Oh My Jasson

Oh My Jasson
Aku tau batasanku



Silau cahaya pagi hari membias jendela kamar memenuhi sebagian ruangan yang masih menampakan dua orang terlelap saat mentari sudah naik ke tempat peraduannya. Suara cekikan anak kecil terdengar jelas melalui pintu kamar yang sedikit terbuka hingga mengganggu tidur nyenyak Kimmy untuk lekas bangun. Kedua mata wanita itu mengerjap, merasakan ada sesuatu yang tak ringan sedang menimpa di sebagian tubuhnya.


Kedua mata Kimmy membulat dengan sempurna, tubuhnya seketika terperanjat sesaat dirinya tersadar akan tangan Jasson yang  melingkar dan memeluk tubuhnya dengan sangat erat hingga tak menyisakan jarak sedikitpun di antara mereka.


Kimmy segera menjauhkan tangan Jasson dengan kasar  dari tubuhnya, hingga guncangan yang tercipta cukup kuat  membuat laki-laki itu seketika terbangun. Kimmy menggusur tubuhnya ke tepi tempat tidur bermaksud menjaga jarak, namun sebuah teriakan kecil ia loloskan saat tubuhnya itu nyaris terjatuh, tetapi tangan Jasson dengan cepat menariknya, hingga istrinya itu tidak benar-benar terjatuh.


"Kenapa kau membuat keributan sepagi ini!" Raut wajah Jasson terlihat kesal, ia menarik tangan Kimmy dan membantu wanita itu supaya berada kembali di posisi yang seharusnya.


"Ma-maaf ... aku, tadi--"


"Kau sungguh mengganggu tidurku!" Kedua alis Jasson menaut secara bersamaan.


"Ma-maafkan aku."


Perkataan maaf dari Kimmy tak membuat Jasson menjawabnya. Kimmy melihat raut wajah Jasson yang gusar, ia memperhatikan suaminya itu turun meninggalkan tempat tidur dan berjalan memunggunginya untuk masuk ke dalam kamar mandi.


Kimmy memegangi tempat letak jantungnya yang sedang berpacu cukup cepat sembari mengembuskan napasnya. "Dia marah ... Apa dia tadi tidak sadar jika sedang memelukku?" Kimmy bergumam dengan penuh tanya. "Dia kan tadi sedang tidur. Tentu saja dia tidak sadar."


"Bibi dokter ...." Elga tiba-tiba menjulurkan kepalanya di pintu kamar yang sedikit terbuka. Kimmy hampir melupakan keponakannya yang semalam tidur bersamanya, kini gadis kecil itu terlihat sudah cantik dengan satu kucir kuda di kepalanya.


"Sayang, kau sudah mandi dan cantik? Kemarilah ...." Kimmy meragangkan kedua tangannya tanpa memindahkan poisisi tubuhnya yang benar-benar malas untuk beranjak dari tempat tidur. Elga membuka lebar pintu kamar itu dan  menghamburkan pelukannya hingga tubuh mungilnya kini terbenam di pelukan Kimmy.


"Iya, Nanny Katty memandikanku." Elga sejenak melepaskan pelukannya. "Apa kita jadi jalan-jalan, Bi?" tanyanya kemudian.


"Permisi, Nona Kimmy." Bibi Katty yang terlihat berdiri di ambang pintu sembari membungkukan bahunya membuat niat Kimmy yang hendak membalas pertanyaan Elga terurungkan.


"Iya, Bi?"


"Di luar ada Tuan Mark," kata Bi Katty, bersamaan itu terlihat Jasson keluar dari dalam kamar mandi.


"Baik, Bi, terimakasih." Ungkapan itu seketika membuat Bi Katty berlalu pergi untuk melanjutkan pekerjaannya.


"Jasson, di luar ada dokter Mark. Aku mau menemuinya, tolong jaga Elga sebentar," pinta Kimmy.


"Dia keponakanku, tanpa kau minta aku pasti akan menjaganya!" serunya dengan tatapan dan suara yang mendadak dingin.


"Elga, ayo ikut dengan Paman." Jasson segera mengangkat tubuh Elga dan membawanya berlalu pergi dari sana.


