
Kedua ekor mata Jasson menyelinap secara diam-diam memperhatikan Kimmy yang terlihat membolak-balikan lembaran tiket yang masih ia pegang setelah sesaat perintah darinya diterima dengan baik oleh wanita itu. Tidak ada percakapan lagi setelahnya. Hanya hiruk pikuk jalanan yang membelah di antara kensenyapan mereka berdua.
Sisa dari perjalanan mereka menuju ke rumah masih nampak cukup jauh. Jasson hendak mengajak Kimmy pergi untuk makan bersama. Namun, panggilan masuk dari Alea mengurungkan niatnya.
Laki-laki itu seketika menepi terlebih dulu untuk menerima panggilan tersebut. Sekretaris pribadinya itu memberitahukan kepada Jasson bahwa Mario sedang berada di kantor, rekannya itu mencarinya untuk Approving document penting.
Ya, karna setelah Jasson pergi minum kopi bersama Harry dan juga Alea, laki-laki itu berpamitan pergi begitu saja tanpa memberitahukan tujuan kepergiannya kepada kedua temannya yang ternyata ialah menjemput Kimmy pulang bekerja. Pun, ia juga meninggalkan kantor, karna kebetulan tadi di kantor tidak ada pekerjaan yang begitu penting, itu sebabnya Jasson bisa pergi menjemput Kimmy.
Namun ini diluar dugaannya. Ternyata Mario yang saat ini sudah menjadi rekan kerjanya, mendadak ke kantor menemuinya untuk Approving document yang bersifat penting. Rasanya Jasson malas sekali kembali ke kantor, mengingat ini sudah sore hari. Terlebih lagi, letak kantor tidaklah dekat dari jalanan yang ia lintasi saat ini. Namun, ia tak memiliki pilihan lain selain kembali ke kantor. Karna, sudah dua bulan terakhir ini kerja samanya dengan Mario sangat membuahkan hasil yang tidak main-main.
"Baiklah, suruh dia menunggu. Mungkin satu jam lagi aku akan tiba di sana," ujar Jasson.
"Kenapa lama sekali? memangnya kau sekarang berada di mana?" tanya Alea dengan suara penuh selidik dari seberang sana. Percakapan antar Jasson dengan Alea membuat Kimmy memasang dengan baik pendengarannya, sekalipun wanita itu berpura-pura memperhatikan jalanan dari balik jendela mobil yang terlihat sedikit berembun akan musim dingin menyelimuti kotanya saat itu.
"Aku sekarang berada di jalan."
"Baiklah, tetapi kalau bisa jangan terlalu lama kemari. Sungguh tidak enak jika harus menyuruh Tuan Mario menunggu," tutur Alea.
"Iya...." Jasson terlebih dulu mengakhiri panggilan yang masih berlangsung itu, sebelum kemudian, ia meletakan ponselnya tersebut ke dalam laci mobil. Ia menoleh ke arah Kimmy yang secara bersamaan ikut menoleh ke arahnya.
"Ehm, kau mau kembali ke kantor?" tanya Kimmy.
"Iya," jawabnya.
"Kalau begitu aku akan pulang naik taxi saja." Kimmy memegang tas yang saat itu ia pangku dan mengaitkan tas tersebut ke lengan tangannya. Lalu, ia hendak membuka pengait sabuk pengaman yang masih melilit di tubuhnya, namun Jasson melarangnya.
"Tidak usah!"
"Tidak apa-apa, aku tidak mau mengganggu pekerjaanmu. Aku bisa naik taxi." Kimmy hendak melanjutkan niatnya membuka pengait sabuk pengaman itu, namun tangan Jasson kali ini ikut bertindak.
"Aku bilang tidak usah!" serunya, "aku akan mengantarkanmu pulang terlebih dulu, lalu akan kembali ke kantor."
"Jarak rumah dan kantor sangat jauh. Nanti Nona Alea menunggumu." Perkataan Kimmy tak membuat Jasson menyahutinya. Laki-laki itu hanya melayangkan tatapan dingin yang mengisyaratkan bahwa perkataannya tak ingin dibantah.
