
"Bibi Dokter ...." Suara Elga terdengar di balik pintu kamar yang tertutup. Berusaha menerobos masuk. Namun, pintu itu terkunci hingga mengharuskan gadis kecil itu mendaratkan tangan mungilnya untuk menggedor-gedor. Berharap Kimmy segera membukakan pintu untuknya.
"Bibi Dokter ...." Kegaduhan yang berasal dari suara Elga dan juga gedoran pintu seketika membangunkan Kimmy dan juga Jasson dari tidur nyenyaknya. Mereka saling mengerjap. Menyilangkan lengan tangan ke wajah saat sinar matahari yang menelusup melalui jendela bertirai tipis itu menyilaukan pandangannya.
"Apa itu suara Elga?" tanya Jasson. Matanya masih tak terbuka sempurna. Ia juga tak mengubah posisinya karena masih merasa mengantuk.
"Iya, itu suara Elga. Sebentar, aku akan membukakan pintu." Kimmy menyingkap selimut yang masih membalut sebagian tubuhnya. Ia turun dari tempat tidur dan segera membukakan pintu untuk keponakannya tersebut.
Kimmy tersenyum saat melihat seulas senyuman polos dari gadis kecil itu menyambutnya dengan hangat saat pintu baru saja ia buka. Harum bedak bayi menyerbak di indera penciumannya. Sepagi ini Elga terlihat sudah cantik dengan dua bagian rambut yang dikuncir kuda dan juga poni yang memenuhi dahinya. Bedak pun terlihat bertaburan di wajah dan juga pipi bulat keponakannya itu. Sungguh menggemaskan bagi siapa saja yang melihatnya.
"Bibi Dokter ...." Elga membenamkan tubuhnya di pelukan Kimmy saat wanita itu duduk berjongkok dan menyambutnya.
"Keponakan Bibi kenapa sudah cantik sekali?" Kimmy mencium kedua pipi Elga. Nyaris mengigitnya karena merasa gemas. "Kenapa kau sudah bangun sepagi ini, Sayang?" tanyanya seraya mengucap-usap kepala Elga, hingga poni rambut berwarna madu yang membingkai dahi keponakannya itu terlihat berantakan akibat tangannya.
"Karena aku ingin bermain bersama Bibi," bisiknya di telinga Kimmy. Kimmy terkekeh dan kembali memberikan ciuman di pipi Elga. Menggendong gadis kecil itu untuk masuk ke dalam kamar.
"Bibi, apa adik bayiku sudah ada?" Pertanyaan itu membuat Kimmy kelimpungan untuk menjawabnya.
"Ehm ...." Kimmy menggaruk kepalanya. Merasa bingung harus menjawab apa. "Ehm, adik bayi tidak semudah itu datang, Sayang. Perlu waktu lama untuk menunggunya."
"Yahhhhh. Kenapa lama sekali." Elga mencebik. Wajahnya terlihat masam.
"Oh, iya, Bibi. Semalam Bibi Alea datang ke rumahku."
"Benarkah?" tanya Kimmy berpura-pura tidak tau akan kedatangan wanita itu.
"Iya, Bi ... Bibi Alea mencari Paman dan menyuruh Elga untuk memanggilkannya." cebiknya sambil bersedekap saat Kimmy berhasil meletakan keponakannya itu duduk di tepi tempat tidur.
Kimmy sejenak diam. "Lalu Elga memanggilkan Paman?" tanyanya sambil tersenyum menyembunyikan perasaanya seolah terlihat baik-baik saja.
"Tentu saja tidak." Elga menggeleng tegas kepalanya. "Aku bilang kepada Bibi Alea. Paman dan Bibi dokter sedang membuatkanku adik bayi. Jadi Bibi tidak boleh mengganggunya!" ujar Elga dengan raut wajah penuh keseriusan. Kimmy dibuat mendelik akan perkataan keponakannya tersebut.
"Elga bilang seperti itu kepada Bibi Alea?"
"Ehem." Elga menganggukan kepalanya dengan bangga. Seolah jawabannya kepada Alea tidaklah salah.
"Lalu Bibi Alea bilang apa, Sayang?"
