
Sepanjang perjalanan menuju kediaman Atmaja, Tia masih meracau kesal. Bagaimana tidak, Dony menyerang seenak udelnya seperti Lembang adalah milik dia pribadi. Abdi yang menjadi musuh bebuyutan Dony selama ini, membuat permasalahan kecil menjadi meruncing karena rasa kesal Donya pada keluarga Atmaja.
Tia terlelap dipangkuan Tio hingga tiba dikediaman Atmaja. Bersusah payah pria tampan itu membangunkan istrinya, agar terjaga, tapi Tia enggan membuka mata.
"Neng, bangun sayang," bisik Tio pada telinga Tia.
"Hmmm," Tia melanjutkan tidurnya dengan memeluk erat tubuh pria yang beraroma maskulin itu.
"Gendong aja Tio, bisa kan?" ucap Abdi saat menoleh kebelakang.
Tio merasa segan, karena sudah beberapa kali mereka tepergok sedang bercumbu bahkan berciuman di ruang keluarga.
"Udah, gendong saja," kekeh Abdi membawa Deny segera memasuki rumah.
Betapa terkejutnya Abdi saat melihat Aditya dan Nancy masih duduk diruang tamu bersama Evi Ambunya Tio.
Tio yang tengah menggendong istrinya sedikit terkejut karena kehadiran Evi secara mendadak dikediaman Atmaja.
"Ambu?" sapa Tio masih menggendong Tia.
Tia yang meringkuk manja didekapan sang suami masih tidak sadar dengan kehadiran ibu mertuanya.
Betapa bahagianya Evi saat melihat anak menantunya semakin dekat. Ini menjadi pemandangan yang sangat indah baginya.
"Bawa dulu istrimu kedalam, kasihan, mungkin dia kelelahan," bisik Evi saat beradu tatap dengan putra semata wayangnya.
Tio bergegas membawa tubuh langsing istrinya menuju ranjang peraduan. Dengan penuh kelembutan pria itu mencium dan mendekap tubuh Tia.
"Tidur yang nyenyak Neng, Aa pasti akan merindukanmu," kecup Tio pada bibir Tia yang masih terasa manis.
Tio keluar dari kamar, menyalami Evi dengan rasa hormat pada sang ibu.
"Ambu nggak nelfon aku," rungutnya membuat Evi terkekeh geli.
Evi mengusap lembut punggung putranya, "gimana? udah ada tanda tanda hamil belum istri kamu?" tanyanya lembut.
Tio menarik nafas panjang, "belum Ambu, masih proses. Emang buat anak kayak buat adonan kue yang dikasih tepung, telor, margarin langsung jadi," jawabnya asal.
Aditya dan Nancy tersenyum lega, "yang dulu nolak, sekarang Alhamdulillah sudah ada kemajuan. Bahkan nggak mau pisah jeng," jelas Nancy menatap Aditya.
Evi tertawa senang, "syukurlah besan, mereka sudah bisa menerima kenyataan bahwa hidup itu indah, bukan karena nggak cinta melainkan butuh," jelasnya.
"Ambu nginap disini? atau pulang? biar aku antar," tanya Tio mengalihkan pembicaraan mereka.
"Hmmm, Ambu pulang, tadi karena ada acara. Makanya mampir sebentar, ternyata kalian nggak ada. Ambu tunggu saja," jelas Evi.
Tio mengangguk, melihat ajudan masih setia menunggu Evi, sesuai perintah Jenderal Aditya.
"Mas, aku izin yah," ucap Evi tanpa bersalaman.
Nancy tersenyum sumringah, "kirain mau ikut ngantar anak-anak besok?" ajaknya pada Evi.
"Nggak lah besan, saya permisi dulu. Terimakasih sudah mau menjaga Tio, titip putra saya yah besan," ucap Evi lembut.
"Kalau ke Bandung lagi mampir sini aja jeng, nginap disini," ajak Nancy.
"Insyaallah," jawab Evi, memeluk Nancy.
Tio mengecup punggung tangan sang ibu, "besok aku pulang kerumah setelah antar Tia yah? Ambu masih disini kan?" tanyanya memeluk erat tubuh syurganya.
"Iya, Ambu kesini buat jaga kamu selama Tia dinas, yang pasti kamu jangan lupa kunjungi terus Bapak sama Ibu mertua kamu. Ambu nggak suka kalau Tia nggak ada kamu malah nggak nongol disini," titah Evi.
Tio mengangguk, mencium Evi kembali mendekap sebelum wanita itu memasuki kendaraan Aditya.
Ternyata tidaklah sulit untuk menjadi menantu keluarga ini. Bisa diterima dengan sangat baik saja sudah menjadi kebanggaan tersendiri bagi Tio. Banyak yang menginginkan untuk menjadi bagian keluarga mereka, tapi diseleksi ketat oleh Aditya dengan alasan harus melihat keluarga dari bibit, bebet, bobotnya. Bukan kaya dan miskinnya, melainkan agama, etika dan tingkah lakunya.
