
"tidak, ibu tidak mengizinkanmu pergi ke terowongan sendirian."ucap guru andini yang melarang Andini untuk pergi ke terowongan.
andini yang sedang mempersiapkan tasnya untuk berangkat berkata."aku sudah menemui semua orang di kota, tapi tak ada yang mau ikut.tidak ada pilihan lain."
"sudah ibu bilang...."
andini langsung berjalan keluar dari rumah dan tidak menggubris perkataan ibunya sambil membawa satu ketapel dengan batu di sakunya.
"tunggu! kau hanya anak kecil!" ucap ibunya.
"mungkin aku anak kecil, tapi aku sudah tau artinya berjuang! karena aku putra ayahku!" ucap andini dengan menyeringai.
"kau...tunggu! andini"ucap ibunya yang melihat andini membuka pintu rumah dan keluar.
di saat andini membuka pintu.tiba tiba orang orang kota sudah menunggunya di luar rumah dengan membawa senjata yang seadanya.
"haaa?" terkejut andini.
*****
"ha? ke mana dia?" ucap dara yang tidak tau soka menghilang entah ke mana.
"aku tidak menyadarinya, tapi kabutnya mulai menghilang..eh? dia di sana?" ucap dara yang melihat soka dan berlari ke arah soka.namun, ia melihat soka sudah berdiri di hadapan guru jozan dengan darah yang bercucuran.
"a..a..apa yang terjadi di sana?" ucap dara yang terkejut melihat kejadian itu.
"bukankan dia si anak yang bergaris × di pipinya?" ucap pak kuciza.
"tidak kusangka dia datang untuk menyelamatkan zudanza.anak ini sudah mati." gumam batin guru jozan sambil menatap wajah soka yang mati dengan tersenyum.
"haha kerja bagus soka."ucap zudanza.
"haaaaaaaa!" teriak zudanza yang ingin menebas guru jozan bersama soka dari belakang secara bersamaan.
"dia berniat menebasku secara bersamaan dengan anak ini?"gumam batin guru jozan.
"penemuanku benar benar berguna! bahkan di saat terakhirnya pun,dia memberiku peluang emas!" ucap zudanza sambil mengayunkan pedangnya.
"mati kau!"
guru jozan dengan cepat menarik tangan soka dan langsung menghindar dari serangan Zudanza.
tinggggggg
pedang itu pun menghantam ke tanah.
"hahaha soka susah mati,tapi kau masih bisa bergerak?" ucap zudanza.
"akhh takkan ku maafkan." teriak dara yang kesal kepada zudanza.
"dara! diam dan lihat saja di sana!" perintah guru jozan sambil membaringkan tubuh soka.
"ini adalah... pertarunganku!" ucap guru jozan yang sangat marah kepada zudanza.
"dara....apa kau baik baik saja?" teriak sara.
"ha? sara."ucap dara sambil menghembuskan nafas sedih.
"dara di mana jounan?"tanya sara.
dara tidak meresponn perkataan sara.hanya menahan rasa ingin menangis.
"jozan! jangan berpalin dariku!"teriak zudanza dan berlari ke arah guru jozan.
guru jozan dengan cepat langsung menendang wajah zudanza hingga terpental.
bugggg
"akh!"
"bagaimana kalau aku ikut denganmu? dengan begitu,kau tak akan menentang perintah gurumu."ucap pak kuciza.
"benar." ucap sara langsung menggandeng tangan pak kuciza dan berlari ke arah jounan melewati dara.
"jounan..."ucap dara.
setelah sampai di hadapan jounan yang sedang terpingsan sara melihat seluruh tubuh jounan di penuhi oleh jaruh dan mulut yang mengeluarkan darah.
"haa.."
sara langsung memegang tangan jounan sambil berkata."tubuhnya dingin ini tidak mungkin jurus.bukan?"
"jangan pedulikan aku. ini bukan saatnya menahan emosimu." ucap pak kuciza.