"Bibi Alea hanya diam saja dan sedih karena aku membentaknya seperti itu."
Kimmy seketika terdiam tanpa membalas atau menjawab perkataan Elga. "Apa sebegitunya Nona Alea mencintai Jasson?" Kimmy mengalihkan pandangannya kepada Jasson yang tadi melanjutkan kembali tidurnya. Kedua matanya menatap laki-laki itu dengan senduh. "Setiap hari Jasson selalu bertemu dengan Nona Alea. Sangat mustahil bagi seorang laki-laki tidak memiliki perasaan kepada teman wanitanya. Jadi bisa saja Jasson ..." Kimmy rasanya tidak kuasa melanjutkan asumsi yang memenuhi pikirannya.
"Bibi ...." Suara Elga menyadarkan Kimmy dari lamunannya.
"Bibi kenapa?" Elga memiringkan kepalanya memperhatikan raut wajah Kimmy. Hingga kunciran rambut gadis kecil itu mengikuti arah gerak kepalanya mengarah.
"Tidak apa-apa, Sayang." Bibir Kimmy mengulum senyuman yang meyakinkan.
"Bibi kenapa terlihat sedih seperti Bibi Alea? Hah, aku sungguh tidak tau pikiran orang dewasa."
"Tidak, Sayang. Bibi tidak sedih. Duduklah di sini, Bibi akan mandi. Lalu kita bermain bersama," tutur Kimmy.
"Baiklah." Elga manyahut dengan penuh semangat dan tidak sabar.
"Paman masih tidur, ya, Bi?"
"Iya, Sayang. Jangan membangunkan Paman, ya." Elga menganggukan kepalanya seolah sudah memahami perkataan Kimmy. Ia duduk anteng sembari mengayun-ayunkan kakinya yang menggantung di atas tempat tidur untuk menunggu Kimmy yang hendak mandi.
Kimmy mengambil sebuah handuk yang menggantung di dekat lemari. Ia hendak masuk ke dalam kamar mandi. Namun, suara getaran ponsel yang bergesekan dengan meja seketika mengurungkan niatnya. Kimmy berbalik arah dan mengambil ponselnya yang kala itu tergeletak di atas nakas. Sebuah panggilan dari papa Louis menggerakan tangannya dengan cepat untuk menerima panggilan itu.
"Nak, kenapa kau sulit sekali dihubungi?" Suara Louis menyambar tanpa memberikan salam atau ucapan terlebih dulu.
"Maaf, Pa, ponsel milikku kuubah dalam mode getar. Jadi tidak tau juka Papa menelpon."
"Pantas saja Papa dan Paman Alert sulit sekali menghubungimu."
"Ada apa memangnya, Pa?" Kening Kimmy berkerut penuh tanya.
"Paman Alert semalam mencoba menghubungimu untuk meminta pertolongan karena putri bungsu Paman Alert mengalami overdosis obat."
"Astaga ... lalu bagaimana, Pa. Apa keadaan putri Paman Alert baik-baik saja?"
"Iya, Nak. Untung semalam Mama bisa menolongnya."
"Syukurlah kalau begitu. Papa kapan pulang dari luar kota?"
"Mungkin lusa Papa pulang."
"Baiklah kalau begitu, Pa. Ehm besok Kimmy akan menjenguk putri Paman Alert bersama Jasson." Kimmy mengakhiri perbincangan dengan laki-laki yang telah membesarkan dirinya tersebut. Saat panggilan bersama papa Louis sudah berakhir. Serentetan pesan dan juga panggilan dari Paman Alert yang tidak terjawab menghiasi layar ponselnya.
"Astaga, ternyata Paman Alert mengirimkan banyak pesan kepadaku."
Nona Kimmy, tolong putri saya. ~ Paman Alert.
Pesan itu berulang kali Kimmy terima. Begitupun juga dengan belasan panggilan tak terjawab yang tertera di sana. Merasa tidak enak hati. Kimmy memberikan balasan pesan singkat kepada sopirnya tersebut.
Paman, maafkan Kimmy. Semalam Kimmy tidak tau kalau Paman menelpon. Maafkan, Kimmy. ~ Kimmy.
