
Harry berjalan dengan cepat, ia segera membuka pintu ruangan Jasson yang terlihat terbuka sebagian. Di dalam sana, ia melihat sahabatnya itu sedang sibuk membahas pekerjaan dengan Alea di tempat duduk yang berbeda dan saling berhadapan.
"Jasson ...." Suara Harry mengalihkan perhatian mereka berdua untuk menoleh ke arahnya. Harry segera menghampiri mereka dan menghentikan langkahnya, berdiri tepat di samping kursi yang Alea tempati.
"Kenapa kau kembali lagi? katanya kau mau kembali ke kantormu? apa ada barang milikmu yang tertinggal?" tanya Jasson, keningnya berkerut heran menatap mimik wajah sahabat kecilnya yang penuh dengan tanda tanya.
"Tidak ada, aku mau berbicara denganmu."
"Bicara saja, apa yang ngin kau bicarakan?" Jasson memasang dengan baik kedua telinganya, begitu pula dengan Alea yang tak ingin melewatkan satu pun hal tentang laki-laki yang ia sukai itu.
"Jasson, apa benar minggu depan kau akan menikah dengan Kimmy?" Pertanyaan yang diucapkan oleh Harry yang begitu tergesa-gesa, membuat kedua bola mata Alea membulat dengan sempurna, wanita itu begitu terkesiap, karna ia sama seperti Harry sama sekali tidak mengetahui akan kabar ini.
"Kau tau dari siapa?" tanya Jasson, raut wajahnya seketika berubah.
"Jesslyn, dia yang tadi mengatakannya kepadaku. Itu sebabnya aku kemari dan ingin bertanya kepadamu langsung!"
Jasson mendengus kasar, bibirnya menggerutu namun siapapun tak bisa menangkap apa yang sedang digerutukan olehnya. "Pergilah dari sini, itu tidak penting!" perintah Jasson, ia melanjutkan kembali pekerjaannya yang sempat terhenti karna Harry.
"Tapi, Jasson. Setidaknya tolong beritau aku, kabar itu benar atau tidak?"
"Cepat pergi!"
Harry mengembuskan napasnya dengan kasar, sedikit kecewa. "Baiklah ...." Ia pun sudah bisa mengetahui jawabannya. Harry pun segera berpamitan pergi dari sana.
*
"Alea lanjutkan pekerjaanmu!" perintah Jasson seraya merapikan dokumen yang tercecer di atas meja kerjanya. Namun Alea hanya diam saja dan tidak bangkit dari posisi duduknya, ia menatap atasan sekaligus temannya itu dengan tatapan sendu.
Jasson mengangkat wajahnya dan kini saling beradu pandang dengan sekretaris pribadinya tersebut.
"Apa benar kau akan menikah dengan Nona Kimmy?" Pertanyaan Alea tak membuat Jasson langsung menjawabnya. Ia masih membisu.
"Jasson!"
"Ya, aku akan menikah dengannya minggu depan!" Jasson menjawabnya dengan suara yang sangat tegas.
Deg ....
Demi Tuhan, hati dan jantung Alea rasanya melebur menjadi kepingan yang tak berwujud, kedua matanya terlihat mengkilat karna tergenangi oleh air mata, sekuat mungkin ia menahan air matanya agar tidak terjatuh di depan laki-laki itu.
"Keluar dari ruanganku dan lanjutkan pekerjaanmu! Jangan bertanya hal yang seharusnya tidak kau tanyakan saat jam kerja!" tutur Jasson seraya mengalihkan pandangannya, merasa kesal.
"Maaf." Alea menundukan pandangannya, ia mengambil berkas-berkas miliknya dan berpamitan untuk melanjutkan pekerjaannya.
Kedua mata Jasson melirik ke arah Alea dan memandangi gerak tubuh wanita itu yang berjalan keluar meninggalkan ruangannya tersebut.
Jasson berdecak, memijit keningnya yang terasa pusing. "Kepalaku serasa mau pecah memikirkan ini semua!" Telapak tangannya tiba-tiba menggebrak meja kerjanya itu dengan sangat keras, hingga semua barang yang ada di sana dibuat bergetar olehnya.
Jasson merapikan meja kerjanya yang terlihat sangat berantakan, ia mengambil ponsel dan juga kunci mobil miliknya yang tergeletak di atas sana. Lalu, ia pergi meninggalkan kantornya tersebut di saat jam kerja.
***
Kimmy terlihat duduk di ruangannya bersama Mark, kedua mata wanita itu terlihat sembab, karna semalam dirinya tak henti menangis. Bahkan siang itu, air matanya masih tak luput lolos dari tempatnya.
"Kimmy, Jasson bukan laki-laki baik. Dia itu pemain wanita, lalu bagaimana kau bisa setuju menikah dengannya?" seru Mark.
"Aku bisa membantumu untuk berbicara kepada paman Louis, supaya pernikahanmu dengan Jasson tidak terjadi, aku akan menggantikannya untuk menikahimu!."
"Itu tidak perlu, Mark! Tolong jangan ikut campur masalahku, ini sudah menjadi keputusanku."