"Ehm, ba-baiklah, kalau begitu aku akan ikut saja denganmu ke kantor supaya waktu dan perjalananmu tidak tersita. Tapi kau tenang saja, aku nanti akan menunggu di mobil."
"Kau tidak keberatan ikut denganku ke kantor?"
"Tidak, sama sekali, tidak," kata Kimmy meyakinkan.
"Baiklah, ikut aku ke kantor sebentar."
Anggukan kepala Kimmy yang sebagai jawaban seketika membuat Jasson melanjutkan kembali perjalannnya yang sempat terhenti di tepi jalan raya.
***
Hanya dalam kurun waktu kurang dari setengah jam, mobil yang dikemudikan oleh Jasson telah tiba di kantor. Laki-laki itu memacu kemudinya dengan kecepatan maximal. Itu sebabnya ia tiba lebih awal dari waktu yang seharusnya.
"Ayo turun," ajak Jasson seraya membuka pengait sabuk pengaman yang masih melilit di tubuhnya.
"Aku akan menunggu di sini." Kimmy menyandarkan punggungnya tanpa mengubah posisi. Ia hanya memutar lehernya saja untuk melihat ke arah Jasson supaya lebih sopan saat berbicara.
"Turun dan ikutlah masuk!" ujarnya penuh perintah.
"Tidak usah. Aku tidak enak dengan Nona Alea, aku takut nanti akan mengganggu kalian."
"Mengganggu?" kening Jasson berkerut dalam, pikirannya gagal mencerna.
"Maksudku aku tidak mau mengganggu pekerjaan kalian." Kimmy mengklarifikasi seraya menarik tubuhnya supaya duduk dengan tegap.
"Jangan membuatku terlihat buruk di depan semua orang. Cepat turun dan ikut aku masuk ke dalam!" Suara Jasson kali ini semakin ditekankan, membuat Kimmy tak memiliki pilihan lain selain menuruti perintahnya.
"Baiklah ...."
"Selalu memikirkan dirinya sendiri." Kimmy segera menjejakan kakinya di tanah sesaat setelah dirinya turun dari mobil dan menutup kembali pintu mobil tersebut. Ia berjalan mendekat ke arah Jasson yang sedang menunggunya.
"Ayo ...." Jasson meraih tangan Kimmy, ia nyaris berhasil mengaitkan jemari tangannya, namun Kimmy tiba-tiba menjauhkan tangannya dari suaminya itu.
"Aku bisa jalan sendiri, Jasson." Penolakan Kimmy membuat Jasson kesal, terlihat jelas dari guratan yang terlukis di kening lelaki itu, sekalipun Kimmy menolaknya dengan suara yang lembut dan tanpa emosi sedikitpun.
Jasson tak bersuara, ia lebih memilih berjalan mendahului Kimmy untuk masuk ke dalam kantornya tersebut. Pun dengan Kimmy yang mengikutinya dari belakang. Tatapan mata wanita itu terpusat akan punggung lebar Jasson yang saat ini berjalan tiga langkah lebih cepat darinya, seakan manik matanya yang berwarna perak ingin sekali menembus punggung lelaki itu untuk melihat ekspresi wajah suaminya yang tidak bisa jangkau.
"Kau sekarang harus pandai menjaga jarak dengan Jasson, Kimmy! Begitupun dengan perasaanmu, supaya hatimu tidak mudah terluka." Kimmy menghela berat napasnya dan disusul dengan kelopak matanya yang terpejam singkat sesaat setelah mengultimatum dirinya sendiri.
"Berjalanlah lebih cepat! Lift ini dibuat bukan untukmu!" perintah Jasson yang terlebih dulu masuk ke dalam lift dan tangannya terlihat menahan tombol open supaya pintu lift tetap terbuka untuk menantikan Kimmy yang berjalan tergesa-gesa ke arahnya.
"Maaf-maaf ...." Kimmy segera masuk ke dalam lift, pintu lift itu tertutup dan mengangkut mereka ke lantai tujuan.