Kimmy nyaris mengembalikan ponselnya ke tempat semula, tetapi sebuah pesan masuk mengurungkan niatnya. Mungkin balasan pesan dari Paman Alert, pikirnya. Namun ternyata dugaannya salah. Pesan singkat yang ia terima berasal dari nomer yang tidak ia kenal. Kening Kimmy berkerut.
.Jauhi, Mark! Semua laki-laki kaudekati. Dasar perempuan jalaang tidak tau diri! ~ Unknown number.
"Siapa yang mengataiku seperti ini?" Wajah Kimmy memucat panik. Ia yakin ini ialah orang sama yang mengiriminya pesan kaleng akhir-akhir ini kepadanya. Kimmy mencoba menguhubungi nomer tersebut. Namun, lagi-lagi nomer itu sudah tidak aktif dan terdaftar. Kimmy menarik napasnya dalam-dalam, lalu mengembuskan napas berusaha mencoba untuk menghilangkan kepanikannya.
***
Suara cekikikan terdengar sayup-sayup di pendengaran Jasson hingga membangunkan laki-laki itu dari tidurnya. Ia beranjak duduk. Menguap dan sejenak meregangkan otot-ototnya. Suara tawa yang tak asing masih memenuhi pendengarannya. Bahkan kini terdengar semakin jelas.
"Ke mana Kimmy?" Pandangan ia edarkan ke setiap sudut kamar, setelah sesaat ia mengucek matanya yang buram. Suara Kimmy yang tengah tertawa tertangkap jelas di pendengarannya. Jasson pun turun dari tempat tidur. Ia berjalan mendekati jendela untuk mencari tau asal suara itu.
Keningnya berkerut dalam diikuti dengan kedua alisnya. Kekesalan terlukis di wajah lelaki itu saat ia mendapati Kimmy tengah tertawa bersama Elga dan juga Daven. Entah apa yang membuat istrinya tertawa seceria itu. Tawa itu ditujukan kepada Elga atau Daven? Jasson tidak tau. Ia sungguh merasa tidak terima jika ada laki-laki lain yang membuat istrinya tertawa selain dirinya. Sekalipun itu ialah adik dari kakak iparnya.
Tawa Kimmy seketika menyurut saat ia menyadari bahwa Jasson memperhatikannya dari balik jendela kamar. Namun, suaminya itu seketika lenyap dari pandangannya.
"Daven ... Jasson sepertinya sudah bangun. Aku titip Elga, ya. Aku mau menyiapkan keperluannya."
"Jasson kan tidak bekerja, Kimmy. Untuk apa kau menyiapkan keperluannya?" tanya Daven.
"Meskipun dia tidak bekerja. Aku harus tetap membantunya menyiapkan baju dan menemaninya sarapan. Sebentar, ya." Kimmy bangkit dari tempat duduk dengan penuh semangat. Ia berlalu pergi dari sana setelah Elga dan Daven mengizinkannya.
"Beruntung sekali, Jasson." Kedua mata Daven tak henti memperhatikan gerak tubuh Kimmy yang kini telah lenyap dari pandangannya. Merasa iri, tetapi ia tidak bisa berbuat lebih.
*
"Jasson kau sudah bangun?" Seulas senyuman Kimmy tebarkan untuk suaminya yang hendak masuk ke dalam kamar mandi saat dirinya baru saja masuk ke dalam kamar.
"Kau lihatnya bagaimana?" jawabnya dengan ekspresi kesal seraya masuk ke dalam kamar mandi dan membiarkan Kimmy begitu saja.
Kimmy menghela napas. "Suasana hatinya sedang buruk," umpatnya kesal.
Kimmy memberikan satu setel baju yang dipinjamkan oleh Kendrick kepada Jasson yang baru saja keluar dari kamar mandi. Namun, Jasson terlihat begitu acuh kepada Kimmy, bahkan mendiamkannya dan tidak mengajaknya berbicara seperti biasanya.
"Jasson, kenapa kau tiba-tiba mendiamkanku? Apa aku memiliki salah?" tanya Kimmy. Ia mengikuti Jasson yang berjalan di depan cermin. Laki-laki itu hanya diam dan sibuk membalutkan kaus di tubuhnya.
