
"Apakah itu benar? Atau hanya akal akalan putriku, agar tidak menikah dengan Lonely?" Gibran masih bertanya-tanya dalam hati.
Entahlah.... saat ini hanya melihat kebahagiaan kedua insan yang saling merindukan, sudah sangat cukup bagi Gibran.
☀️☀️
Mentari pagi enggan bersinar terang, cuaca Swiss masih sangat sejuk. Dua insan masih melepas kerinduan yang sangat dalam, disebuah ruangan yang tertata rapi oleh Bian sang Ibu angkat yang baik dan ramah dalam menyambut tamu barunya.
Dessahan keduanya saling bersahutan, remasan dari jemari lentik Mutia dipunggung Tio memberikan kepuasan tersendiri bagi mereka berdua.
"Aa kangen sama Neng..." Tio menatap wajah Mutia, mencium cerug leher yang sangat dirindukan.
Mutia tersenyum bahagia, "Sama Aa, Neng juga kangen. Pengen banget cepat ketemu, udah rindu sama masakan Sunda. Nasi pecel disini enggak ada," rengeknya mendekap tubuh suaminya.
Tio memeluknya, membawa dalam dekapan. Wajah tampan dan cantik saling menatap, bahkan enggan untuk menjelaskan bahwa keduanya sedang memikirkan hati yang lain.
Tia bergumam dalam hati, "Bagaimana jika Gibran mendengarkan suara tadi?"
Sementara Tio tengah memikirkan seseorang wanita yang dia kenal melalui sosial media, "Bukankah Lonely berada di Swiss? Apakah dia tinggal didaerah sini? Dia pernah cerita, bahwa tinggal diarea peternakan sapi. Hmm, coba besok aku mencarinya. Karena Bapak sama Ibu kan mau jalan-jalan dulu."
Mutia mengusap lembut dada Tio, dengan jemarinya, "Aa... kalau kita disini dulu bagaimana?"
"Hmm...!?" Tio menaikkan kedua alisnya, mengusap lembut punggung telanjang istrinya.
"Sampai Neng ngelahirin aja, lima bulan lagi!"
Tio menghela nafas panjang, "Kita pulang aja yah Neng, Aa nggak suka lihat Gibran itu kalau memandang Neng, Aa cemburu. Kayaknya dia jatuh cinta sama istri Aa ini."
Mendengar ucapan suaminya, Tia mengangguk setuju. Bagaimana mungkin seorang suami yang selama ini dia rindukan mampu berkata jujur padanya.
Tia memeluk tubuh Tio, "Ya, kita pulang saja. Neng rasa, nggak baik juga kita berada disini terlalu lama Aa! Karena menurut Neng, Lovely terlalu mendramatisir keadaan untuk tidak menyukai Aa."
Mereka saling berpelukan, bagaimana rasanya suami istri yang telah lama berpisah, kini dipertemukan dengan keadaan yang berbeda. Kondisi tengah hamil, bahkan sangat bahagia dengan kehadiran buah cinta mereka yang menjadi cucu pertama bagi kedua keluarga.
.
Bambang Sulistio, membuka mata. Menghirup segarnya udara peternakan Swiss. Sungguh menyenangkan saat berada disebuah peternakan sapi yang merupakan penghasil susu segar yang sangat mendunia.
Tio mengenakan pakaian dinginnya, membantu Mutia yang tenga bersiap-siap untuk berjalan-jalan pagi seperti yang biasa dilakukan wanita hamil.
Nancy yang tengah menikmati secangkir teh beraroma mint bersama keluarga Gibran, menyambut kehadiran Tia dan Tio yang tampak saling berpelukan mesra. Mata mereka saling menatap, ditambah wajah Lovely yang menekuk benci saat beradu tatap dengan Tio.
Mutia mendekati Lovely yang sudah rapi mengenakan pakaian sekolah, membantunya merapikan karena dasi yang dia kenakan tampak miring.
Namun, tangan Mutia ditepis oleh Lovely dihadapan para keluarga mereka. Sontak itu menjadi pemandangan yang sangat mengejutkan bagi Gibran yang tengah menemani putrinya sarapan.
Gibran bertanya penuh perasaan bersalah pada keluarga Mutia, "Ada apa dengan kamu? Daddy tidak ingin kamu melakukan hal yang tidak sopan! Dengar Lovely, Aunty sedang hamil! Jangan terlalu mengikuti ego mu! Daddy tidak suka!" tegasnya.
