Oh My Jasson

Oh My Jasson
Jangan seperti ini!




Tatapan mata Jasson penuh mendamba. Kali ini laki-laki itu tidak bisa lagi menahan keinginannya. Tangannya  beralih, memegang pangkal leher Kimmy,  ibu jarinya mengusap bibir tipis wanita itu hingga menampakan belahan di antara keduanya, lalu, Jasson memberanikan diri untuk membenamkan bibirnya di sana hingga membuat mata Kimmy membulat penuh akan keterkejutannya.


Darah Kimmy seakan dibuat membeku saat bibir Jasson menyerangnya secara tiba-tiba. Ciuman tak berbalas itu berlangsung cukup lama, tanpa perlawanan sedikit pun dari Kimmy. Karna tubuh wanita itu seakan tak bisa bergerak, pun suaranya yang serasa tercekat di tenggorokan hingga membuat bibir wanita itu tak bergeming sedikitpun untuk mengeluarkan bantahan atau penolakan, meskipun jiwanya ingin menolak.


Bibir Jasson masih menyusup dan menyapu perlahan bibir Kimmy, menikmati bibir istrinya yang selama ini hanya bisa ia pandang dan tak berani menyentuhnya sedikitpun, sama halnya dengan Kimmy. Ini kali pertamanya Jasson menyentuh seorang wanita, sekalipun dirinya belum pernah berciuman tetapi ciuman lelaki itu tidaklah buruk. Tangannya mendekap erat tubuh Kimmy, tak memberikannya ruang maupun cela hingga membuat wanita itu hampir kesulitan bernapas. Jasson nyaris menjatuhkannya di atas tempat tidur untuk melakukan kenikmatan yang lebih dari ini. Namun usahanya sia-sia tatkala Kimmy berusaha menyadarkan dirinya.


"Jasson ...." Kimmy mendorong dengan kasar tubuh Jasson, hampir terlepas. Namun Jasson tak membiarkannya. Laki-laki itu kembali menarik tubuh Kimmy ke dalam dekapannya, menatap wajah wanita itu dengan tatapan dalam dan penuh hasrat, napas mereka beradu cepat dan saling bersahutan. Tubuh Kimmy gemetar hebat, namun berusaha menyembunyikan dari pandangan suaminya tersebut.


Kedua tangan Kimmy kini mencengkram erat-erat baju yang dikenakan oleh Jasson. Air matanya masih tak menyurut, buliran cairan bening itu masih mengalir dan mengggenangi wajahnya.  Ingin sekali ia marah, menampar,  memaki dan meneriaki laki-laki yang ada di hadapannya saat ini. Namun rasanya ia tidak bisa.


"Maafkan aku ...." Kata itu lolos dengan pelan dari bibir Jasson yang masih tampak basah, napasnya yang terasa memanas masih dengan jelas menyentuh kulit wajah Kimmy.  Kimmy menghempas tubuh suaminya itu dan berlalu cepat masuk ke dalam kamar mandi.


Air mata Kimmy masih mengurai wajahnya, ia mengangsur tubuhnya untuk menuntup pintu kamar mandi yang masih menampakan sedikit cela, lalu, Kimmy menyandarkan tubuhnya yang masih dihujam getaran hebat di balik pintu tersebut.


Tangannya kini memegangi bagian dari letak jantungnya berada. Rasanya ia butuh oksigen lebih untuk melingkupi paru-parunya yang terasa sesak sesaat setelah Jasson merenggut paksa ciuman pertamanya hingga hampir membuat dirinya lupa caranya bernapas.


"Kenapa dia menciumku?" Kimmy mengusap bibirnya, lalu menggigitnya kuat-kuat. Pikirannya masih dipenuhi tanda tanya akan apa yang telah dilakukan oleh Jasson baru saja. Kimmy memejamkan kedua matanya, untuk terakhir kalinya air matanya masih ikut mengalir, sebelum kemudian, ia benar-benar mengeringkan sisa air mata yang masih melekat di wajahnya.


***



Sudah hampir dua jam lamanya Kimmy berada di dalam kamar mandi, setelah membersihkan tubuhnya, wanita itu berdiri mematung di depan cermin wastafel. Memandangi wajahnya yang sembab dan sedikit memerah, pun bibirnya yang kini sedari tadi tak berhenti menjadi pusat sorotan matanya.


Ia bisa merasakan bagaimana rasanya dicium oleh orang yang selama ini ia cintai, sungguh mematikan, rasanya hampir seperti itu. Ya, Kimmy rasanya ingin sekali mati akibat ciuman singkat tadi, tapi ini juga memalukan. Kimmy tidak boleh menunjukan ini semua di depan Jasson.


Kimmy lebih memilih bersembunyi di dalam kamar mandi, karna dirinya masih malu bertatap muka dengan Jasson setelah kejadian tadi. Ia benar-benar tidak berani keluar meninggalkan ruangan yang semakin lama semakin terasa pengap itu.


"Aku harus bagaimana? aku tidak berani keluar." Kimmy memandangi pintu kamar mandi yang masih ditutupnya rapat.


