Oh My Jasson

Oh My Jasson
Mempertanyakan kembali



Setelah kepulangan Ken, Jasson tercenung sendirian di dalam ruang kerjanya. Cukup lama lelaki itu berdiam diri di sana. Matanya yang berwarna abu-abu layaknya kilauan perak menatap ke sembarang arah. Sesuatu seperti sedang dipikirkan olehnya. Apalagi yang sedang laki-laki itu pikirkan jika bukan tentang Kimmy. Setelah berbincang dengan kakaknya, pikiran dan perasaan Jasson serasa telah terbuka dengan sendirinya.


"Kakak Ken sudah pulang?" Pintu ruangan yang semula tertutup, kini terbuka sebagian. Suara yang berasal dari sana seketika  menyadarkan Jasson akan lamunannya. Ia menoleh ke arah pintu yang menampakan sebagian tubuh Kimmy yang berdiri di ambang pintu dan sedang menunggu jawaban dari suaminya.


"Kau?"


"Kakak sudah pulang. Sejak dari ..." Mata Jasson beralih ke jam dinding yang terbuat dari kayu ukir dan  melekat di tembok; tepatnya dia atas rak penyimpanan buku, "setengah jam yang lalu," sambungnya menyadari bahwa dirinya telah berdiam diri di sana sudah lebih dari setengah jam.


"Apa Elga sudah tidur?" tanya Jasson.


"Iya, dia baru saja tidur."


"Kemarilah ...." Jasson mengulurkan tangan memberi isyarat supaya istrinya yang tengah berdiri di ambang pintu itu  segera masuk. Ia menjangkau tangan Kimmy dan membimbing wanita itu untuk duduk di sofa kosong yang ada di sisinya.


"Kau tidak tidur?" tanyanya saat belaian tangan mendarat di kepala Kimmy. Suara dan perlakuan lembut Jasson membuat Kimmy terheran-heran.


"Kau sendiri tidak tidur?"


"Apa kau sedang menungguku?" Pertanyaan Jasson terdengar datar, namun penuh ledekan. Jelas dari senyuman yang terselip di salah satu sudut  bibir lelaki itu, senyuman itu nyaris tak terlihat.


"Tidak," bantah Kimmy. Memalingkan pandangannya supaya tidak terbaca. Padahal, ia memang tidak bisa tidur karena menunggu Jasson kembali ke kamar. Itu sebabnya ia  menghampiri suaminya di ruang kerja.


Jasson kembali menarik salah satu sudut bibirnya. Tanpa menilisik, ia sudah mengerti bahwa Kimmy memang sedang menunggunya.


"Apa yang kaulakukan di sini selama setengah jam?" Kimmy menarik kembali pandangannya ke arah Jasson. Matanya yang sembab dan masih menampakan kesenduhannya itu menatap dalam-dalam binar mata suaminya yang tersoroti  lampu ruangan.


"Memikirkanmu ...." Tangan Jasson merengkuh jemari tangan Kimmy. Sialan, wanita itu mendadak salah tingkah. Padahal, sudah berbulan-bulan dirinya menikah, tetapi getaran-getaran itu selalu saja menyelinap hingga  mengguncang hati dan jiwanya saat laki-laki kaku yang telah menjadi suaminya ini kadang memperlakukannya dengan hal-hal yang tidak ia duga.


"Ehm, untuk apa memikirkanku?" Pandangan Kimmy nyaris teralihkan. Namun, rasanya ia sangat enggan melepaskan Jasson dari pandangannya.


"Lupakan ...."


Keheningan menyergap ruangan itu. Seperti tatapan  mata Jasson yang sedari tadi tak melepaskan Kimmy dari pandangannya, membuat wanita itu membisu dan semakin salah tingkah.


"Kenapa kau bisa terkunci di toilet  basement?" tanyanya membelah keheningan di sana.


"Aku tidak tau." Kepala Kimmy menggeleng polos.  "Aku tadi ingin pup, tetapi semua toilet sedang dalam perbaikan pipa. Seorang office girl memberitahuku kalau hanya toilet basement yang bisa digunakan, karena di sana  selalu menampung air, itu sebabnya aku menggunakan tilet basement," ujar Kimmy.