"Masih bertanya apa salahnya?"
"Jasson ...."
"Pergilah sana. Daven dan Elga pasti sedang menunggumu," serunya penuh dengan sindiran. Ia mendaratkan tubuhnya untuk duduk di atas sofa sembari mengambil koran yang terlipat di atas meja. Kimmy pun mengikutinya duduk.
"Kenapa kau duduk di sini?" tegur Jasson.
"Mau menemanimu." Kimmy menjawab dengan polos.
"Yang perlu kautemani itu Daven. Bukan aku. Sudah tinggalkan aku sendirian!" serunya tanpa menatap ke arah Kimmy. Tatapannya kini fokus ke arah koran yang ia pegang. Padahal, ia sama sekali tidak membacanya.
"Kau ini kenapa tiba-tiba marah kepadaku?" seru Kimmy.
"Siapa juga yang marah." Jasson masih fokus akan koran miliknya. "Sudah pergilah sana! Bermain dan tertawalah sepuasnya dengan Daven!" serunya semakin kesal. Kimmy pun baru disadarkan bahwa suaminya kini tengah cemburu kepada Daven.
Kimmy terkekeh. "Kau cemburu dengan Daven?" Tangan Kimmy melingkar di tubuh Jasson penuh dengan rayun.
"Lepaskan aku. Siapa yang cemburu! Tidak ada gunanya cemburu!"
"Alasan saja!" ledeknya.
"Ayo kita mengajak Elga jalan-jalan." Kimmy beranjak berdiri dan menarik tangan Jasson.
"Tidak!" Jasson menepis tangan Kimmy. "Ajaklah Daven sana!" serunya dengan penuh keseriusan.
"Dia benar-benar menyebalkan!" decak Kimmy.
"Yakin kau menyuruhku mengajak Daven?" goda Kimmy. Namun Jasson hanya diam saja.
"Yakinnnn?" Kimmy masih tak mendapat respon atau balasan. Menyerah.
"Ya sudah, aku akan mengajak Daven saja untuk menemaniku jalan-jalan bersama Elga."
"Ada apa?"
"Aku ikut."
"Baiklah," sahut Kimmy memasang wajah yang sama acuhnya dengan Jasson. Padahal, dalam hatinya ia tengah menertawakan suaminya tersebut.
***
Keesokannya paginya.
Suara dering ponsel menghentikan Kimmy yang nyaris meninggalkan kamarnya untuk berangkat bekerja. Wanita itu terduduk lemas setelah menerima sebuah panggilan yang ternyata dari Papa Louis. Sebuah kabar duka pagi itu ia terima dari sopir pribadinya, bahwa putri dari Paman Alert yang kemarin dikabarkan overdosis obat kini telah meninggal dunia. Kimmy begitu terkesiap. Merasa bersalah. Karena saat Paman Alert kemarin mencoba menghubungi dan meminta pertolongan kepadanya. Kimmy justru tidak bisa. Bahkan, sepulang kerja nanti ia dan Jasson berencana untuk menjenguknya. Namun ternyata Tuhan berkehendak lain.
Jasson yang kala itu di halaman rumah tengah menunggu Kimmy tak kunjung keluar. Ia terpaksa masuk kembali ke dalam rumah untuk menemui istrinya.
"Kimmy kenapa lama sekali?" Jasson memperlambat langkahnya saat ia telah mencapai pintu kamar. Kedua matanya menyipit melihat istrinya duduk berdiam diri dengan menggenggam ponsel tanpa menjawab pertanyaan yang baru saja ia layangkan.
"Kimmy, kau kenapa?"
Kimmy menengadahkan kepalanya. Wajahnya terlihat memucat. "Ehm ..."
"Kenapa?" Jasson mendaratkan tubuhnya duduk di samping Kimmy. Menyelipkan beberapa sulur anak rambut yang membingkai wajah Kimmy ke belakang telinga.
"Putri bungsu Paman Alert meninggal." Kimmy yang masih shocked suaranya nyaris tak keluar.
"Meninggal? Yang katamu overdosis obat?" Kimmy menganggukan kepalanya sebagai jawaban.