"Tapi aku tidak mungkin tidur di dalam sini." Kimmy menarik napasnya dalam-dalam, dengan langkah gemetar, ia mendekati pintu kamar mandi tersebut dan memutar  handlenya. Sedikit cela menampakan suasana senyap di kedua ekor matanya sesaat setelah manik mata berwarna perak itu menyoroti isi kamarnya tersebut. Kimmy mengembuskan napasnya dengan lega saat dirinya mendapati Jasson yang ternyata suaminya itu sudah tertidur di atas ranjang.


"Dia sudah tidur." Kimmy membuka lebar pintu kamar mandi yang semula hanya ia buka sebagian. Ia melangkahkan kakinya keluar dari sana. Ditutupnya jendela kamar yang masih terbuka, hingga angin malam meniup-niup tirainya sebelum kemudian, wanita itu perlahan merangkak naik ke atas tempat tidur untuk mengistirahatkan tubuhnya.


"Apa aku semenakutkan itu?" Suara Jasson seketika membuat kedua mata Kimmy membulat penuh diikuti dengan tubuhnya yang terjingkat. Ia perlahan menoleh ke arah Jasson yang matanya terbuka lebar dan melayangkan tatapan dingin ke arahnya. Ya, Jasson memang sengaja berpura-pura tidur supaya Kimmy lekas keluar dari kamar mandi, ia pun mengerti bahwa istrinya berada di dalam kamar mandi selama itu karna tidak berani menemuinya.


"Ka-kau sudah bangun ...." Kimmy menggeser  tubuhnya, sedikit lebih menjauh, lalu pandangannya tertunduk ke bawah.


"A-aku ...."


"Tidak perlu kau jawab, tidurlah!" Jasson kembali memejamkan kedua matanya. "Lupakan ciuman tadi. Anggap saja itu tidak pernah terjadi!" serunya dengan suara gusar.


Kimmy menatap lekat wajah Jasson, kedua matanya terlihat berkaca-kaca mendengar perkataan yang dilontarkan oleh suaminya tersebut, terasa menyakitkan. Padahal, itu ialah hal yang sangat berkesan baginya, setelah berusia lebih dari 24 tahun, untuk pertama kalinya ia mendapatkan  ciuman dari seorang laki-laki selain papanya.


"Kau sudah mencuri ciumanku, dan sekarang kau menyuruhku untuk melupakannya? sementara kau sendiri yang memintaku untuk tidak menuntut apapun darimu. Apa yang sebenarnya kau inginkan?" Kimmy meremas kain seprai yang mampu ia jangkau, rasanya hatinya terasa sakit akan perkataan Jasson. Ingin sekali meluapkan perkataan yang mengumpat dalam hatinya saat ini, namun ia tidak bisa melakukannya.


Kimmy menepis air mata yang menggenang di kedua sudut matanya dengan menggunakan ibu jarinya. Ia pun merebahkan tubuhnya disusul dengan menarik selimut hingga menutupi sebagian tubuhnya, tepatnya di pangkal pinggang. Semburat kesedihan masih tersirat di raut wajah wanita itu, nampak terlihat jelas saat Kimmy memilih untuk memejamkan kedua matanya dan memindah posisi untuk tidur membelakangi Jasson.


Kedua mata Jasson seketika terbuka, ekor matanya melirik ke arah Kimmy. Cukup lama memperhatikan wanita yang tengah memunggunginya itu. Perhatian Jasson kini teralihkan akan selimut yang dikenakan oleh istrinya tersebut.


"Jangan seperti anak kecil yang tidak bisa memakai selimut dengan benar."  Jasson menaikan selimut tersebut hingga menutupi lengan tangan Kimmy yang telanjang.


"Aku bisa memakainya sendiri!" Kimmy menepis tangan Jasson dan menaikan selimut tersebut tanpa membuka kedua matanya yang terlanjur terpejam. Ia memegang selimutnya meremas ujung selimut itu dengan perasaan getir.


Jasson masih tak berpindah, ia mengamati dari dekat wajah istrinya itu, sebelum kemudian, ia memilih untuk melingkarkan tangannya di tubuh Kimmy dengan erat hingga kedua mata wanita itu terbuka dan membulat sempurna.


"Jasson, apa yang kau lakukan!" Kimmy hendak meronta. Namun Jasson tak melepaskannya. "Jasson lepaskan aku!"


"Diam!" Jasson semakin mengeratkan dekapannya.


"Jangan seperti ini!"


"Aku bisa melakukan lebih dari ini jika kau banyak berbicara!" serunya.


Kimmy terdiam dan tak berani melakukan perlawanan, darahnya seakan berdesir saat tangan Jasson semakin menekan tubuhnya hingga terbenam dalam pelukannya. Tubuh kekar lelaki itu sungguh menghangatkan dirinya, hingga membuat jantung Kimmy seakan dibuat meledak saat hembusan napas Jasson menggelitik di belakang ceruk lehernya. Kimmy meringkuk dan kembali memejamkan kedua matanya, ia mencoba menyangkal dengan apa yang terjadi saat ini, karna wanita itu takut terlena dengan perasaannya yang suatu hari bisa melukainya kembali.


.


.


.


.


Mungkin yang udah follow instagram Nona udah pada tau ya kemarin kenapa ngga update. Jadi ini Nona update double.