
Suasana malam yang semula membeku akan diamnya Jasson kepada Kimmy, kini kembali menghangat setelah pergumulan di antara mereka terjadi cukup singkat. Mereka saling tidur berhadap-hadapan setelah selimut berwarna putih membalut tubuh polos keduanya. Namun, kedua mata mereka masih terjaga. Kimmy memberi jeda bulu mata lentiknya untuk mengdip; memperhatikan setiap bagian-bagian wajah suaminya yang ia lihat dengan jarak yang sangat dekat. Bahkan, napas Jasson yang terbuang cukup cepat terasa hangat saat menyentuh kulit wajahnya.
"Apa yang kaulihat?"
"Tidak." Kimmy menggeleng kepalanya dengan tatapan polos.
Tangan Jasson hampir berulah. "Mau melakukannya lagi?" tatapan matanya terasa menghangat, pun suaranya yang penuh dengan rayuan meskipun terdengar datar dan kaku tanpa sensualitas, namun Kimmy sudah bisa membacanya. Mata wanita itu segera melebar waspada.
"Tidak. Aku mengantuk, aku mau tidur." Kimmy mengubah posisi tidurnya dengan membelakangi Jasson.
"Tidak sopan!" gerutu Jasson. Kedua alisnya berkerut dalam karena merasa kesal saat Kimmy membelakanginya. Namun, laki-laki itu tiba-tiba mengulum senyuman saat Kimmy menarik tangannya dan menuntunnya hingga melingkar di tubuh wanita itu.
"Peluk aku." Suara Kimmy yang terdengar manja membuat Jasson tak ingin melenyapkan senyumannya. Seperti telah menemukan kembali sosok Kimmy yang dulu ia kenal. Ya, senyuman Jasson seolah berbicara seperti itu.
Jasson mendekap tubuh Kimmy dan memeluknya dengan gemas, sebelum kemudian, ia meninggalkan sebuah ciuman di puncak kepalanya yang mampu ia jangkau.
***
Kimmy terlihat sudah rapi dengan dress berwarna pastel yang ia kenakan untuk pergi bekerja. Ia hendak menghampiri Jasson yang sedang menunggu dirinya untuk sarapan, setelah dirinya tadi menyuruh laki-laki itu terlebih dulu untuk pergi ke meja makan. Namun, suara dering ponsel yang pendek menghentikan langkah kaki Kimmy. Ia dengan cepat memutar arah untuk mengambil ponsel miliknya yang kala itu tergeletak di atas nakas.
Kening Kimmy berkerut saat mendapati panggilan tidak terjawab dari nomer yang tidak ia kenal. Bersamaan itu, ada satu pesan singkat ia dapat dari nomer yang sama. Sepertinya, si pemilik nomer itu missed call memang sengaja supaya Kimmy segera membaca pesan singkat yang telah dikirimkan olehnya.
Kimmy mengusap layar ponsel itu dengan ibu jarinya hingga satu pesan singkat kini sudah siap untuk ia baca.
Aku sudah bilang, jauhi Mark, atau aku akan melukaimu! Aku juga bisa lebih kejam dari itu, bahkan terhadap suamimu juga.
Kedua mata Kimmy mendelik, diikuti dengan denyutan jantungnya yang cukup waspada akan pesan singkat yang membuat dirinya terkejut sepagi itu.
"Siapa yang mengirim pesan ini kepadaku?" Dengan tangan yang sedikit gemetar, Kimmy mencoba menghubungi nomer itu. Namun, sang pemilik nomer ternyata sangat pintar. Saat Kimmy menelpon nomer tersebut, nomer itu sudah tidak lagi terdaftar.
Kimmy tak bergeming, jantungnya berdenyut hebat saat rasa takut menggerogotinya. Karena, tidak hanya sekali ia mendapatkan pesan peringatan yang sama seperti itu. Kimmy yakin, ini adalah orang sama yang mengirimkan surat kaleng kepadanya.