"Jasson marah karna aku membangunkannya?" Helaan napas Kimmy terbuang kasar. Wanita itu bangkit dari posisinya dan segera keluar meninggalkan kamar untuk menemui Mark yang ia ketahui sedang menunggunya di depan.


Kimmy berjalan dengan langkah gontai. Senyuman tak berbalas Mark lesatkan saat melihat Kimmy berjalan menghampirinya yang sedang duduk di sofa ruang tamu.


"Kimmy ...."


"Ada apa kau kemari sepagi ini?" tanya Kimmy yang berdiri di hadapan Mark. Suasana hatinya benar-benar buruk karna memikirkan Jasson yang marah terhadapnya, pikirannya berkata seperti itu.


"Aku mau menjemputmu. Kemarin aku kan sudah memberitaumu, kalau hari ini kita diundang oleh dokter Naomy untuk  perayaan atas pencapaiannya karna telah menjadi dokter senior terbaik."


Astaga, aku melupakannya, batin Kimmy. "Kenapa kau tidak memberitahuku dulu sebelum kemari?"


"Aku sudah berulangkali menelponmu dan kemarin juga mengirimimu pesan singkat, tapi tidak ada balasan. Itu sebabnya aku langsung kemari."


"Ehm, aku dari kemarin tidak memegang ponselku. Lebih baik kau berangkat terlebih dulu, aku nanti akan menyusulmu dan juga yang lain."


"Kenapa kita tidak berangkat bersama saja?" tanya Mark.


"Aku tidak enak dengan Jasson. Lagi pula aku sudah menikah. Apa kata orang nanti jika aku pergi berdua dengan laki-laki lain."


"Untuk apa kau memikirkan suamimu? dia saja tidak pernah memikirkanmu!" seru Mark, "lalu apa kata orang lain jika melihat dirimu selalu berpergian sendiri dan tidak pernah diantarkan oleh suamimu?" sambungnya kemudian.


"Mark, pelankan suaramu. Jasson sedang ada di dalam."


"Kenapa memangnya? Biar dia tahu!"


"Mark, tolong!" Kimmy meremas tangannya merasa kesal akan apa yang dikatakan oleh Mark, sekalipun dirinya membenarkan.


"Tunggulah di sini, aku akan meminta izin terlebih dulu kepada Jasson dan bersiap sebentar," ujar Kimmy. Mark menganggukan kepalanya sebagai jawaban.


Kimmy hendak berbalik bermaksud untuk masuk ke dalam, namun langkahnya terhentikan saat dirinya berpapasan dengan Jasson yang terlihat menggendong Elga. Sepertinya, laki-laki itu hendak mengajak keponakannya untuk  keluar dan bermain di taman samping. Tatapan Kimmy dan Jasson saling bertemu cukup dalam, namun laki-laki itu segera mengakhirinya dan memilih untuk mengalihkan pandangannya ke arah Mark.


"Halo, Tuan Jasson." Mark bangkit dari tempat duduknya, ia berjalan mendekati Jasson dan menjabat tangan suami dari temannya itu.


"Bagaimana kabarmu?" tanya Mark.


"Sangat baik." Jasson benar-benar tidak tertarik berbicara dengan lelaki itu, sangat jelas guratan rasa tak suka terlukis di raut wajahnya.


"Sudah lama kita sepertinya tidak bertemu. Pasti kau dan sekretaris pribadimu sibuk menjelajahi setiap cafe untuk menemui klienmu, benar?" Senyuman penuh maksud mengulas tipis di bibir Mark. Hingga membuat Jasson melayangkan tatapan yang gusar ke arahnya. Pun Kimmy, wanita itu kebingungan memperhatikan wajah Mark dan juga Jasson secara bergantian, pikirannya gagal mencerna apa yang dikatakan oleh Mark.


Bukankah Jasson dan Mark memang jarang sekali bertemu, pertemuan antara mereka saja bisa dihitung jari, lalu kenapa Mark berbicara seolah dirinya sudah sering sekali bertemu dengan Jasson, pikir Kimmy.


