My Wife Is A Military

My Wife Is A Military
Menyesakkan... 21+



Tio dan Tia tiba di kediamannya membersihkan kamar mereka agar terhindar dari debu. Sudah hampir satu bulan rumah kecil milik orang tua Tio itu tak berpenghuni bahkan tidak ada hembusan nafas disana.


"Neng mandi yah Aa? mau makan lagi nggak?" tanya Tia membuka baju kaosnya yang basah karena keringat.


Tio malah mendekati tubuh Tia, melilitkan tangannya di perut ramping itu.


"Aa, keringat lhoo," kejut Tia saat Tio sudah menyentuh squisi kenyalnya.


"Aaaaagh Aa nakal, Neng mandi dulu," tambah Tia dengan rengekan.


"Aa mau sekarang, nanti kita mandi bareng," bisik Tio lembut mengecup leher istrinya.


"Aaaaagh," Tia menggigit bibir bawahnya, menikmati sentuhan tangan suaminya yang semakin nakal.


Tio membalikkan tubuh Tia menghadapnya, membelai lembut pa yu da r a itu dengan bibir saling menyesap. Kali ini Tio ingin lebih agresif seperti omongan Beny, agar lebih berani melakukannya karena sudah halal.


"Aa mau main main dulu yah," ucap Tio membuat Tia semakin mengikuti apa keinginan suaminya.


Ini yang pertama bagi mereka, jadi masih belum banyak pengalaman apalagi Tia, Mayor sangat lugu seperti yang di bicarakan sahabatnya Uli dan Deny.


Tio menyandarkan tubuh Tia ke dinding menahan kepalanya agar tak melepas ciuman mereka, tangan satunya mengabsen satu persatu dengan sangat pelan. Membuat nafas Tia semakin tak beraturan. Jari Tio mengabsen bagian syurga dunia istrinya yang baru dua kali dia obrak abrik setelah membongkarnya dengan sedikit pemaksaan.


"Aaaaugh," suara Tia terdengar merdu saat Tio menyentuh bagian yang di inginkannya. Perlahan Tio menatap wajah cantik Tia penuh damba.


"Aa kebawah yah? pengen nyoba," ucap Tio pelan.


Tia mengangguk pelan, menanti sentuhan Tio di bagian syurganya.


"Oooough, aaazh," nafas Tia menderu, tak bisa dia ungkapkan perasaannya kali ini, di bawah sana seperti ada yang ingin terlepas hingga meremas kuat kepala Tio.


"Hmmmfgh,"


Terdengar Tia menahan dan ingin melepaskan sesuatu dari perasaan sesaknya.


"Aa aaagh,"


Tia menjerit kuat, membuat Tio merasakan sesuatu semakin deras.


Tio menyarungkan keris ke empu pemilik syurga, dengan sangat pelan menghentakkan kuat saat berada di dalamnya.


Bleeeez,


Keinginan Tio bermain terlaksana dengan ritme sedikit kencang. Tia semakin larut tak mampu berucap, dia seperti terbuai pesona keris yang melesat hebat mampu merobek tiap intinya memberikan sensasi yang baru dan berbeda bagi keduanya.


"Aa, Neng mau aaaagh," suara Tia semakin keras, rengekan manjanya membuat Tio semakin kencang dalam menentukan tempo alunan permainan mereka.


Tiba saatnya Tio akan merasakan ledakan yang sejak tadi tak bis tertahan, menekan keras sehingga Tia sedikit menjerit bahkan meremas kuat punggung suaminya.


"I love you Aa," ucap Tia tanpa dia sadari.


Deg,


"Kata kata itu yang Aa tunggu Neng," batin Tio.


Tio melepas kerisnya pelan menggendong tubuh Tia ke ranjang miliknya, mengambil tisyu membersihkan sisa percintaan mereka. Tia memeluk tubuh Tio erat, sedikit berbisik.


"Aa belajar dari mana? itu sangat menyesakkan bagian ehem Neng," tanya Tia penasaran.


"Hmmmm," Tio tersenyum lega.


"Neng mau mandi sekarang atau bentar lagi?" tanya Tio mengecup manja jari lentik istrinya.


"Jawab dulu iiiighs," rengeknya manja.


"Emang penting gitu, kita mandi habis itu tidur," bisik Tio sedikit menggoda iman Tia.


"Nakal aaagh, tapi enak," kekeh Tia.


"Hmmmm, suka nggak?" tanya Tio.


Wajah Tia berubah merah, "perlu di ucapin gitu? udah gede, jadi udah paham dong. Kalau nggak suka mungkin nggak mau di sana," tunjuknya di tempat yang masih meninggalkan jejak keringat pecintaan mereka.


Tio tertawa mengecup bibir basah itu dengan lembut.