***
"Aku akan menunggu di sini saja," kata Kimmy setelah mereka keluar dari dalam lift.
"Kau mau mempermalukanku di depan semua orang dengan menyuruhmu menungguku di sini?" Jasson menatap dingin Kimmy, suaranya terdengar kesal. "Ikut denganku dan kau bisa mengunggu di ruang tunggu!"
"Ehm, baiklah."
Jasson menarik tangan Kimmy dan dengan langkah cepat, ia mengajak istrinya itu pergi ke ruang tunggu yang tepatnya persis di depan ruang kerjannya
*
"Selamat sore, Nona Kimmy." Senyuman Alea terkesan dipaksaakan, dan Kimmy bisa melihat ketidak senangan wanita itu akan kedatangannya di sana. Kimmy bisa dibilang cukup pandai untuk membaca raut wajah seseorang, namun tidak dengan raut wajah Jasson, rasanya ia sulit sekali untuk menerjemahkan raut wajah dan tatapan mata suaminya itu.
"Selamat sore juga Nona Alea."
Mario terlihat beranjak dari duduknya, laki-laki itu memandang Kimmy dengan seksama sesaat setelah kacamata berwarna hitam yang ia kenakan kini menelanjangi matanya. Jasson benar-benar tidak menyukainya. Ia baru disadarkan akan sesuatu.
"Aku sungguh lupa jika yang kemari adalah Mario. Seharusnya aku suruh Kimmy menunggu di mobil." Jasson mengerutkan kedua alisnya. Tatapan matanya masih menerkam Mario yang kini melesatkan senyuman penuh menggoda di salah satu sudut bibirnya saat berlama-lama memandangi wajah Kimmy.
"Hai, Kimmy, kita bertemu lagi," sapa Mario sembari mengulurkan tangan untuk menunggu wanita itu menjabatnya.
"Hai, Marrio." Kimmy hendak menjabat tangan Mario, namun niatnya dihentikan oleh Jasson.
"Duduk dan tunggulah di sini bersama Alea." Jasson menarik tangan Kimmy hingga menjauh dari mario dan menyuruh istrinya itu duduk. Namun Kimmy tak mengindahkan perintahnya, wanita itu masih berdiri dan menatap heran Jasson yang kini berjalan kembali mendekati Mario yang menatapnya dengan gusar.
"Masuklah ke dalam ruanganku, aku tidak punya cukup waktu untuk menunggumu berbasa-basi!" Jasson menarik tubuhnya untuk memandu rekannya itu masuk terlebih dulu ke dalam ruangannya.
"Nona Alea, Kimmy, aku tinggal ke dalam." Mario segera masuk menyusul Jasson sesaat setelah Kimmy dan juga Alea menyahutinya.
**
"Duduklah, Nona Kimmy." Alea mempersilakan, ia terlebih dulu mendahului Kimmy untuk duduk, pun Kimmy yang seketika mengikutinya.
"Kau dan Jasson dari mana, Nona Kimmy? kenapa bisa bersama?" Alea yang sedaritadi dirundung penasaran, seketika membuka percakapan setelah kesenyapan terjadi cukup lama di antara dirinya dan juga Kimmy. Sorot matanya terlihat penuh selidik
"Aku dari rumah sakit, tadi Jasson menjemputku."
"Oh, Pantas saja Jasson tadi lebih memilih meninggalkan pekerjaannya, ternyata dia menjemputmu, Nona." Perkataan Alea terdengar seperti menyudutkan Kimmy seolah bahwa dialah penyebab Jasson lupa akan tanggung jawab pekerjaannya.
"Tidak biasanya sekali Jasson menjemputmu, pasti karna sopirmu tidak bisa menjemput lalu kaumeminta untuk dijemput oleh Jasson, Nona Kimmy?" tanya Alea.
"Aku juga tidak tau kenapa Jasson tiba-tiba menjemputku. Aku tidak menyuruhnya untuk menjemputku, karna aku tidak mau merepotkannya. Padahal, sopirku tadi sudah menjemputku di rumah sakit, tapi Jasson malah menyuruhnya pergi."