"Bagaimana bisa? Bukannya semalam kata Mama dia baik-baik saja."
"Iya makanya itu, aku tidak tau kenapa dia bisa meninggal, Papa tadi tidak memberitahuku karena terburu-buru ada rapat penting dengan para dokter." Kimmy tercenung. "Kasihan sekali putri Paman Alert. Padahal dia masih muda dan seusiaku."
"Besok kita berziarah bersama," tutur Jasson.
"Iya."
"Jasson ... kata Papa, selama berduka, Paman Alert akan libur selama beberapa hari. Jadi dia tidak bisa mengantar jemput aku selama bekerja."
"Jangan memikirkan hal itu. Aku akan mengantar jemput dirimu bekerja."
"Bukannya selama beberapa hari ke depan kau juga akan sibuk dengan pekerjaanmu? Apa tidak lebih baik, untuk sementara waktu aku tinggal di rumah Mama saja."
Kedua alis Jasson yang simetris itu menaut secara bersamaan. Guratan di wajahnya penuh dengan penolakan. "Lalu kau meninggalkanku sendirian di rumah?" serunya.
"Hanya untuk beberapa hari sampai Paman Alert bekerja. Jasson, rumah sakit dan kantormu sangat jauh. Aku tidak mau merepotkanmu."
"Kau sama sekali tidak merepotkanku. Aku masih bisa mengatur waktu untuk menjemputmu. Mungkin aku menjemputmu terlambat dan tidak tepat waktu seperti biasanya."
"Tapi, Jasson ...."
"Aku tidak mau kau membantahku!" tegasnya yang tak bisa membuat Kimmy membantah perkataan suaminya.
***
"Aku berangkat ...." Kimmy membuka pengait sabuk pengaman yang melilit di tubuhnya saat mobil yang dikemudikan oleh suaminya itu telah tiba di halaman rumah sakit.
"Jangan terlambat makan siang," tutur Jasson. "Dan jangan ...."
"Dekat-dekat dengan Mark," sahut Kimmy sembari menoleh ke arah Jasson dengan seulas tawa yang ia tahan. Wanita itu sudah hafal, bahkan ... bosan. Setiap kali suaminya mengantarkan ia pergi bekerja. Peringatan itu seakan tak terlupa untuk membekalinya.
"Pintar." Jasson menarik salah satu sudut bibirnya, namun tanpa memberi ekspresi yang seharusnya.
"Kau juga tidak lupa, kan, dengan janjimu?" tanya Kimmy dengan ragu-ragu.
"Janji apa?"
"Ehm ... memindahkan Nona Alea ke perusahaan Kakak Ken." Kimmy menyembunyikan wajahnya. Semangat paginya waktu itu sedikit menyurut. Sebenarnya, dia malu berkata seperti itu, tetapi ia juga punya hak untuk mempertanyakannya. Kimmy tidak salah. Jasson sendiri yang berjanji kepadanya untuk menjauhi Alea dan memindahkan wanita itu ke perusahaan kakaknya. Jadi ia wajar memastikan hal ini lagi.
Jasson mengangkat wajah Kimmy dan menatapnya lekat-lekat. "Aku tidak akan lupa janjiku. Aku akan memindahan Alea ke perusahan Kakak." Seulas senyuman Jasson dibalas oleh Kimmy. Wanita itu merasa lega. Sebuah ciuman yang biasa Kimmy berikan terlebih dulu kepada Jasson saat berangkat bekerja, kini didahului oleh laki-laki itu. Ciuman singkat mengakhiri dan memisahkan mereka untuk memulai pekerjaannya masing-masing.
***
"Jasson ...." Jasson baru saja tiba di kantornya. Langkahnya yang nyaris mencapai pintu ruangan terhenti saat suara Alea memanggilnya berulang kali. Wanita itu terlihat berjalan cepat ke arahnya.
"Alea ada apa?" tanya Jasson. Kesenyapan sejenak terjeda di antara mereka berdua. Kedua mata Alea berwarna coklat terang itu menerkam dirinya dengan pertanyaan-pertanyaan yang masih belum tersampaikan. Jasson sudah bisa membaca tatapan mata wanita itu. Apalagi jika bukan tentang keputusan pemindahannya di perusahaan yang dipimpin oleh kakaknya.