"Tentu saja, siapa lagi yang membantuku untuk menangani klienku jika bukan sekretarisku!" seru Jasson, tatapannya masih tak berubah, bahkan kali ini semakin dipertajam.


"Permisi ...." pamitnya setelah itu. Baru beberapa langkah Jasson dan Elga hendak keluar dari pintu rumah, namun Kimmy berhasil menghentikan langkahnya.


"Jasson tunggu ...." Kimmy memegang lengan suaminya tersebut.


"Ehm, Jasson, aku dan dokter Mark akan pergi ke perayaan atas pencapaian dan  keberhasilan dokter senior. Apa kau mengizinkannya?"


Jasson menghempas tangan Kimmy yang masih memegang lengan kekarnya.


"Bibi dokter kenapa pergi? apa kita tidak jadi jalan-jalan?" sela Elga.


"Iya, Sayang.  Kita tunda jalan-jalan kita, ya. Bibi harus pergi bersama paman Mark untuk mengunjungi teman Bibi," tutur Kimmy.


"Bibi pembohong!" Elga melingkarkan kedua tangannya di leher Jasson dan memunggungi Kimmy.


"Elga, ini acara penting. Bibi harus menghadirinya. Bibi janji, lain kali Bibi akan mengajakmu untuk jalan-jalan dan memakan ice cream sebanyak mungkin." Perkataan Kimmy seketika membuat Elga memutar kepala ke arahnya.


"Bibi janji?"


"Iya, Sayang, Bibi janji."


"Baiklah ...." Senyuman Elga mengembang sempurna.


"Jangan menjanjikannya apapun kepadanya!" seru Jasson, tatapan mata dan suaranya terdengar menajam.


"Kau tidak lupa ingatan, bukan? aku tidak peduli kau pergi dengan siapapun, jadi untuk apa kau meminta izin kepadaku? pergilah ... pergilah semaumu!" ujarnya seraya berlalu pergi meninggalkan Kimmy.


Tatapan dan perkataan Jasson sungguh menusuk, kenapa rasanya hati Kimmy begitu sakit.


Benar apa yang dikatakan oleh Mark, dia tidak pernah menganggap atau memikirkanku jadi untuk apa aku memikirkannya, gumam Kimmy.


***


Kimmy terlihat keluar dari dalam kamar. Mini dress berwarna peach dengan aksen pita yang membalut tubuh rampingnya semakin mempercantik wanita itu, begitu pun dengan syal yang mendominasi terlihat menggantung di leher jenjangnya. Rambutnya yang diurai kini bertebaran menyentuh bagian dada depan dan juga punggungnya. Tas jinjing berwarna hitam ia tenteng di tangan kanannya seraya berjalan menghampiri Mark yang cukup lama menantikan dirinya di ruang tamu.


"Ayo ...." Kimmy dengan malas menghentikan langkahnya. Kedua mata Mark pun terperangah dan terkagum-kagum melihat penampilan Kimmy yang sangat jarang sekali berdandan jika tidak mendatangi acara resmi atau perayaan seperti ini. Padahal, Kimmy tidak mengenakan riasan make-up sama sekali, hanya lipstick berwarna merah cherry saja yang memoles tipis bibirnya supaya tidak terlihat pucat.


"Kenapa kau diam?" seru Kimmy.


"Kau sudah selesai?" Mark pun beranjak dari duduknya, namun kedua manik mata berwarna coklat bak kacang kenari itu tak henti memperhatikan Kimmy dari ujung kepala hingga ujung kaki. Daya tariknya sungguh memikat mata lelaki itu.


Seulas senyuman menyeringai wajah Mark. "Kau terlihat cantik sekali, Kimmy," pujinya kemudian. Kimmy tidak menyukai siapapun memujinya.


"Yang kau puji saat ini adalah wanita yang sudah menikah. Apa itu sekarang menjadi kebiasaanmu? aku tidak menyukai itu!" Perkataan Kimmy membuyarkan kekaguman yang masih berbinar di kedua  mata temannya itu.


"Maaf ... tapi kau memang terlihat cantik." Mark mengakhiri pandangannya. "Ayo kita pergi sekarang," ajaknya kemudian.