"Aa mandi dulu yah," usap Tio pada kepala istrinya.


Tia mengangguk pelan. Menatap tubuh milik suaminya sangat menggoda bahkan mampu menggelitik perasaannya saat ini, tak ingin menunggu lama, Tia menyusul Tio meminta lebih bahkan.... Aaaaaagh,


.


.


Tia akan melaksanakan latihan nembak bersama Abdi, Uli dan Deny. Ini adalah kegiatan rutinnya sebagai seorang sniper elite yang akan menjaga negeri tercinta.


Tio justru tengah sibuk mempersiapkan sarapan pagi untuk Tia yang sudah di tunggu oleh Abdi sejak tadi di ruang tamu.


"Sarapan dulu Aa," ajak Tio pada Abdi sang kakak ipar.


"Iya, kenapa nggak Tia yang mempersiapkan Tio?" tanya Abdi sedikit kesal melihat adiknya terlalu sibuk dengan dunia kariernya hingga melupakan kewajiban mengurus rumah.


"Nggak apa apa Aa, pelan pelan," ucap Tio berbisik.


"Jangan di biarin, saya nggak suka! kamu harus tegas. Apapun dia di luar sana kodrat dia harus melayani suami, bukan kamu yang harus melayani istri," tegas Abdi.


"Aa, saya bukan tidak mau dia menyiapkan, Aa tau Tia dandannya lamaaaa banget, keburu keroyokan cacing kalau nunggu dia," jujur Tio.


"Iya, saya paham, tapi kamu jangan terlalu membuat dia nyaman, nanti dia kebiasaan. Emang dia pernah masakin kamu?" tanya Abdi penasaran.


"Ada Aa, telor acak sama capcai. Dia nggak bisa urusan dapur, tapi saya nggak apa apa kok. Bagi saya dia sudah membuka hati untuk perjodohan ini sudah sangat menyenangkan. Pelan pelan akan saya ajarkan, lagian Ibu juga sering ngajarin Tia masak, beberes bahkan melayani suami," cerita Tio jujur.


Abdi mengangguk mengerti, mengagumi Tio adalah pria baik dan bertanggung jawab. Dia bukan mau ikut campur urusan rumah tangga adiknya, melainkan dia ingin mendengar ucapan Tio, dia ikhlas apa tidak melakukannya.


Cekreek,


Tia keluar dari kamar menuju dapur melihat Tio dan Abdi sedang berbicara serius.


"Eheeem," ucap Tia.


"Eeegh geulis udah cakep," goda Tio.


"Hmmmm, Aa buat nasi goreng? kenapa nggak nunggu Neng masakin. Ntar Aa Abdi ngira Neng nggak ngurusin Aa lhoo," rengek Tia memeluk tubuh suaminya.


"Kenyang gue," kekeh Abdi.


Tia terkekeh geli mengambil box lunch untuk membawa masakan suaminya ke kantor. Tentu menjadi suatu kebanggaan bagi Tia.


"Aa, neng deluan yah? ntar ke kantor aja siang," kecup Tia pada punggung tangan suaminya.


Tio memeluk erat tubuh istrinya, "hati hati, fokus," kecupnya pada kening Tia.


Abdi merangkul adik tercantiknya menuju mobil.


Tio tersenyum menatap punggung istrinya berlalu.


"Di luar dia memang pahlawan, tapi..." Tio tersenyum tipis.


Tio bergegas menuju kantor, menyusul Beny yang sejak tadi menunggu di tempat biasa. Tentu akan bercerita yang sangat meresahkan gendang telinga. Apalagi semenjak tahu mereka sudah melakukan itu, tentu akan menjadi bulian hebat selama seminggu.


.


.


Abdi justru tengah menikmati kota Bandung menyusuri jalanan macet yang sangat meresahkan.


"Aa serius sama Deny?" tanya Tia memecah keheningan.


"Rencana besok mau nikah dulu secara agama. Udah kebelet," ucap Abdi tanpa expresi.


"What! are you kidding me?" teriak Tia.


"Siapa yang kidding. Serius, Aa udah ngomong sama Ibu dan Bapak. Besok malam kita nikah dulu secara agama. Kalau nunggu legalitas lama. Aa mesti balik minggu depan," jelas Abdi.


"Hmmmm so sweet. Kita latihan sama Deny juga kan?" tanya Tia.


"Iya, yang penting jangan kasih tahu siapapun. Bisa ribet utusannya," jelas Abdi.


"Siap Ndan," hormat Tia.


Asyiiik nikah....πŸ€—


To be co n ti nue...


Mohon dukungan Like dan Vote pada karya ku, jangan lupa comment yah...πŸ™


Khamsiah.... Hatur nuhun....πŸ€—πŸ”₯