"Oh ...." Alea mengangguk-anggukan kepalanya, merasa kecewa dengan jawaban yang ia dengar.
Kesenyapan terjadi kembali di antara mereka berdua. Pandangan Kimmy beredar untuk memperhatikan kantor Jasson yang memiliki aksen unik di setiap sudut ruangnnya. Ini untuk kali pertamanya wanita itu berkunjung kemari.
"Di mana tempatmu bekerja, Nona Alea?" tanya Kimmy setelah mengalihkan kembali pandangannya kepada Alea.
"Di situ."
Kimmy mengikuti jari telunjuk Alea mengarah, tepatnya di depan ruang Jasson yang menampakan sebuah meja cukup luas dan komputer di sana.
"Ehm ...." Kimmy kembali memperhatikan kantor suaminya. Sorotan mata Alea pun diam-diam menyelinap memperhatikan Kimmy dengan tatapan kurang menyenangkan, hingga tiket yang terselip di sebagian dalam tas Kimmy kini nampak menjadi perhatian Alea sesaat setelah Kimmy mengambil sebuah ponselnya untuk membalas pesan singkat dari seseorang.
Tak lama kemudian, Jasson dan Mario keluar secara bersamaan dari ruang kerja. Sorot mata Mario kembali terpusat kepada Kimmy yang duduk berselebahan dengan Alea saat laki-laki itu berhasil mengeluarkan tubuhnya dari ruangan rekannya tersebut.
"Ayo kita pulang," ajak Jasson yang berjalan mendahului Mario untuk menghampiri Kimmy. Mengulurkan tangannya kepada Kimmy, hingga perhatian Alea tersita karenannya.
"Memangnya kau sudah menyelesaikan pekerjaanmu?" tanya Kimmy.
"Iya ...."
"Baiklah." Kimmy pun beranjak berdiri dan mengaitkan tas ke lengan tangannya, sebelum kemudian ia menerima uluran tangan Jasson untuk membantunya beranjak berdiri.
"Mario untuk selebihnya kau bisa tanyakan kepada Alea. Aku mau kembali mengantarkan istriku." Kata 'istri' ditekankan oleh Jasson.
"Baiklah ..." sahut Mario.
Jasson hendak mengajak Kimmy berlalu pergi dari sana, namun sejenak langkah Jasson terurungkan saat ia mengingat sesuatu yang terlupa.
"Oh, iya, Alea. Minggu depan kosongkan jadwalku selama tiga sampai empat hari," perintahnya kepada Alea.
"Memangnya kenapa kau mendadak mengosongkan jadwal?" tanya Alea, keningnya berkerut dalam, merasa heran karna tidak biasanya sekali Jasson mengosongkan jadwal hingga lebih dari dua hari, terlebih lagi ini mendadak sekali.
"Aku mau pergi ke Bali."
"Apa ada tugas bisnis dari Tuan Gio?" tanyanya kembali.
"Tidak. Aku mau pergi berbulan madu bersama Kimmy. Karna mama sudah menyiapakan semuanya untuk kami." Jawaban dari Jasson seakan mengejutkan Alea hingga bibirnya mengatup dan tak bergeming sedikitpun untuk memberi balasan.
Lagi-lagi, Kimmy bisa membaca raut wajah wanita itu. "Nona Alea memiliki perasaan kepada Jasson, dia benar-benar menyukainya."
Rasanya benar-benar menyakitkan saat Kimmy tahu bahwa tidak hanya dirinya saja yang jatuh hati kepada Jasson.
"Nona Alea, aku permisi pamit pulang."
Alea hanya menganggukan kepala tanpa bersuara saat Kimmy berpamitan pulang kepadanya.
Kedua mata Alea mengkilat-kilat memperhatikan Kimmy dan juga Jasson yang berjalan menjauh dari pandangannya, ada sesuatu yang merenggut paksa oksigen yang melingkupi paru-paru wanita itu, hingga ia merasakan sesak yang cukup teramat.
"Jasson pergi berbulan madu bersama Nona Kimmy? bagaimana bisa? bukankah ...." Alea memejamkan kedua matanya.