Mendengar penuturan Tia yang merupakan kejutan luar biasa bagi Gibran, tentu saja Lovely semakin larut dalam hati yang serba salah. Bagaimana mungkin Aunty akan pergi meninggalkan gadis kecil itu sendiri? Apa dia melupakan janjinya pada ku?
Pikiran Lovely kembali berkecamuk. Isak tangisnya kembali terdengar setelah mendengar keputusan yang keluar dari bibir Mutia.
Namun, apa daya. Mereka hanya orang asing dalam kehidupan Mutia. Sesungguhnya yang menjadi orang nomor satu dalam mengambil keputusan dan kebijakan adalah suaminya sendiri.
Tia mendekati Bian, kembali menunduk hormat, "Kami akan menikmati masakan mu untuk beberapa hari disini! Mungkin ada masanya kami kembali. Aku tidak akan pernah melupakan kebaikan Keluarga Stuard yang sudah bersedia membantuku selama disini!"
Bian memeluk tubuh Tia penuh kasih sayang. "Apapun keputusan mu, itu yang terbaik untuk mu dan calon buah hati kalian. Nikmatilah, masa indah kalian selama di Swiss. Kalian bisa berjalan-jalan ke peternakan. Kebetulan hari ini Lonely akan mengunjungi kediaman kami."
Sambil mengusap lembut perut Mutia yang tampak membuncit, Bian memberikan roti bakar yang berisikan keju mozzarella kesukaan wanita dewasa yang tampak tenang setelah bertemu dengan suaminya.
Mutia menerima roti pemberian Bian, "Terimakasih Ma, aku sangat senang karena kamu sangat perhatian dengan ku dan calon buah hati ku."
Bian mengangguk bahagia. Baginya menerima kehadiran tamu yang merupakan orang terpandang dari negeri yang berbeda, merupakan satu kebanggaan baginya. Bagaimana tidak, banyak orang yang menantikan kehadiran keluarga Jenderal untuk menjadi keluarga baru, namun mereka didatangi dengan penuh rasa bahagia karena memiliki tempat yang sangat luas dan nyaman.
Begitu banyak pertanyaan-pertanyaan yang didengar dari rekan Stuard, menanyakan keberadaan wanita muda itu dikediaman Keluarga mereka.
Tidak ada yang dapat memutar takdir pertemuan, begitu juga dengan Gibran dan Mutia. Mereka hanya dipertemukan dari keadaan yang sangat mengancam. Peperangan beberapa waktu lalu, membuat mereka harus terus bersama hingga keluarga Mutia datang menjemput.
Tio menarik tangan Tia, berpamitan untuk menghabiskan waktu bersama diluar kediaman Keluarga Stuard.
Tentu ini menjadi kenyataan pahit dalam hati Gibran, "Kenapa dia tampak biasa saja dengan ku? Apakah yang dia ucapkan beberapa hari lalu hanya semu?" bisiknya dalam hati.
Mutia yang tampak serasi tampa menghiraukan Gibran dan Lovely setelah kehadiran Tio, menjadi tanda tanya besar bagi Lovely dan Gibran.
"Apakah manusia gampang berubah kapanpun dia mau? Mengapa kehadiran suaminya justru mengalihkan perhatiannya dari ku?" Lovely menggeram kesal, bergegas menarik tangan Gibran segera meninggalkan kediaman mereka.
Melihat kejadian yang tidak biasa, membuat Bian dan Stuard kembali berbisik, "Sepertinya putramu akan patah hati lagi! Namun, kita sebagai orang tua, harus mendidik mereka untuk tetap ikhlas menerima kenyataan, bahwa Mutia itu milik orang lain. Bukan milik Gibran!"
Stuard mengangguk mengerti, "Aku akan berbicara dengan Gibran nanti. Biarlah dulu. Jangan terlalu ikuti gaya cucumu!"
Mereka kembali bercerita hangat dengan Atmaja dan Nancy.
Namun, Tio dikejutkan dengan sosok wanita yang beberapa bulan ini menemaninya menghadapi kesepian hati selama kepergian Mutia.
"Lonely....!?"
"Mr. Tio.....!?"
Keduanya saling menatap, tampak kebingungan. Begitu juga dengan Mutia yang berdiri disamping Tio.
______
Mohon maaf sebelumnya. Akhir-akhir ini author disibukkan dengan berbagai macam pekerjaan. Terimakasih...🥰❤️❤️