipstik yang memoles wajah wanita itu, namun kenapa terlihat begitu cantik? pikiran Jasson berkata seperti itu.
"Aku tidak suka ada yang menertawakanku." Perkataan Jasson sejenak menghentikan pekerjaan Kimmy.
"Ma-maksudmu?" tanya Kimmy seraya menghindar dari kontak mata Jasson. Seolah ada desiran api yang tiba-tiba membakar tubuhnya saat ia merasakan dengan jelas tangan Jasson menyentuh pinggangnya. Mungkin Jasson tidak sengaja menyentuhnya. Namun Kimmy rasa tidak. Ia masih bisa merasakan dengan jelas tangan laki-laki itu masih tak berpindah dari pinggangnya.
"Aku tidak suka ada yang menertawakanku!" Jasson mengulangi perkataannya lagi. Tatapannya masih sama seperti sebelumnya, mungkin ini bisa dikatakan sedikit lebih dalam.
"A-aku ...." Suara Kimmy seakan tercekat di tenggorokannya, pun napasnya, serasa tidak ada ventilasi yang melingkupi paru-parunya. "Ja-jasson ...."
Suara dering ponsel milik Kimmy tiba-tiba memecahkan kesenyapan antara mereka berdua di dalam kamar itu.
"Ja-jasson, se-sebentar, ada telepon." Kimmy menepis pelan tangan Jasson dari pinggangnya. Tubuh gemetarnya yang mengucurkan keringat dingin mengajak wanita itu beranjak berdiri dan meraih ponselnya yang tergeletak di atas nakas samping tempat tidur.
Terlihat ada satu panggilan masuk dari Mark. Ibu jari Kimmy segera mengusap layar ponsel itu sebelum kemudian meletakan benda pipih itu mendekat ke daun telinganya.
"Halo, Mark ...."
Perhatian Jasson teralihkan sesaat setelah mendengar nama laki-laki yang sudah tak asing di telinganya itu terucap dari bibir Kimmy. Jasson menyiapkan telinganya dengan baik, namun ia tidak bisa menangkap dengan jelas suara Mark dari balik ponsel yang sedang digenggam oleh Kimmy karna keterbatasan pendengarannya. Hanya suara Kimmy saja yang mampu ia dengar, ia masih belum mengetahui apa yang tengah mereka obrolkan.
"Tentu saja bisa. Jam berapa, Mark?"
"Oh, begitu, baiklah. Nanti tolong kabari aku lagi, ya."
"Selamat akhir pekan juga, Mark. Sampai bertemu besok." Perkataan itu menjadi penutup dari percakapan singkat antara Kimmy dan Mark yang kurang dari lima menit.
Kimmy meletakan kembali ponsel miliknya di atas nakas. Lalu, ia menghampiri Jasson dan hendak melanjutkan lagi pekerjaannya yang sempat tertunda.
"Jasson, maaf. Tadi Mark menelponku, karna—"
"Bukan urusanku, jadi tidak usah memberitahuku!" cetusnya seraya mengalihkan pandangannya dari Kimmy.'
"Ehm, aku akan melanjutkan untuk membersihkan wajahmu lagi." Kimmy hendak duduk, namun penolakan Jasson mengurungkan niatnya.
"Tidak perlu, aku bisa membersihkannya sendiri. Keluar dari sini!" perintah Jasson. Namun Kimmy masih tak mengindahkan perintah suaminya itu, ia masih berdiam diri di tempat yang sama dengan pikiran penuh tanda tanya.
"Apa yang masih kau tunggu?" seru Jasson.
"Ehm, tidak. Baiklah, aku permisi menemui Elga di taman." Kimmy pun membubarkan langkahnya pergi dari sana. Kedua mata Jasson masih mengikuti gerak tubuh istrinya itu hingga bayangannya menghilang bersamaan dengan pintu yang baru saja ditutup.
***
Jasson membersihkan sisa-sisa make-up yang masih menempel di wajahnya. Tak butuh waktu lama, semua sisa-sisa make up yang menempel di wajah laki-laki itu hilang seketika. Padahal, Jasson sendiri pun tau, bahwa tanpa bantuan Kimmy, ia bisa membersihkan wajahnya hanya dengan menggunakan air dan juga sabun pencuci wajah.
Teriakan dan tawa yang cukup renyah terdengar sayup-sayup di pendengaran Jasson hingga membuat laki-laki itu bangkit untuk beranjak berdiri dan berjalan mendekati jendela kamar. Disingkapnya tirai tipis berwarna putih yang menutupi jendela itu, kedua matanya disugui pemandangan dua orang perempuan yang tengah tertawa di atas ayunan gantung, kedua perempuan itu tak lain ialah Kimmy dan juga Elga. Jasson tak mau berpindah, ia sibuk memperhatikan istri dan keponakannya dari balik jendela yang terhalang oleh teralis besi berlapisakan tembaga itu.
.
.
.
.
Men-temen, follow akun instagram Nona ya, @Nona.lancaster
dan juga follow akun watt'pad Nona @Nona lancaster jangan lupa download dulu aplikasinya.
Biar kalian selalu dapat informasi dari setiap novel baru yang akan nona tulis nantinya, karna ke depannya, Nona ngga hanya akan nulis di aplikasi ini aja.
"Karena—"
Yaaaa pokoknya begitulah wkwkwkwk.
Jangan lupa dukungan like dan votenya, terimakasih ^_^