"Dan saat aku mau keluar, pintunya tiba-tiba terkunci dari luar, dan aku kesulitan untuk membukanya. Aku berteriak-teriak, tetapi tidak ada yang menolongku." Mendengar cerita dari Kimmy, Jasson merasa ada yang janggal.


"Bagaimana bisa terkunci dari luar?" Kening Jasson berkerut, diikuti dengan kedua alisnya. Merasa ada yang aneh.


"Aku tidak tau ...." Kimmy menggeleng kepalanya. "Mungkin, pintu toilet itu rusak. Karena, aku lihat toilet basement itu sudah lama tidak digunakan."


"Meskipun sudah lama  tidak digunakan, tetapi semua office boy selalu membersihkan basement setiap hari. Begitu pun dengan toilet  itu!"  sergah Jasson. "Besok hari senin aku akan memeriksanya. Aku akan mencaritahu dan memastikan kenapa pintu itu bisa terkunci dari luar."


"Itu tidak perlu, Jasson."


"Kau terkunci di dalam sana cukup lama, bagaimana aku bisa membiarkannya begitu saja! Setidaknya aku harus memastikan." Suara Jasson terguncang oleh emosi.


"Aku kan baik-baik saja. Penjaga sudah membantuku keluar dari sana," ujar Kimmy, "dan juga Mario."


Mendengar nama Mario, kening Jasson berkerut dalam. Ketidaksukaan terhadap laki-laki itu kembali muncul, terlebih lagi saat mendengar kata-kata Mario yang menurutnya  tadi sudah kelewat batas. Bukan hanya laki-laki itu saja. Siapapun laki-laki yang dekat dengan Kimmy, Jasson tidak pernah menyukainya.


"Aku akan tetap mencaritau, sekalipun pintu itu rusak!" Perkataan Jasson sudah terkunci dan tidak bisa Kimmy bantah lagi.


"Dan satu lagi, aku tidak suka kau dekat dengan Mario." Tenaga Kimmy serasa habis terbuang karena terlalu banyak berdebat hingga ia hanya menganggukan kepalanya untuk menyanggupi perintah Jasson.


 


 


 


***


 


 


"Ayo kita istirahat." Kimmy beranjak berdiri meninggalkan tempat duduknya, sesaat setelah obrolan singkatnya dengan Jasson ia akhiri.


"Hem." Jasson bangkit dari duduknya. Ia mengikuti Kimmy yang berjalan mendahuluinya. Namun, ia menarik tubuh Kimmy yang nyaris mencapai  pintu.  Ia dengan segera menutup pintu ruangan itu. Lalu menguncinya rapat-rapat.


"Kita kembali ke kamar nanti saja." Jasson berjalan mendekat.


"Tapi, Elga ...." Ciuman singkat tiba-tiba mendarat di bibir Kimmy saat Jasson berhasil melingkarkan tangannya di pinggang wanita itu. Bibir mereka saling membasahi satu sama lain.


"Jangan melakukan di sini." Kimmy mengurungkan niat Jasson yang hendak melepaskan pengait baju yang ada di belakang pungungnya. Hal itu juga mengakhiri ciuman di antara mereka yang kian membuat tubuh memanas.


"Di kamar ada Elga. Kita tidak bisa melakukannya di sana," bisiknya di telinga Kimmy, desisan napas yang menggelitik di belakang telinga Kimmy hingga menjulur ke leher serasa membangkitkan sensualitas penuh wanita itu.


"Ehm ...." Kimmy menggigit bibir bawahnya dalam-dalam. Tangan Jasson berupaya mengusap bibir Kimmy hingga kini terlihat belahan di antara kedua bibirnya. Jasson kembali menanamkan bibirnya di sana. Memagutnya dengan lembut, namun rakus dan tak membiarkannya mengering.


Ia semakin  mendekap tubuh Kimmy dan tak membiarkan wanitanya itu lepas sedikit pun, hingga membuat Kimmy kesulitan bernapas. Namun, Kimmy sama halnya dengan Jasson yang tidak bisa melepaskan diri saat tangan Jasson mulai bergerilya dibalik kaus ketat yang hampir tak bisa membendung isi di dalamnya, keduanya sudah tidak bisa menahan dan ingin melakukan lebih dari ini.