"aku selalu mendapatkan nilai bagus di sekolah. aku menghafal semua peraturan ninja. semua ujian itu mudah bagiku. sampai suatu hari, pertanyaan ini muncul."tuliskan peraturan nomor 20 dari jalan hidup ninja." jadi,seperti biasa, kutuliskan jawabannya dengan cepat."ucap sara sambil menahan nangis.
"ninja tidak boleh menunjukkan perasaannya...dalam situasi apapun. misi harus selalu di utamakan. harus mampu menahan air mata."ucap sara dan menangis.
"haruskah seperti itu untuk menjadi ninja? pasti sangat menyakitkan."ucap pak kuciza yang juga ikut sedih melihat sara menangisi jounan.
"jounan..."panggil sara sambil menangis keras.
tinggggggg
guru jozan dan zudanza terpental ke belakang.
"kenapa aku tidak bisa mengimbanginya?sialan!" teriak zudanza dan kembali menyerang guru jozan.
namun, dengan mudahnya sebelum zudanza menyerang guru jozan langsung memukul wajah zudanza.
bukkkk
bukkkk
"akhh, sialan kau!" teriak zudanza dan kembali menyerang guru jozan dengan mengayunkan pedangnya.
guru jozan dengan cepat menghindari pedang itu dan langsung berpindah ke belakang tubuh zudanza sambil mencekik leher zudanza sambil berkata."kau tidak mungkin bisa mengalahkanku dengan keadaanmu sekarang. kau masih tidak mengerti arti kekuatan sejati."
"berakhir lah sudah, pembunuh!" ucap guru jozan sambil mengambil pisau dari sakunya dan ingin menusuk zudanza dari belakang.
dengan cepat zudanza mengayunkan pedangnya dari atas ke atas ke belakang.
"ha?" terkejut guru jozan dan langsung menusukan pisaunya ke pundak kiri zudanza yang sedang memegang pedangnya hingga pedang itu terlempar dan menghindar.
"sekarang kedua tanganmu sudah di lumpuhkan.kau bahkan tak bisa mengeluarkan jurus." ucap guru jozan.
"huhuhuu kau kalah lagi, ya? kau sangat mengecewakanku zudanza." ucap kano yang tiba tiba datang bersama puluhan pengawalnya.
"kano, kenapa kau datang kemari? dan siapa orang orang itu?"tanya zudanza.
"rencana kita telah berubah. maaf, zudanza, tapi kau akan mati di sini." ucap kano dengan menyeringai.
"apa?" ucap zudanza.
"karena menyewa ninja biasa membutuhkan banyak uang.maka kusewa ninja pelarian sepertimu.selain itu,aku bisa jadi menghemat uang dan tenaga jika pertarungan para ninja... berakhir dengan saling membunuh. sekarang kau tak pantas di sebut monster pembunuh dari desa simakuki.menurutku, kau hanya monster kecil yang lucu!" ucap kano dan menertawakan zudanza bersama semua pengawalnya.
"siapa mereka? banyak sekali." ucap dara yang terbengong.
"jozan,maaf. pertempuran kita berakhir di sini. karena alasanku membunuh pak kuciza hilang,tak ada alasan melawanmu juga." ucap zudanza.
"ya, kau benar." jawab guru jozan.
kano berjalan ke arah mayat soka yang tergelak di depannya sambil berkata."aku jadi ingat. aku berutang sesuatu padanya. dia menggenggam tangannku hingga patah tulang. akhh!" ucap kano sambil menendang kepala soka dengan keras.
"ternyata dia sudah mati."ucap kano.
"kurang ajar! apa yang kau lakukan ?"teriak dara yang marah melihat wajah soka di tendang oleh kano sambil berlari ke arah kano.
"hentikan! jangan gegabah!" ucap guru jozan yang memegangi dara agar tidak mengerang kano.