Aditya merangkul bahu Tio, "kenapa Deny dibawa keluar? ini pelanggaran," godanya pada menantu.
Aditya dan Nancy tersenyum geli, melihat tingkah laku anak menantunya yang sangat berani mengambil keputusan.
"Sudah kamu istirahat," perintah Aditya, karena tidak melihat Abdi dan Deny keluar dari kamar mereka.
Aditya merangkul istrinya menuju kamar mereka, dengan penuh perasaan cinta dan sayang, "ternyata kamu nggak cemburu jika Evi masih memanggil saya Mas," godanya pada Nancy.
Nancy menaikkan kedua alisnya, "apa harus aku cemburu sama Evi, Mas? kan dia udah jadi besan kita, kalau aku cemburu akan berdampak buruk pada anak anak. Aku nggak mau mereka tahu masalah kita dulu. Bagi aku, kamu sudah sangat bahagia sudah cukup. Kamu setia, menerima kenyataan bahwa kita sudah memiliki anak anak hebat sama kayak kamu," kecup Evi pada pipi Aditya.
"Hmmm, Mas mau yah?" bisiknya mencumbu tubuh istri tercintanya.
Malam semakin larut memberikan kesan dua insan yang tengah menikmati indahnya syurga dunia, saling menyapa dalam menyambut hangatnya cinta dan kesetiaan.
.
Deny tengah berada dalam pelukan Abdi, cinta masa kecilnya kini menjadi suami tercinta dan tersayang untuk menemani hingga akhir hayat. Peluh yang mengalir dari tubuh kedua insan pengantin baru itu saling menyapa dan mendecap kenikmatan yang indah.
"Aa," suara indah Deny keluar disisa perjuangan akhir percintaan mereka yang akan memercikkan air cinta dirahim istri Phaskas Abdi Atmaja.
"Panggil nama Aa, Neng," bisik Abdi memacu dibawah sana dengan penuh perasaan cinta.
"Aa Abdi, hmmm," Deny menggigit keras bahu suaminya saat mencapai puncak kebahagiaannya.
Remasan jemari lentiknya menambah kecepatan tinggi Abdi untuk memompa dan mengerang lebih indah.
"Hmmmmfgh," nafas Abdi yang teratur seperti berlari sambil berbicara tanpa terengah.
"Makasih sayang," kecup Abdi pada kening cinta pertama dan terakhirnya.
Deny memeluk erat tubuh kekar yang masih mendekapnya dengan erat, "biarin Neng memeluk Aa Abdi, Neng kangen. Enam bulan itu lama Aa," isaknya tidak ingin melepas cintanya.
"Ini masih dipeluk, kemaren santai saja. Kok sekarang jadi bucin gini," goda Abdi mengecup bibir basah Deny.
"Hmmm, udah kecanduan deluan," rengek Deny manja.
Abdi mendekap erat tubuh Deny, "Aa juga cuma pengen memeluk tadinya, tapi kalau udah deket pengennya lebih," kekehnya menggoda istrinya kembali.
"Aa," terdengar suara manja Deny kembali membuat Abdi melanjutkan perjalanan mereka menuju nirwana.
.
Sangat berbeda dibandingkan dengan Tio dan Tia. Mereka justru saling berpelukan enggan berucap. Kamar bernuansa biru langit itu menambah kesan lugas tapi romantis bagi kedua insan yang baru menikmati indahnya pernikahan dari perjodohan.
"Biarkan Aa, memelukmu hingga fajar menyingsing," bisik Tio mengecup bibir Tia yang basah.
"Hmmm peluk aja," Tia semakin masuk kecerug leher Tio yang tegas membuat otaknya traveling berharap lebih dari sebuah pelukan.
"Istirahat, udah larut," goda Tio mengusap lembut wajah yang tertutup rambut.
"Pagi yah, sebelum mandi," bisik Tia pelan membuat Tio semakin tertawa dan mendekap erat tubuh setengah telanjang yang berada disampingnya.
"Hmmm," Tio hanya mendehem, enggan berbuat apa-apa. Dia hanya ingin melihat wajah istrinya yang cantik, hingga terekam semua memori kenangan terindah mereka berdua.
"I love you Cut Mutia Atmaja," bisik Tio pelan.
"I love you too Bambang Sulistio," jawab Tia mendekap erat tubuh pria tampan yang berada disampingnya.
So sweet...β€οΈ
To be co n ti nue...
Mohon dukungan Like dan Vote pada karya ku, jangan lupa comment yah...π
Khamsiah.... Hatur nuhun....π€π₯