"Tapi, Kimmy. Kau tidak menginginkan ini semua. Lalu bagaimana kau menjalaninya?"
"Dokter Kimmy, ada seorang laki-laki yang mencarimu." Seorang perawat menghentikan percakapan antara mereka berdua. Kimmy dengan cepat mengusap air matanya yang terjatuh dengan jarang.
"Siapa?" tanyanya dengan kening yang berkerut penasaran.
"Entahlah, Dok. Saya lupa bertanya. Laki-laki itu menunggu dokter di ruang tunggu."
"Baiklah, Sus. Terimakasih banyak."
"Aku akan menemanimu." Tawaran Mark tak bisa membuat Kimmy menolaknya. Mereka berdua beranjak meninggalkan tempat duduknya dan keluar dari ruangan itu. Berjalan beriringan menuju ke ruang tunggu yang biasa digunakan oleh pengunjung rumah sakit.
Langkah Kimmy dan dokter Mark terhenti tatkala mereka melihat Jasson duduk di sana, tidak ada orang lain selain laki-laki itu. Jasson seketika beranjak berdiri menghampiri Kimmy dan juga Mark. Tatapannya berubah menjadi dingin. Sejenak beradu pandang dengan Mark, setelah kemudian mengakhirinya dan mengalihkannya kembali kepada Kimmy.
"Aku ingin bicara denganmu," pinta Jasson, tatapannya masih tak berubah.
"Apa yang mau kau bicarakan? bicarakan saja di sini!" Suara Kimmy tedengar parau, Jasson bisa menerka bahwa wanita itu habis menangis terlebih lagi kedua matanya yang sembab menguatkan kebenarannya.
"Ini masalah pernikahan kita, seharusnya untuk membicarakan masalah ini cukup kita berdua yang tau!" Ucapan Jasson penuh dengan sindiran. Mark begitu peka akan sindiran laki-laki itu, hingga ia pun sadar diri dan berpamitan kepada Kimmy untuk meninggalkannya berdua bersama Jasson.
"Kita berbicara di taman saja." Kimmy berjalan mendahului Jasson dan memandu laki-laki itu menuju ke taman yang ada di samping rumah sakit tempat dirinya bekerja.
Kimmy mendaratkan tubuhnya di atas kursi panjang yang terbuat dari besi, disusul oleh Jasson yang duduk di sampingnya, jarak yang begitu dekat membuat Kimmy segera menggeser tubuhnya, sedikit lebih menjauh dari laki-laki itu.
"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Kimmy, tanpa memandang laki-laki yang saat ini sedang menyempurnakan duduknya.
"Kesepakatan selama kita menikah." Perkataan Jasson membuat Kimmy menoleh dan mengernyitkan dahinya.
"Kesepakatan apa?" tanyanya penasaran, sebelum kemudian, ia mengalihkan kembali pandangannya ke arah semula.
"Kau pasti sudah tau dari Jesslyn kalau aku tidak ingin menikah jika usiaku belum genap tiga puluh lima tahun. Karna menikah hanya akan menghambat impianku saja!"
"Lalu?" tanya Kimmy.
"Aku mau, selama sepuluh tahun ke depan, kau tidak boleh menuntut hak apapun kepadaku! Anak, keluarga, hubungan atau apapun itu!"
Kimmy hanya diam tanpa merespon apa yang dikatakan oleh Jasson, pandangannya tak berpindah. dadanya terasa sesak, namun ia perlahan mengatur napasnya.
"Aku tidak melarangmu dekat dengan siapapun atau berpergian ke manapun, begitu juga sebaliknya, jangan pernah sekalipun berani melarangku!"
"Aku membeli sebuah rumah untuk kita tempati nanti, aku tidak mau tinggal di rumah keluargaku atau keluaagamu! Dan jika di depan keluarga kita atau orang lain, perlihatkan jika hubungan kita baik-baik saja."
Jasson memegang kedua bahu Kimmy dan menghadapakan wajah wanita itu ke arahnya, memandang dengan dalam kedua bola mata Kimmy yang sudah tergenangi oleh cairan bening. "Tidak ada yang tau tentang hal ini kecuali kita berdua, jangan sekali-sekali kau memberitaukan hal ini kepada Jesslyn, atau siapapun itu! Kau mengerti?" tuturnya pelan.
Kimmy hanya menganggukan kepalanya sebagai jawabannya. Ia menjauhkan tangan Jasson dari kedua bahunya dan memilih beranjak berdiri, memasukan kedua tangannya di kantung kemeja putih yang masih membalut tubuh rampingnya. Ia pun berlalu pergi tanpa permisi, berjalan perlahan sembari memejamkan kedua matanya hingga air matanya ikut tersapu di sana.
.
.
.
.
Kalau kalian merasa suka dengan kisah Kimmy dan Jasson, tolong beri dukungan melalui like dan vote poin, ya. Terimakasih banyak, semoga kita semua sehat selalu.
Jangan lupa follow Nona
IG @Nona.lancaster
Watt*pad @Nonalancaster
Novel Nona yang dulu, yang berjudul Married an Idiot Man Nona post di watt*pad, ya.