"kau tak mau mengatakan apa apa? dia temanmu kan?"ucap dara kepada zudanza dengan nada tinggi.
"diam,bocah.soka sudah mati." ucap zudanza.
"kau tak merasakan apa apaa saat melihatnya melakukan itu? kalian selalu bersama kan?"ucap dara.
"seperti kano yang memanfaatkanku, aku hanya memanfaatkan soka. bukankah sudah kukatakan bahwa ninja hanyalah sebuah alat? yang kuinginkan adalah kemampuannya,bukan individunya.aku tidak menyesal." ucap zudanza.
"apa kau... serius?" tanya dara.
"hentikan.. dara. tidak perlu melawannya lagi.lagi pula.." perintah guru jozan sambil memegang pundak dara.
"akh diam! musuhku masih yang ini! dia...sangat menyukaimu! kau sangat berharga baginya! meski begitu,kau tak merasakan apa apa? kau benar benar tidak merasakan apa apa? saat seseorang menjadi sekuat dirimu,apa sikap orang itu akan seprti dirimu? dia mengorbankan nyawanya demi dirimu! dia bahkan belum mewujudkan impiannya sendiri, tapi..mati sebagai senjata.itu... sangat menyakitkan."ucap dara sambil menangis.
"anak kecil." ucap zudanza yang mendengar perkataan dara. ia pun tersadar dan meneteskan air matanya.
"jangan katakan lagi."ucap zudanza.
"soka.dia tak hanya memikirkanku. dia merasakan penderitaanmu saat melawanmu.aku tau.dia terlalu baik.aku bersyukur kami melawanmu di saat terakhir."ucap zudanza.
zudanza langsung menggigit jarinya hingga mengeluarkan darah dan tersenyum berkata kepada dara."ya,bocah. pada akhirnya,seperti katamu. ninja juga manusia. mungkin mustahil untuk menjadi alat tanpa emosi.aku telah kalah."
"hei, berikan pisaumu kepadamu."ucap zudanza kepada dara.
"ini." ucap dara sambil melemparkan pisaunya ke arah Zudanza.
tinggggg
zudanza langsung menangkap pisau itu dan berlari ke arah kano dengan wajah yang yang penuh emosi.
"haaa tolong! bunuh mereka!"ucap kano yang berlari ke arah kebelakang pengawalnya.
"apa kau bodoh? kau pikir bisa menang sendirian melawan kami..."ucap pengawal itu.
sring sring sring sring
dengan mudahnya zudanza langsung menusuk satu persatu pengawal kano sambil mengejar kano ke belakang.
"ha? tidak menyeramkan!"ucap kano yang melihat zudanza sudah menghampirinya dengan wajah yang seperti monster.
crukkkkk
zudanza pun tanpa berbicara apa apa langsung menusuk leher kano dengan sadis.
"akhhhhhhhh"teriak kano dan mengeluarkan darah di mulutnya.
"haaa aku jika temanku mati...maka kau harus ikut mati denganku"ucap zudanza sambil mendekat ke wajah kano.
"kau akan bertemu denganku di neraka. saat monster dari desa simakuki mati dan masuk neraka,dia bisa menjadi Monster sejati! nantikanlah! akan ku perlihatkan kepadamu aku monster kecil yang lucu atau bukan di neraka!" teriak zudanza dan langsung menarik pisaunya dan menusukan kembali ke jantung kano hingga terjatuh tewas.
semua pengawal kano pun ketakutan melihat keganasan dari zudanza dan berlari dari tempat itu.
"soka..selamat tinggal soka. terima kasih atas pertemanan kita selama ini.maafkan aku." ucap zudanza dan langsung terjatuh mati.
"jangan berpaling.itu ajal seorang pria yang hidup dengan kesadisan."ucap guru jozan yang melihat dara membuang wajahnya agar tidak melihat kematian zudanza.
"baik." jawab dara.