"Ayo masuklah dulu." Jasson membuka pintu ruangannya. Ia berjalan mendahului Alea untuk masuk. Ia mempersilakan Alea untuk duduk. Namun, wanita itu malah menolaknya.
"Apa salahku?" Pertanyaan itu seketika lolos dari bibir Alea. Matanya terlihat berkaca-kaca.
"Alea ...."
"Kau memecatku?"
"Aku tidak memecatmu!" sergah Jasson.
"Lalu ini?" Alea menunjukan lembaran kertas putih yang tercoret tinta dan terlipat lusuh di tangannya.
"Aku hanya memindahkanmu di perusahaan kakak."
"Kenapa? Apa pekerjaanku selama ini buruk? Apa aku telah melakukan kesalahan?" desaknya menunggu jawaban.
"Tidak Alea. Kinerjamu sama sekali tidak buruk," ujar Jasson. "Daven dan kakak sedang membutuhkanmu."
"Lalu kenapa harus aku yang dipindah ke sana? Kenapa tidak yang lain saja? Daven bisa mencari orang lain selain aku."
"Karena Daven dan Kakak mempercayaimu untuk menggantikan Jesslyn. Dan Jesslyn akan dipindah kemari untuk menggantikanmu."
"Bukannya kau daridulu tidak suka bekerja dengan Jesslyn?" sergah Alea. "Lalu kenapa kau sekarang mau bekerja dengan Jesslyn?"
"Aku sudah bilang. Kakak sedang membutuhkanmu!"
Alea sejenak terdiam. Ia bisa membaca kebohongan di raut wajah Jasson. Ini mendadak sekali. Sungguh tidak masuk akal pikirnya. "Apa ... Nona Kimmy yang menyuruhmu memindahkanku?"
"Ini tidak ada sangkut pautnya dengan Kimmy!" seru Jasson. Emosinya mulai terpancing akan perkataan wanita yang ada di hadapannya saat ini. "Ini adalah keputusanku dengan kakakku! Kimmy tidak ikut campur dengan masalah ini!"
"Lalu kenapa kau memindahkanku mendadak sekali?"
"Aku tidak mau mengulang perkataan yang sudah aku ucapakan berluang kali." Jasson mengernyitkan singkat keningnya.
"Tapi aku tidak mau pindah di tempat Daven, Jasson. Aku sudah terlanjur nyaman bekerja di perusahaan ini."
"Nanti kau juga akan terbiasa bekerja di sana!" tegas Jasson. "Kau juga akan nyaman bekerja dengan Daven."
"Jasson, tolong ...." Kedua mata Alea terlihat semakin memerah. Tangannya memegang lengan tangan Jasson penuh dengan permohoanan.
"Hargai keputusanku!" Jasson menepis tangan Alea. "Tinggalkan ruanganku, aku masih banyak perkerjaan," perintahnya semakin tegas. Alea pun tak bisa membantah lagi karena ia sangat tau persis bagaimana teman sekaligus atasannya itu.
"Baiklah, permisi. Maaf karena aku telah mengganggumu, Tuan. Aku akan mengemasi barang-barangku secepatnya." Air mata Alea seketika meledak menggenangi kedua sudut matanya saat ia berbalik badan dan berjalan memunggungi Jasson.
Jasson pun masih mematung di tempat yang sama sembari memperhatikan gerak tubuh Alea yang berjalan keluar dari ruangannya. Sebenarnya ia sangat berat melepas Alea untuk ia pindah di perusahaan Daven. Karena adanya Alea selama ini sangat membantu dan meringankan pekerjaannya. Bisa dibilang, Alea sangat ahli sebagai penasehatnya dalam berbinis. Itu sebabnya, anak perusahaan Papa Gio yang saat ini Jasson pimpin berkembang pesat beberapa tahun terakhir ini. Meskipun berat, Jasson tak memiliki pilihan lain. Lebih baik dia melepaskan dan menjauhi Alea daripada ia harus membuat Kimmy sakit hati akan kedekatannya dengan wanita itu.