"Kimmy ...." Tepukan di bahu mengejutkan wanita itu, tubuhnya terjingkat, ponselnya nyaris terjatuh dari genggamannya.
"Ja-Jasson ...." Bibir Kimmy yang telah dipoles dengan lipstick itu mendadak memucat, senyumannya terulas ringan dan terkesan dipaksa.
"Kenapa lama sekali?"
"Ehm ...." Pikiran Kimmy yang masih dipenuhi pertanyaan-pertanyaan membuat wanita itu tak fokus.
Jasson menyipitkan kedua matanya, menatap lekat-lekat wajah istrinya yang memucat karna tegang. Seperti ada yang sedang disembunyikan. "Kimmy, kau kenapa?"
"Ti-tidak, aku baik-baik saja." Kimmy meletakan ponsel itu ke tempatnya semula.
"Ehm, ayo kita sarapan." Kimmy mengaitkan tangannya di lengan Jasson, dan mengajak lelaki yang masih menatapnya dengan heran itu pergi menuju ke dapur.
***
Di dalam mobil, saat melakukan perjalanan menuju ke rumah sakit, Kimmy nampak melamun dengan tatapanmata yang kosong. Apalagi yang dilamunkan oleh wanita itu jika bukan perkara pesan yang sudah membuat moodnya menjadi buruk pagi ini. Bahkan, saat dirinya sarapan bersama Jasson, wanita itu hanya melamun.
"Kau kenapa daritadi diam saja?" Pertanyaan Jasson menyadarkan Kimmy. Tatapannya masih kosong saat ia memilih menoleh dengan menebar senyuman kepada suami yang ada di sampingnya saat ini.
Tidak mungkin dirinya bercerita kepada Jasson tentang pesan yang ia terima.
"Jangan menyembunyikan sesuatu!" Suara Jasson penuh selidik.
"Aku tidak menyembunyikan sesuatu."
"Kau yakin?" Jasson menarik kedua ekor matanya sejenak beralih dari kemudinya hanya untuk memastikan bahwa istrinya tidak berbohong. Kimmy hanya menganggukan kepala sebagai jawaban tanpa menghilangkan senyumannya yang masih memancar.
Tak lama setelah itu, Jasson menginjak rem mobilnya hingga mobil itu berhenti dengan sempurna saat tujuan pertamanya telah sampai.
"Sudah sampai," kata Jasson memberitahu.
"Oh, iya, cepat sekali." Kimmy pun baru disadarkan bahwa dirinya sudah tiba di rumah sakit. Mungkin karna tadi wanita itu terlalu sibuk melamun hingga tidak menyadarinya.
"Nanti aku akan menjemputmu jam satu. Jangan dekat-dekat dengan Mark! Kau mengerti?" tutur Jasson penuh perintah. Tidak bosan-bosannya setiap hari ia mengingatkan istrinya.
"Iya ...."
"Kenapa belum turun?" tanya Jasson memperhatikan Kimmy yang masih berdiam diri sambil menatapnya.
"Ehm ...."
"Apa kau melupakan sesuatu?"
"Iya ...."
"Apa?"
Jasson dibuat terkejut saat Kimmy tiba-tiba menghadiahkan sebuah ciuman yang membuat wajahnya seketika menjadi sumringah.
"Aku berangkat dulu. Kau hati-hati, semoga harimu menyenangkan."
"Ah, kenapa aku jadi menciumnya terlebih dulu? Memalukan." Kimmy yang merasa malu segera turun dan masuk ke dalam rumah sakit dengan tergesa-gesa.
"Dia sudah mulai berani ...." Senyuman Jasson mengembang, memperhatikan gerak tubuh Kimmy yang baru saja lenyap dari pandangannya.
***
"Ada apa, Dokter Mark?" Suara Kimmy menahan rasa kesal.
"Kau mau pulang?"
"Sudah tau kenapa masih bertanya?" jawab Kimmy. "Aku permisi."