"Tunggulah di mobil. Aku mau menemui Jasson dan juga keponakanku." Perintah Kimmy membuat Mark menganggukan kepalanya dan berlalu pergi dari sana.


*


Kimmy berjalan ke taman yang ada di samping rumah tepatnya persis berdekatan dengan kamar yang ia tempati dengan Jasson. Elga terlihat berlari ke arah Jasson sesaat setelah melihat Kimmy berjalan menghampiri.


Jasson memperhatikan Kimmy yang berjalan mendekat, penampilan wanita itu kini menjadi ketertarikan sendiri bagi kedua matanya untuk ia kritik, diikuti dengan tatapan tajam dan dingin. Kimmy pun tak terkejut melihat tatapan dingin suaminya yang tidak pernah berhasil ia baca selama ini.


"Elga maafkan, Bibi, ya." Kimmy memberi ciuman di pipi Elga, namun gadis kecil itu hanya diam saja tidak memberi balasan seperti biasanya.


"Elga marah kepada Bibi?" tanya Kimmy. Elga menggelengkan kepalanya tanpa bersuara.


"Baiklah, Bibi berangkat dulu ya, Sayang."


Elga menganggukan kepalanya sebagai jawaban. Kedua mata Kimmy beralih ke arah Jasson yang begitu enggan  untuk melihatnya. Sedingin apapun sikap Jasson selama ini kepada Kimmy, namun ia tidak pernah bersikap seburuk ini kepada istrinya. Ya, sikap Jasson kali ini sangat buruk.


"Jasson ...." Kimmy memanggilnya dengan suara lirih, selirih tiupan angin yang menggoyangkan dedaunan kering.


"Segera pergilah, jangan membuat kekasihmu menunggu!" ujarnya seraya mengalihkan wajahnya dengan begitu acuh. Kimmy sungguh tidak menyukai perkataan Jasson yang tak hanya satu kali menyebutkan bahwa Mark ialah kekasihnya, ini seperti sebuah penghinaan dalam sebuah hubungan.


"Mark hanya rekanku, dia bukan kekasihku!" Kimmy mengklarifikasi hingga membuat  Jasson terperangah dan mengalihkan kembali pandangannya ke arah istrinya yang saat ini  meninggikan suara di hadapannya.


"Sama halnya dengan dirimu dan juga Nona Alea. Tetapi aku tau batasan-batasanku sebagai seorang wanita! Aku tidak pernah pergi ke tempat umum hanya berdua dengannya, apalagi mengajaknya bermain di rumah seperti kau mengajak Nona Alea hanya karna kalian memiliki hobi yang sama!" Kimmy mempertegas suaranya dengan kedua mata yang berkaca-kaca, perkataan yang baru saja  ia ucapkan tanpa sadar cukup mewakili perasaannya selama ini. Ia berlalu pergi begitu saja tanpa berpamitan. Kimmy berjalan dengan dada yang terasa sesak.


"Kenapa Tuhan tidak meleburkan hatiku saja? rasanya aku ingin sekali berhenti mencintainya, tetapi aku tidak pernah bisa." Kimmy memejamkan kedua matanya sehingga buliran cairan bening  terlihat menggenang di pelupuk matanya.


Jasson memperhatikan gerak tubuh Kimmy yang berjalan memunggunginya semakin menjauh. "Lalu untuk apa dia berdandan secantik itu? Jika dia tau batasan, dia tidak mungkin berdandan secantik itu di depan laki-laki lain." Jasson mendengus kasar sesaat setelah  tubuh Kimmy sudah  lenyap dari pandangan matanya.


Jasson sejenak  kembali mencerna perkataan Kimmy yang terngiang-ngiang di telinganya.


"Kenapa dia sangat emosional dan mengaitkan-ngaitkan dengan Alea?"


Setelah perkataan Kimmy yang disuluti oleh emosi pagi itu, pikiran dan perasaan  Jasson begitu kacau, bercampur aduk tak karuan,  hingga terpaksa mengharuskan laki-laki itu memulangkan Elga ke rumah kakaknya.


.


.


Sudah ketemu hari senin, jangan lupa dukungan like dan votenya, ya.