Jasson menggiring tubuh Kimmy, hingga wanita itu terjatuh di atas sofa. Namun, tangan Kimmy menghentikan Jasson yang nyaris menindih tubuhnya untuk memulai ritual yang dinanti-nanti.


"Ada apa?"


"Jasson, nanti Elga akan mencariku. Dia akan marah kepadaku kalau sampai terbangun dan tidak melihatku di sana," tutur Kimmy.


"Tidak akan," bujuknya.  "Dia tidak akan marah jika tau kita sedang membuatkan adik bayi untuknya."


Wajah Kimmy seketika memerah, merasa malu saat senyuman yang tak tersirat penuh di wajah suaminya itu tanpa disengaja menggelitik dirinya. Seakan tak memiliki perkataan untuk menjawabnya.


"Aku menginginkan seorang anak." Tangan Jasson menyibakkan rambut Kimmy yang menutupi sebagian dahinya. Kimmy seakan terlonjak akan keinginan suaminya tersebut.


"Lalu bagaimana dengan kesepakatan sepuluh tahun itu?" Seakan memiliki kesempatan untuk bertanya tentang kesepakatan yang selama ini ingin Kimmy tanyakan setelah kepulangannya dari Bali. Kimmy segera mengajukan pertanyaan itu untuk memastikan bahwa Jasson benar-benar menghapus kesepakatan tersebut.


Jasson menatap dalam kedua bola mata Kimmy yang tengah menantikan jawaban darinya.


"Aku kan sudah pernah bilang, lupakan kesepakatan itu. Kita akan memulai semuanya dari awal," jawabnya. "Aku sudah memutuskan akan menjauhi Alea."


Kedua mata Kimmy terbelalak. Antara percaya atau tidak dengan ucapan suaminya yang ia dengar baru saja. Sepertinya sangat mustahil, pikirnya.


"Untuk apa kau menjauhi Nona Alea  jika  setiap hari kau tetap bertemu dengannya." Kimmy tersenyum getir. Kedua matanya mengkilat  berkaca-kaca, merasakan sakit saat menyebut nama wanita itu.


"Kau tidak akan pernah bisa menjauhinya." Kimmy memalingkan pandangannya.  Suasana hatinya mendadak buruk. Kimmy merapikan bajunya yang berantakan akibat ulah Jasson. Ia nyaris bangkit mengakhiri semuanya untuk kembali ke kamar menemui Elga. Namun, Jasson tak membiarkan istrinya itu begitu saja.


"Aku sungguh-sungguh dengan perkataanku!" Pergelangan tangan Kimmy digenggam erat oleh Jasson. Tatapannya menghujam dalam. Sama sekali tidak ada kebohongan yang tersirat di manik mata peraknya.


"Aku akan menjauhi Alea, dan akan memindahkan dia di perusahaan kakak dan Daven."


"Apa kau sanggup? Bukannya selama ini kaumenggangtungkan semua pekerjaanmu dengannya?"


"Aku tidak pernah bergantung kepada Alea. Semua pekerjaan yang kuserahkan kepadanya itu karna memang tugasnya."


"Lalu bagaimana dengan Nona Alea?" tanya Kimmy. Jasson sudah bisa membaca apa yang kini tengah dipertanyakan oleh istrinya. "Dia pasti tidak akan sanggup  kaupindahkan di tempat kakak Ken."


"Aku tidak mempedulikannya! Sekarang aku hanya mempedulikanmu."  Ciuman yang terbenam secara tiba-tiba di bibir Kimmy mengakhiri percakapan di antara mereka berdua. Jasson melanjutkan niatnya yang sempat terhenti.


Bara api seakan membakar tubuh keduanya yang kian memanas saat percintaan di ruangan itu berlangsung.  Malam yang sungguh berkesan dari malam-malam sebelumnya.


 


.


.


.


.


 


 


Jangan lupa dukungan Like dan juga Voteny.  Bagi yang belum follow akun instagram Nona, jangan lupa follow, ya.  @Nona.lancaster. supaya kalian bisa mengetahui informasi seputar update dan novel baru yang akan Nona tulis nantinya. Termakasih ^_^