Mark menangkap ada yang berbeda dari sikap Kimmy terhadapnya. Ia menghalangi langkah wanita itu. "Dokter Kimmy, kenapa kau sepertinya menghindar dariku?"
"Aku tidak menghindar, tetapi menjaga jarak. Aku tidak mau jika aku dekat-dekat denganmu, aku dan Jasson jadi terkena masalah."
"Terkena masalah? apa maksudmu?" kening Mark berkerut dengan penuh tanya. Kimmy tidak bisa menjelaskan surat yang ia terima kepada Mark karna rasa takutnya yang berlebihan.
"Sudahlah, Dokter Mark. Aku permisi." Kimmy menerobos tubuh Mark yang menghalangi jalannya. Suara Mark yang memanggilnya berulangkali tak membuat wanita itu berhenti atau menoleh sedikitpun ke arahnya.
Kimmy segera masuk ke dalam mobil saat dirinya telah keluar dari rumah sakit dan mendapati mobil Jasson di sana.
"Kimmy, ikut aku sebentar ke kantor. Ada pekerjaan yang belum aku selesaikan," ajak Jasson sesaat setelah istrinya mendaratkan tubuhnya untuk duduk di sampingnya sambil memasang sabuk pengaman.
"Kalau kau masih sibuk kenapa kau menjemputku? Seharusnya kau tidak usah menjemputku, Jasson. Kan ada paman Alert." Kimmy merasa tidak enak hati dan menyalahkan dirinya sendiri karna pekerjaan suaminya menjadi terganggu karena dirinya.
"Tidak apa-apa, aku menjemputmu karna kemauanku, tetapi untuk beberapa hari ke depan aku tidak bisa menjemputmu karna ada pekerjaan yang tidak bisa kutinggalkan. Jadi kau pulang bersama paman Alert tidak masalah, kan?"
"Iya, Jasson, sama sekali tidak masalah."
Jasson melajukan mobilnya dan mengajak Kimmy untuk kembali ke perusahaannya. Meskipun, sebenarnya, Kimmy sangat malas sekali untuk ikut Jasson ke kantor karna dirinya begitu enggan bertemu dengan Alea. Bukan karna membecinya, tetapi lebih tepatnya karna Kimmy takut sakit hati jika melihat keakraban suaminya dengan wanita itu, sekalipun dia hanya sekretaris sekaligus teman Jasson.
***
Setibanya di kantor, Jasson mengajak Kimmy pergi ke ruangannya. Alea menyambut Kimmy dengan hangat, meskipun tatapan tidak suka tersirat di kedua bola mata wanita yang memiliki usia sama dengan Kimmy.
"Selamat siang, Nona Kimmy." Alea mengulas senyuman paksa di bibirnya.
"Siang, Nona Alea."
"Kimmy, tunggu aku di ruanganku. Aku mau menemui rekan bisnisku sebentar," tutur Jasson.
"Alea, aku titip istriku," sambungnya kepada Alea yang dengan ragu menyanggupinya.
"Aku bukan anak kecil yang bisa kautitipkan." Kimmy terkekeh kesal sembari memberi cubitan di pinggang Jasson.
"Tapi kau memang seperti anak kecil yang perlu diawasi." Jasson mengacak-acak rambut Kimmy dan segera berlalu pergi meninggalkan istrinya itu dengan Alea.
"Ayo, Nona Kimmy masuklah." Alea membukakan pintu ruangan Jasson dan mempersilakan Kimmy untuk masuk.
"Ini ruangan suamiku?" Kimmy mengedarkan pandangannya. Kedua matanya menyusuri ruangan itu dengan berbinar kagum, karna ini pertama kalinya ia masuk ke dalam ruang kerja suaminya yang bernuansa vintage.
Sebuah senyuman tiba-tiba mengembang di wajah Kimmy saat ia mendapati sebuah foto dirinya dengan Jasson saat berbulan madu terpajang dengan bingkai cantik di atas meja kerja.
Kimmy mengambil foto itu, Kedua mata Alea pun dibuat terkejut akan adanya foto Kimmy dan juga Jasson yang tampak mesra terpajang di sana. Karna dirinya baru melihat foto itu.
"Sejak kapan Jasson memajang fofo bersama Nona Kimmy di sini?" gumam Alea. Menatap lekat-lekat foto yang membuat hatinya terasa dilebur api.
"Apa itu foto saat kalian berbulan madu kemarin, Nona Kimmy?" Pertanyaan Alea membelah keheningan di sana.
Kimmy mengangkat dagunya dan mengangguk. "Iya, Nona Alea. Ternyata Jasson memajangnya di sana." Kimmy kembali memandangi kembali fotonya bersama Jasson tanpa menyirnakan senyuman yang masih terlukis di wajah cantiknya.
"Kau sungguh beruntung." Suara Alea kembali mengalihkan perhatian Kimmy untuk melihat ke arahnya.
Kimmy meletakan pigora itu ke tempatnya semula. "Beruntung karna apa?"
"Karna bisa menikah dengan Jasson. Meskipun aku tahu, kau sama sekali tidak memiliki perasaan kepada Jasson. Begitupun dengan Jasson yang tidak memiliki perasaan kepadamu." Perkataan Alea membuat kedua mata Kimmy berkaca-kaca.
"Aku tahu semuanya dari Harry, Nona Kimmy. Aku tahu jika kalian menikah karna keterpaksaan."
"Kau tahu apa, Nona Alea?" Batin Kimmy berkata seperti itu. Namun, dirinya memilih untuk tetap bungkam akan perasaanya kepada Jasson.
"Kau bilang aku beruntung?"
"Ya, kau sangat beruntung," jawab Alea. "Apa kau tahu, Nona Kimmy. Sebelum kau hadir, aku dan Jasson sangat dekat, dekat sekali." Alea menuturkan dengan perkataan dan tatapan yang dalam, seolah tatapan matanya tengah menyalahkan Kimmy akan kehadirannnya yang merusak segalanya.
Alea mengembuskan napasnya, menetralisirkan emosinya yang mulai memuncak. "Aku permisi."
"Kau menyukai Jasson, kan, Nona Alea?" Suara Kimmy menghentikan langkah kaki Alea yang hendak meninggalkan ruangan itu. Berbalik badan ke arah Kimmy. Kesenyapan sejenak terjeda di antara mereka.
"Iya ... aku sudah lama menyukai Jasson sebelum kau, Nona Kimmy. Sebelum sekarang kau memiliki perasaa juga dengannya."
"Kau pasti sudah memiliki perasaan dengan Jasson, kan, Nona Kimmy?"
"Tentu saja, Nona Alea!" Kimmy mempertegas suaranya. "Aku tidak hanya menyukainya, tetapi aku juga sangat mencintainya. Aku sudah menyerahkan apapun yang kumiliki kepadanya, semuanya." Perkataan Kimmy seakan menusuk jantung Alea, hingga cairan bening hampir menggenangi kedua mata wanita itu. Tanpa membalas atau menanggapai perkataan Kimmy, Alea berlalu meninggalkan ruangan itu begitu saja.
"Kau tidak tau, Nona Alea. Aku yang terlebih dulu memiliki perasaan kepada Jasson. Bahkan jauh sebelum kau mengenalnya, sebelum kau dekat dengannya. Kau tidak tau bagaimana selama tiga tahun aku berusaha untuk melupakannya, hingga aku memilih meninggalkan sahabatku. Hatiku rasanya sudah membeku dan nyaris menghitam karna terlalu lama memendam perasaan kepada Jasson, tetapi usahaku untuk melupakannya sia-sia. Rasanya jiwa dan hatiku sudah membaur menjadi satu untuk tetap selalu mencintainya."
Kimmy memejamkan kedua matanya hingga air mata ikut tersapu menggenangi wajahnya.